Complicated Love #2

Complicated Love #2
Mengunjungi Saka


__ADS_3

Siang itu Riana masih berpikir seribu kali untuk memantapkan niatnya membesuk Saka di rumah sakit. Dia tidak ingin ada yang tersakiti dari dua belah pihak. Karena sesungguhnya, dia tahu berada pada posisi Sheril itu sangat mudah dan rentan untuk merasa cemburu.


Dia tak khawatir dengan perasaan Tefan, dia yakin suaminya itu sudah melewati masa di mana hadirnya perasaan cemburu. Dia tahu betul bagaimana Tefan mencintainya. Riana hanya takut akan masalah-masalah yang timbul setelah dia menjenguk Saka.


Namun, dia tak bisa mundur lagi. Tefan serius dengan ucapannya. Itu artinya, Riana harus tetap datang mengunjungi Saka di rumah sakit. Riana sedang berias diri depan cermin ketika suara deru mesin mobil seperti memasuki halaman rumahnya.


"Itu pasti Tefan dan Kiano." Riana berucap lirih.


Dia sudah menyiapkan makan siang di atas meja makan, menunggu kedua orang yang sangat dicintainya itu pulang untuk makan bersama.


Riana segera ke dapur, dia menunggu di meja makan. Suara langkah kaki Kiano yang berlari sudah terdengar dari arah luar.


"Bunda ..."


"Ya sayang, di sini. Bunda di ruang makan."


"Hari ini kita mau ke rumah sakit ya, Bun?"


Riana tersenyum ke arah Kiano, pasti Tefan sudah memberitahu Kiano mengenai rencana mereka setelah makan siang.


"Iyah, sayang. Kamu ganti baju dulu, habis itu makan siang bersama-sama lalu berangkat ke rumah sakit."


"Siap, bunda."


"Hati-hati, jangan lari-lari Kiano. Nanti kamu terpeleset di tangga sayang."


Riana mengingatkan Kiano yang memiliki kebiasaan kadang tak bisa jalan santai, selalu terburu-buru dan lari-larian. Riana sampai dibuat khawatir jika Kiano sudah melakukan itu.


"Sayang ..." sapa Tefan seraya mencium kening Riana dan tangannya meraih pinggang slim isterinya.


"Mau langsung makan aja atau ganti baju dulu?" tanya Riana.


"Ganti baju dulu kayaknya, aku ke atas dulu ya?"


"Iyah, aku tunggu di meja makan."


***

__ADS_1


Setelah makan siang, mereka pun berangkat ke rumah sakit. Segala kemungkinan dan juga prasangka sudah disingkirkan Riana. Dia ingin berpikiran positif sama seperti Tefan.


"Sayang, kok diem aja dari tadi?"


Riana yang sejak tadi hanya diam dan melamun langsung terkejut setelah ditegur oleh Tefan.


"Ya? Apa tadi?"


"Kok diam aja dari tadi?"


"Oh ... nggak apa-apa sayang. Kiano tidur ya di belakang? Nggak ada suara."


"Iyah, sudah dari tadi. Kecapean mungkin main di sekolahnya. Kamu lagi kepikiran apa sih?"


"Aku ... aku cuma lagi mikir, apa sebaiknya Kiano tidak usah tahu bahwa Papa kandungnya masih hidup?"


"Ri ... cepat atau lambat, Kiano juga pasti akan tahu. Akan ada orang yang ngasih tahu dia. Justru aku tuh takutnya kalau dia malah tahu dari orang lain. Bukan dari Bundanya langsung yang selama ini membersamai Kiano dari kecil. Jangan sampai Kiano mikir kalau kamu tuh udah bohongin dia selama ini sayang."


"Iya, kamu benar."


"Kamu kasih tahu Kiano pelan-pelan. Biar dia nggak shock dan biarkan semuanya berjalan apa adanya aja."


Tak lama kemudian, mereka pun sampai di rumah sakit. Riana menarik napas panjang sebelum menjejakkan kakinya di lantai rumah sakit. Seolah dadanya perlahan sesak sebentar lagi entah karena apa.


Kiano anteng digendong Tefan. Benar-benar seorang Papa yang bisa diandelin-lah Papa Tefan Ganteng. Haha. (Authornya jatuh cinta sama sosok Tefan. Hihi)


Satu demi satu langkah Riana semakin dekat ruang ICU. Kemudian beberapa pasang mata langsung tertuju pada kedatangan mereka. Di sana ada Shena, Sheila, dan juga Mama Saka. Sheril mungkin lagi di dalam menemani suaminya.


"Selamat siang ..." sapa Riana tenang, begitu juga dengan Tefan.


Shena dan Sheila yang tak mengerti apa-apa, hanya bisa tersenyum pada Riana dan Tefan. Namun tatapan matanya terpusat pada Mamanya, seakan meminta penjelasan mengenai kedatangan Riana dan Tefan ke rumah sakit.


"Mbak Riana ..."


"Pak Tefan ..."


Sapa kedua kakak beradik itu. Riana masih menganggap mereka seperti adik sendiri.

__ADS_1


"Kalian sudah datang. Riana ... kumohon masuklah! Temui Saka sekarang juga."


Belum apa-apa mamanya Saka sudah main paksa-paksa saja. Shena menarik lengan mamanya dan berusaha mengingatkan mamanya bahwa Riana baru saja datang. Sudah baik Riana datang berkunjung, ini malah dipaksa seolah Saka akan segera sembuh begitu Riana masuk ke dalam kamar ruangan di mana pasien dirawat.


"Mama ... mereka baru saja datang. Disuruh duduk dulu kek. Mba Riana, Pak Tefan, silakan duduk dulu. Hei Kiano ...." ucap Shena yang gemas saat melihat Kiano mengerjap di gendongan Tefan.


Anak itu sudah bangun namun masih ingin berlama-lama digendong Papa gantengnya. Shena pun berusaha mengajak Kiano agar mau digendong olehnya. Namun Kiano menggelengkan kepala.


"Sayang ... Papa nanti capek gendong kamu. Kiano main sama Tante dulu ya?" ucap Riana memberi pengertian pada Kiano.


Akhirnya Kiano pun menurut dan turun dari gendongan Tefan. Dia kemudian diajak main oleh tantenya, Shena dan Sheila. Tentu saja kedua perempuan itu senang sekali mendapatkan kesempatan untuk lebih dekat dengan Kiano. Keponakan mereka satu-satunya.


"Maaf, kalau boleh tahu bagaimana kondisi Pak Saka sekarang Bu?" tanya Tefan sopan.


"Tidak ada perubahan, dia masih mengalami koma. Itu sebabnya aku meminta kalian untuk datang ke sini, terutama kepada Riana. Mungkin dengan kedatangan Riana, bisa membantu menyadarkan Saka dari komanya."


"Ma ...." sebuah suara bernada tinggi mengagetkan mereka semua. Rupanya Sheril baru saja keluar dari ruang perawatan Saka.


"Mama keterlaluan membawa Riana ke rumah sakit. Mama tidak sadar apa sudah menyakiti hati Sheril. Mama tega tahu nggak!"


"Sheril tenang dulu ... ini semua demi kebaikan Saka juga. Mungkin dengan mereka bertemu bisa membantu mengembalikan kesadaran Saka."


"Ooh ... begitu? Lalu apa? Lalu mereka kembali lagi dan aku dicampakkan, dibuang gitu aja. Begitu kan mau Mama?"


PLAK!


Sebuah tamparan mendarat di pipi Sheril yang sejak tadi berteriak ke arah Mama mertuanya.


"Jangan berteriak seperti itu di depanku. Selama Riana menjadi menantuku, belum pernah sekali pun dia meneriaki Mama."


"Jadi sekarang Mama membela perempuan yang sudah mengabaikan Saka saat dia sedang berjuang di rumah sakit sendirian? Terus sekarang ... sekarang Mama menampar aku untuk sesuatu yang tidak perlu? Mama keterlaluan ...."


Sheril pergi begitu saja. Riana dan Tefan merasa tidak enak dengan semua situasi sekarang. Dia tak menyangka reaksi Sheril akan seperti itu. Apalagi Mama Saka yang sempat menamparnya dan membandingkannya dengan Riana.


"Jadi ... Mama ... selama ini mengarang cerita bahwa aku sengaja meninggalkan Saka begitu? Astaga ... aku tidak pernah berpikiran sepicik itu. Seandainya aku tahu dia masih hidup, aku tidak akan pernah meninggalkan Saka. Lagi pula Mama sendiri yang mengusir Riana dan Kiano dari rumah Mama."


"Fan ... kita pulang sekarang! Cepat cari Kiano."

__ADS_1


Riana pergi dari sana, menahan dadanya yang sesak juga air mata yang nyaris tumpah.


__ADS_2