Complicated Love #2

Complicated Love #2
Musim Kedua: Pindah


__ADS_3

Ketakutan Riana akan bertemu lagi dengan Tefan menjadi momok baru dalam hidupnya. Hal itu pun membuat Riana harus meninggalkan lokasi tempat dia berjualan aksesoris, sebelum Tefan mengambil langkah cepat dan datang lagi menemuinya.


"Kenapa kita harus pindah, Bun? Di sini kan kata Bunda lebih strategis." Ucap Kiano, wajahnya memperlihatkan rasa penasaran dan bete karena harus berpindah lagi.


Kiano sudah tahu strategis padahal usianya masih baru mau masuk enam tahun. Dewasa sebelum waktunya. Mungkin karena lebih sering bertemu dan bersama orang dewasa, jadi bahasa dia sedikit roaming dari anak-anak seusianya.


"Kiano tahu strategis? Memangnya artinya apa?"


"Kan waktu itu Bunda pernah bilang. Strategis itu, dilihat banyak orang jadi banyak yang mau beli. Gitu kan, Bun?" Kiano mengulang lagi kalimat Bundanya waktu itu.


Riana gemas pada putra semata wayangnya itu, dia pun mengusap-usap kepala Kiano dengan penuh cinta. Terakhir dia memberikan kecupan di puncak kepala Kiano. Sebagai tanda rasa sayang dan rasa syukurnya, Kiano tumbuh dengan sangat baik dan cerdas.


"Duh..., pintar banget si anak Bunda. Sekarang, bantuin Bunda beresin ini ya. Nanti bunda traktir permen."


"Oke deh, Bunda."


Kiano tersenyum ke arah bundanya yang sedang sibuk memasukkan segala perlengkapan ke dalam dos.


Tak lama setelah mereka selesai beberes, seorang bapak-bapak menghampiri Riana.


"Wah, tutup ya?" Bapak-bapak itu tak lain adalah Pak Bono.


"Iyah, Pak. Mau cari suasana baru. Bapak cari apa?"


"Mau cari gelang buat cucu saya. Tapi tidak usah jika mau tutup."


"Iyah, Pak. Semuanya sudah dimasukin ke dalam dos. Maaf ya, Pak." Balas Riana ramah.


Kiano sedang sibuk bermain dengan mobil-mobilannya. Sama sekali tidak tertarik dengan pembicaraan dua orang dewasa di dekatnya itu.


"Ya sudah, saya cari tempat lain saja."


Pak Bono pun pergi. Riana kembali sibuk dengan segala urusan pindahnya. Dia sudah mengontak temannya dan temannya itu bersedia memberi ruang kecil untuk berjualan aksesoris.


Tak lama setelah semuanya beres, seorang supir pengangkut barang datang dan mengonfirmasi soal pesanan Riana via telpon tadi pagi.


"Apa benar dengan Ibu Riana?"

__ADS_1


"Iyah benar, Pak. Ini Bapak yang mau angkut barang ya?"


"Iyah, Bu. Barang mana saja yang akan dibawa?"


"Semua yang ada di sini, Pak."


"Baiklah, Bu."


Bapak supir tadi dengan sigap langsung memindahkan barang ke atas bak mobil pick up. Riana memperhatikan satu demi satu barang yang diangkut. Jangan sampai ada yang ketinggalan.


Setelah semua beres, dia dan Kiano ikut naik di depan dan mobil pun berangkat ke tempat yang baru.


***


Pak Bono sedang menunggu Tefan meeting di salah satu resor milik Tefan. Sepertinya kali ini Tefan bagai dapat durian runtuh, rezekinya mengalir bagai air. Datang dari berbagai penjuru. Pak Bono sampai kerepotan harus mempersiapkan semuanya.


Begitu Tefan selesai rapat, Pak Bono segera mendekat. Tamu-tamu sudah dijamu dengan baik oleh pengurus selain Pak Bono.


"Ada kabar terbaru apa Pak Bono?"


"Saya sudah mendatangi perempuan di foto yang bapak kasih. Sayangnya, perempuan itu sepertinya sedang menghindari seseorang." Jelas Pak Bono yang tentu saja menimbulkan rasa ingin tahu yang lebih bagi Tefan.


"Perempuan itu pindah. Sampai di sana, saya ngobrol dengannya saat semua barang sudah dimasukkan ke dal dus."


"O yah? Lalu Pak Bono tahu dia pindah kemana?"


"Belum Pak. Maaf saya tidak bertanya lebih jauh, takut menimbulkan kecurigaan."


"Tidak apa-apa. Pak Bono tidak usah menemui dia lagi. Namun, bisakah Pak Bono mencari informasi mengenai latar belakang dia? Sesuatu yang membuat perempuan itu, mengapa bisa ada di Bali?"


"Baik Pak. Jika boleh tahu, nama perempuan itu siapa? Agar lebih mudah bagi saya untuk mencari tahu."


"Riana. Cari tahu semuanya tentang perempuan itu."


"Baik, Pak."


"Ah iya, satu lagi. Pak Bono fokus saja mencari tahu informasi tentang Riana. Urusan lain biar saya urus sendiri."

__ADS_1


"Siap, Pak."


"Tefan...!" Suara Femi terdengar keras di telinga Tefan. Entah bagaimana ceritanya, perempuan itu sekarang lebih banyak di Bali daripada di Jakarta.


Perempuan ini berhenti jadi model apa gimana ya? Kok diperhatiin dia makin lebih sering berada di Bali. Hhh...


Pak Bono ingin pergi, namun kode mata dari Tefan seolah mengisyaratkan agar Pak Bono tetap di sana.


"Sudah makan siang?" Tanya Femi manja.


"Baru saja selesai. Tadi ada rapat sekalian makan siang."


"Kalau begitu, temani aku makan siang ya?"


"Aku sibuk sekali, Femi. Lain kali saja ya."


"Kamu menolak aku terus bukan karena sengaja kan? Ayolah, sekali ini saja Fan."


Femi terus merayu dan memaksa agar Tefan bersedia menemaninya makan siang. Tefan bersikeras dengan berbagai alasan, toh perempuan itu tak mau menyerah sampai Tefan berkata 'Iya'.


"Baiklah. Tapi tidak lama ya, lima belas menit cukup kan? Aku sedang banyak kerjaan."


"Gak apa-apa deh, Femi sudah senang walau cuma lima belas menit."


Femi sudah menggandeng tangan Tefan dengan paksa. Merebahkan kepalanya di lengan kekar milik Tefan. Siapa pun yang melihat, akan beranggapan bahwa mereka ini sepasang suami istri atau mungkin sepasang kekasih. Meski umur Tefan terbilang jauh dari umur Femi, namun sama sekali tidak kentara jika umur Tefan sudah di angka 4.


Tefan sedikit kewalahan mengimbangi Femi yang terus bersikap manja dan genit padanya. Wajahnya terlihat tertekan, meski dia sudah berusaha untuk tersenyum sebaik mungkin.


Astaga Femi, ini bukan kali pertama dia seperti ini. Andai saja kamu bukan perempuan yang pernah menolongku dulu, mungkin aku sudah menjauh darimu dan tidak pernah membiarkan kamu berada sedekat ini denganku. Sabar, sabar...!


Mereka pun tiba di sebuah restoran yang ada di sekitar resor milik Tefan. Masih satu lokasi dan masih dalam lingkup Ri' Resort.


Tahu kah kalian, mengapa Tefan menamai resortnya dengan nama Ri' Resort? Yap, Ri itu asal kata dari nama inisial perempuan yang sangat dicintainya hingga saat ini. Tahu dong siapa? Siapa lagi jika bukan Riana. Resort itu dia buat dengan nama Ri, tujuannya untuk mengenang sekaligus mengungkapkan perasaannya yang terdalam pada Riana. Tak ada seorang pun yang tahu mengenai rahasia nama resort itu, tak terkecuali Pak Bono.


Tefan duduk berhadapan dengan Femi yang sama sekali tak pernah lepas menatap Tefan. Hingga pelayan datang dan membawa buku menu, Femi masih saja menatap pria berkacamata hitam di depanny itu.


Betapa pria di depanku ini selalu berhasil membuatku berimajinasi liar. Bahkan dengan memegang lengannya yang kekar itu saja, aku bisa membayangkan betapa hangatnya berada di dalam lingkaran kedua lengan itu. Belum lagi membayangkan dada bidang Tefan, perut six pack bagai roti sobek, tentu saja semua itu bagai surga bagiku. Hhh... - Femi.

__ADS_1


***


Terimakasih sudah menunggu CL Musim Kedua Up. Terus berikan semangat buat author dengan cara like sebanyak-banyaknya, komen dan juga vote serta rate 5 yak. hehe happy reading.


__ADS_2