Complicated Love #2

Complicated Love #2
Musim Kedua: Pertemuan ( 2 )


__ADS_3

"Kiano..., ayo kita pulang!"


Riana baru saja menyelesaikan pekerjaannya memasukkan aksesoris ke dalam peti. Dia bergegas berdiri dan menarik Kiano dari tangan Tefan. Pergi begitu saja.


Tefan masih berdiri mematung. Tidak percaya bahwa dia akan bertemu Riana di tempat yang tidak pernah terlintas sedikitpun di kepalanya.


Dia baru tersadar ketika Riana sudah berjalan jauh darinya. Kiano yang sesekali melirik ke belakang melihat Tefan, bagai kehilangan orang yang disayanginya.


"Bunda..., kenapa kita harus buru-buru pergi? Kan belum kenalan dengan Om ganteng." Tanya Kiano polos. Langkahnya tertatih mengikuti langkah kaki bundanya.


"Kiano sayang, kita bicara setelah sampai di rumah ya."


Kiano hanya mengangguk. Dia penasaran. Mengapa bundanya langsung pergi begitu saja saat melihat Om ganteng yang datang bersamanya.


***


Riana..., itu benar kamu?


Dunia terasa sempit sekali. Tefan kembali ke mobilnya. Diliputi perasaan penuh tanda tanya.


Mengapa kamu ada di Bali? Bagaimana ceritanya? Bukannya kamu sudah berkeluarga dan hidup bahagia? Apa mungkin suami kamu menelantarkan kamu? Kemudian kamu kabur dan mengucilkan diri di Bali? Tapi mengapa harus Bali? Bukankah Bali adalah tujuan wisata, bukan tidak mungkin suami kamu akan menemukan kamu di sini.


Di kepala Tefan masih berkecamuk ratusan pertanyaan akan keberadaan Riana di Bali. Dia pun mengemudikan mobilnya ke arah jalan pulang ke villanya. Dia sepertinya harus berendam dan mendinginkan kepalanya yang sedang panas itu.


Sampai di villa, kedatangannya disambut oleh Pak Bono. Dengan sopan, Pak Bono mengambil jas tuannya yang dibuang sembarangan di atas sofa.


Pak Bono tentu bertanya, apa yang terjadi dengan bosnya? Baru kali ini dia pulang dengan wajah kusut masai dan seperti banyak beban pikiran di kepalanya. Namun Pak Bono tak berani bertanya lebih jauh.


Tefan masuk ke dalam kamarnya. Merenung sebentar, terduduk di sisi tempat tidur besar miliknya yang penuh dengan nuansa warna putih.


Ah Riana...,


Mengapa kamu harus hadir lagi?


Apalagi rencana Tuhan kali ini?


Diusapnya kepalanya dengan kasar. Dia mengganti bajunya dengan piyama. Masuk ke kamar mandi dan menyalakan keran, air mengalir cepat memenuhi bak mandi di depannya. Dia pun turun dan berendam dengan busa sabun yang memenuhi bak mandi itu.

__ADS_1


***


Sementara di tempat yang berbeda. Riana baru saja sampai di rumahnya yang tak seberapa luas. Rumah yang dibelinya dari sisa tabungannya yang masih bisa dia selamatkan.


"Bunda..., wajah bunda kenapa?" Kiano bertanya karena melihat wajah bundanya yang pucat dan seakan lebih muram dari biasanya.


"Tidak apa-apa sayang. Sini bunda mau ngomong sama Kiano."


Kiano pun menurut dan naik ke pangkuan bundanya.


"Dengar bunda, nanti bila Kiano bertemu Om tadi, Kiano harus segera pergi dan menemui bunda ya. Kiano jangan pernah mau ikut bersama Om tadi."


"Tapi kenapa bunda? Om itu kan baik sama Kiano. Dia juga ramah sama Kiano, kita sudah berteman."


"Kiano, kali ini saja dengar bunda ya sayang."


"Om ganteng baik kok bunda. Bunda belum kenalan saja. Kiano berharap bunda bisa berkenalan dengan Om ganteng."


"Kita tidak boleh berkenalan dengan sembarang orang sayang. Okey?"


"Bunda aneh. Padahal Kiano sudah senang bertemu Om ganteng. Dia kan bisa jadi calon papa buat Kiano. Bunda jahat..., bunda tega...!"


Astaga Kiano. Jangan begini dong sayang. Bunda akan semakin sulit nanti ke depannya, jika Kiano bersikap seperti ini.


Riana ke wastafel dan mencuci wajahnya. Membersihkannya dengan handuk dan menatap wajahnya sebentar ke cermin.


Bagaimana bisa bertemu lagi dengan orang yang datang dari masa lalu? Bukankah dia seharusnya sudah tak ada di dunia ini? Kenapa dia harus ada di Bali? Apakah dia sedang berlibur?


Sejumlah pertanyaan juga menghampiri Riana. Dia masih tak percaya akan apa yang baru saja dialaminya. Ternyata apa yang dilihatnya tempo hari benar. Tefan ada di Bali. Tapi untuk apa? Liburan?


Riana beralih ke kamar Kiano. Memastikan anaknya baik-baik saja. Riana membuka pintu kamar Kiano. Anak itu sedang berbicara dengan boneka Kapten Bass yang tengah di pegangnya.


"Kapten Bass, bunda jahat deh. Kiano kan cuma mau berteman dengan Om ganteng. Bunda belum kenalan saja, setelah berkenalan bunda pasti senang juga berteman dengan Om ganteng. Om itu kan ganteng, terus baik, dia kan bisa jadi Papa baru buat Kiano."


"Kapten Bass, menurut kamu, Papa Kiano kemana si? Bunda cuma bilang, Papa pergi ke surga. Surga itu di mana kapten? Kapten tahu?"


Wajah polos Kiano yang serba ingin tahu, membuat Riana menitikkan air mata. Terlebih ketika Kiano berkata, bunda bilang papa Kiano pergi ke surga.

__ADS_1


Dada Riana terasa sesak. Air mata perlahan membanjiri wajah lelahnya. Dia tak menyangka Kiano akan sangat merindukan sosok papa dalam hidupnya. Apa mungkin selama ini anaknya berusaha kuat agar tak terlihat sedih ketika anak sebayanya tengah berjalan beriringan dengan papanya. Bermain bersama dan juga berenang bersama.


Membayangkan itu, Riana merasakan dadanya nyeri dan terasa sakit hingga menusuk tulangnya.


Maafkan Bunda sayang..., sejak kecil Kiano sudah kehilangan sosok papa yang seharusnya menjadi kebanggaan buat Kiano. Maafkan Bunda...


Riana masuk ke dalam kamar Kiano. Mengusap pelan kepala putranya itu. Menghiburnya dengan membacakan cerita sebelum tidur yang menjadi favorit Kiano.


Mata kecil Kiano menutup dan membuka sesekali, menatap wajah bundanya lalu tak lama kemudian dia pun terlelap dalam mimpi kecilnya.


"Suatu saat kamu pasti akan merasakan bagaimana rasanya punya papa, sayang. Tapi tidak sekarang. Bunda akan selalu berusaha menjadi ibu dan ayah sekaligus buat kamu."


Riana menyelimuti Kiano dengan selimut, kemudian keluar dan masuk ke kamarnya sendiri untuk mandi.


***


"Pak Bono, tolong selidiki wanita di foto ini." Ucap Tefan seraya menyodorkan beberapa foto kepada Pak Bono.


"Siapa ini, Tuan?"


"Sejak kapan Pak Bono jadi orang yang ingin tahu urusan orang? Lakukan saja yang kuperintahkan. Wanita ini ada di Bali, dan dia biasanya terlihat di jalan X. Pak Bono cari tahu tentang kehidupannya saat ini."


"Maafkan saya, tuan. Saya sudah lancang. Baik akan segera saya laksanakan."


"Secepatnya bawa informasi tentang wanita itu padaku."


"Baik, Tuan."


Pak Bono pun meninggalkan ruangan bosnya itu seraya melihat sesekali ke arah foto yang ada di tangannya.


Aku harus tahu apapun tentangmu saat ini Riana. Jangan menghindar, karena sejauh apapun kamu menghindar, aku pasti akan menemukanmu.


*


*


*

__ADS_1


Belum kering menunggu kan? Hehe. Oh Iyah, jika kalian punya saran dan kritik boleh langsung tulis saja di kolom komentar ya. siapa tahu bisa bantu ide ke othor. Hehe. Jangan lupa like, dan juga vote ya. Serta kasih bintang lima biar rate-nya bagus. hehe. Terimakasih.


__ADS_2