
“Melihat dia berusaha mempertahankan rasa yang ada, aku jadi takut dan khawatir bukannya senang.”
Keesokan harinya, entah dorongan dari mana aku pergi menemui Tefan di Villa seperti yang disampaikan Dewa sebelumnya. Untuk pertama kalinya aku akan bertemu Tefan setelah mengungsi ke rumah Mama beberapa saat yang lalu. Jika benar Tefan berada di Villa, aku ingin tahu apa yang akan dibicarakannya padaku. Bila dia hendak membatalkan pernikahannya dengan Nina yang hanya menghitung hari, jelas aku tidak akan membiarkannya. Keputusanku sudah bulat tidak akan kembali lagi padanya apapun yang terjadi.
Perjalanan ke Ciwideuy tidak terlalu padat, ramai tapi lancar. Memungkinkan aku sampai ke Villa dengan cepat. Ada perasaan tak tenang bilamana membayangkan pertemuan yang sebentar lagi dengan Tefan. Sulit menerka apa yang akan terjadi, aku berusaha menenangkan diri dengan mendengarkan musik. Jika semua yang diceritakan Dewa benar, itupun tak berarti akan menggoyahkan keputusanku. Hubunganku dan Tefan seharusnya memang tak pernah terjadi, perasaan cinta yang terlanjur tumbuh dan tak bisa dihindari membuat keadaan menjadi serba sulit. Tapi bagaimanapun jalan keluarnya hanya satu menyelsaikan tanpa menambah masalah menjadi lebih besar. Ibarat pepatah yang mengatakan jangan menyiram minyak ke dalam api yang menyala. Sebab itu akan membuat api semakin berkobar dan membakar seluruh yang ada.
Sekitar pukul empat sore aku tiba di kawah putih. Penjaga yang biasanya membersihkan villa tampak berlari menyongsong kehadiranku setelah turun dari mobil.
“Selamat sore Non, untung Non Riana datang. Mas Tefan belum keluar-keluar Villa sejak kemarin. Saya takut terjadi apa-apa padanya, pintu juga di kunci dari dalam, aku panggil-panggil tapi tidak ada sahutan.” Jelasnya dengan nada khawatir.
Aku bergegas ke pintu dan berusaha memanggil nama Tefan tapi tak ada suara sedikitpun.
“Tefan kamu baik-baik saja kan?” ucapku dalam hati.
“Bagaimana ini Non?”
“Bapak simpan kunci serep Villanya?”
“Oh iya ada Non. Sebentar Bapak ambilkan dulu, kenapa Bapak jadi lupa begini ya.”
Aku harap-harap cemas, ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam sana. Kenapa Tefan tidak menjawab panggilanku, bukankah kata Dewa dia sudah menungguku? Tak lama Bapak Tua penjaga Villa itupun kembali dengan segantung kunci. Masalah muncul lagi, aku pikir akan selesai dengan satu kali kunci, ternyata kuncinya ada banyak dan harus dicoba satu-satu kunci mana yang cocok. Semakin menyebalkan rasanya.
Setelah mencoba puluhan kunci akhirnya ketemu juga kunci yang cocok. Tak mau membuang waktu aku bergegas masuk dan mencari Tefan. Aku masuk ke dalam kamar dan menemuka Tefan di sana tengah terbaring bersama dengan beberapa botol minuman. Aku tak pernah melihatnya seperti ini. Setahuku dia bukan laki-laki yang suka minum bila dalam masalah. Dia selalu bisa mengatasi masalah yang datang padanya, jika yang kulihat sekarang ini benar Tefan, itu artinya dia benar-benar dalam masalah besar.
“Tinggalkan kami berdua Pak.” Ucapku pada Bapak penjaga yang ikut masuk ke dalam kamar memastikan.
“Baik Non.”
Aku ikut berbaring di sebelahnya bersandar pada jok kursi sambil membelai wajahnya. Aku tidak mau mengganggunya, kubiarkan dia begitu sampai dia bangun dan tersadar akan kehadiranku di sampingnya. Kulihat dia sangat berantakan, wajahnya terlihat sangat capek, rambutnya acak-acakan, bajunya kusut sana sini, ini benar-benar bukan Tefan yang kukenal. Dia berubah drastis dalam waktu singkat, apa yang sampai membuat dia seperti ini? Apakah dia terbebani dengan pernikahannya, tapi kenapa? Bukankah dia sendiri yang setuju dijodohkan dengan Nina? Akhh... aku semakin bingung.
pTak sadar aku malah ikut jatuh tertidur di samping Tefan, terbangun ketika suara HP berdengung kencang. Kulihat Tefan masih tertidur di sampingku, tapi kini tangannya justru menggenggam tanganku. Apa dia sebenarnya sadar dengan kehadiranku? Hanya saja dia belum sanggup terbangun karena terlalu banyak minum. Panggilan dari HP tersebut aku abaikan begitu saja. Waktu menunjukkan sudah pukul enam sore, aku hendak beranjak ke dapur mencari apa saja yang bisa di makan. Tapi Tefan menghentikanku, tangannya menarik tangku yang sedari tadi digenggamnya.
Aku pasrah dan membiarkan dia tetap memegangi jemariku, aku tetap berbaring di sampingnya sama seperti pertama kali aku datang ke Villa. Saat aku hendak membelai wajahnya lagi, dia perlahan membuka mata.
“Aku kira kamu takkan pernah kembali.” Ucapnya pelan sembari mengumpulkan seluruh kesadarannya. Tangannya perlahan menyusuri setiap inchi wajahku dan aku melakukan hal yang sama pada wajahnya. Hal seperti ini sering kita lakukan saat bersama seperti ini.
“Aku kira kamu tak pernah menungguku.”
“Maaf aku tak mencari kamu, tapi aku selalu menunggu untukmu.”
“Kenapa kamu bisa sampai seperti ini?”
“Aku baik-baik saja, selama bisa melihat kamu aku pasti baik-baik saja.”
“Kamu berubah Fan.”
“Aku tak berubah. Kalaupun aku berubah, Papalah yang mengubahku hingga seperti ini. Aku tidak mau terjadi apa-apa sama kamu.”
“Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Kamu tahu aku kan?”
“Aku tahu kamu Riana, aku tahu semua tentang kamu. Jangan pergi lagi.”
“Fan, Nina mengkhawatirkan kamu. Pernikahan kamu tinggal menghitung hari, kamu tidak bisa begini.”
__ADS_1
“Please... jangan bawa-bawa nama perempuan malang itu dulu dalam pembicaraan kita malam ini. Aku ingin hanya ada aku dan kamu. Tak ada orang lain lagi.”
“Fan...”
Belum sempat kuselesaikan kalimatku, dia sudah melumat bibirku terlebih dulu. Perlahan dan semakin memburu seiring intensitas ciuman yang kami lakukan. Dia melumatku dengan beringas, sisa-sisa aroma alkohol masih tercium tapi sudah tak jadi soal lagi. Satu persatu pakaian kami tanggal dari tempatnya melekat. Bercinta di atas sofa yang tak seberapa panjang dan besar memberikan sensasi yang berbeda dibanding saat melakukannya di atas tempat tidur.
Nafas yang mulai tak beraturan, memburu satu sama lain. Ada yang lain dengan Tefan, cara dia bercinta tidak selembut dan setenang dulu. Dia menjadi sangat beringas dan tak terkendali, ada emosi di sana. Emosi yang begitu besar hingga mampu membakar nafsunya sedemikian rupa. Aku berusaha mengimbangi permainannya mencoba memberinya kenyamanan seperti yang sering kulakukan padanya setiap kali bercinta.
Perlahan nafas yang tadinya memburu itu kian mereda, aku rebah di atas tubuhnya dengan keringat yang menetes satu-satu. Aku hanya rebah di sana mendengar irama jantungnya yang masih tersisa kebingungan serta kegelisahan. Kutatap dalam matanya, ada kesedihan di sana. Ya Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi pada orang yang sangat kucintai ini? Mengapa dia menjadi sangat berbeda sekarang?
“Fan...”
“Yah...”
“Apa kita melakukan kesalahan lagi?”
“Tidak. Karena kita menginginkannya.”
“Apa kita bersalah pada Nina?”
“Tidak. Tidak ada yang salah. Memang inilah yang harus terjadi sekarang, jadi tak ada yang perlu disesali.”
Jawabannya begitu tegas. Aku takut dia benar-benar berubah pikiran dan tidak jadi menikahi Nina. Jika hal itu terjadi maka aku tidak tahu harus merasa senang atau sedih. Kedua-duanya membuatku sulit untuk memutuskan. Hal yang sudah kurencanakan sebelum pergi dari rumah Mama ternyata tak berguna sama sekali. Bertemu Tefan malah membuat perasaan ini menjadi semakin bingung. Aku jadi tidak tahu apa yang mesti dilakukan. Ternyata tak semudah dibayangkan, tak ada yang bisa direncanakan kecuali menerima apa yang ditakdirkan Tuhan.
Malam itu dua kali kami bercinta, bercinta hingga lelah dan terlelap dengan sendirinya. Pagi-pagi saat aku terbangun, Tefan sudah tidak ada di sampingku. Aku bangun dan menjadikan selimut sebagai penutup tubuh. Aku mencari Tefan di kamar mandi, tapi dia tak ada. Akupun memutuskan untuk membersihkan tubuh terlebih dahulu, terlalu lengket akibat semalam. Saat keluar dari kamar mandi, kulihat Tefan sudah duduk di sofa sambil membaca koran pagi dan di depannya telah tersedia sarapan yang dibuatnya sendiri untuk berdua.
“Pagi My Lady....!” sapanya hangat dan senyumnya yang manis.
“Pagi My Lord...!” aku mengecup pipinya dan dia malah menarikku ke pangkuannya dan sekali lagi kita berpagut dalam nikmat asmara.
“Hehe... Maaf. Ya udah sarapan dulu.”
“Makasih sarapannya. Tapi aku pakaian dulu.”
\*\*\*
Setelah sarapan dan ngobrol beberapa saat, aku dan Tefan memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di sekitar Kawah Putih. Kabut masih banyak sepagi ini, suasana juga masih teramat dingin. Kami saling menuntun jalan, membicarakan hal-hal yang tak ada hubungannya dengan pernikahan dia dan Nina. Hanya aku dan dia.
Cukup lama kita berjalan kaki, kemudian kembali lagi ke Villa. Saat duduk berdua di ruang tamu, aku pikir itulah waktu yang tepat untuk bertanya kenapa dia sampai menungguku di Villa ini. Apa yang terjadi padanya, hingga membuat dia seperti orang bingung dan tak tahu apa yang dilakukannya. Mendengar cerita Dewa aku ingin membenarkan bahwa saat ini Tefan bagai orang hilang arah dan dia butuh orang untuk membimbingnya pulang.
“Fan, aku boleh tahu alasan kenapa kamu menunggu disini?”
Aku bertanya sangat hati-hati takut mengganggu suasana hatinya.
“Aku ingin memastikan perasaanku Riana.”
“Perasaan yang mana?”
“Perasaanku terhadapmu.”
“Lalu apa jawabannya?”
“Aku tak mau lari lagi.”
__ADS_1
“Maksud kamu?”
“Aku tidak akan menikahi Nina.”
“Fan...!”
Aku kaget demi mendengar jawabannya. Di luar dugaan kalau dia sampai melakukannya, itu tak boleh terjadi. Tefan tak boleh batal menikahi Nina, dia tidak pantas menerima kesalahan yang kami buat. Tidak boleh.
“Aku sudah memutuskan Riana.”
“Tapi bagaimana dengan Nina Fan? Dia sangat bahagia.”
“Lalu bagaimana denganku Riana? Bagaimana denganmu? Apa kebahagiaan orang lain jauh lebih penting dibanding kebahagiaan kita berdua? Kamu pergi dariku itu adalah mimpi buruk yang pernah kualami dan aku tidak mau kejadian seperti itu terulang kembali.”
Aku tak menyangka dia sampai harus berteriak di depan wajahku hanya untuk memberitahu bagaimana perasaannya. Aku kalut dan hanya bisa diam untuk sejenak.
“Nina sangat mencintai kamu Fan. Aku bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya perasaan dia saat tahu kamu tidak akan menikahinya, terlebih sebentar lagi hari bahagia itu akan datang.”
“Aku tahu soal itu Riana. Tapi bisakah kamu sedikit saja mempertimbangkan apa yang aku rasa? Haruskah aku terus berkorban demi perasaan orang lain? Demi perasaan Nina, demi perasaan orang tuaku?”
“Fan tenangkan diri kamu.”
“Tidak. Aku tidak bisa tenang Riana. Aku mau kita pergi dari kota ini.”
“Itu bukan jalan yang terbaik Fan.”
“Menurut kamu apa yang terbaik Riana? Menurut kamu dengan menikahi Nina masalah akan selesai begitu saja?”
“Fan...”
“Aku tidak bisa tenang. Aku harus melakukan sesuatu.”
“Fan...”
“Sudahlah sebaiknya kita tidak usah membicarakan ini lagi.”
Tefan meninggalkanku sendiri di ruang tamu. Dia masuk ke dalam dan entah sedang berbuat apa. Begitu aku hendak masuk menyusul dia, dia sudah berpakaian rapi dan membawa tasnya keluar.
“Kamu mau ke mana?”
“Pulang.”
“Kok mendadak?”
“Aku harus menyelesaikan sesuatu. Kamu kalau masih mau di sini, tinggal saja dulu atau sebaiknya kamu pulang ke apartemen kamu.”
“Tapi kamu mau ke mana dan ngapain Fan? Jangan bikin aku panik dan khawatir.”
“Kamu tenang saja.”
“Fan.. Fan.. Tefann...!!!”
Dia keras kepala, aku tak tahu sejak kapan dia sampai berubah seperti itu. Langsung pergi begitu saja di depanku dan mengendarai mobilnya dengan cepat. Aku jadi panik dibuatnya dan memutuskan untuk mengikutinya dari belakang. Meski aku sudah memacu gas secepat mungkin aku tetap tak mendapatkan jejak Tefan. Dia menghilang di jalan. Aku coba hubungi HP-nya tapi tidak aktif. Tefan kamu ke mana? Desahku dalam hati.
__ADS_1
\*\*\*
Tak pernah kusangka situasi akan jadi serumit ini, Tefan menjadi orang yang sangat tidak aku kenali. Ataukah itulah dia yang sesungguhnya? Melihat dia berusaha mempertahankan rasa yang ada, aku jadi takut dan khawatir bukannya senang. Akan ada banyak yang dikorbankan bahkan rasa sakit yang tak terperihkan. Aku harus menemukan Tefan sebelum terjadi hal yang lebih buruk lagi. Tefan, kumohon kembalilah...