
"Kiano ...." panggil seorang ibu paruh baya ketika Kiano telah keluar dari sekolah melewati pintu gerbang.
Kiano yang tidak mengenali ibu paruh baya itu pun tidak ingin mendekat begitu dipanggil. Sebab Bundanya selalu berpesan untuk tidak terlalu percaya pada orang asing atau orang yang baru saja ditemui.
Kiano berhenti sebentar namun tidak lantas menuju ibu paruh baya itu. Dia malah berbelok ke arah Pak Bono yang sudah menunggunya di mobil. Pak Bono yang melihat tindak tanduk ibu tadi agak mencurigakan, dia pun segera turun dari mobil dan berjalan ke arah Kiano.
Ibu paruh baya itu nekat mengejar Kiano.
"Kiano, sayang ...! Ini Oma sayang, kemari!" panggilnya.
Ibu tadi merunduk untuk menyentuh wajah Kiano. "Ini Oma sayang."
"Maaf, Bu. Anda siapa? Tolong jaga jarak Anda pada anak Bos saya." Pak Bono dengan tegas menepis tangan ibu itu saat menyentuh Kiano.
"Dia cucu saya, apa hak kamu melarang saya?"
"Maaf, kami tidak mengenal Anda. Jangan mengaku-ngaku kalau dia cucu Anda. Kiano, apa kamu mengenal nenek ini?"
"Tidak Pak Bono. Aku bukan cucunya, nenek ini pasti salah orang. Ayok Pak! Kata Bunda, tidak boleh terlalu percaya sama orang asing."
Kiano sudah mau masuk ke mobil dan ibu paruh baya tadi menariknya agak keras. Hingga Kiano terhempas dan hampir saja jatuh ke tanah. Pak Bono segera bergerak dan menarik Ibu itu, kemudian mengunci kedua tangannya.
"Halo ... Bunda! Bunda di mana?" tanya Kiano dengan suara agak keras dan cemas di telepon.
"Kiano sayang, ada apa? Kok suara kamu bergetar kayak mau nangis?"
"Bunda ... ada nenek-nenek datang mau ajakin Kiano pergi. Cepat, Bunda!"
Tanpa tunggu lebih lama, Riana segera memutuskan sambungan telepon itu dan pergi naik motor diantar satpam tokonya.
Sepanjang jalan dia terus berdoa semoga tidak terjadi apa-apa dengan anaknya, Kiano.
__ADS_1
"Cepat, Pak. Anak saya sedang dalam bahaya. Bapak harus cepat."
"Baik, Bu. Pegangan, Bu!"
Secepat kilat Pak Bagus, satpam toko milik Riana segera menancap gas motornya. Angin bertiup kencang mengibaskan rambut Riana.
Kebetulan jarak antara toko dan sekolah Kiano tidak terlalu jauh, mereka pun sampai dengan cepat.
"Mama ...!" pekik Riana setelah turun dari motor dengan rambut acak-acakan setelah melepas helmnya.
"Kiano sini! Ikut Oma sehari saja sayang. Ikut Oma jalan-jalan yuk!" Mantan Mertua Riana mengiba di depan Kiano.
"Ma, Riana kan sudah bilang. Jangan paksa Riana untuk kasar sama Mama. Tolonglah!"
"Riana, Mama mohon Riana, sekali ini saja. Biarkan Kiano tahu kalau mama ini adalah Oma dia."
"Untuk apa sih, Ma. Jangan ganggu kehidupan aku sama Kiano lagi. Biarkan aku dan anakku hidup bahagia sekarang, tanpa ada lagi orang yang ikut campur dalam hidup kami."
"CUKUP, MA! Kiano tak perlu tahu dan Kiano tidak butuh Oma. Sebaiknya Mama pergi sekarang!" Dengan tegas Riana menolak dan segera masuk ke mobil.
"Pak, Bono silakan jalan!"
"Tapi, Bu. Mantan mertua Ibu ada di depan mobil kita, Bu."
Riana menarik napas panjang. Tidak habis pikir dengan kelakuan mantan mertuanya itu yang sudah kelewat batas. Riana menghempas pintu mobilnya dan turun menemui lagi mantan Mama mertuanya.
"Tolong dong, Ma. Jangan kayak gini. Biarkan Riana dan Kiano hidup tenang." Dia masih berusaha untuk lembut dan tidak terbawa emosi. Bagaimanapu orang tua di depannya ini adalah mantan mertua sekaligus ibu dari orang yang sangat dicintainya dahulu.
"Kamu tidak kasihan sama Mama, Riana? Mama janji ini yang pertama dan terakhir kalinya. Mama mohon!"
Tidak lama setelah dia selesai bicara, Shena dan Sherly datang. Dia segera menemui mamanya yang sedang memohon pada Riana.
__ADS_1
"Mama, kan Shena sudah pernah bilang buat apa sih Mama memaksa begini? Sebaiknya kita pulang, Ma." Shena menarik tangan mamanya. "Mbak Riana, kami minta maaf karena sudah mengganggu."
"Tidak apa-apa, Shena. Maafkan Mbak, tapi Mbak benar-benar tidak bisa membiarkan Kiano ikut bersama Mama."
"Shena mengerti, Mbak. Sherly, bawa Mama ke mobil."
Riana pun masuk ke mobilnya dan perlahan mobil yang disupiri Pak Bono pun pergi. Sepanjang jalan Riana hanya diam, dia sedang memikirkan apakah tindakannya barusan sudah benar atau berlebihan.
Sikap Riana barusan benar-benar hanya untuk melindungi Kiano, dia tidak mau kejadian perebutan hak asuh terjadi padanya dan dia tak bisa mempertahankan Kiano. Jika itu terjadi mungkin dia tidak akan memaafkan dirinya sendiri.
"Bunda ...." panggil Kiano.
"Iya, sayang. Ada apa?"
"Bunda tidak apa-apa, kan?"
"Tidak apa-apa sayang. Pak Bono, kita tidak usah ke toko. Kita pulang."
"Baik, Bu."
Hari itu, banyak yang sekali yang dipikirkan Riana. Ketakutannya dahulu seperti segera menjadi kenyataan. Hari ini bisa saja hanya mantan mertuanya yang datang mengiba, besok-besok jika Saka sudah sembuh dari hilang ingatannya mungkin dia akan muncul dan juga meminta Kiano untuk bersamanya.
Hal itu bisa saja menjadi mimpi buruk bagi Riana. Dia tak pernah membayangkan jika hari itu mungkin tiba dalam hidupnya sebentar lagi.
Dia pun berpikir agar Kiano tidak usah sekolah dulu. Jangan sampai dia lengah dan Kiano tahu-tahu sudah dibawa pergi. Riana akan bicara dengan pihak sekolah agar sementara waktu Kiano diberi izin libur.
Begitu saja, semua kejadian itu terjadi dalam waktu singkat namun membuat Riana sanggup berpikir untuk dua atau tiga tahun ke depan. Kiano baginya tidak hanya seorang anak, tapi juga belahan jiwa dan teman hidup Riana melewati hari-hari yang suram dan melelahkan. Kiano adalah penyemangat hidupnya, seandainya Kiano tak ada mungkin dia sudah lama putus asa untuk melanjutkan hidup.
^^^...Hidupnya adalah seni bersyukur. Semakin banyak bersyukur maka semakin banyak nikmat yang kita peroleh. Dan selama ini aku merasa tak kekurangan nikmat sedikitpun. Tuhan selalu baik dan Maha baik. Percayalah .......^^^
^^^^^^--Riana^^^^^^
__ADS_1