Complicated Love #2

Complicated Love #2
Musim Kedua: Om Boleh Menikahi Bunda?


__ADS_3

Setelah tiga hari, akhirnya toko perhiasan Riana kembali dibuka. Tentu saja yang paling senang adalah Nadia. Seminggu lebih dia harus menunggu renovasi toko. Penjagaan security lebih diperketat. Laporan Riana sudah diproses kepolisian walaupun pelakunya belum ditangkap. Namun Riana optimis bisa menangkap pelakunya. Dia tahu itu Femi, hanya saja belum ada bukti yang bisa memberatkan perempuan itu. Karena itu Riana masih sangat hati-hati agar bisa membuat wanita itu tertangkap.


"Wah, pagi sekali Nad?" Sapa Riana turun dari tangga bersama Kiano.


Nadia membawa satu kunci cadangan buat dia sendiri agar bisa membuka toko sewaktu-waktu tanpa menunggu Riana yang buka.


"Lagi semangat, Bu. Bayangin, seminggu lebih loh tidak buka toko. Kangen sama customer-customer kita, Bu." Jawab Nadia nyengir ke arah Riana.


"Baiklah, aku tinggal dulu ya. Anterin Kiano sekolah dulu."


"Baik, Bu."


"Kak Nadia, Kiano berangkat sekolah dulu ya. Titip toko Bunda, kalau ada orang jahat lapor polisi. Hehe." Nadia terkekeh mendengar Kiano menasehati dirinya.


"Siap, Bos Kiano. Bos Kiano belajar yang rajin ya." Balas Nadia memeragakan hormat pada Bos.


Pipp ... Pipiiip ....


Suara klakson di depan ruko terdengar berisik. Riana seakan terganggu, dia menegur security.


"Pak ... ngapain aja si. Itu ada yang berisik depan toko kita kok tidak ditegur si?" Tegur Riana geram karena Pak security hanya duduk saja.


"He he ... gimana mau negur, Bu. Sungkan!"


Riana makin dibuat geram dengan ucapan sang security.


"Bapak sungkan kenapa? Takut ya?"


"Iii ... iya Bu." Jawabnya sedikit gagap.


"Hallahh ... si Bapak gimana si."


Barulah saat pemilik mobil itu turun dan berdiri bersandar di depan pintu mobilnya, Riana seketika tersadar.


Pantas saja tidak berani tegur si bapak. Rupanya yang klakson-klakson tadi itu Tefan. Hhhhh, ada-ada saja. Malu jadinya sudah marah-marah ke bapak security.


"Maaf ya, Pak. Aku tidak tahu."

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Bu."


Riana bahkan tidak menyadari kalau sejak tadi Kiano sudah menyerbu Tefan dan kini mereka berdua masing-masing bersidekap tangan di dada bersandar pada dinding mobil. Persis seorang bapak dan anak yang menunggu isteri sekaligus ibu yang cerewet.


Segera Riana ikut bergabung dengan para pria.


"Ayo kuantar!" Ajak Tefan.


"Bunda lama deh." Protesnya.


"Bunda minta maaf sayang."


"Kalau sampai Kiano terlambat sekolah, kan malu Bun."


"Iya ... iya ... Bunda minta maaf sayang."


Mobil pun segera melaju dengan cepat, berjalan menuju sekolah Kiano. Tefan mencuri pandang ke arah Riana yang duduk di sampingnya. Riana melakukan hal yang sama kepada Tefan. Sehingga membuat mata mereka bersirobok satu sama lain. Rasa gugup pun tercipta diantara mereka.


Masih saja seperti anak ABG yang baru jatuh cinta dan mengungkapkan perasaan masing-masing.


"Jangan menatapku seperti itu, aku malu." ucap Riana.


Pertanyaan itu sontak membuat mata Riana membelalak. Dia tak percaya jika Tefan menanyakan hal seperti itu kepada Kiano. Riana mencubit kecil paha Tefan, sehingga pria itu pun mengaduh kecil karena kesakitan.


"Memangnya Bunda mau nikah lagi?" tanya Kiano polos pada bundanya.


Tefan terkekeh melihat reaksi Riana mendengar pertanyaan dari Kiano. Riana segera mencari jawaban yang pas untuk membuat Kiano mengerti akan kondisi dirinya saat ini.


"Sayang udah, jangan dengerin Om Tefan dia cuma mengada-ngada kok." Ucap Riana seraya menatap kesal pada Tefan.


"Tau ah, Kiano nggak ngerti dengan obrolan orang dewasa. Jangan melibatkan anak kecil dalam hubungan kalian. Tapi jika Bunda beneran mau nikah lagi, Kiano hanya mau Om ganteng yang jadi papa Kiano."


Tefan merasa mendapatkan dukungan 100% dari Kiano. Dia pun tertawa karena Riana tak berhenti menunjukkan ekspresi kesal padanya justru terlihat sangat menggemaskan di mata Tefan.


"Berarti boleh ya, Om ganteng menikahi Bunda?" tanya Tefan kepada Kiano.


"Berarti Om ganteng akan jadi papa Kiano dong!" seru Kiano senang.

__ADS_1


"Hanya ... Kiano punya Papa ganteng, hore ...!"


Kiano piano mengekspresikan kegembiraannya dengan menaikkan kedua tangannya seraya bersorak. Riana hanya menggelengkan kepala sementara Tefan tertawa terbahak-bahak. Kiano sudah setuju artinya tinggal memantapkan hati Riana agar mau menikah dengannya..


Tentu saja Riana harus berpikir matang-matang jika harus berumah tangga kembali. Apalagi sebelumnya dia pernah gagal menjalin hubungan dengan Tefan di masa lalu. Pernah hampir mereka menikah kemudian gagal karena ketidaktegasan Tefan terhadap hubungan mereka.


Bukan cuma itu, Tefan juga pernah gagal menjalin hubungan pernikahan yang sebelumnya dengan Nina sahabat Riana. Keduanya memang perlu mempersiapkan diri dengan sangat baik sebelum memutuskan menikah. Pernikahan bukan cuma dijalani setahun dua tahun, namun kita bisa bahkan seumur hidup.


Sesaat kemudian mobil berhenti tepat di depan sekolah Kiano. Kiano pun melompat turun dari mobil. Melambai-lambai ke arah Riana dan juga Tefan yang mengantarnya hingga depan sekolah.


Setelah Kiano menghilang masuk ke dalam kelas, mereka pun beranjak pergi. Hanya mereka yang berada di dalam mobil berdua saja dan hening pun tercipta. Cukup lama. Sampai Riana pun angkat bicara mengenai Femi Yang tempo hari menghancurkan tokonya.


"Tolong ingatkan Femi sebelum aku mendapatkan bukti-buktinya dan melaporkannya ke polisi."


"Tenang saja aku akan membuatnya datang padamu untuk meminta maaf, aku pun kesal dengan sikapnya yang seperti itu."


"Sebenarnya hubungan seperti apa yang kalian jalani? Bagaimana kalian dekat kemudian mengenal satu sama lain?"


"Ini kamu sedang tidak cemburu, kan?" goda Tefan yang buat Riana menoyor lengan besar Tefan.


"Apaan sih, sudah jawab aja."


"Tapi kedengarannya kamu sedang cemburu Riana ..."


"Fan, aku serius ini."


"Oke, oke, oke, baiklah aku akan cerita. Jadi Femi itu pernah menolong aku di masa lalu, saat aku belum punya apa-apa kemudian hal itu menjadi sesuatu semacam balas budi yang bikin aku tidak tega harus keras padanya. Kemudian perasaan Femi perlahan-lahan berubah dan malah jatuh cinta padaku, pengakuannya seperti itu. Ya wajar sih, dia jatuh cinta padaku aku kan ganteng pesona aku tak terkalahkan." Ceritanya dibumbui percaya diri yang besar.


"Astaga, itu sih kamu yang kepedean. Jadi seperti itu ya terus perasaan kamu ke dia gimana?"


"Ya nggak gimana-gimana, orang aku nggak punya perasaan apa-apa sama dia. Satu-satunya perempuan yang masih aku ingat sampai sekarang di kepala dan hatiku adalah kamu Riana. Only you!"


"Cih! Emang paling bisa menggombal. Gak usah modus deh."


"Aku serius dengan ucapanku Riana."


"Iya, iya percaya."

__ADS_1


Tefann pun meraih tangan Riana yang satunya lalu menariknya ke depan bibirnya dan menciumnya. Sedangkan Riana lagi-lagi dengan pasrah membiarkan hal itu terjadi. Jujur dia pun sendiri kadang bimbang dengan perasaannya sendiri. Jauh di dalam hatinya yang paling dalam dia juga masih menyimpan perasaan untuk Tefan.


Mobil melaju dengan tenang membawa perasaan mereka.


__ADS_2