
"Aku senang sekali, Jen." Ucap Riana pada Jeni saat mereka sedang berada di sebuah ruko.
Ruko tersebut baru saja dikontrak Riana selama satu tahun. Sekaligus akan menjadi rumah baru baginya dan juga Kiano.
"Aku juga senang melihat kamu bisa kembali tersenyum bahagia seperti ini, Riana." Ucap Jeni seraya memeluk Riana.
"Terimakasih, ya."
Kiano muncul dari luar, dia baru saja beli jajanan di depan ruko.
"Bunda, ini enak loh." Ujar Kiano menunjukkan jajanan sejenis siomay ke bundanya.
"Oh ya, sini Bunda coba icip dulu."
Riana pun mengambil satu dan memastikan makanan tersebut boleh dimakan oleh anaknya atau tidak. Riana memang sangat ketat masalah makanan terhadap Kiano. Dia tidak ingin anaknya sakit perut atau mengalami masalah pencernaan karena makan sembarangan.
"Iyah enak, kamu boleh makan. Tapi jangan sambil lari-larian atau berdiri. Duduk di salah satu kursi di sana." Perintah Kiano.
"Baik, Bun."
Kiano berlalu, Riana ngobrol lagi dengan Jeni yang sejak tadi senyam senyum melihat tingkah Kiano yang menggemaskan.
"Lucu banget si, Kiano. Kalau lihat Kiano, ingin rasanya aku punya anak juga."
"Nikah dulu, baru bicara anak Jen." Sindir Riana.
Jeni yang terpojok hanya terdiam dan enggan bicara lagi. Menyadari hal itu, Riana menanyakan topik lain seputar kelurga Jeni. Cerita-cerita pun mengalir dengan cepat dari mulut Jeni. Terkadang diselingi tawa, atau kalimat lirih, atau nada kesedihan ketika Jeni bercerita soal Ibunya yang meninggal saat dia dalam proses penyusunan skripsi.
"Turut berduka cita untuk Ibumu, Jen."
Jeni mengangguk dan kembali ada jeda diantara mereka. Riana teringat sesuatu, dia menjadi penasaran untuk menanyakannya langsung pada Jeni.
"Bagaimana kamu bisa mengenal Tefan?"
Mata Jeni membola, tak menyangka Riana malah bertanya soal itu. Tadinya Jeni pikir Riana masih akan membahas soal keluarganya.
"Tuan Tefan itu, baik banget--
Jeni membuka cerita, namun serasa menggantung bagi Riana.
"Kok bisa manggil Tuan?"
"Ya, karena dia orang kaya yang tidak sombong. Memperlakukan semua orang dengan sangat baik. Walau aku tahu dia bukan orang asli Bali. Tapi, jiwa penolongnya selalu tak memandang kamu berada dari mana. Itulah kesan yang pertama kali aku tangkap darinya."
"O yah?" Riana seakan tak percaya dengan semua cerita Jeni barusan.
Riana memang tak memungkiri, dulu Tefan itu sangat baik. Begitu juga keluarganya, namun hanya karena harta mereka berubah drastis. Keluarga tefan, terutama papanya menabuh genderang perang terhadap keluarga Riana. Sejak perseteruan itu, tak pernah ada hubungan baik lagi.
Apa sekarang Tefan benar-benar sudah berubah? Jangan-jangan itu hanya kedok agar terlihat baik di depanku saja? Ah, tapi kan ini cerita dari Jeni. Huh, semoga saja benar dia sudah berubah.
"Dia pernah menolong, Jeni?"
"Ya, itu bagiku seperti mengangkat seseorang dari kubangan kotor ke daratan yang lebih tinggi biar tidak kotor lagi."
Dari situlah Riana mulai paham, mungkin saja Jeni pernah sangat terbantu oleh Tefan. Namun Riana tak mau lagi bertanya lebih jauh, takut malah mengganggu privasi dari Jeni.
***
__ADS_1
Di tempat yang berbeda, Tefan sedang memperhatikan beberapa aksesoris yang dikirim Riana pagi tadi. Uang yang sudah dijanjikan sesuai tanda tangan kontrak awal pun telah ditransfer sepenuhnya ke rekening Riana.
Tok... Tok... Tok...
Suara pintu diketuk membuyarkan konsentrasi Tefan yang sesungguhnya bukan hanya meneliti satu persatu aksesoris. Namun juga sedang memikirkan pengirim aksesoris itu. Siapa lagi kalau bukan Riana.
"Masuk!" Perintah Tefan.
Pak Bono muncul dengan wajah tenang namun seperti ada hal yang ingin disampaikannya.
"Ada apa, Pak Bono?"
"Nona Femi ada di luar. Bersikeras masuk untuk menemui Tuan. Haruskah saya mengusirnya, Tuan?"
"Haha..., Pak Bono kejam sekali. Tidak apa-apa suruh dia masuk."
Sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikiran Bos, dia sama sekali tidak senang pada wanita itu tapi juga diberi ruang untuk masuk begitu saja dalam kehidupannya.
Pak Bono keluar dan disusul masuknya Femi ke dalam ruangan.
"Woahh..., apa ini? Banyak sekali."
"Souvernir untuk hotel dan Resort."
"Kamu menambah bisnis baru?"
"Ya, sepertinya begitu."
"Tapi, kurasa ini terlalu biasa untuk sebuah souvenir hotel atau resort. Kalau mau, aku bisa carikan yang lebih bagus."
"Hmmpptt, itu." Femi tampak gugup dan rencana yang sudah disusunnya tadi malah buyar.
"Ada apa? Katakan saja."
"Aku kehilangan pekerjaanku sebagai model. Aku menawarkan diri untuk direkrut ke salah satu hotel atau Resort kamu. Hanya saja aku tidak tahu untuk posisi apa."
"Kenapa tidak cari agency lain?"
"Lagi pula aku sudah malas jadi model. Aku ingin berkarir di tempat lain."
"Maksud kamu berkarir di sini kan? Apa yang bisa kamu lakukan?"
"Bagaimana kalau jadi sekertaris pribadi kamu saja?" Ucap Femi bersemangat.
"Sudah ada Pak Bono. Kamu tahu kan apa yang bisa dilakukan, Pak Bono? Aku tidak butuh orang lain lagi untuk jadi sekretaris atau asisten pribadi, Femi."
"Yah..., tapi aku mau bekerja denganmu."
"Nanti aku minta Pak Bono mengatur posisi untukmu di hotel."
Wajah Femi cemberut, rencananya untuk mendekati Tefan gagal total. Jika sekretaris gagal, apa saja yang penting dia bisa dekat dengan Tefan saat ini. Begitulah pikir Femi seakan tak peduli apapun selain berada dekat dengan Tefan.
"Baiklah, tidak masalah. Semoga Pak Bono memperhitungkan kehadiranku."
"Masih ada hal lain?"
"Tidak ada si, tapi aku lapar."
__ADS_1
"Femi, please aku sudah ada janji makan siang dengan klien hari ini. Maaf tidak bisa menemani kamu makan siang."
"Kamu sengaja menolakku kan?"
Wanita itu terus berusaha, membuat Tefan menjadi tidak enak hati. Tapi kali ini dia benar-benar harus menolak. Tidak mungkin dia menuruti semua keinginan Femi, sesekali dia perlu menolak.
"Aku ada meeting, coba cek ke Pak Bono jika kamu tak percaya."
Femi mengembuskan nafas kesal dan keluar dari ruangan Tefan. Tefan tersenyum kecut, begitu juga dengan Pak Bono yang melihat ekspresi di wajah Femi yang tampak tak baik.
Dasar wanita, kebiasaan sekali memaksakan kehendak.
"Pak, batalkan semua agenda pertemuan hari ini. Aku ingin menemui seseorang."
Ujar Tefan mantap, bagi Pak Bono itu semacam kode bahwa Tuannya itu sedang ingin melihat perempuan yang waktu itu. Terlebih ketika Pak Bono menyampaikan ke Tefan bahwa Riana sudah resmi sendiri dan saat ini sedang tidak dekat dengan siapapun.
"Mau saya antar ke tempat Nona Riana yang baru, Tuan?" Tebak Pak Bono yang membuat wajah Tefan seperti wajah yang sedang tertangkap basah.
"Aku tahu kamu bisa diandalkan, Pak Bono. Tapi lihat, aku tidak suka dengan senyum Pak Bono yang seolah mengejekku."
Mendengar itu Pak Bono tersenyum lebih lebar. Kali ini dia senang sekali menggoda Tuannya.
"Saya tidak berani, Tuan." Ucapnya kemudian.
"Baiklah, antar aku ke sana." Balas Tefan yang membuat Pak Bono hanya geleng-geleng kepala.
Aku tahu apa yang anda pikirkan, Tuan. Tidak usah bersembunyi seperti itu, sejak Tuan menemukan Nona Riana hidup Tuan seolah berubah lebih berwarna. Jangan-jangan Bos sedang jatuh cinta lagi.
Mereka berdua pun berangkat, sesungguhnya dia ingin sekali mengajak Riana untuk makan siang bersama tapi sepertinya situasi seperti itu belum memungkinkan. Jadi kali ini dia menggunakan alasan ingin bertemu Kiano karena dia merindukan anak itu.
Dia sudah tak sabar ingin segera sampai. Lalu sekitar dua puluh menit kemudian, mereka pun tiba di depan sebuah ruko berlantai dua. Lantai bawah digunakan untuk Toko dan lantai atas digunakan sebagai hunian.
Ekorata Tefan mengikuti langkah seorang permpuan yang baru saja keluar dari ruko tersebut.
Itu Riana, ah dia masih terlihat cantik saja.
Riana keluar sebentar untuk membuang kantong sampah.
"Turun, Pak?" Tanya Pak Bono mengagetkan Tefan.
"Ah, Pak Bono bikin kaget saja."
"Loh, memangnya kenapa Pak?"
"Sudah, sudah, lupakan saja. Hari ini cukup, kita makan siang saja dekat-dekat sini."
Akhirnya mereka tak jadi turun, Tefan belum mengumpulkan banyak keberanian untuk berhadapan dengan Riana saat ini.
Tunggu saja, pasti akan ada waktunya. Kuharap takkan lama lagi, aku bisa segera lebih leluasa mendekatimu.
*
*
*
Ditunggu vote dan juga like serta komennya ya. ππ₯°
__ADS_1