
Akhirnya mereka berdua menyandang status baru, yaitu menjadi sepasang pengantin baru. Hubungan keduanya sekarang jelas sebagai suami dan isteri. Tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan, sesuatu yang diimpikan keduanya begitu lama telah terwujud.
"Sayang, coba sentuh dadaku." Tefan meraih pergelangan tangan Riana lalu meletakkannya ke dadanya.
"Ada apa? Kenapa harus menyentuh dada segala?" tanya Riana heran dengan tingkah Tefan.
"Aku tidak tahu sejak kapan dia bermula berdetak lebih cepat dari biasanya. Namun kehadiran kamu di sini seolah menjadi jawaban atas pertanyaan itu. Sekarang, apa kau merasakannya Riana?" ucap Tefan penuh penghayatan, membuat mata Riana berbinar sebab selama mereka bersama hampir tidak pernah Tefan berbicara seromantis itu padanya.
Riana hanya mengangguk antara ingin menangis haru dan tertawa karena ini pertama kalinya Tefan melakukan itu padanya.
Malam pertama mereka dilakukan di rumah Tefan, Kiano sudah terlelap sejak tadi. Kecapean sepertinya setelah seharian merayakan kebahagiaan memiliki Papa baru.
Tefan mencium kening Riana dan memeluknya semakin erat.
"Aku takut ini hanya mimpi. Kebahagiaan selama beberapa tahun terakhir seolah menjauhiku. Lalu hari ini tiba-tiba saja statusku berubah menjadi seorang isteri sekaligus Nyonya Tefan."
"Fan, tolong cubit aku."
Wajah Tefan lantas mengkerut, ada apa Riana mendadak memintanya untuk mencubit dirinya.
"Sayang, tolong cubit aku!" ucap Riana sedikit memaksa.
Tefan tidak tega melakukannya, dia lebih ingin mencium isterinya daripada mencubitnya.
CUP!
"Kan aku bilang cubit, bukan dicium." Riana protes dengan wajah seperti anak kecil yang sedang merajuk.
"Habisnya kamu sangat menggemaskan, dan aku tidak ingin menyakitimu sayang. Makanya untuk apa aku mencubitmu?"
"Aku hanya ingin membuktikan apakah aku tidak sedang bermimpi. Aku terlalu takut ini hanyalah mimpi."
"Hei, ini nyata. Sekarang coba kau sentuh wajahku. Di sini, letakkan tanganmu di sini." Tefan menuntun tangan Riana untuk menyentuh wajahnya.
"Bagaimana? Apa kau percaya bahwa ini bukanlah mimpi, kan?"
Riana mengangguk malu. Tefan mengangkat wajah Riana sedikit untuk dapat melihat betapa cantik isterinya itu. Untuk sesaat mereka saling bertatapan dan Tefan mulai menelengkan kepalanya. Menunduk sedikit untuk menggapai bibir Riana yang merah merekah.
Perasaan mereka menyatu dalam setiap kecupan yang mengikat keduanya. Tefan membungkam Riana dengan ciumannya, membuat wanita itu harus mencuri kesempatan agar bisa bernapas untuk sesaat.
"Terimakasih," ucap Tefan lirih.
Kini Riana dapat merasakan detak jantungnya sendiri. Napasnya yang sedikit memburu akibat ciuman tadi memaksanya untuk menundukkan kepala. Menyembunyikan semburat merah yang sejak tadi tergambar dengan jelas.
__ADS_1
"Istirahatlah sayang, kau pasti sangat lelah setelah seharian ini." Tefan berbicara dengan sepenuh hati pada Riana.
"Aku ingin mandi dulu, habis itu menengok Kiano di kamar sebelah."
Riana pun berusaha membuka gaunnya, namun sedikit kesulitan untuk menurunkan resleting baju yang menangkup bahu mulusnya itu.
Tefan tersenyum melihat Riana berusaha keras meraih rest bajunya. Sayangnya tangannya terlalu pendek untuk meraihnya. Tefan berjalan mendekati Riana lagi, "mau aku bantu?"
Tanpa diminta, Tefan menyingkirkan rambut Riana yang menutupi punggungnya. Menyampaikannya ke depan agar dia bisa dengan mudah menurunkan resleting gaun itu.
"Sreeettt ...!"
Dan rest gaun itu pun akhirnya terbuka, menampakkan punggung Riana yang sehalus porselen. Mulus dan putih.
Tefan menelan ludahnya sedikit, dia terpana dengan tubuh Riana yang sudah lama tak pernah disentuhnya lagi. Dia menyusuri lekuk punggung Riana dengan ujung jari telunjuknya, dari atas ke bawah. Membuat Riana merasakan ada getaran seperti kejut listrik. Dia menggidikkan bahunya sesaat akibat respon dari sentuhan Tefan.
"Kau merawat tubuhmu dengan baik, sayang."
Riana berbalik dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Tefan. "Ada apa? Kau begitu tertarik?"
"Jangan menggodaku Riana, kau tahu aku tidak akan pernah bisa menahan diri untuk setiap godaanmu." Tefan menjawab sambil nyengir.
"Siapa yang menggodamu sayang, aku tidak sedang menggodamu. Kau saja yang merasakan hal seperti itu."
"Cepatlah mandi, aku sudah tak sabar merasakan keindahan menjadi pengantin baru sayang." Tefan mengeringkan satu matanya ke arah Riana.
"Haha ... kalau aku bocah tua nakal, kamu apa dong?"
"Tauk ah, aku mandi dulu."
***
Tefan sedang duduk di tempat tidur sambil memeriksa beberapa laporan yang dia simpan di Ipad-nya. Untuk sementara urusan resort dia serahkan penuh kepada Pak Bono.
Riana baru saja selesai mandi, handuk selutut melilit di tubuhnya dan di atas kepalanya juga terdapat handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya. Sebenarnya ada rasa risih yang dirasakan Riana saat untuk pertama kali dia harus menginap dan menggunakan kamar mandi Tefan.
Dia berjalan melewati Tefan untuk sampai pada lemari pakaian. Riana membuka lemari tersebut dan dia terkejut tak menemukan satu helai baju pun miliknya di dalam lemari tersebut.
"Hah?" pekiknya.
Tefan ikut kaget dan melihat Riana sedang dalam kebingungan.
"Ada apa sayang?"
__ADS_1
"Aku lupa kalau belum bawa pakaian selembar pun ke rumah ini. Gimana dong?"
Tefan terkekeh, "aku lebih suka kau tanpa busana sayang."
Refleks Riana menarik handuk di kepalanya dan melemparnya ke arah Tefan.
"Hahaha ... maaf sayang! Maaf!"
"Dasar nakal. Pikiranmu ituloh, ishh! Sekarang gimana? Masa aku nggak pakai baju sih?"
"Lebih bagus seperti itu sayang. Xixixixi."
"Te ... Fan ...!"
"Hahaha ...! Tenang saja, aku sudah menyiapkannya untukmu sayang."
Tefan segera turun dari tempat tidur dan keluar dari kamar untuk mengambil pakaian yang sudah dia siapkan untuk Riana.
Sesaat kemudian dia pun kembali lagi ke kamar dan menyerahkan satu kotak besar berisi pakaian pada Riana. Riana pun senang dan segera membuka kotak tersebut. Lalu rasa senang itupun lenyap seketika begitu dia mengeluarkan pakaian-pakaian dari kotaknya.
"Ihh ... sayang ini apaan?"
Tefan semakin tergelak oleh tawanya.
"Itu kan cocok buat kamu sayang, kita kan baru jadi pengantin baru."
"Ya tapi kan nggak baju kayak gini juga sayang."
"Itu lingerie sayang, kamu norak ih. Lingerie itu kan emang gaun tidur. Masa iya kamu tidur pakai sarung."
"Iiih ..., ini sih kurang bahan. Udah gitu tipis banget lagi. Ini mah sama saja kayak aku telanjang di depan kamu. Ogah, aku nggak mau make ini."
Riana cemberut tapi Tefan semakin senang.
"Namanya juga lingerie. Memangnya mau yang gimana? Ya sudah kalau nggak mau pakai berarti kamu tidurnya pakai selimut saja. Tapi selimutnya aku, hehehe."
"Dasar otak mesum!"
Riana mencebikkan bibirnya. Kemudian dia mengambil selimut di tempat tidur dan menutupi seluruh tubuhnya dan berbaring memunggungi Tefan.
"Malam pertama masa iya aku cuma dikasih punggung doang?"
"Salah sendiri, aku mau istirahat. Jangan ganngu!"
__ADS_1
Riana semakin menarik selimutnya ke atas hingga menutupi seluruh tubuhnya sampai kepala.
Tefan naik ke tempat tidur dan memaksa ikuti masuk selimut lalu memeluk Riana.