Complicated Love #2

Complicated Love #2
CL-29. Mencari Solusi


__ADS_3

Ponselku berbunyi, panggilan dari nomor tak dikenal. Aku sudah penat begini, masih saja ada yang ingin mengganggu. Aku tidak punya waktu meladeni penelpon tak dikenal itu. Kuhempaskan ponsel itu ke atas kasur dan aku memijat kedua pelipisku yang tiba-tiba terasa sakit.


Kudengar pintu diketuk dan aku melihat wajah Mama menyembul dari balik pintu.


"Ada apa sayang? Kamu terlihat sangat berantakan, apa yang mengganggumu?"


"Om Roy."


Aku menjawab pertanyaan Mama tanpa basa basi, aku tidak bisa menyembunyikan masalah ini darinya.


Kulihat mata Mama membelalak kaget sembari menutup mulutnya.


"Mau apa lagi dia?"


"Dia mengacaukan tokoku tadi sore. Dia memberiku waktu selama tiga hari, jika dalam selang waktu itu aku tidak mengosongkan tempat di atas tanah itu, maka dia akan menghancurkan semuanya dalam sekejap mata."


"Ta--tapi bagaimana bisa? Kamu masih berhubungan dengan Tefan?"


"Tidak Ma, tidak seperti itu. Sumpah demi Tuhan. Mama kan tahu betapa sibuknya aku selama kita pindah. Aku mana mungkin tidak punya pikiran sampai harus berhubungan lagi dengan dia."


"Lantas apa?"


"Dia tidak suka kalau bisnisku berkembang. Entah dia dapat info dari mana sampai bisa menemukan bisnisku di kota ini. Aku tidak habis pikir dia melakukan itu. Pertama dia telah membuat suplierku memutus kontrak kerjasama secara sepihak itu atas tekanan dari dia. Sekarang dia malah mau menggusur bangunan toko yang juga merupakan kantor pusatku."


Aku menjelaskan dengan hati sedih bercampur marah.


"Ya Tuhan Riana, maafkan Mama yang akhir-akhir ini tidak memperhatikan kamu. Masalah sebesar ini harusnya tidak kamu simpan sendiri."


"Riana pikir masalahnya bisa aku selesaikan sendiri Ma, tidak tahunya masalahnya semakin bertambah besar tanpa bisa kucegah."


Tak lama kemudian Mama merengkuhku dalam pelukannya, Papa masuk kamar dan menatap heran ke arah aku dan Mama yang sedang berpelukan dengan ekspresi sedih bercampur marah.


"Ada apa ini? Apa yang sudah Papa lewatkan?"

__ADS_1


Papa bertanya dengan nada heran dan penuh ingin tahu. Aku melepas pelukan Mama dan berangsur memeluk Papa.


"Ada apa Riana?" Tanya Papa lembut dan mengusap kepalaku seperti anak kecil.


"Riana mohon doanya ya Pa, sekarang ini Riana tengah menghadapi masalah yang cukup besar. Jadi Papa doain Riana biar masalahnya segera selesai."


"Iyah tapi masalah apa? Kamu terlihat gusar dan marah, apa yang Papa tidak tahu sayang?"


"Temanmu Roy. Dia datang lagi untuk menghancurkan bisnis Riana." Mama angkat bicara dan dari nada bicaranya saja sudah terdengar sangat kesal.


"Apa yang sudah dia lakukan?"


"Dia mau menggusur toko Riana. Dia berkomplot sama pemiliknya dan sekarang tanah itu adalah miliknya."


Terlihat gurat wajah Papa yang menegang dan juga terpancar rasa bersalah dalam dirinya. Ia merutuki dirinya yang tak bisa menolong anak semata wayangnya saat mendapatkan masalah, terlebih karena masalah itu sesungguhnya berawal dari perseteruannya dengan Roy.


"Pa, Ma. Tidak usah khawatir, Riana pasti bisa mengatasi ini. Riana hanya minta doa Papa dan Mama."


"Selalu sayang, Papa juga Mama selalu mendoakanmu yang terbaik."


"Trimakasih Pa, Ma."


"A--pa?"


Suara Nina terdengar nyaring di telingaku karena telah berteriak sangat keras. Ya, aku sedang berbicara dengan Nina di telpon, menceritakan bagaimana Om Roy itu datang ke toko dan memintaku membereskan tempat itu secepat mungkin.


"Gila ya orang itu." Sambung Nina lagi dengan nada yang geram.


"Aku harus bagaimana? Aku tidak bisa berpikir cepat dalam situasi seperti ini. Apalagi waktu yang diberikan Om Roy hanya tiga hari. Huh!"


"Tenang Riana, aku akan mencoba cari cara."


"Nin, lagi-lagi aku hanya bisa merepotkanmu. Soalnya aku tidak tahu lagi harus cerita dan minta tolong pada siapa lagi. Kamu sahabatku satu-satunya."

__ADS_1


"Jangan sungkan Yan, aku sahabat kamu dan selamanya akan tetap seperti itu. Aku akan selalu ada buat kamu dalam kondisi apapun. Sekarang, kasih aku waktu bicara sama Papaku mungkin ini jalan satu-satunya yang harus ditempuh agar tua bangka itu berhenti mengganggu kamu."


"Apa yang kamu rencanakan Nin?"


"Sudahlah kamu tidak usah khawatir. Aku jamin kali ini dia akan melepaskanmu. Kuharap Papa setuju dengan Ide yang akan aku ceritakan padanya. Yan, bagaimanapun aku juga tidak suka dengan orang tua itu. Dia sungguh sudah keterlaluan."


"Makasih yah Nin."


"Aku sudah pernah bilang kan, masalah kamu adalah masalalu juga. Sebisa mungkin kita cari solusi sama-sama. Oh iya, kamu sudah pernah ketemu Tefan? Dia sudah kembali ke Indonesia. Masa hukumannya di asingkan telah berakhir. Mungkin itu sebabnya om Roy kembali mengusikmu, karena dia takut Tefan akan mencarimu lagi."


"Aku belum pernah bertemu dengannya dan kuharap jangan pernah. Bukan apa-apa aku hanya tidak mau masalah yang dulu kembali menyeruak ke permukaan. Ini pertama dan terakhir kita masukkan dia dalam pembicaraan kita ya Nin."


"Maaf sudah mengingatkanmu lagi dengan masa itu."


"It's okay!"


Percakapan via telpon itu pun terputus. Aku bukan tidak mau tahu kepulangan Tefan, tapi masalah yang kuhadapi sekarang saja sudah cukup rumit. Aku tidak mau menambah masalah baru lagi yang akhirnya membuat semuanya berantakan lagi.


Aku hanya berharap Nina dapat membantuku kali ini. Karena hanya dia satu-satunya yang dapat kuandalkan dalam masalah ini.


Semua karyawan telah kuperintahkan untuk membereskan barang-barang di toko dan mengirimnya ke toko cabang. Kupercayakan urusan ini pada Nia yang juga asistenku. Yah padahal, Nia baru saja bekerja denganku tapi harus berhadapan dengan masalah sebesar ini.


Aku menghubungi Nia lewat telpon, memastikan semua barang telah aman dan akan segera disalurkan ke cabang.


"Baik mba, aku urus semuanya di sini. Mba tenang saja, mba sebaiknya istirahat dulu. Aku rasa mba sudah teramat lelah."


"Terimakasih Nia, tidak kusangka kamu dapat diandalkan seperti ini. Kamu sudah bekerja sangat baik. Sekali lagi aku percayakan semua urusan toko padamu."


Aku tutup telponnya dengan perasaan sedikit lega. Sekarang yang harus aku pikirkan adalah bagaimana mendapatkan tanah atau lokasi toko yang baru. Tentu saja yang tidak bisa dijangkau oleh lelaki tua bangka itu.


Aku menghubungi beberapa teman di bagian properti, namun belum ada hasil apa-apa. Kebanyakan lokasinya belum terlalu ramai. Sehingga akan membuat perputaran atau daya beli akan lesu.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2