
Kau tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya kehilangan, sebelum kamu mengalaminya. -- Riana.
...
Semalam, sosok Saka tiba-tiba muncul dalam mimpinya. Jarak mereka sangat dekat, namun Saka tak bisa melihat Riana tapi wanita itu bisa melihat suaminya itu. Riana terbangun karena Saka yang pergi darinya tanpa sepatah kata. Seolah menegaskan bahwa, Saka sudah tidak ada dan tak akan pernah kembali lagi.
Mata Riana sembab, hatinya entah kenapa menjadi begitu kacau. Dia merindukan Saka, ya tentu saja. Apakah dia akan terus menerus seperti ini atau meraih tangan Tefan yang terulur padanya dengan tulus.
Riana sangat takut, jika pengalamannya dengan Tefan kembali menjadi mimpi buruk untuknya. Wajar jika saat ini dia bimbang, antara menerima Tefan kembali ke dalam hidupnya atau mengabaikan semua perhatian dari pria itu.
Walau jujur dia juga mengakui, sejak ada Tefan di sisinya dia merasa lebih aman tinggal di Bali. Merasa punya keluarga lagi setelah sekian lama hanya Kiano yang bersama dengannya.
Apakah salah, mencintai dua laki-laki secara bersamaan? Hanya saja, satunya sudah meninggal dan status suami. Sementara satunya lagi adalah pria dari masa lalu yang pernah bersama denganku dan statusnya tidak jelas sekarang.
Riana merasakan ada ujung telunjuk yang menyentuh kulit pipinya.
"Bunda ... Bunda sakit?" tanya Kiano pelan.
"Tidak sayang, Kiano cuma pilek sedikit."
"Ya sudah. Bunda nggak usah anterin Kiano sekolah dulu. Biar Kiano berangkat sendiri saja naik taksi online."
"Jangan sayang, tunggu sebentar Bunda panggil kakak Nadia dulu."
"Nad ... Nadia ...!"
"Iya, Bu!" sahut Nadia dari lantai bawah.
Nadia masih membersihkan toko. Dia datang pagi sekali seperti biasa untuk bersih-bersih dulu.
"Anterin Kiano sekolah pakai motor dulu ya? Soalnya aku agak pusing, kepalaku sakit karena pilek. Kayaknya badan aku juga lagi hangat. Mungkin karena pengaruh tanganku yang bengkak ini." Riana meminta tolong pada Nadia yang baru saja sampai di lantai atas.
"Yuk, Kiano! Berangkat!"
"Bunda ... Kiano berangkat dulu ya. Jangan lupa minum obatnya biar sakitnya nggak lama." Kiano sangat perhatian pada bundanya. Anak itu seperti paham, bahwa jika Bundanya sakit maka seluruh rotasi kehidupan dia dan toko bundanya akan terganggu.
Kiano pun pergi sekolah diantar Nadia. Sementara dia tetap di tempat tidur dengan mengoleskan freshcare ke pelipisnya. Setidaknya dapat mengurangi rasa cenat cenut di kepalanya.
Belum lama Nadia pergi, Riana dapat telepon.
"Bu ... Ibu ... gawat!"
Terdengar suara Nadia yang cemas dan hampir menangis. Dia juga sedikit ketakutan.
__ADS_1
"Nadia ... ada apa? Kenapa suaramu cemas seperti itu. Man Kiano?" cecar Riana dengan pertanyaan.
"Bu ... maafin Nadia, Bu...!" tangis Nadia pecah di telepon.
"Nadia please jangan bicara sepotong seperti itu. Kamu kenapa dan mana Kiano?"
"Aku di pinggir jalan dekat sekolah Kiano, Bu. Pas turun dari motor, hendak mengantar Kiano masuk gerbang, tiba-tiba ada mobil hitam berhenti dan langsung menarik Kiano masuk ke mobil itu. Maafin Nadia, Bu!"
Riana terduduk di tempatnya. Dia sama sekali tak menyangka akan ada kejadian seperti itu menimpa anaknya Kiano.
Tidak salah lagi, ini pasti kerjaannya Femi. Dia benar-benar cari masalah denganku. Argh ... tanganku kenapa harus seperti ini di saat kondisi genting. Kiano sayang ... kamu jangan takut. Bunda akan datang menyelamatkan kamu.
Riana mencari nomor Tefan.
Tersambung.
"Fan ... jemput aku sekarang di ruko!"
"Ada apa, Ri?"
"Kiano diculik!"
"Apa? Tunggu sebentar, aku segera ke sana! Kamu jangan cemas, jangan panik, tarik nafas dalam-dalam. Kiano pasti baik-baik saja."
Riana menutup teleponnya. Meraih sweater cokelat yang tergantung di belakang pintu kamarnya. Dengan hati-hati dia memakainya agar tak bersentuhan langsung dengan tangannya yang terkena siraman kopi panas.
"Pak, tokonya tutup dulu saja. Anakku Kiano diculik. Aku harus mencarinya. Jika Nadia pulang, suruh tunggu di dalam tapi tokonya jangan dibuka dulu buat pelanggan."
Security di toko Riana mengangguk paham. Tak lama kemudian, Tefan datang dengan mobilnya. Riana bergegas menuju ke mobil dan masuk.
"Kejadiannya bagaimana?" tanya Tefan.
"Karena aku merasa tidak enak badan, aku minta Nadia buat anterin Kiano sekolah. Di dekat sekolah Kiano, Nadia dicegat orang dan Kiano ditarik masuk ke dalam mobil kemudian mobil itu pergi begitu saja."
"Berarti kita tidak ada petunjuk sama sekali." Suara Tefan terdengar lirih.
"Aku takut Fan ... takut terjadi apa-apa pada Kiano."
"Tenang dulu, Ri. Kita cari sampai dapat." Tefan berusaha menghibur Riana, walau di dalam hatinya dia juga cemas.
Selang beberapa menit, ponsel Riana berdering.
"Halo ..."
__ADS_1
"Bun ... da ...!" teriak Kiano.
"Sayang ... kamu di mana? Kamu baik-baik saja kan? Kiano ... Kiano ...!"
Tak ada jawabnya. Lalu menit berikutnya suasana Kiano digantikan oleh suara seorang perempuan.
"Sudah kukatakan padamu, jauhj Tefan! Tapi kamu sama sekali tidak mengindahkan peringatanku. Sekarang, anakmu ada di tanganku, nyawa dia taruhannya."
"Dasar perempuan sinting! Jangan sakit anakku. Kamu tidak suka sama aku, kita selesaikan sama-sama jangan jadikan anak sebagai tempat pelampiasan kamu!" maki Riana yang tak bisa menahan emosi.
Tefan merebut ponsel itu dari tangan Riana.
"Kalau sampai terjadi sesuatu sama anak itu, maka aku tak segan-segan memasukkan kamu ke dalam penjara dengan tuduhan penculikan. Namun jika kamu bersikeras, maka jangan sebut namaku Tefan jika aku tak bisa membuatmu memohon di depanku untuk tidak mati di tanganku! Katakan di mana Kiano?" Urat-urat leher Tefan seperti menegang karena emosi yang tidak tersalurkan.
"Aku ... tidak peduli!"
"Femi ...! Jangan paksa aku melakukan cara kasar!"
"Kamu menikah denganku, maka nyawa anak ini kujamin aman."
"Aku tidak ingin menikah denganmu! Dasar perempuan psyco!"
"Kamu yang bikin aku kayak gini, Fan. Sekarang pilihannya hanya dua, menikah denganku atau nyawa anak ini gantinya."
"Bun ... Bun ... daaa ...! Om ... Om Ganteng! Selamatkan Kiano!"
Riana mengambil lagi ponselnya. "Sayang ... kamu ingat pesan Bunda kan? Kamu lakukan itu sekarang."
Belum sempat Kiano menjawab telepon itu sudah dimatikan.
Kiano, gunanya jam tangan ini adalah jika kamu memencet tombol ini maka panggilan darurat akan mengirimkan alamat kamu ke nomor terdaftar di jam ini. Pesannya akan langsung masuk ke ponsel Bunda. Lakukan itu jika Kiano dalam bahaya.
Riana sudah membekali Kiano dengan jam pintar. Pesan tadi adalah pesan bundanya.
Beberapa saat kemudian, sebuah pesan masuk ke ponsel Riana.
"Syukurlah! Aku tahu kamu anak pintar sayang!" Riana sudah berurai air mata.
"Ada apa Riana? Ada petunjuk?"
"Kita ke alamat ini. Kamu tahu kan?"
"Itu alamat dari siapa?"
__ADS_1
"Aku sengaja membekali Kiano jam pintar untuk digunakan di saat dalam bahaya. Aku tahu anak itu cerdas. Setelah aku mengatakan kamu ingatkan pesan Bunda! Aku yakin dia sudah langsung mengerti dan diam-diam memencet tombol yang ada di jam tangannya."
"Baiklah. Kita ke sana sekarang!"