Complicated Love #2

Complicated Love #2
Musim Kedua: Daftar Sekolah Kiano


__ADS_3

Sejak acara makan siang tak sengaja itu, hubungan keduanya menjadi lebih dekat. Dekat dalam artian seperti seorang teman lagi. Tefan bahkan menjadi sosok yang berbeda mana kala menemani Kiano untuk pertama kalinya daftar sekolah.


Awalnya Riana menolak, namun karena Kiano ingin sekali terlihat seperti keluarga utuh saat mendaftar, Riana pun meloloskan keinginan Kiano. Sementara Tefan menjadi orang yang paling bahagia karena mendapatkan momen itu.


Pagi ini, ketiganya sudah siap dengan pakaian rapi masing-masing. Tefan menjemput mereka lebih awal, bahkan masih sempat sarapan bersama dengan nasi goreng telur buatan Riana.


Rasa-rasanya, sekarang Tefan lebih sering berada di Ruko Riana ketimbang di kantornya sendiri. Semua urusan perusahaan yang sifatnya tidak terlalu urgent diserahkan pada Pak Bono.


Hari ini, Femi lagi-lagi mengunjungi ruangan Tefan dalam keadaan kosong. Sekarang wanita itu sudah bekerja di tempat Tefan, entah untuk posisi apa. Sengaja, Pak Bono menempatkan Femi di devisi yang tidak bisa terhubung langsung dengan Tefan. Meski tadinya wanita itu sempat tidak setuju, tapi tidak ada pilihan lain baginya selain menerima semua keputusan dari Pak Bono.


"Tefan ke mana, Pak Bono?"


"Tuan sedang ada pertemuan, pagi-pagi sekali dia sudah berangkat!"


"O..., begitu. Akhir-akhir ini aku perhatikan dia banyak agenda meeting di luar ya, Pak. Mengapa Pak Bono tidak diajak?" Usutnya curiga.


"Jika saya ikut, siapa yang akan mengurus semua urusan di kantor ini, Nona?"


"Benar juga, baiklah! Sampaikan pada Tefan, kalau aku mencarinya jika dia sudah balik ke kantor."


Memangnya siapa anda? Pacar juga bukan, isteri apa lagi. Jauh...!


Pak Bono tak bisa menahan tawanya karena berhasil mengelabui Nona Femi. Dia puas sekali, mana mungkin dia membiarkan Bosnya jatuh ke pelukan wanita penjilat seperti dia.


***


Tefan dan Riana menjadi sorotan para orang tua yang hari itu kebetulan juga ikut mendaftarkan anaknya sekolah TK. Penampilan Tefan sanggup menghipnotis para Ibu-ibu, hingga ada yang berbisik-bisik.


"Itu bukannya, bos R' Resort? Jadi dia sudah menikah dan punya anak? Berita bagus."


"Hah? Yang benar saja, jadi selama ini dia tidak duda? Kukira dia duda, andai saja..."


"Apa-apaan si, Bu. Lihat mereka kelihatan serasi kok. Benar-benar serasi. Perhatikan wajah anak mereka, sangat menggemaskan."


Riana yang mendengar desas desus itu, sedikit tak nyaman. Lalu Tefan yang tahu mereka sedang jadi sorotan dan bahan perbincangan itu malah membuat Ibu-ibu itu semakin blingsatan. Tefan memegang pinggang Riana, merapatkan diri mereka satu sama lain dan Kiano yang berada di bawah pengawasan Tefan.

__ADS_1


Riana melihat wajah Tefan dengan lirikan tak suka. Walau tak bisa dipungkiri dia juga merasakan ada seperti aliran listrik yang menjalari seluruh tubuhnya.


"Pak Tefan, anda sudah datang!" Ucap salah seorang pegawai di sekolah itu. Sepertinya sangat menaruh hormat pada Tefan.


Awalnya Riana hanya akan mendaftarkan Kiano ke sekolah biasa saja. Toh masih TK juga. Namun Tefan merasa bahwa Kiano tidak cocok dengan sekolah seperti itu. Kiano harus mendapatkan sekolah terbaik di Bali, meski itu masih tingkat TK.


Riana terpaksa menyetujui itu, lagi pula dia tidak mungkin membahayakan keselamatan anaknya sendiri. Belakangan ini sedang marak pencurian anak-anak. Kalau dia sekolah di TK Harapan Bunda, semua dijamin aman. Apalagi, anak-anak dijemput dan diantar pulang sesuai jadwal dengan pengawalan ketat. Itu sebabnya, biaya sekolah di sana juga tak main-main.


Bagaimana Riana bisa setuju, itu adalah cara Tefan yang lagi-lagi tak bisa membuat Riana untuk menolak.


"Silakan duduk, Pak!"


Kini mereka sudah berada di ruangan kepala sekolah. Riana sedikit grogi, sejujurnya dia ingin sekali menyekolahkan Kiano ke sekolah biasa saja. Ini terlalu resmi. Apalagi kehadiran Tefan, membuat semuanya sangat-sangat resmi. Semua orang hormat padanya, termasuk kepala sekolah di depan kami ini.


"Bapak dan Ibu tenang saja, jika kalian mengkhawatirkan masalah keselamatan, maka sekolah ini bisa menjamin itu."


"Kami harap seperti itu, Pak. Kami titipkan anak kami di sini. Tentu saja, jika ada hal kurang menyenangkan terjadi, maka sekolah Bapak bisa terkena imbasnya." Ungkap Tefan dengan nada intimidasi.


Riana jadi tidak enak. Beberapa saat kemudian, seluruh urusan pendaftaran Kiano sudah selesai. Mereka pun pulang dan mulai berdebat di dalam mobil.


"Jika kamu tidak ingin direndahkan orang lain, maka belajarlah untuk menempatkan rasa hormat pada diri sendiri."


"Tapi itu berlebihan, Fan."


"Menurut aku tidak. Kiano, kamu senang dengan sekolah itu?"


"Senang, Om Ganteng. Mainannya banyak. Hehe."


"Kamu lihat kan wajah Kiano. Dia begitu bersemangat dan senang dengan sekolah barunya itu. Sudahlah Riana, apa yang harus kamu cemaskan lagi?"


"Kamu bisa bicara seperti itu karena kamu punya segalanya, Fan."


"Riana, jangan mulai. Ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan uang. Aku hanya ingin Kiano mendapatkan yang terbaik. That's it."


"Bunda..., Bunda keberatan Kiano sekolah di sana? Kiano bisa kok sekolah di sekolah manapun." Ucap Kiano menengahi. Dia merasa bersalah jika bundanya sampai sedih hanya karena dia sekolah di sana.

__ADS_1


"Tidak sayang, Bunda kamu tidak marah." Jawab Tefan mendahului Riana.


Lihat sekarang, dia sudah seperti kepala keluarga saja. Aku bahkan tidak memiliki hak bicara untuk kelangsungan hidup anakku.


Tak lama, mereka pun sampai di Ruko. Kiano segera turun dan berlari. Tefan dan Riana masih berada di dalam mobil.


"Aku merasa kamu terlalu mengambil alih semuanya." Ungkap Riana dengan tatapan mata tertuju ke depan.


"Riana, jika kamu keberatan, aku bisa membatalkan semuanya. Percaya padaku, ini yang terbaik untuk Kiano. Oke!"


"Aku hanya merasa ini terlalu cepat."


"Hei, apa yang sedang kamu pikirkan? Memangnya apa yang terlalu cepat?"


"Sudah! Lupakan saja."


Tefan sebenarnya tahu arah pembicaraan Riana, hanya dia tidak mau terlalu transparan. Menjadi teman seperti ini saja, sudah membuat Tefan tidak tidur semalaman demi memikirkan Riana dan menunggu pagi tiba untuk bertemu lagi dengan wanita itu.


Jatuh cinta memang membawa perubahan dalam diri setiap manusia. Tefan mengakui dirinya masih tersimpan benih-benih cinta yang dulu. Entah Riana padanya. Namun, dia sudah bertekad untuk memenangkan hati Riana. Apapun rintangannya.


Mereka sudah berada di dalam mobil cukup lama. Kiano terpaksa kembali lagi ke mobil.


"Bunda, Om Ganteng! Kenapa kalian tidak turun?"


Riana pun segera membuka pintu mobil dan turun, begitu juga Tefan.


"Kiano, Om masih ada urusan. Maaf kali ini Om tidak bisa menemani Kiano makan siang. Lain kali saja ya?"


"Oke deh, Om Ganteng. Hati-hati di jalan ya. Sampai jumpa lagi."


Mereka pun melakukan adu jotos seperti biasanya. Kebiasaan yang kerap membuat Riana membayangkan bahwa Tefan adalah Papa dari Kiano.


***


Terimakasih sudah membaca novel saya, tetap beri dukungan dengan like dan komen ya. Biar tetap semangat untuk nulis. hehehe

__ADS_1


__ADS_2