Complicated Love #2

Complicated Love #2
Musim Kedua: Sekolah Kiano


__ADS_3

Femi tidak mau menyerah begitu saja, usai makan dia mengajak Tefan agar mau menemaninya jalan-jalan ke pantai.


"Sudah lama nih kita gak pernah jalan bareng, Fan. Jalan yuk! Menikmati sunset sekitaran sini saja." Ungkap Femi penuh harap.


"Makan siang saja belum cukup ya? Di resort ini juga menyediakan pemandangan yang tak kalah indah. Kamu nikmati saja semuanya. Aku masih ada urusan lain yang harus diurus, maaf ya." Tolak Tefan halus agar Femi tidak tersinggung sedikitpun.


"Tanggung nih, bentar lagi sore. Fan, mau ya?" Rayu Femi lagi. Sekarang dia sudah berpindah memeluk leher Tefan yang sedang duduk.


Tefan makin risih dengan tingkah Femi yang mulai keterlaluan menurutnya. Dengan pelan lengan yang melingkar di lehera Tefan itu dia singkirkan. Sekarang Tefan berdiri berhadapan dengan Femi. Menatap perempuan itu lekat-lekat.


"Fem, please jangan seperti ini. Aku menghargai kamu sebagai teman. Aku tidak mau merusak hubungan yang sudah terjalin baik sejak awal. Kamu bisa mengerti kan?" Tefan memegang kedua tangan Femi, berharap agar perempuan di depannya itu mau mengerti dan paham dengan kondisinya saat ini.


"Fan..." Ucap Femi lirih penuh harap.


"Sudah ya, aku pergi. Kamu bisa menikmati semua fasilitas di resor ini, gratis. Terserah kamu, tapi jangan minta aku untuk menemani kamu terus. Aku masih banyak urusan yang harus diselesaikan."


Tersirat gurat kecewa di wajah Femi. Bukan kali ini dia mendapatkan penolakan halus dari Tefan. Rasanya sakit ditolak berkali-kali. Pria sekelas Tefan, dingin kayak batu es itu seperti tak bisa disentuhnya sama sekali.


Femi menatap sedih punggung Tefan yang berjalan menjauh darinya.


Lihat saja nanti Fan, akan aku buat kamu mecintaiku hingga tak bisa lepas dariku. Jangan sebut aku Femi, jika menaklukkan hatimu aku tidak bisa.


***


Riana sedang menata aksesoris jualannya, temannya yang bernama Jeni ikut membantunya. Sebenarnya, Riana bisa saja meminta bantuan sahabatnya Nina, dia juga masih punya kontak Nina. Namun, Riana tak ingin lagi merepotkan Nina yang selama ini sudah banyak membantunya.


Sesungguhnya dia juga sangat merindukan Nina, namun bagaimana lagi dia tak dapat berbuat apa-apa.


"Riana, kamu tidak ada kepikiran mau masukin Kiano sekolah?" Tanya Jeni yang sedang membantu Riana menata aksesoris.


"Aku belum tahu, Jen. Biaya sekolah pastinya mahal, uang masuk, seragam, iuran dan lain-lainnya aku tidak yakin bisa memenuhi semua itu. Tapi aku sedang berusaha Jen."


Wajah Riana terlihat murung menceritakan kesulitannya.


"Memangnya kamu sangat kesulitan masalah keuangan ya?"


"Seperti yang kamu lihat, Jen. Usaha aksesoris seperti ini kadang laku ya kadang nggak. Aku sudah ada tabungan untuk uang masuk sekolah Kiano tahun ajaran baru ini. Tapi untuk selanjutnya sepertinya harus kerja ekstra, Jen."


Jeni berhenti sebentar dari apa yang dikerjakannya, dia menatap Riana dengan lekat. Sehingga Riana merasa canggung sedang ditatap seperti itu.


"Kenapa? Kok lihatnya gitu banget? Bikin aku canggung saja, Jen." Ucap Riana berseloroh dan sedikit senyum tipis di bibirnya.

__ADS_1


"Nggak. Aku cuma lagi mikir, kamu tuh gak cocok usaha beginian Riana. Kenapa tidak kamu coba bidang lain saja. Toh kamu tidak jelek-jelek amat, wajah kamu masih cantik, segar, tidak kalah dengan remaja-remaja sekarang."


"Terus maksud kamu?"


"Ya, kamu coba peruntungan lain kek. Kamu fasih bahasa inggris kan? Itu sudah jadi modal kamu."


"Ya terus ngapain, Jen?"


"Aku ada kenalan. Dia punya resor di Bali, resortnya ada beberapa dan dia termasuk pengusaha muda yang sukses di Bali. Kali aja dia ada kerjaan buat kamu. Gimana? Kalau mau, besok aku bawa kamu ketemu dia. Okeh?" Jeni sangat antusias menjelaskan perihal resort itu ke Riana. Berharap Riana tertarik dan mau menerima tawaran Jeni.


"Biar nanti aku pikirin dulu. Ini aja kita masih beresin aksesoris, sudah mikir pekerjaan lain aja."


"Ya kita harus berpikir selangkah lebih maju, Riana. Kamu mau hidup kamu kayak gini terus? Besok pokoknya aku bawa kamu ke tempat dia. Setahu aku, dia single jadi tidak ada yang akan cemburu sama kamu. Hahaha...!"


"Apaan si, memangnya aku ini ada tampang penggoda apa. Sudah ah, aku mau fokus menata ini dulu. Minta tolong, awasi Kiano ya."


"Baiklah."


Jeni mendekati Kiano yang sedang asyik bermain mobil-mobilan.


"Hai, Kiano...! Lagi apa?"


"Memangnya Kiano tidak bosan main sendiri terus?"


"Enggak. Habis mau main sama siapa? Di sini kan cuma ada Kiano yang anak-anak."


"Eh betul juga, Hehee. Kiano mau sekolah tidak? Ketemu banyak teman, bermain bersama, pokoknya seru deh."


"Maulah, Tante. Tapi kan, bunda tidak punya uang buat sekolah Kiano."


Sejenak Jeni terdiam dengan ucapan polos Kiano tapi sudah seperti orang dewasa. Dia terpana dengan pemikiran Kiano yang paham dengan kondisi Bundanya.


"Bunda bilang, akan bekerja lebih keras untuk Kiano. Biar Kiano bisa sekolah, tapi nanti Kiano harus jadi anak yang pinter, soleh dan tidak nakal ya? Kasian bunda kalau punya anak yang tidak mau nurut."


"Memangnya Kiano nakal ya, Tante?"


"Eh tidak, tidak. Kiano tidak nakal kok. Kiano kan anak baik."


"Terimakasih, Tante."


Jeni mengusap-usap puncak kepala Kiano. Dia tersenyum dengan segala kepolosan Kiano yang masih kanak-kanak tapi sudah bisa berpikir jauh ke depan.

__ADS_1


Akhirnya, Jeni meninggalkan Kiano yang masih bermain mobil-mobilan.


"Brumm... Brumm...!"


Kiano berlari kesana kemari mengejar mobil-mobilannya. Meski hanya bermain sendiri, tapi tidak membuat Kiano lantas bosan dan merengek pada Bundanya. Justru hal tersebut semakin membuat Kiano tumbuh menjadi anak yang mandiri dan tidak terlalu bergantung pada siapapun.


Dari jauh Riana melihat Kiano, dia menarik nafas pendek dan beristirahat sejenak. Di dalam hatinya, dia seperti sedang melihat Saka di dalam diri Kiano. Selalu tersenyum, tidak gampang marah, lembut dan juga penyayang. Karakter papa Saka melekat sangat jelas pada diri Kiano.


Riana menghampiri Kiano, mengajaknya untuk bersantai sejenak di pantai. Melihat kemegahan matahari terbenam yang selalu anggun dan indah dipandang mata.


"Ikut Bunda sebentar jalan-jalan ke pantai yuk!"


"Oke, Bunda...!"


"Jen, kita jalan-jalan ke pantai sebentar ya." Pamit Riana pada Jeni.


"Iyah. Hati-hati ya."


Mereka pun berjalan menuju pantai yang tak seberapa jauh dari tempat Jeni. Kiano langsung kegirangan begitu melihat pantai. Serasa dia ingin berenang lagi dan lagi. Yaps, Kiano senang sekali dengan hal-hal yang berhubungan dengan dunia renang.


"Bunda..., lihat! Mataharinya indah sekali." Seru Kiano menunjuk ke arah matahari.


Kiano memang selalu tahu apa yang disukai oleh bundanya. Dia selalu berusaha untuk menyenangkan bundanya, itulah sebabnya Kiano jarang sekali terdengar menangis, karena dia tidak ingin membuat bundanya sedih.


Baru saja hendak duduk sebentar, mata Riana sudah menangkap seseorang yang seperti dikenalnya. Setelah memastikan apa yang dilihatnya benar, Riana pun bergegas berdiri untuk mengajak Kiano pulang. Namun, dia kalah cepat.


Orang itu sudah berlari ke arah Kiano yang sedang membangun istana pasir.


"Om ganteng!!!" Pekik Kiano yang serta merta memeluk pria yang baru saja mendatanginya.


Riana mundur selangkah. Dia tidak mungkin datang ke sana dan membuat suasana menjadi serba kurang enak. Riana pun menepi sebentar dan mengawasi Kiano dari kejauhan.


Astaga..., dia di sini!


*


*


*


Hai, Terimakasih sudah membaca CL Musim kedua jangan lupa untuk tetap komen, like dan vote ya.

__ADS_1


__ADS_2