
"Aku tuh nggak habis pikir dengan jalan pikiran Mama Saka. Sudah kubilang kita nggak usah ke sana. Jadinya malah seperti ini, kita sudah bikin isteri Saka terluka Fan."
Riana masih terus mengomel di dalam mobil.
"Ssst ... sayang, kita bahas ini di rumah. Di sini ada ...." Tefan lalu melirik Kiano di belakang yang sedang menikmati sepotong eskrim pemberian tante-tantenya.
"Hhh ... ya sudah, ayo jalan sekarang."
Di dalam mobil, Riana hanya sibuk menatap keluar jendela kaca mobil. Bahkan suara hingar bingar klakson tak membuatnya bergeming dari lamunannya. Setitik air mata tampak jatuh di tebing pipinya.
Tefan menyaksikan semua itu, dia melihat bagaimana Riana menangis entah menangisi apa. Di dalam benak Tefan, dia hanya memikirkan bagaimana cara mengembalikan mood Riana kembali semula. Menjadi Riana yang ceria, menjadi Riana yang tak mudah sedih. Dan itu adalah tugas yang berat untuk Tefan.
***
Sampai di rumah, Tefan tidak membahas masalah yang tadi lagi. Dia naik ke tempat tidur, memeluk tubuh Riana dari belakang yang sedang memunggunginya. Sejak tadi, dia menjadi sangat pendiam. Bahkan Tefan tak berani mengusik Riana jika suasana hatinya sedang dalam kondisi yang tidak baik.
Tefan hanya memeluk Riana, mengelus-elus jemari tangan Riana yang mulus, kecil dan panjang. Serta membelai puncak kepala Riana terus ke ujung rambutnya. Dia memanjakan Riana seperti anak kecil. Tefan tahu betul yang dibutuhkan Riana saat ini hanyalah diam, hening sejenak.
Setelah beberapa menit hanya berdiam seperti itu memeluk Riana, wanita itu berbalik menghadap ke arah Tefan. Sehingga membuat jarak mereka saat ini menjadi sangat dekat.
"Maafkan aku ..." kalimat itu meluncur dari bibir mungil Riana.
Riana mengangkat tangannya dan mengusap pipi Tefan yang sedikit kasar karena dipenuhi bulu-bulu halus akibat baru saja dicukur.
"Tidak ada yang salah dan perlu dimaafkan sayang, aku tahu kamu sedang dalam emosi yang tak terkontrol. Sudahlah, jangan dipikirkan lagi. Doakan saja Saka cepat sadar, meski kalian tak sempat bertemu."
"Kamu baik sekali, Fan. Aku malu karena tidak bisa berubah sebaik kamu. Aku masih suka emosian, masih suka meledak-ledak, dan banyak sifat buruk lainnya yang belum bisa aku hilangkan dari diriku."
__ADS_1
"Wajar, kamu seorang wanita. Aku tentu saja akan menjadi seperti kamu, seandainya aku ada dalam posisi yang dihadapkan masalah seperti ini. Justru aku menilai, kamu ini wanita yang sangat tangguh, kuat, berprinsip dan tidak mudah goyah. Hal-hal seperti itulah yang membuat aku menyesal pernah kehilangan kamu dulu."
"Aku tidak pernah membayangkan sebelumnya, Tuhan akan mempertemukan kita lagi dan menyatukan kita seperti ini. Aku merasa beruntung, bukan berarti aku tak bersyukur atas kehidupan aku yang sebelumnya, hanya saja aku merasa bahwa Tuhan benar-benar baik padaku."
Tefan mencium puncak kepala Riana. Memeluknya semakin erat dan mereka menghabiskan siang itu hanya saling berpelukan.
"Sore ini kita jalan-jalan ke pantai yuk! Sudah lama sejak kita menikah, kita tidak pernah lagi menikmati waktu-waktu yang berharga. Jika Kiano tidak tidur, kita ajak dia sekalian." Tiba-tiba terbersit ide di kepala Tefan mengajak Riana jalan-jalan.
"Kita jalan aja sekarang yuk! Sudah jam 4 nih, biar bisa menikmati keindahan sunset lagi."
Sepertinya kondisi emosional Riana sudah lebih baik. Mereka berdua pun bangun dari tempat tidur dan bersiap-siap. Riana pergi mengecek Kiano apakah anak itu sedang tidur atau bermain.
Namun belum sampai Riana ke kamar Kiano, dia berpapasan dengan asisten rumah tangga di rumahnya itu.
"Tuan Muda tidur di kamarnya, Nyonya. Saya bersih-bersih dulu."
"Iyah Nyonya. Silakan nikmati waktu berdua."
***
Mereka berjalan menyusuri bibir pantai, sesekali ombak bergulung-gulung datang dan menyapu kaki-kaki mereka yang menjejaki pasir pantai.
Riana menggamit lengan Tefan dan menyandarkan kepalanya di lengan kekar suaminya itu. Matahari sore perlahan berganti warna, menjadi jingga yang selalu jadi warna favorit Riana.
Orang-orang di sekitar pantai duduk santai menyaksikan fenomena alam matahari terbenam seraya menikmati lagu-lagu pantai yang menggembirakan suasana.
Mereka berdua memilih menepi di salah satu sudut pantai. Di mana di sana tak terlalu ramai orang berkumpul. Riana duduk di atas pasir dengan ombak yang sesekali menjilat ujung jempol kakinya.
__ADS_1
Tefan mengambil tempat di samping Riana, menekuk lututnya dan fokus melihat ke wajah Riana. Tahu sedang diperhatikan seperti itu, Riana pun menjadi malu. Persis seperti muda mudi yang pertama kali jatuh cinta dan masih malu-malu.
Rambut-rambut Riana bergerak searah angin bertiup. Beberapa anak rambutnya jatuh mengenai wajahnya dan menutupi pemandangan yang sedang dilihat Tefan saat ini. Itu sebabnya, Tefan menjumput rambut-rambut itu dan menariknya ke belakang telinga Riana.
"Aku beruntung lahir, besar dan sekarang ditakdirkan memiliki isteri secantik kamu, Riana."
"Sayang ... jangan mulai berpuisi di depanku. Itu bukan kamu banget."
"Hei, siapa yang berpuisi? Aku hanya sedang memuji mahluk Tuhan di depanku ini, yang sebelah jiwanya dititipkan padaku untuk dijaga."
"Fan ...."
"Ishh ... dia mah nggak bisa diajak romantis-romantisan. Padahal suasana sudah mendukung begini."
"Sayang, malu sama umur. Kalau kita berdua masih seumur mereka yang sedang berciuman itu wajar masih saling memuji satu sama lain. Lah kita ini, udah kepala tiga menghampiri empat."
"Emang kenapa coba? Memangnya memuji pasangan hanya untuk yang masih muda-muda? Jangan remehkan aku Riana ..."
"Haha ... kamu tidak pantas jadi seorang pujangga. Kamu cocoknya emang jadi pengusaha aja, sayang."
"Hei, tapi bener." Tefan menumpuk tangan Riana dengan tangannya. Mengisi kisi-kisi jari Riana yang kosong.
"Kita itu persis seperti jari-jari ini. Saling mengisi kekosongan yang ada, melengkapi dan menyempurnakan. Kamu adalah wanita yang pertama kali aku jatuh cinta padamu, pernah berjanji bahwa sekali aku jatuh cinta maka selamanya cinta itu adalah untuk perempuan yang sama. Yaitu ... kamu."
Riana tersenyum. Kali ini dia tak berani lagi mendebat ucapan Tefan. Dia sudah kalah oleh tatapan Tefan yang membuainya. Pria yang menjadi suaminya itu perlahan menunduk dan memiringkan wajahnya, kemudian mengisi kekosongan di bibir Riana.
Matahari perlahan menua, tenggelam dan berganti gelap malam. Sepasang suami isteri itu masih khusyuk menuntaskan hasrat pada bibir mereka. Lalu seiring semakin dinginnya cuaca, mereka memutuskan kembali ke villa.
__ADS_1
Seperti itulah seharusnya rumah tangga, saling mengisi, saling menjaga, saling menyempurnakan. Sebab sesungguhnya kondisi yang lemah seorang perempuan adalah ketika dia merasa tak dicintai lagi. Dan Tefan, memberikan perhatian yang besar pada hal itu. Tidak membiarkan Riana merasakan perasaan bahwa dirinya tak lagi dicintai.