Complicated Love #2

Complicated Love #2
Terimalah Takdirmu


__ADS_3

"Mama pulang saja ke Jakarta, biarkan aku sendiri di Bali. Sekaligus aku ingin menenangkan diri dulu." Saka berkata lirih ke Mamanya, tatapannya tak beranjak dari hamparan laut luas yang dia lihat dari jendela kamar hotel yang disewanya.


"Mama mau menemani kamu berjuang mendapatkan kembali, Riana." Mamanya menyentuh lengan Saka. Namun tangan tersebut perlahan diturunkan oleh Saka dan menatap wajah Mamanya.


"Ma, kumohon! Jangan ikut campur lagi. Pulanglah!" Suara Saka ditekan, memberi pengertian pada Mamanya agar mendengarkan dia kali ini.


Lagi pula heran juga sama orang tua Saka ini, harusnya dia bisa lebih bersikap legowo. Bukannya malah menjadikan anak sebagai senjata memuaskan keinginan sendiri dengan dalih agar Saka bisa bahagia. Di mana-mana nggak ada kebahagiaan dari merusak kebahagiaan orang lain.


Mata Saka terus menatap Mamanya yang seolah bergeming tak mau meninggalkan Saka.


"Jika Mama tak mau pergi, biarkan Saka yang menjauh dari kalian semua. Jangan pernah mencari Saka lagi, aku ingin menemukan ketenangan hidup."


"Tidak sayang ... baiklah, Mama akan pergi. Kamu di Bali saja dan Mama mohon padamu untuk kembali apapun yang terjadi. Oke?"


"Terimakasih sudah menghormati keputusan Saka, Ma."


***


Hujan jatuh di pertengahan bulan Juni yang panas. Saka berteduh di sebuah cafe yang mengarah langsung ke pantai. Matanya tak lepas memandangi butir hujan yang mengucur melewati atap dari cafe tersebut. Seperti perasaannya kini yang tak ubahnya bagai hujan. Jatuh menyesap ke tanah, sembari menahan dingin atas perjalanan hidupnya yang berliku.


Satu-satunya orang yang teramat dia rindukan selama ini, orang yang teramat dicintainya, kini tengah berada di pelukan orang lain. Bukan salah Riana, bukan juga salah Tefan, namun dirinyalah semua masalah tersebut bisa hadir.


Keadaan membuat Saka bagai terpental ke sisi terjauh dari bumi ini, dia kehilangan arah sebab orang-orang yang dicintainya kini tak lagi dapat ia rengkuh. Bagai pungguk merindukan bulan, ah tidak ... bukan seperti itu. Hidup Saka saat ini bagai matahari yang kehilangan cahaya saat hujan.


Dia seruput kopi yang sejak tadi mengepulkan asap, bergelayut ke atas searah angin. Entah apa yang dipikirkan Saka saat itu, namun ada yang sangat mencuri perhatiannya. Tepat empat meja dari dia duduk saat ini, pemandangan yang dia lihat seolah menghancurkan segala pengharapan yang dia tanam.


Di sana, lurus tepat di depannya. Riana, Tefan dan Kiano sedang menikmati makan malam bersama. Sementara dia hanya seorang diri dengan kopi yang sebentar lagi dingin. Tak sengaja, air matanya membentur tebing pipinya. Segera dia seka air mata tersebut karena tak mau ketahuan orang atau pengunjung yang ada di sana.

__ADS_1


Lagi pula, lelaki yang menangis di tengah hujan akan menjadi sangat memprihatinkan jika dilihat orang. Tatapan mata Saka tak luput dari keluarga kecil yang semula adalah kepunyaannya. Hatinya hancur melihat semua itu, namun itulah takdir yang harus dia terima. Meskipun terasa sangat pahit jika ditelan begitu saja.


Saka melihat Tefan berdiri dan meninggalkan Riana juga Kiano. Saka pun tergerak untuk mengikuti Tefan yang kemungkinan akan ke toilet.


Dia berdiri mengikuti Tefan dan benar saja pria itu memang sedang ke toilet. Saka bersandar pada dinding tembok di jalan masuk toilet. Seraya menghisap batang rokok yang terus mengepulkan asap. Padahal Saka bukanlah seorang perokok, namun masalah yang menerpanya membuat rokok jadi pelariannya.


Tefan terkejut begitu Saka menyapanya.


"Apa kabar?" tanya Saka santai.


"Hai, kamu. Ada yang bisa aku bantu?" Tefan bertanya tanpa basa basi.


"Bisa kita bicara sebentar?" Saka menghisap dalam-dalam rokok yang diselipkan di jarinya.


"Bisa. Di sana saja. Atau ... mau sekalian kita ngobrol bertiga dengan Riana?"


Mereka pun berjalan ke tempat yang lebih sepi di luar cafe. Keduanya nampak diam, dua lelaki itu sama-sama berbadan tegap, tinggi dan wajah yang juga sama gantengnya. Hanya nasiblah yang membedakan keduanya.


"Soal Riana, apa dia mencintaimu?" tanya Saka.


Sebenarnya pertanyaan itu adalah pertanyaan yang sia-sia ditanyakan oleh Saka. Sebab dia tahu, cinta pertama Riana adalah pria di depannya. Dia tahu semua tentang Tefan dari Riana, tentang bagaimana dulu Riana sangat tergila-gila pada Tefan. Namun, dia hanya ingin mendengarnya langsung dari Tefan.


"Menurut kamu? Setelah apa yang kamu lihat, apakah kamu bisa menyimpulkan mengenai cintakah Riana padaku?"


Saka terdiam, sebab yang dilihatnya adalah Riana begitu bahagia. Dia melihat Riana yang banyak tertawa dan tersenyum saat memperhatikan mereka tadi. Apalagi ditambah dengan kehadiran Kiano. Maka sempurnalah kebahagiaan mereka.


"Harusnya aku tidak perlu menanyakan itu ya? Sebab sudah jelas sekali, kalian begitu bahagia." Saka tersenyum miris pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Sungguh sangat kasihan pada Saka yang tak ubahnya lelaki putus asa karena cintanya yang tercerabut begitu saja.


"Aku dan Riana sudah melewati begitu banyak cobaan hingga kita akhirnya bisa menikah seperti sekarang ini. Bagiku, menikah dengan Riana adalah berkah Tuhan yang luar biasa dalam hidupku. Kupikir aku sudah kehilangan dia untuk selama-lamanya. Namun, Tuhan berkehendak lain dan aku pun bersyukur saat ini bisa mendampinginya."


"Kamu memang beruntung."


"Tidak, aku tidak beruntung. Tapi aku sangat sangat beruntung bisa bersamanya."


"Apakah kau bisa menerima Kiano seperti anak sendiri?"


"Kiano adalah penyambung antara aku dan Riana. Sejak awal dia adalah anak yang ajaib banget. Aku jatuh cinta pada anak itu, sangat manis, lucu, dan begitu mencintai bundanya. Dia menjaga dengan baik Riana sebagai bundanya. Terkadang, aku saja heran mengapa dia begitu mencintai Bundanya. Tapi akhirnya aku sadar, alasan di balik itu semua adalah karena Kiano tidak mau membiarkan Riana bersedih atau menangis lagi."


Saka tersentuh hatinya mendengar penjelasan Tefan. Dia tak menyangka bayi kecil yang masih merah saat ditinggalkannya itu, kini sudah besar dan tumbuh menjadi anak yang sangat baik.


"Apakah kamu mau menemui mereka?" tanya Tefan.


"Tidak usah. Tolong jaga mereka dengan baik, Fan. Aku sangat berterimakasih karena selama ini mereka baik-baik saja dan bahagia." Terlihat sorot mata sedih dari Saka, juga ada genangan yang setengah mati ditahannya.


"Ayolah, kamu bisa berbincang apa saja dengannya. Perkenalkan dirimu pada Kiano, aku yakin anak itu akan menerima kamu dengan baik."


"Aku tidak yakin."


"Saka, kamu harus percaya pada naluri antara ayah dan anak. Jika aku saja yang bukan ayah kandung Kiano bisa se-akrab itu, bagaimana dengan kamu yang jelas-jelas adalah ayah kandung Kiano."


"Tapi--


"Tidak usah tapi-tapian, ikutlah denganku."

__ADS_1


Saka pun pasrah dan ikut bersama Tefan menemui Riana dan Kiano.


__ADS_2