Complicated Love #2

Complicated Love #2
Jika Hidup Itu Mudah


__ADS_3

"Mengapa Mama tega menghancurkan pernikahan Saka, Ma?" tanya Saka dengan mata berkaca-kaca di depan Mamanya.


Suasana rumah sakit menjadi lebih muram, Sheril masih di ruang rawat ditemani oleh Shena. Sementara Saka masih meminta penjelasan pada Mamanya.


"Mama tidak bermaksud begitu, Saka. Mama pikir, sejak kalian menikah kamulah yang berkorban terlalu banyak pada Riana. Saat kamu kecelakaan, yang ada di pikiran Mama hanyalah Riana seorang pembawa sial. Dia sudah membuat kamu pergi dari dunia ini. Tapi kemudian Sheril menghubungi Mama dan mengatakan bahwa dia tak sengaja melihat kamu di rumah sakit. Seketika Mama merasa lega karena kamu masih diberi kesempatan untuk hidup kedua kali. Mulanya Mama tak percaya, namun setelah Mama memastikan sendiri, aku baru yakin bahwa itu benar kamu."


"Posisinya waktu itu, Mama sudah mengusir Riana dari rumah kita. Sebab setiap kali Mama melihat wajahnya yang terbayang hanyalah bagaimana kamu yang terbaring kaku dengan penutup kain kafan. Mama hampir gila karenanya."


"Mama meminta Sheril agar terus mendampingi kamu. Apalagi sejak tahu bahwa dia sudah bercerai dengan suaminya, Mama pikir itu hal yang bagus agar kalian bisa bersama lagi."


"Tapi ... Mama benar-benar keterlaluan. Bisa-bisanya Mama mengusir Riana dari rumah kami. Aku mungkin tidak ingat apapun, tapi aku bisa membayangkan bagaimana perasaan Riana yang harus membesarkan Kiano sendirian. Mama harusnya mengerti, karena mama seorang Ibu. Tidak mungkin mau melihat anaknya menderita." Tutup Saka dengan nada suara tinggi.


"Maafkan Mama, Saka."


"Maaf saja tidak akan cukup, Ma. Mama lihat sekarang bagaimana rumah tangga aku dan Riana telah hancur. Bahkan sekarang dia sudah bersama orang lain, sementara aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri bahwa aku masih sangat mencintainya."


Tanpa mereka sadari, ternyata Sheril mendengar pembicaraan yang berlangsung. Tadinya dia bermaksud ingin menemui Saka untuk menceritakan apa yang terjadi antara Saka dan dirinya.


Sheril menahan napas sedih, Saka masih mencintai Riana.


"Apakah aku terlalu buruk untuk berada di sisimu, Mas? Ternyata sampai saat ini, kaku pun masih mencintai Riana. Lantas bagaimana denganku? Apakah aku harus sendiri lagi setelah kegagalan pernikahan yang sebelumnya?"


Biji air mata yang menggantung di pelupuk mata Sheril sudah dihapusnya, dia pun melangkah dengan kaki yang sedikit goyah karena masih berasa pusing akibat jahitan di pelipisnya.


"Mas, maaf bisa kita bicara sebentar?"


"Kamu ngapain ninggalin kamar kamu? Kamu sebaiknya istirahat saja, tidak ada yang perlu dibicarakan dengan Saka." Jawab mertuanya ketus.

__ADS_1


Padahal kemarahannya pada Sheril tersebut tidak beralasan. Bukankah dulu dia yang begitu ingin menyatukan mereka dalam mahligai pernikahan, sekarang mengapa dia yang begitu antusias untuk menjauhkan keduanya lagi?


"Ma ... aku hanya ingin bicara sebentar. Tidak lebih."


"Ma, sudahlah. Mohon tinggalkan aku dan Sheril." Akhirnya dijawab juga oleh Saka.


Wajah Mamanya sangat kesal. Namun dia pun pergi meninggalkan sepasang suami isteri itu untuk berbicara satu sama lain.


"Karena kamu sudah mengingat semuanya, sekarang aku hanya ingin kepastian mengenai hubungan kita, Mas." Sheril langsung ke inti pembicaraan. Nampaknya dia juga sudah mulai merasa bahwa hubungannya dengan Saka tak akan menemui titik terang.


"Maafkan aku, Sher. Mengenai pernikahan kita, aku sangat-sangat minta maaf padamu. Aku bingung sekarang, di sisi lain aku masih menginginkan Riana untuk bisa bersamaku. Apalagi aku memiliki anak dari Riana."


"Aku mengerti, Mas. Alangkah baiknya jika hal tersebut bisa mas pikirkan baik-baik. Apapun keputusan yang mas ambil, aku sudah mempersiapkan diri. Walaupun sulit, tapi aku akan berusaha menerima kenyataan pahit itu. Mungkin lebih baik, kita bercerai saja, demi kebaikan bersama." Sheril menundukkan wajahnya, sebab dia tak mau melihat wajah Saka. Dia mungkin akan goyah di depan Saka jika terus menatap pria itu.


Dia pasrah dengan keadaan yang ada, sebab memaksakan diri pun dia sudah yakin akan kalah.


"Baik, Mas. Dan ... mungkin sebaiknya, malam ini juga aku akan kembali ke Jakarta."


"Tapi ... luka kamu belum sembuh, Sher."


"Aku bisa melakukan perawatan medis sesampai di Jakarta. Kalau begitu, aku mau beres-beres dulu."


Sheril meninggalkan Saka, pergi menemui Shena yang sudah menunggunya di dalam. Adik iparnya tersebut sebenarnya tak menyetujui keputusan Sheril untuk bercerai.


"Mbak, apa sudah dipikirkan baik-baik? Mungkin saja masih ada waktu untuk memperbaiki semuanya."


"Tidak, Shena. Aku sudah memikirkan semuanya dan mungkin itulah jalan terbaik saat ini. Percuma jika aku terus memaksakan diri, toh yang diingat Saka hanya Riana, bukan aku."

__ADS_1


"Tapi, Mbak--


"Malam ini juga aku kembali ke Jakarta. Aku titip mas Saka ya Shen."


"Mbak ..."


"Aku mau istirahat sebentar, bangunkan aku jika sudah jam 6 sore ya."


Shena pasrah. Dia tak menyangka bulan madu yang sekiranya menjadi momen bahagia antara Saka dan Sheril berubah dalam waktu sekejap. Mereka bahkan belum sempat menikmati keromantisan seperti yang sudah direncanakan sebelumnya. Ternyata angan Sheril hanyalah tinggal kenangan.


***


"Aku harus bisa merebut Riana kembali, aku tidak bisa membiarkan dia bersama Tefan. Pria itu bukanlah pria yang baik, apa Riana tak belajar dari masa lalunya?"


Saka berbicara sendiri untuk sekedar meyakinkan dirinya, tentang langkah apa yang sebaiknya dia ambil untuk memenangkan kembali hati Riana.


Waktu terus berjalan, perlahan menua dan Saka masih seorang diri menikmati hamparan luas lantai Kuta Bali. Dia tak peduli apakah Sheril benar-benar pergi atau tidak.


Senja mencuri lagi ingatannya, ke masa di mana dia menikmati keindahan masa berpacaran dengan Riana. Dia pernah menghadiahi Riana liburan yang tak akan mungkin dilupakannya seumur hidupnya.


Sampai senja semakin tua dan gelap, dia masih berdiri menatap ke laut. Memikirkan segala yang pernah terjadi antara dia dan Riana. Kehidupan seperti membawanya ke dalam pengembaraan yang panjang dan dia tersesat. Lalu ketika menemukan cahaya, dia berjalan ke arah terang itu lalu saat muncul dari balik cahaya dia melihat semuanya sudah berbeda.


"Maafkan aku Riana, maafkan aku anakku Kiano. Aku tidak pernah ada dalam tumbuh kembangmu. Mama kamu pasti sangat bersusah payah dalam membesarkan kamu, Nak. Papa minta maaf sekali lagi, andai saja semua waktu yang telah lewat bisa diputar kembali aku tidak akan pernah melakukan perjalanan bisnis itu. Sekarang, aku kehilangan kalian berdua. Rasanya, bahkan ditusuk belati berkali-kali pun tidak akan sebanding dengan kenyataan yang harus kuterima saat ini. Aku sangat merindukan kalian ..."


"Arrghhhh ...."


Saka berteriak kencang, berharap seluruh kesal dan kesah yang memenuhi rongga dadanya dapat tertelan oleh ombak yang menggulung-gulung dan menjilat bibir pantai.

__ADS_1


Jika hidup itu mudah, maka semua orang tak akan pernah bisa belajar mengenai arti kehidupan.


__ADS_2