
Keesokan harinya sekitar pukul sembilan pagi, akupun berangkat menuju Kawah Putih. Namun baru saja mobil hendak ke badan jalan, Hp berdering nyaring dan terpampang nama Mama di sana. Akupun menepi sebentar karena tidak mungkin menjawab telpon Mama sambil nyetir.
“Halo Ma, ada apa?”
“Kamu di mana?” Suaranya terdengar sedikit cemas.
“Aku di jalan Ma. Kenapa?”
“Kamu bisa pulang sebentar? Papa tiba-tiba jatuh pingsan saat sarapan tadi. Kamu langsung ke rumah sakit yah. Papa masih dalam penanganan dokter.”
“Iya Ma. Mama tidak usah panik dan khawatir ya, aku akan segera ke sana.”
Suaraku ikut-ikutan cemas mendengar kabar kalau Papa tiba-tiba pingsan saat sarapan. Jangan-jangan jantung Papa kambuh, jika itu terjadi mungkin saja jantung Papa memprihatinkan. Waktu itu juga sempat ngeluh kesakitan tapi dia memaksa tidak mau ke dokter dan memilih beristirahat sebentar. Aku yakin Mama tidak tahu hal ini, sebab Papa meminta aku merahasiakannya pada Mama. Ah, Papa...
Aku memutar haluan, segala tujuan yang sudah kurencanakan tiba-tiba buyar. Mungkin sudah saatnya aku pulang dan merawat orang tua, apalagi sekarang Papa sepertinya membutuhkan perhatian ekstra. Untung saja jalanan pagi ini tidak macet sehingga aku bisa melenggang dengan mulus di jalan besar ini. Bandung pagi ini masih dingin.
Sekitar satu jam berkendara, akupun sampai ke rumah sakit. Setelah parkir mobil aku lekas menemui Mama di UGD. Aku bisa pastikan Mama cemas dan dia akan sangat butuh kehadiranku segera. Tidak sulit untuk menemukan Mama, aku melihat dia sedang duduk di ruang tunggu dengan kepala di tengadah ke atas dan memejam sementara bibirnya sibuk seperti sedang merapal doa.
“Mama...”
Aku berangsur memeluknya dan mencoba menenangkan Mama.
“Papa gimana Ma?”
“Masih di dalam, sudah setengah jam Papa di sana.”
“Kita berdoa untuk kesembuhan Papa ya Ma.”
Tidak lama setelah kedatanganku, seorang dokter keluar dari ruang UGD dan memanggil Mama untuk memberitahukan kondisi Papa. Aku dan Mama mendengar penuturan sang dokter dengan serius.
“Suami anda kena serangan jantung, untung saja Ibu cepat membawanya ke rumah sakit. Kalau tidak bisa fatal. Kalau boleh tahu sudah berapa kali Bapak pingsan seperti ini, atau mungkin mengeluh di bagian dada?”
__ADS_1
“Kalau pingsan baru kali ini dok, saya juga tidak pernah melihat dia mengeluh dengan dadanya atau semacamnya.”
“Maaf Dok, sebenarnya Papa sudah beberapa kali mengeluh soal dadanya. Papa juga tahu kalau sebenarnya dia ada penyakit Jantung. Hanya saja Papa meminta aku untuk tidak bilang ke Mama karena Mama pasti akan khawatir.” Aku terpaksa menyela pembicaraan mereka. Aku harus berkata jujur, aku tidak mau terjadi apa-apa lagi pada Papa. Terutama Mama, dia harus tahu.
“Riana...” Mama menatapku seolah tak percaya dan menuntut penjelasan lebih lanjut.
“Maafin Riana Ma, tapi Papa meminta Riana untuk tidak bilang ini ke Mama karena Papa takut Mama cemas sama kesehatannya.”
“Bagaimanapun juga kamu tidak bisa menyembunyikan ini sama Mama. Kalau Papa kenapa-kenapa bagaimana Riana?”
“Sudah-sudah Bu, lebih baik Ibu menemui suami Ibu di dalam. Dia sudah sadar dan sedang menunggu Ibu. Saya juga mau permisi sebentar kembali ke ruangan dan menuliskan resep buat Bapak.”
“Baik Dok, trimakasih banyak atas bantuannya.” Jawabku. Sementara Mama sudah masuk lebih dulu ke ruang UGD.
Aku diam beberapa saat dan mengumpulkan nafas untuk sejenak. Ini akan panjang, Mama pasti akan menuntut Papa dengan pertanyaan.
Saat masuk ke dalam, kulihat Mama dan Papa sedang terlibat obrolan serius yang membahas soal penyakit jantungnya Papa.
“Jelas khawatir Papa, kamu itu suami aku dan aku tidak mau ada hal-hal fatal yang terjadi. Coba seandainya Papa lagi di kantor terus jantung Papa tiba-tiba kambuh?”
“Iya, iya Maafin Papa.” Papa mencium lembut jemari Mama.
Aku iri melihat mereka kalau sedang ribut kecil seperti itu, romantisme mereka memang membuat siapa saja akan iri. Papa paling tidak mau membuat Mama khawatir dan Mama adalah orang yang paling takut kehilangan Papa. Wajar kalau mereka saling jaga satu sama lain.
“Aku iri sama kalian berdua.” Ujarku.
“Iri kenapa?” Tanya Papa menyelidik.
“Iyah, iri kalau melihat Papa sama Mama lagi begini ini. Papa sama Mama ribut tapi masih kelihatan romantisnya.”
“Makanya kamu cari pendamping sana. Biar kamu tahu rasanya ribut yang romantis itu. Haha...”
__ADS_1
Mama mencubit lengan Papa yang sedang menggodaku.
“Kamu mau Papa kenalin sama anak teman Papa?”
“Nggak ah, mendingan Papa fokus di kesehatan saja. Aku tidak mau kalau Papa sampai jatuh sakit.”
“Ma, lihat nih anak kita. Kalau sedang membicarakan jodoh saja, dia pandai mengalihkan suasana.”
“Sama tuh kayak Papa.” Balas Mama Jutek yang kemudian menimbulkan tawa diantara kita bertiga.
Terkadang kebersamaan bersama keluarga itu jauh lebih penting dari apapun. Aku belajar satu hal, bahwa luka hati yang kita rasakan itu akan terasa kurang ketika kita bisa membaginya dengan keluarga. Tanpa menceritakan masalah kita, pada akhirnya kita akan terhibur dengan kehadiran mereka sehingga beban terhadap masalah itu seperti berkurang meski tidak seutuhnya.
Papa tidak jadi dirawat di rumah sakit, hanya diberi beberapa resep obat untuk diminum secara rutin. Siang itu juga kami pulang dengan hati yang tak lagi cemas, kondisi Papa sudah membaik dan bisa bercanda kembali. Sepanjang perjalanan pulang, Papa selalu saja menggodaku soal jodoh. Mereka tahu hubunganku dengan Tefan tidak berjalan dengan baik, dan tidak akan pernah baik. Karena itu mereka berusaha untuk membuatku melupakan segala hal yang menyangkut Tefan.
Sampai di rumah, mereka sedikit kaget melihat aku menurunkan koper dari bagasi mobil.
“Loh Riana kenapa bawa-bawa koper segala?” Tanya Mama.
“Mau tinggal di sini aja Ma. Aku nggak betah di apartemen, sepi.”
“Wah bagus itu. Biar Mama juga tidak kesepian lagi di rumah, biasanya hanya ngobrol sama Bibi sekarang bisa ngobrol sama kamu kalau begitu.”
“Iya Ma.”
“Jadi keputusan sudah diambil?” Papa bertanya.
“Iya Pa. Berhubung karena Papa sepertinya membutuhkan perhatian dariku, karena itu aku lebih memilih untuk mengurus Papa saja daripada kerjaan. Hehe...”
“Huu... bilang saja kamu tidak mau kerja lagi. Kalau begitu kamu harus beneran jaga Papa sama Mama ya.”
“Siap komandan.”
__ADS_1
Mereka berdua hanya tertawa. Orang tua yang paling berarti dalam hidupku, merekalah yang paling berharga dan tidak ada duanya. Beruntungnya aku lahir di tengah-tengah mereka.