Complicated Love #2

Complicated Love #2
Sebuah Kado Terindah


__ADS_3

***


Sebelumnya Author minta maaf karena penulisan novel ini sedikit terbengkalai, banyak sekali aktifitas di dunia real yang tak bisa aku tinggalkan dan disambi dengan menulis. Namun karena tanggungjawab sebagai penulis yang bagaimana pun novel ini harus selesai. So, maafkan aku ... dan selamat membaca kelanjutannya.


***


Jika ada hal yang paling diinginkan setiap perempuan setelah menikah maka itu adalah hamil dan memiliki seorang anak. Riana juga memiliki keinginan yang sama, dia ingin memiliki anak dari Tefan, pria yang sudah bersamanya sejak kecil dan berhasil meminangnya saat ini. Apalagi jika mengingat Kiano kini telah berusia hampir tujuh tahun, sebentar lagi masuk Sekolah Dasar yang pastinya membuat kebersamaan Riana dan anak lelakinya itu akan semakin berkurang. Membuat dia seperti merindukan hadirnya seorang anak yang imut dan menggemaskan hasil pernikahan dia dan Tefan.


Hubungan dia dan Saka juga berjalan baik saat ini, ayah dari Kiano itu sering menelpon dan menanyakan kabar Kiano. Juga menyempatkan untuk video call dan membantu Kiano mengerjakan PR meski harus dilakukan melalui panggilan video. Hal tersebut membuat Kiano senan karena kini memiliki dua papa yang benar-benar menyayanginya.


"Dadah ... terimakasih Ayah, sudah menemani Kiano belajar. Ayah baik-baik ya di sana, jangan lupa untuk selalu jaga kesehatan." ucap Kiano yang sedang melambaikan tangan dengan gembira kepada Saka yang tersambung lewat panggilan video.


"Dahh ... Kiano! Kamu juga jagoan, jangan nyusahin bunda dan papa ya. Bilangin ke Bunda, cepet-cepet bikin adek baru ... hihi ..." balas Saka dengan nada berbisik di ujung kalimatnya. Sehingga membuat Kiano tersenyum dan tertawa memperlihatkan gigi-gigi kecilnya yang putih itu.


Sesaat setelah panggilan video itu terhenti, Tefan masuk ke kamarnya dan menanyakan Kiano sedang apa.


"Hai jagoan papa ...! Kamu baru selesai belajar ya?"


"Iya, Pah. Barusan diajarin Ayah Saka. Pah, Bunda kenapa ya? Dari tadi nggak keluar-keluar kamar, terus tadi Kiano lihat wajah Bunda puca....ttt banget."


"APA? Kiano serius? Bunda sakit kali. Sebentar ya, Papa lihat Bunda dulu, soalnya tadi pas masuk rumah nggak langsung ke kamar malah langsung nengok jagoan papa ini."


"Iyah, Pa. Cepat tengok bunda, kasian bunda, Pa. Tapi Kiano ikut ya Pa?"


"Boleh sayang. Ayo, kita pergi melihat bundan di kamarnya."


Mereka berdua pun berjalan beriringan menuju kamar Riana. Sebelum masuk, Tefan mengetuk pintu dulu. Padahal biasanya juga langsung masuk saja, dia ingin tahu jika Riana tak membukakan pintu untuknya berarti memang terjadi sesuatu pada isterinya itu.

__ADS_1


Tok.


Tok.


Tok.


γ€€


Setelah diketuk beberapa kali dan tidak mendapatkan sahutan, Tefan merasa cemas dan langsung masuk kamar saja. Begitu juga dengan Kiano yang berlari menuju tempat tidur bundanya. Di sana, Riana sedang berbaring meringkuk sambil menutup seluruh bagian tubuhnya dengan selimut tebal.


"Sayang ...


"Bunda ...


Tefan segera melihat wajah Riana, dia kaget bukan main sebab wajah isterinya itu pucat sekali seperti tak ada darah sama sekali. Kondisinya lemas, lemah dan tak berdaya.


"Aku ... tidak apa-apa ... aku hanya merasa meriang dan seluruh badanku sakit dan pegal-pegal. Itu saja kok."


"Nggak kenapa-kenapa gimana? Wajah kamu pucat banget. Itu suara kamu juga lemah sayang, udah jangan bicara lagi. Kita ke dokter sekarang!"


"Bunda ... Bunda ... Bunda kenapa???" Kiano sudah seperti ingin menangis karena takut terjadi sesuatu pada bundanya.


Tubuh Riana segera diangkat oleh Tefan dan bergegas menuju mobil. Kiano ikut di belakang Tefan dan menangis memanggil nama bundanya.


"Sayang ... Papa anter bunda ke rumah sakit dulu ya. Kiano di rumah saja ditemani Pak Bono."


"Tapi, Pa ... Bunda gimana?"

__ADS_1


"Doakan bunda baik-baik saja ya sayang. Kamu jagoan papa dan bunda, jadi Kiano terus doain bunda. Jangan nangis. Pak Bono, titip Kiano ya."


Meski berat hati, namun Kiano akhirnya menurut apa kata Tefan. Mobil melaju cepat menuju rumah sakit, terlihat sekali gurat kekhawatiran di wajah Tefan. Sementara Riana di sampingnya terkulai seperti kain yang tak berdaya sama sekali.


Tak lama kemudian, mereka tiba di rumah sakit. Mereka disambut beberapa suster yang membawa brankar dan segera memindahkan Riana dari mobil ke brankar. Setelah itu, Riana cepat dilarikan ke IGD untuk mendapatkan pelayanan maksimal.


Tefan tak lepas dari sisi Riana, sepanjang jalan dia terus memegang tangan isterinya itu. Sampai ketika Riana telah berada di depan ruang IGD, terpaksa Tefan harus melepaskan Riana karena dia harus menjalani perawatan.


"Silakan bapak tunggu di sini dulu, biar tim dokter dari rumah sakit yang mengambil alih. Kami akan segera memberitahukan kepada bapak mengenai kondisi isteri bapak."


Tefan pun pasrah. Ada raut wajah frustrasi di sana. Seperti tak dapat berbuat apa-apa dengan kondisi Riana sekarang.


***


Di tempat yang berbeda, dokter baru saja memeriksa kondisi Riana. Sekarang, Riana juga sudah mendapatkan pertolongan pertama dengan diberikan penambahan cairan akibat tubuhnya yang terlalu lemah dan kekurangan cairan tersebut. Wajahnya juga sudah telihat lebih baik dari sebelumnya.


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Bu. Semuanya baik-baik saja. Hanya saja, Ibu perlu istirahat total dan perbanyak makan buah serta nutrisi-nutrisi penting lainnya yang dibutuhkan bagi seorang ibu hamil."


"Apa, Dok? Tadi barusan dokter bilang apa? Ibu hamil? Jadi maksudnya--


"Iya, Bu. Ibu hamil muda ..."


Riana akhirnya tak dapat menyembunyikan rasa haru bahagianya. Dia pikir dia hanya masuk angin biasa saja karena tak ada mual sama sekali. Itu sebabnya dia tak menyangka kalau dia bakal hamil.


"Serius, Dok? Aku hamil?"


Dokter mengangguk dan Riana pun hanya bisa berkali-kali mengelus perutnya yang masih rata itu. Dia pun bermaksud ingin mengejutkan Tefan.

__ADS_1


Sebuah kado terindah ... untuk pernikahannya dengan seseorang yang selama ini mengisi hari-harinya.


__ADS_2