
Gaun yang sudah dipesan Riana bersama Tefan telah tiba. Nadia memekik senang begitu melihat kotak gaun itu. Riana tersenyum kecil melihat reaksi Nadia yang agak norak. Yang nikah siapa, yang reaksinya berlebihan siapa. Haha.
Kemudian satu kotak kecil berisi jas yang akan dipakai Kiano saat resepsi nanti.
"Bu ..., gaunnya indah banget. Pasti cocok banget sama Ibu. Nggak sabar pengen lihat Ibu pakai gaunnya nih. Terus satu kotak ini ya, kalau dipakai Kiano ya ampun dia akan terlihat semakin manis dan ganteng. Menggemaskan sekali."
"Nad, kamu aja gih yang nikah. Haha, sudah kebelet banget kayaknya."
"Ya jangan, Bu. Pak Tefan mah nggak cocok sama aku, lebih tepatnya dia nggak mungkin mau sama Nadia. Hehe."
"Aku bawa naik dulu ya, Nad."
"Oke, Bu!"
Sampai di lantai atas, ponsel Riana berdering.
"Sudah terima paketnya?" ucap seseorang dengan suara khasnya yang berat.
"Sudah! Nggak nyangka jadinya malah cantik banget."
"Kamu suka?"
"Wanita mana yang nggak suka. Itu gaun terindah yang pernah kulihat. Terimakasih, Fan!"
"Sebentar lagi jadi suami kok manggilnya masih, Fan, Tefan, panggil sayang dong!" ucap Tefan yang terdengar menggelikan di telinga Riana.
"I-iya, sayang!"
"Apa? Sekali lagi, jaringannya gangguan nih. Aku gak dengar." Tefan pura-pura tidak dengar demi agar Riana mau mengulanginya lagi.
"Sayang ..."
"Love you ...!"
Riana tersenyum malu-malu seperti anak abege.
"Fan ... udah ah, aku malu nih."
"Astaga! Ngapain malu?"
__ADS_1
"Umur sudah mau kepala empat ini. Masa kayak anak abege labil gini si?"
"Nggak apa-apa dong, kan aku sayang dan cinta mati sama kamu."
Tefan semakin menggila. Sudah seperti anak abege yang yang baru puber saja.
Sampai telepon ditutup pun, Riana masih senyum-senyum sendiri di kamarnya. Nggak terasa, tanggal pernikahan mereka sudah dekat. Tinggal tiga hari lagi.
Pernikahan Riana dan Tefan adalah pernikahan yang kedua bagi mereka. Walau pernikahan kedua, namun rasa deg degannya masih persis ketika mereka menikah dengan pasangan masing-masing. Riana kerap tak bisa tidur memikirkannya.
***
Jika ada orang yang paling sibuk dengan urusan pernikahan Tefan Riana, maka Pak Bono-lah orangnya. Tahu sendiri, Tefan orang yang perfeksionis. Dia mau semuanya sempurna di matanya dan di mata orang lain. Padahal Riana sudah pernah bilang agar pernikahan mereka dibuat sederhana saja.
Bukan Tefan namanya kalau dia tidak bisa memberi kejutan untuk calon isteri. Apalagi calonnya kali ini adalah sahabat kecilnya, orang yang selalu dicintainya dari dulu hingga saat ini. Dia ingin Riana merasakan momen indah pernikahan mereka.
"Tuan, gaun sudah dikirimkan ke rumah Ibu Riana." Pak Bono datang memberitahu jika masalah gaun sudah beres.
"Terimakasih, Pak Bono."
Pak Bono segera undur diri. Tefan menyibak tirai ruang kerjanya yang langsung menghadap ke laut. Ingatannya mundur ke beberapa tahun silam.
"Nona Riana, kupersembahkan cincin pernikahan ini untukmu. Menikahlah denganku!" ucap Tefan yang seraya bersujud di depan Riana.
"Ibu ...! Ibu ...!" Riana berlari pulang ke rumahnya setelah menerima cincin pernikahan Tefan. "Bu ..., Tefan barusan memberi Riana cincin ini. Tefan sudah menikahi aku, Ibu." Riana kecil terlihat bersemangat menuturkan pernikahan pura-pura mereka.
Ibunya hanya tersenyum seraya menggeleng. Teringat lagi ucapan Tefan saat itu, "hanya aku satu-satunya lelaki yang menjadi rumah terakhir untukmu. Jadi sejauh apapun kamu pergi, kamu akan selalu kembali padaku."
Mengingat itu, Tefan tersenyum simpul dari balik jendela kamarnya. Dia menertawai dirinya sendiri. Momen-momen seperti itu masih terekam jelas diingatannya. Menjadi kenangan tersendiri dan terindah bagi Tefan hingga saat ini.
Terkadang Tuhan bermain-main dengan hatimu, hanya agar kau lebih siap untuk sesuatu yang baru di masa depan. Saat berpisah dengan Riana dulu, kupikir impian masa kecilku untuk menjadi suami bagi Riana sudah pupus. Namun, seiring waktu ternyata Tuhan memiliki jalannya sendiri untuk mempertemukan kami kembali. Tak ada yang bisa kuucapkan selain rasa syukur yang tak terhingga.
Tak disangka Bali menjadi tempat pelarian, sekaligus menjadi tempat bertemunya mereka kembali. Bali adalah tempat melarungkan segala luka, dari bibir pantai menuju lautan luas. Berharap semua luka itu mengering dan bisa bangkit lagi menghadapi kehidupan selanjutnya.
Tefan beranjak dari tempatnya duduk, membuka meja laci kerjanya. Dia lalu mengambil sebuah kotak persegi berwarna merah. Dia duduk di kursinya masih dengan memegang kotak persegi tadi. Lalu dengan tangan satunya, dia membuka kotak tersebut.
Satu setel perhiasan yang sudah disiapkan Tefan sebagai hadiah pernikahan. Berliannya nampak berkilau. Terlihat sederhana namun berkelas. Sesuai dengan selera Riana yang tak terlalu menyukai keglamoran.
Kuharap kau menyukainya, Ri.
__ADS_1
Ucapnya dalam hati. Dia tengah membayangkan betapa cantiknya Riana begitu memakai perhiasan tersebut. Tak habis-habis senyum menghiasi wajahnya. Sepanjang hari di ruang kerjanya dia hanya melamun, senyam senyum, berdiri sebentar lalu duduk lagi.
Tak lama kemudian, dia menghubungi Riana lagi.
"Aku sudah tak sabar."
Kalimat yang mengawali teleponnya sebelum Riana bicara padanya.
"Tuan Tefan yang terhormat, bersabarlah sedikit lagi. Ini masih ada waktu tiga hari untuk mempersiapkan diri. Pelajari kalimat ijab kabul dengan baik, biar tidak grogi."
Ucapannya justru dibalas Riana dengan candaan yang telak. Hehe.
"Aku sudah mahir mengucapkannya. Sudah menghapal dari jauh-jauh hari. Karena aku yakin, kamu akan jadi isteriku."
"Percaya diri kamu nggak ketulungan ih. Awas saja kalau sampai salah ucap, gagal nikah nanti."
"Mau dengar aku latihan nggak?"
"Nggak. Nanti aja. Haha."
"Kamu sudah lihat gaunnya?"
"Sudah. Cantik banget!"
"Tentu. Tapi tidak ada yang bisa mengalahkan kecantikan dan pesona dari calon isteriku."
"Gombal!"
"Siapa yang gombal? Aku serius sayang. Kamu akan selalu jadi yang tercantik di hati aku."
Riana tak sanggup berkata-kata lagi, menimpali ucapan Tefan hanya akan menimbulkan kalimat-kalimat gombal lainnya. Jadi dia hanya memilih tertawa dan tak mau berbicara apapun lagi.
"Ingat nggak dulu semasa kecil, aku pernah menyematkan cincin mainan di jari manis kamu? Aku bilang ke kamu, mulai sekarang kamu adalah isteriku selamanya!" lanjut Tefan berusaha membangkitkan kenangan masa kecilnya pada Riana.
"Setelah itu aku pulang dan ngadu ke Ibu. Hehe."
"Iyah. Sejak dulu, aku tidak pernah bermain-main dengan ucapanku kan? Hanya saja, butuh perjalanan panjang dan rumit untuk sampai pada saat ini. Sampai pada pernikahan yang dulu hanya angan-angan di masa kecil. Tapi jujur, aku selalu berharap bisa menikahimu di masa depan. Aku senang banget, impian tersebut akhirnya bisa terwujud sebentar lagi."
"Aku nggak tahu harus bilang apa lagi, aku hanya menunggu saat itu tiba. Terimakasih sudah menghiasi hari-hariku, menjagaku dan melindungiku bersama Kiano."
__ADS_1
"Love You, Riana ..."
"Love You too..."