
“Tetaplah bersamaku, meski aku takkan pernah bisa memiliki dirimu seutuhnya.”
Malamnya aku dan Tefan berdiri di balkon sembari menatap kejauhan, udara dingin membuat kami berdua tak pernah lepas untuk saling memeluk. Dengan begitu rasa hangat akan mudah masuk begitu saja ke dalam aliran darah kami. Kami berdua hanya berdiri di sana, tak perlu berbicara, langit malam tampak bersih. Akhirnya aku bisa melihat bintang yang bahkan jumlahnya takkan bisa dihitung. Di kota mana bisa menikmati pemandang malam seperti ini, hanya ada asap, polusi suara, dan semua hal yang takkan bisa membawa ketenangan.
“Fan, aku ingin begini selamanya.” Ucapku pelan, kepalaku telah rebah di dadanya.
“Aku juga sama Riana. Hal yang paling menggangguku selama ini adalah bila kelak aku tak bisa bersamamu lagi.”
“Terimakasih sudah hadir dalam hidupku.”
“Aku juga berterimakasih karena kamu masih mau menerimaku meski keadaan akan membawamu sampai ke titik yang sulit sekalipun.
“Kamu bicara apa?”
“Aku bicara fakta Riana. Akulah lelaki yang sangat egois mencintai kamu dan bahkan bisa dianggap lelaki yang tak bersyukur dengan hanya satu wanita. Aku punya Nina tapi aku juga malah menginginkanmu seperti ini.”
“Tidak hanya kamu yang menginginkan ini Fan, aku juga mengingingkannya jadi jangan salahkan dirimu seperti ini.”
“Bagaimana kamu nantinya Riana?”
“Aku pasti baik-baik saja. Kamu bagaimana?”
“Aku tidak tahu.”
...
Di dalam diam aku berpikir bahwa setelah malam ini, takkan pernah ada malam-malam seperti ini lagi bersama Tefan. Aku merasa bahwa ini adalah malam terakhir aku bersamanya dan dia akhirnya menghabiskan semua malam bersama Nina. Seharian ini aku sudah banyak menangis dan bersedih, kukira beginilah rasanya jatuh cinta yang sebenarnya. Di saat kita terlalu mencintai seseorang, maka saat itu pula kita harus siap jika orang itu pada akhirnya pergi. Terserah waktu, cepat atau lambat pasti akan terjadi.
__ADS_1
“Apa yang harus kita lakukan Riana?” Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutnya.
Aku tak menjawab, seperti ada batu ganjalan di tenggorokanku yang menghalangi diriku untuk bersuara sedikitpun. Terlepas dari itu semua, aku sendiri memang tak punya jawaban untuk pertanyaan itu. Bahkan akupun ingin bertanya hal yang sama, lalu diberitahu mengenai apa yang harusnya kulakukan. Tapi rupanya kita berdua sama-sama tak memiliki jawaban dan kali ini diam barangkali adalah jawaban yang terbaik.
“Apa tidak sebaiknya kita masuk saja? Di sini dingin.” Ucapku pelan. Tefan masih menatap jauh ke langit. Namun tiba-tiba menjatuhkan pandangannya ke arahku lalu tersenyum.
“Ayo masuk.” Ajaknya, sembari masih mendekap bahuku.
Di dekat perapian aku berbaring di pangkuannya, meraba seluruh lekuk di wajahnya. Dia hanya tersenyum dan mengurai rambutku dengan tangannya begitu lembut. Baru kali ini kudapati dia yang begitu pendiam atau malah sebenarnya dia sedang sibuk di alam pikirnya? Sibuk mencari jawaban atas pertanyaannya sendiri. Aku lalu meraih tangannya dan menelusupkan jejariku ke ruas jarinya.
“Fan, jangan terlalu dipikirkan. Kita ke sini untuk menenangkan diri bukan untuk membenamkan diri ke dalam lumpur masalah. Aku yakin pasti ada jalan keluar.”
Ada apa ini? Kenapa aku tiba-tiba jadi berubah seperti ini? Bukannya aku yang memanggil Tefan ke sini untuk membicarakan semuanya, tapi kenapa malah aku yang melarangnya untuk membicarakannya? Apakah aku benar-benar tak khawatir mengenai hubungan ini? Ahhh... entahlah.
Tefan mengangguk pelan, dia kemudian tersenyum lalu mengangkat tubuhku dengan sekali sentakan.
“Ou... Ou... apa-apaan ini? Genit ih. Aku bisa jalan sendiri tahu.” Sungutku manja.
“Kali ini Lady Riana tak boleh berjalan kaki dulu, karena dia malam ini memiliki pangerannya.”
“Hahaha....”
“Hahaha....”
Tawa kami berderai penuh bahagia, melupakan sejenak apa yang tengah terjadi. Tefan menurunkanku di atas tempat tidur dengan kasur yang lembut berseprei putih polos. Dia juga ikut berbaring di sana, pertama hanya saling menatap ke dalam mata masing-masing. Lalu tanpa komando, bibir kami telah saling bertemu. Bibirnya lembut melumat bibirku yang katanya tipis itu. Sekali dua kali kecup pelan, lalu ritmenya berubah drastis menjadi lebih cepat.
Kita adalah sepasang kekasih yang memendam rindu terlalu lama. Terpisah oleh jarak dan waktu yang tidak kita minta, disebabkan oleh keadaan yang pasrah kita terima sebagai jalan takdir. Lalu pertemuan ini serupa letupan merapi, walau tahu akan terbakar tapi nekad memasuki letupannya dan bersiap menerima resiko apapun suatu saat nanti.
__ADS_1
Aku mungkin bersalah memberikan satu-satunya yang berharga untuknya, walau mungkin kelak akan kusesali. Malam itu terlalu dingin untuk rindu kita berdua yang ringkih.
Tuhan maafkan aku dan dirinya yang sudah melangkah terlalu jauh, melupakan bahwa aku dan dia semestinya tak melakukan itu. Penyatuan itu, adalah kesalahan yang kami benarkan dan karena itulah maafkan aku yang tak sanggup menjaganya.
Air mataku menetes, namun ada perasaan bahagia yang menyelinap. Entahlah, aku tidak tahu harus mengartikan seperti apa perasaan ini. Tefan hanya berusaha menghapus air mata itu lalu meminta maaf. Ah, betapa labil dan rapuhnya perasaan ini. Hanya karena perasaan ingin memiliki, aku rela menukar segalanya demi cinta. Oh apakah ini cinta? atau telah butakah aku dalam memaknai cinta?
Ah, sudahlah! Toh semua sudah terjadi.
Pagi-pagi aku masih bergelung di balik selimut, kulihat Tefan sudah tak ada lagi di sampingku. Tapi aku tak perlu khawatir karena kutahu dia mungkin saja sedang menyiapkan sarapan seperti yang sering dia lakukan ketika kita berdua menginap di sebuah villa atau hotel. Aku masih ingin melanjutkan tidurku tatkala Tefan tiba-tiba muncul dari balik pintu kamar membawa segelas susu dan roti bakar.
“Hei, selamat pagi My Lady...”
“Selamat pagi My Lord...!”
“Tidurnya bagaimana?”
“Sepanjang malam adalah luar biasa honey!” Aku bangun dan duduk di ujung tempat tidur.
“Nih minum dulu susunya.”
“Terimakasih.”
“Harusnya aku loh yang menyiapkan sarapan ini buat kamu.”
“Tidak apa-apa aku selalu senang untuk melakukannya untukmu.” Dia tersenyum begitu manis.
Setelah sarapan aku memutuskan untuk mandi terlebih dahulu. Tapi sebelum masuk ke kamar mandi kudengar HP Tefan berdering dan dia sedang berbicara dengan seseorang di telpon. Tampaknya sangat serius, tapi aku tidak memperhatikan lebih jauh dan lekas mengguyur kepala di bawah shower.
__ADS_1
Aku menghargai setiap waktu yang kita lewati, apapun takkan bisa menyakiti selama kau selalu ada bersamaku. Sakit itu akan kutelan seperti butiran nasi dan takkan kusisakan walau sebutirpun. Tetaplah bersamaku, meski aku takkan pernah bisa memiliki dirimu seutuhnya.