
Siang ini aku berencana bertemu dengan Saka, memberitahu soal ancaman Tefan. Apalagi hari ini dia mengirimiku lagi sebuah pesan yang bunyinya kurang lebih seperti ini.
“Harusnya kamu tidak membuangku begitu saja Riana. Aku bahkan masih mencintaimu hingga kini. Apa hebatnya Saka dari aku?” - Tefan
Sebuah pesan bernada kemarahan dan putus asa. Sebenarnya apa mau kamu Tefan? Bukankah kamu yang meninggalkan aku? Lantas sekarang mengapa kamu menuduhku aku yang membuang kamu. Bertanya soal cinta? Cinta seperti apa yang hendak kamu perjuangkan? Bahkan kamu sendiri tidak tahu bahwa sejak awal kamu telah salah membiarkan aku berjuang sendiri untuk merebut hati orang tua kamu. Itu tidak adil buatku. Dan sekarang kamu berbicara soal membuang, cinta, dan apa hebatnya Saka? Kamu bercanda.
Aku memilih untuk mengabaikan pesan itu dan tetap fokus pada sejumlah hitung-hitungan laba penjualan di depanku. Tak lama kemudian, ponselku berbunyi lagi. Aku melirik sekilas siapa yang menelpon dan yang tertera adalah nomor yang tidak kukenali. Aku malas meladeni orang-orang yang nomornya bahkan tidak tercantum di dalam daftar kontak ponselku. Lagi pula aku yakin nomor itu adalah nomor yang sama yang digunakan Tefan untuk mengirim pesan padaku.
Ponsel tersebut tak hentinya berdering, menjerit bagai putus asa ingin segera diangkat. Akhirnya aku memilih untuk mematikan saja ponsel itu. Kumatikan lalu kumasukkan dalam laci. Bukan hanya mengganggu, tapi Tefan ini benar-benar membuat kesabaranku habis jika dia terus-terusan seperti itu. Memangnya apa yang bisa dia lakukan sekarang? Argh…! Mengapa memikirkan ini membuat kepalaku pusing.
Aku memijit bagian pangkal hidung dan puncak kepalaku, di bagian itu terasa betul sakitnya. Aku memejam sebentar dan tiba-tiba pintu ruanganku terbuka. Aku malas untuk melihat siapa yang masuk, kepalaku terasa berat.
“Mba ada apa? Mba sakit?”
Oh rupanya itu suara Nia. Aku mengangkat sejenak kepalaku untuk mempersilahkannya masuk.
“Masuklah, ada apa?”
“Aku membawa berkas persetujuan untuk kerjasama dengan perusahaan konveksi PT. A.”
“Taruh saja di mejaku, aku agak pusing. Nia bisakah kau mencarikan aku obat sakit kepala? Kepalaku berat dan sakit.”
“Bisa Mba. Tunggu sebentar aku carikan.”
“Baiklah. Trimakasih Nia.”
Aku berbaring sebentar di sofa panjang di ruanganku karena kepalaku semakin sakit saja. Tak lama setelah itu, aku pun tertidur. Aku tidak tahu sudah tidur berapa lama dan kudengar pintu ruanganku seperti ada yang buka.
“Mba, ini obatnya. Maaf sudah membuatmu menunggu lama.” Nia membawa masuk obat beserta botol minuman.
Aku bangun dan mengambil obat beserta air minum itu di tangan Nia lalu kuminum dengan sekali teguk.
__ADS_1
“Batalkan semua janji hari ini, aku ingin istirahat sebentar.” Ucapku pada Nia yang hendak meningalkan ruanganku.
“Apa tidak sebaiknya Mba aku antar pulang? Biar Mba bisa istirahat di rumah saja,”
“Tidak usah, aku istirahat di sini saja. Semoga setelah minum obat dan tidur sebentar sakitnya bisa hilang.”
“Baik Mba, aku keluar dulu kembali bekerja.”
“Trimakasih Nia.”
Sepeninggal Nia dari ruanganku, aku kembali berbaring di sofa panjang itu dan tertidur begitu dalam.
***
Aku tidak tahu berapa lama sudah aku tidur, namun aku merasa kepalaku sudah lebih baik dari sebelumnya. Saat hendak kembali ke meja kerjaku, pintu ruanganku kembali dibuka. Aku melihat tubuh besar dan tegap menyembul dari sana. Ah Saka.
“Hei, apa aku boleh masuk?” Ucapnya masih dengan posisi di balik pintu.
Aku kira Saka akan langsung masuk, eh dia malah tetap berdiri di sana. Membuatku gemas dengan tingkahnya itu.
“Masuklah Saka, apa kamu mau berdiri terus di sana? Tadi aku cuma bercanda ih.”
“Aku juga cuma menggodamu, siapa sangka kamu akan bereaksi cepat seperti itu.”
Saka mendekat ke arahku dan melayangkan sebuah kecupan di keningku. Itu menjadi kebiasaannya tiap kali kita bertemu. Dia melihatku tampak tak bergairah, karena itu mungkin dia heran dan menanyaiku dengan serius.
“Kenapa wajahmu sendu dan pucat begitu? Kamu sakit?” Dia berkata lembut sembari meletakkan kedua tapak tangannya di kedua pipiku.
“Aku juga tidak tahu, kepalaku tiba-tiba sakit dan pusing. Mungkin cuma kecapean. Kamu kenapa ke sini, tidak biasanya.”
“Aku khawatir sama kamu, pasalnya aku telpon kamu nomor kamu tidak aktif-aktif, aku coba berkali-kali tapi tetap operator yang jawab. Makanya karena takut terjadi sesuatu aku langsung ke sini. Kita sudah janji akan makan bersama bukan?”
__ADS_1
Dia menjelaskan panjang lebar dan aku baru ingat kalau sejak beberapa jam yang lalu ponselku kumatikan karena terus-terusan dihubungi oleh Tefan. Apa aku kasih tahu saja ke Saka tentang terror SMS dan telpon yang Saka lakukan belakangan ini ya? Aku membathin dan seketika buyar saat Saka menggoyang-goyangkan tangannya di depanku.
“Hei, kamu kenapa? Kok jadi diam begitu? Apa yang kamu pikirkan sampai bikin kamu sakit begini?”
“Tefan.”
Mendengar nama itu disebut Saka langsung kaget dan memasang wajah tidak suka.
“Kenapa dengan dia? Apa dia mengganggumu?”
“Kamu cek saja ponselku, belakangan ini dia sering banget terror aku lewat pesan singkat dan juga tak berhenti menelponku meski aku tidak ingin menjawabnya. Aku mencemaskan kamu Saka.”
“Bajingan itu rupanya. Dia bicara apa sama kamu? Sayang, kamu tidak usah cemas sama aku, tidak akan ada yang terjadi sama aku. Aku pastikan itu.”
“Dia terus saja mengancamku. Karena itu aku lebih baik mematikan ponselku daripada harus terus terganggu oleh dia.”
“Kamu jangan terlalu banyak berpikir, sebaiknya aku antar kamu pulang. Atau kamu mau ke apartemenku dulu? Aku akan masak sup buat kamu, siapa tahu itu bisa menghilangkan sedikit rasa pusing kamu.”
“Ya sudah kita ke apartemen kamu saja. Kalau aku tiba-tiba pulang seperti ini, aku takut Mama jadi cemas dan bertanya lebih jauh. Aku belum kasih tahu Mama kalau Tefan sudah kembali.”
“Kemasi barangmu, kita berangkat sekarang. Kamu masih bisa jalan sendiri? Atau mau aku gendong saja?”
“Kamu ih, jangan berlebihan begitu. Aku hanya pusing, aku jalan sendiri.”
“Kirain, hehe.”
Aku tersenyum dengan tingkah Saka yang seperti itu. Dia selalu saja memperlakukan aku dengan baik dan lembut. Aku kira dulu dia tidak akan pernah bersikap semanis ini, selain karena dia sangat dingin, dia juga sangat menyebalkan. Selalu bikin aku kesal, siapa sangka dia malah sering bersikap manis dan romantis kepadaku.
Setelah menyerahkan semua urusan pekerjaan pada Nia, aku pun pergi meninggalkan kantor bersama Saka. Dia memapahku karena aku masih sedikit oleng, padahal aku sudah minum obat sakit kepala tapi rasa pusingnya tak hilang juga.
Bersambung…
__ADS_1