Complicated Love #2

Complicated Love #2
Musim Kedua: Rencana Tefan


__ADS_3

"Pak Bono, segera urus mengenai pemesanan aksesoris dalam jumlah besar ke toko Riana. Kirim seseorang ke sana dan buat dia mendapatkan kontrak kerjasama dengan Riana."


"Segera dilaksanakan, Tuan."


Secercah senyum terbit di wajah Tefan. Tidak pernah dia berhasrat pada seorang perempuan kecuali pada Riana. Mungkin karena Riana adalah cinta pertama yang berhasil membuatnya tak berdaya. Walau dia pernah gagal dan mengecewakan Riana. Namun dia ingin membayar semua itu dengan memperbaiki semua yang telah hancur dahulu.


Tefan ingat bagaimana terakhir kali dia berkelahi dengan Saka yang saat itu masih berstatus pacar Riana. Tefan meringis jika mengingat itu, sekaligus terasa lucu baginya. Bagaimana dia masih sangat labil menghadapi segala persoalan. Sejak saat itulah, dia bertekad ingin memperbaiki dirinya. Mungkin sudah terlalu banyak dia membuat Riana kecewa padanya, itulah sebabnya dia menepi sejenak. Membiarkan Riana menjemput sendiri kebahagiaanya meski tak bersamanya.


Tefan membuka ponselnya, lalu membuka galeri foto. Di sana masih tersimpan banyak sekali foto kenangannya bersama Riana. Sengaja dia sembunyikan memakai password, agar tak ada seorang pun tahu bahwa dirinya masih selalu mendambakan Riana.


Selama ini, dia sudah ikhlas. Kebahagiaan Riana adalah kebahagiaan yang juga bisa dia rasakan. Lalu kini, melihat kondisi Riana benar-benar berbeda 360 derajat dari sebelumnya. Membuat dia tergerak menyusun rencana untuk membantu Riana diam-diam.


***


Riana baru saja selesai menyusun aksesoris yang dijualnya. Hari ini mulai buka kembali. Kiano sedang bermain dengan mainan kesayangannya, captain Bass. Jeni belum terlihat sejak tadi pagi.


Saat hendak keluar membeli sarapan buat dia dan Kiano, seseorang datang menemui Riana. seorang pria berperawakan tinggi dan tampak sangat berkelas. Riana ingin berlalu begitu saja, karena dia berpikir mungkin orang itu adalah salah satu teman atau rekan bisnis Jeni.


"Pagi, Bu!" Sapa orang itu.


"Pagi, maaf cari siapa ya Pak?"


"Emm..., ini toko aksesoris punya Ibu?"


"Sebenarnya sih bukan toko saya, Pak. Tapi aksesoris di dalam adalah punya saya. Toko ini punya teman saya, saya hanya numpang buat jualan di sini."


"Oo, begitu ya Bu." Orang itu nampak berpikir dan Riana ingin pergi. Namun ditahan oleh orang tadi.


"Saya sebenarnya sedang mencari aksesoris sebagai souvernir untuk salah satu hotel saya di Bali, Bu."


"Lalu?"


"Sejak tadi pagi saya meninggalkan rumah, saya sudah berjanji kepada diri saya sendiri. Bahwa toko aksesoris siapapun yang pertama kali saya temui maka dia akan jadi rekan bisnis saya nantinya."


Riana cukup terkejut dengan kata-kata bapak tersebut. Wajahnya sekilas menimbulkan rasa penasaran.


"Maaf, jika tidak keberatan boleh saya masuk dulu untuk lihat-lihat?"


Ah iya, betapa bodohnya aku membiarkan calon rekan bisnis ngobrol di luar begini. Apa aku terlihat jelas tampak bodoh olehnya ya? Kuharap tidak.

__ADS_1


Riana pun bergerak cepat secara refleks. Dia pun meminta bapak tadi untuk masuk ke dalam toko. Membiarkan orang itu melihat-lihat etalase aksesoris miliknya. Riana berada di sampingnya, kalau-kalau bapak itu menanyakan sesuatu.


Riana melihat bapak itu sangat serius meneliti satu persatu aksesorisnya. Dia kemudian meminta beberapa sampel aksesoris yang menjadi andalan di toko Riana.


"Bisakah anda memilihkan untuk saya, aksesoris mana saja yang menjadi produk andalan di toko anda?"


"Bisa, Pak. Tunggu sebentar."


Riana pun mengambil beberapa jenis aksesoris, mulai dari cincin, kalung dan juga gelang. Serta ada beberapa macam Pin Bros yang belakangan ini memang sangat diminati orang.


"Maaf ini produk yang menjadi andalan di toko ini. Bapak bisa lihat dan memilih mana yang cocok dengan hotel Bapak."


Bapak itu pun mengambil sampel tersebut dan dipersilakan oleh Riana untuk memilih di sofa yang ada di toko itu.


Lama Bapak itu meneliti satu persatu aksesoris tersebut. Membiarkan Riana dalam kecemasan, akankah orang ini benar-benar melakukan kontrak kerjasama dengannya. Jika iya, maka akan menjadi kabar bagus baginya dan Kiano karena akhirnya bisa mendaftarkan Kiano untuk masuk sekolah nantinya.


"Oke, saya suka semua produk yang anda tawarkan. Nanti akan ada pegawai saya yang akan datang untuk membawa surat kontrak kerjasamanya. Untuk pengambilan awal, saya minta anda siapkan masing-masing seribu pcs dari semua jenis aksesoris tadi. Total ada 5 jenis jadi semuanya lima ribu pcs. Untuk pembayaran awal, sekalian nanti saat penandatanganan surat kontrak kerjasama yang akan segera diantar oleh pegawai saya. Bagaimana, Bu?"


Riana terpana. Dia tak bisa berkata apapun lagi, mulutnya seakan terkunci demi mendengar lima ribu pcs pesanan tadi.


Ini benar atau hanya mimpi ya? Sejak pertama kali aku merintis toko aksesoris ini, belum pernah sebelumnya ada yang pesan sebanyak ini. Ya Tuhan, terimakasih untuk segala rezeki yang Engkau beri padaku.


Setelah telinganya menangkap dengan jelas suara yang memanggil namanya, Riana pun tersadar.


"Ah iya, maaf pak, maaf! Tadi saya sedikit shock mendengar setiap kata-kata yang keluar dari mulut bapak. Itu seperti kata-kata ajaib yang bisa langsung mengubah seluruh hidup saya mulai saat ini."


Bapak itu tersenyum tipis dan Riana masih terlihat canggung dan malu karena tingkahnya barusan.


"Baiklah, Bu. Besok pegawai saya akan datang ke sini. Selebihnya mohon Ibu persiapkan pesanan dari hotel saya agar kerjasama ini berjalan dengan baik selanjutnya. Jika sudah jelas, saya mau pamit dulu, Bu."


Riana mengangguk cepat dan wajahnya berseri karena baru saja ketiban rezeki nomplok. Dia pun mengantar bapak tadi untuk keluar lalu masuk lagi ke toko dan memeluk tubuh Kiano.


Kiano yang tiba-tiba dipeluk merasa sesak oleh pelukan bundanya.


"Bunda...!" Teriak Kiano.


"Aaaakk..., Bunda senang banget! Akhirnya Kiano akan bisa sekolah tahun ini." Ucap Riana dengan nada kegirangan.


Kiano yang mendengar itu, ikut senang namun dia ingin sekali protes pada Bundanya yang masih memeluknya sangat erat.

__ADS_1


"Iyyah..., Kiano ikut senang Bunda! Tapi, ini arghh..., tangan Bunda lepasin dulu! Sesak ini dada Kiano, Bunda."


Mendengar anaknya berbicara seperti itu, Riana pun tersadar bahwa dia sudah memeluk Kiano terlalu erat.


"Duh, maaf sayang. Maafin Bunda. Hehe. Bunda terlalu senang soalnya."


"Selamat ya, Bunda! Kiano ikut senang, akhirnya bisa melihat Bunda tersenyum bahagia seperti sekarang ini. Kiano sayang banget sama Bunda."


Kiano pun mencium kedua pipi Riana dengan penuh sayang. Kemudian memeluk tubuh Riana dan menunjukkan rasa terimakasihnya itu pada Bundanya.


"Terimakasih, sudah sayang Kiano dan besarin Kiano ya, Bunda. Nanti jika Kiano gede, tak akan kubiarkan Bunda kerja lagi apalagi bersedih. Biar itu semua jadi tugas Kiano saja, Kiano kan anak terhebatnya Bunda."


Riana tersenyum dan kembali memeluk putra semata wayangnya itu. Putra yang selalu tahu bagaimana kondisinya dan tidak pernah mengeluh dengan segala kondisi yang sudah pernah mereka lewati bersama-sama. Hati Riana menghangat, dia senang akhirnya bisa mendapatkan kontrak kerjasama.


Itu artinya, beberapa waktu ke depan dia tak akan lagi kekurangan biaya. Tidak perlu lagi memikirkan sekolah Kiano atau memikirkan pengiritan yang harus dilakukannya tiap bulan demi membuat semua kebutuhan dia dan anaknya terpenuhi. Kini, Riana tak perlu khawatir lagi tentang hal itu.


***


Sementara di tempat yang berbeda, orang yang tadi menemui Riana sedang melaporkan hasil kerjanya barusan.


"Kerja yang bagus! Terimakasih, untuk selanjutnya kuharap kerjasama ini tetap berlangsung." Ucap Tefan menyalami bapak tadi.


Pak Bono yang ada di sampingnya juga dapat bernafas dengan lega karena orang yang dia kirim ke tempat Riana bisa bekerja dengan baik dan dapat diandalkan.


Sekarang dia dapat membantu Riana, tanpa harus ketahuan oleh Riana. Tefan tersenyum dengan apa yang telah dilakukannya. Jangankan memberi dengan seharga lima ribu pcs, dia bahkan bisa memberikan segalanya untuk Riana. Namun, hal itu tidak mau dilakukannya dengan gegabah. Bahkan untuk melakukan pendekatan pada Riana dari sekarang pun tak ingin dilakukannya dulu.


Tefan berencana untuk membuat kepercayaan Riana terhadap dirinya kembali lagi. Baru setelah itu, dia berharap bisa kembali mendekati Riana dan hubungan mereka kembali seperti dulu lagi.


Sekarang, dibenaknya hanya ada Riana. Dia kembali bersemangat untuk berbuat lebih banyak itu semua karena dia merasa menemukan tujuan hidupnya yang baru.


Riana, kuharap kamu tidak salah paham mengenai ini. Aku hanya ingin membantumu dan membuat kamu percaya lagi bahwa aku bukanlah Tefan si pengecut lagi. Semoga kamu melihat segalanya dengan lebih jelas.


*


*


*


Terimakasih sudah menunggu cerita ini up, maaf karena tak bisa up lebih teratur. Kerjaan di RL mulai antri soalnya. ehehe.

__ADS_1


__ADS_2