Complicated Love #2

Complicated Love #2
CL - 39. Ancaman Tefan


__ADS_3

Akhirnya dia mengatakannya, perasaan yang mengilhami hatinya. Malam itu langit sedang cerah, aku menatap ke atas dari balkon tempatku berdiri. Di sisiku ada Saka yang tengah asyik memanikan anak rambutku yang tergerai di tiup angin.


"Terimakasih sudah mau jujur Riana." ucapnya sembari menarik tanganku untuk ditautkan ke tangannya lalu menciumnya lembut.


Dia menatapku begitu dalam, seakan aku ini adalah orang yang dicarinya selama ini. Seseorang yang selalu ia tunggu untuk menghabiskan waktu. Sama seperti dia yang sedang merasakan ketenangan saat menatapku, aku juga merasakan kenyamanan begitu di dekatnya.


Percayalah cinta bisa tumbuh kapan saja, di hati siapa saja, tanpa kau harus tahu bagaimana awal mulanya. Cinta tak bisa kau cegah, sekali pun kau telah berusaha menolaknya. Cinta akan selalu membuat dirinya pantas untuk dicintai dan untuk mencintai.


Kami berdua resmi menjadi sepasang kekasih setelah saling mengungkapkan perasaan satu sama lain. Sesungguhnya ada hal yang masih mengganjal di pikiranku. Ada satu yang belum aku ceritakan pada Saka, sesuatu yang aku takutkan jika suatu saat dia mengetahuinya akankah dia marah lalu meninggalkanku?


Aku butuh waktu dan keberanian untuk mengatakan padanya. Saat ini aku hanya ingin menikmati setiap detiknya, bila nanti terjadi sesuatu aku sudah cukup siap. Meski ada pepatah yang bilang bahwa kejujuran itu memang pahit, tapi bagaimana pun harus dikatakan.


Aku hanya berharap yang terbaik ke depannya. Tuhan Maha mengatur, selagi masih hidup masih banyak kemungkinan yang mungkin terjadi. Aku cukup percaya takdir baik akan memihak padaku dan Saka.


***


"Hari ini aku mau waktu kamu lagi. Bisa kan? Datanglah ke restoran." - Saka


Begitulah isi dari pesan yang baru saja masuk di ponselku. Aku baru mau berangkat ke kantor pusat saat pesan itu masuk.


Kebiasaan dia adalah selalu meminta jatah waktu makan siangku. Bagiku itu tidak masalah, toh dia bukan lagi orang lain dalam hidupku.


Aku berangkat ke kantor setelah pamit ke Papa dan Mama. Dalam perjalanan aku ditemani alunan musik yang bernada pelan. Sebelum akhirnya suara musik itu dikalahkan oleh nada dering dari ponselku.


Aku mengangkat telpon tersebut tanpa melihat telpon dari siapa. Sesaat kemudian ekspresiku mulai tak baik begitu mendengar siapa pemilik suara di sebrang sana.


"Halo Riana, bisakah kita bertemu?"


"Tefan, kalau kamu meminta bertemu hanya untuk alasan-alasan yang tidak jelas, maka aku tidak akan membiarkan waktuku terbuang hanya untuk itu. Berhentilah!"


"Apa tidak ada lagi kesempatan untuk aku memperbaiki semuanya?"


Nada diseberang sana mulai mengiba. Aku tidak peduli.


"Apa yang harus diperbaiki Tefan? Semuanya sudah tak bisa diubah lagi. Sampai kapan pun orang tua kamu tidak akan pernah menerima aku di sana. Jadi cukup."


"Aku mencintai kamu Riana. Tolonglah!"

__ADS_1


"Tefan jika kalimat ini akan membuatmu berhenti mengejarku maka akan aku katakan "Simpanlah cinta itu untukmu sendiri. Aku tidak mau bersama kamu lagi."


Aku mengucapkan kalimat itu begitu saja, memang barangkali sangat menyakitkan bagi dia. Tapi bukankah hal menyakitkan itu harus dikatakan, karena tidak mudah untuk berpura-pura. Tefan juga harus sadar kalau keadaannya sudah berbeda sekarang.


"Jika aku tidak bisa bersama kamu, maka siapapun tidak boleh bersama kamu Riana. Aku pastikan itu."


Suaranya terdengar bergetar dan geram, apalagi dia mematikan telpon itu begitu saja. Aku menggigit bibirku kesal. Aku bahkan memukul setir di depanku. Ah, kenapa jadi begini sih?


Jika Tefan serius dengan ucapannya, bagaimana? Dia bisa saja melakukan hal-hal nekad suatu saat nanti. Aku tidak bisa bayangkan dia berubah seperti Papanya yang berlaku seenak keinginannya.


Aku mempercepat laju mobilku, suara musik itu tidak lagi menarik didengar. Berubah menjadi perasaan cemas dan khawatir karena ucapan terakhir Tefan barusan. Dia pasti sangat marah. Dia berubah total, tidak seperti Tefan yang kukenal beberapa tahun silam.


***


"Pagi Bu!" Sapa karyawan sesaat setelah aku masuk ke dalam toko.


Aku membalasnya dengan senyum lalu berjalan terus ke ruanganku.


"Nia, ikut aku ke dalam."


"Ada apa mba?"


"Bagaimana perkembangan toko Nia?"


"Bagus sekali Mba, kita lebih banyak dapat keuntungan dibanding tempat sebelumnya. Kita sepertinya mesti menambah lebih banyak merk fashion lagi Mba. Harus yang lebih bisa bersaing dan tentunya kualitas produk terjamin."


"Baiklah, kamu urus secepatnya dan kasih aku laporannya nanti."


"Baik Mba. Jika tidak ada lagi, aku keluar dulu."


"Tunggu! Nia jika ada pria yang selain Saka datang mencariku, bilang aku tidak ada sedang keluar atau apa saja terserah kamu."


"Baik Mba. Kalau begitu aku permisi."


Setelah membereskan beberapa pekerjaan di meja, aku menghubungi Nina lewat telpon.


"Tuuuuuttt..."

__ADS_1


Panggilan telponku belum diangkat juga oleh Nina, apa dia lagi sibuk ya? Aku membatin sendiri, karena dua kali aku menelpon Nina tapi jawabannya tetap sama tidak dijawab.


Akhirnya aku memutuskan menemui Saka lebih awal. Aku mengetikkan pesan singkat untuk mengabarinya.


"Aku ke tempatmu sekarang." - Riana


Tak lama sebuah balasan masuk.


"Buru-buru amat, sudah kangen ya?" (emoticon dua love)


Aku hanya tersenyum dan memilih tidak meladeni pesan itu lagi. Karena akan beruntut panjang jika itu sudah menyangkut Saka. Meskipun sebentar lagi akan bertemu, di dengan segala keisengannya akan terus membalas pesan itu jika aku meladeninya.


Untuk sesaat aku melupakan Tefan dan segala ancamannya. Biarlah hanya hal-hal di depanku saja yang kujalani, biar nanti menjadi urusan nanti.


Setelah lepas dari kemacetan jalanan, aku pun akhirnya bisa dengan leluasa menuju ke tempat Saka. Mobil aku parkir depan restoran dan masuk setelahnya. Para karyawan yang melihatku mengangguk sopan dan tersenyum.


Aku langsung menemui Saka di dalam, dia tengah sibuk dengan urusan mengawasi para chef di restorannya. Memastikan makanan yang mereka buat tetap higienis dan yang pastinya sehat bila dimakan.


Dari tempatku berdiri dia kelihatan begitu jangkung, mungkin aku hanya setinggi bahunya. Dia berjalan ke arahku dengan mata berbinar dan senyum yang rekah.


"Ada apa ini, Kenapa wajah sang putri begitu menggemaskan kalau tersirat perasaan kesal di sana?" Saka seperti peramal ekspresi bisa menebak suasana hati orang lain lewat yang tersirat di wajahnya.


"Biasa, macet. Tadi di jalan macet banget, orang-orang jadi gak sabaran dan klakson sana-sini, bikin orang kesel karena bising."


"Sini mendekatlah."


Aku pun mengikuti instruksinya untuk mendekat. Lalu Saka tanpa ada rasa malu sedikitpun, dia menarikku ke dalam pelukannya dan mencium keningku di depan para chef dan karyawan lainnya. Dia terkesan santai, justru malah aku yang malu-malu kucing.


*


*


*


*Ah andai saja seluruh bagian dari perjalanan hidup berjalan sesuai keinginan, maka aku hanya ingin seperti ini saja. Menikmati hari-hari bersama orang terkasih, tanpa beban, tanpa hal-hal yang mengganggu setiap saat. Jika diberi kesempatan untuk mencintai dan dicintai, maka aku memilih untuk dicintai saja. Sebab perasaan itu akan terus tertanam dan tumbuh seiring waktu.


Bersamabung*...

__ADS_1


__ADS_2