Complicated Love #2

Complicated Love #2
CL - 57. Ngidam


__ADS_3

Arus lalu lintas hari ini begitu padat, aku menembus kemacetan pagi untuk bisa sampai di kantor dan menyelesaikan segala urusan sebelum kutinggal cuti hamil. Saka sudah menawarkan mengantar, tapi aku bersikeras untuk menyetir sendiri. Berhubung karena aku tahu sebenarnya dia juga sedang buru-buru ke restoran karena sudah ada tamu penting yang menunggu bertemu dengannya untuk kerjasama.


Saka mengalah dan kita berdua berangkat dengan mobil masing-masing.


Kamu yakin akan menyetir sendiri? Yakin tubuh kamu sudah kuat? Serius tidak akan kenapa-kenapa di jalan? Dan segudang pertanyaan bernada khawatir yang dilontarkan Saka sebelum pergi pagi tadi.


Kujawab dengan senyum paling manis agar dia tak lagi mengulur waktu dan meyakinkan bahwa aku benar-benar dalam kondisi sangat baik.


Bunyi klakson sahut menyahut, membuat suasana jadi riuh. Mobil sama sekali tak bisa bergerak. Aku ikut kesal jadinya karena harus terjebak macet dalam situasi seperti ini. Di tengah kemacetan, di pinggir jalan aku lihat tukang cilok. Kok rasanya pengen nyoba, sampai air liur ingin menetes.


Apa ini pertanda aku sedang ngidam ya?


Aku panggil tukang ciloknya karena kemacetan berlangsung parah.


"Berapa Pak?"


"Lima ribu seporsi Bu."


"Beli dua yah!"


Aku menyodorkan uang dua puluh ribu, si Bapak merogoh kantongnya mencari uang kembalian.


"Tidak usah Pak, kembaliannya untuk Bapak. Semoga rezeki Bapak lancar dan hari ini jualannya laris. Amin."


"Terimakasih ya Bu. Ibu adalah pembeli pertama saya. Semoga rezeki Ibu lancar dan Ibu sehat selalu. Amin."


"Makasih Pak."


Aku pun menutup kembali kaca mobil dan memakan cilok yang masih panas itu. Rasanya lumayan enak, hingga tak terasa cilok itu sudah habis saja. Untungnya saat itu kemacetan mulai terurai perlahan. Mobil sudah bisa bergerak pelan.


Setelah berjibaku kurang lebih satu jam di jalanan macet, akhirnya aku bisa juga terbebas dari kemacetan itu. Tiba di kantor aku menyapa karyawan satu persatu. Aku masuk ruangan dan meminta Ana untuk segera ke ruanganku.


"An, sepertinya aku harus menyerahkan semua urusan toko padamu. Bisa kan?"


"Tapi ada apa Bu?"


"Kamu jawab dulu bisa atau tidak?"


"Tentu bisa Bu. Memangnya ada apa Bu?"


"Aku hamil."

__ADS_1


"APAA???" Ana menutup mulutnya karena tak sadar tengah berteriak. "Serius Bu? Ibu hamil? Akkhh senangnya, saya janji Bu akan mengurus semua ini dengan sangat baik. Ibu jangan khawatir. Ibu fokus saja dengan kehadiran calon baby di perut Ibu. Aku turut senang Bu."


"Iyah, dikasih cepat sama Tuhan. Semoga aku bisa menjaganya dengan baik. Jadi ada laporan apa belakangan ini?"


"Tidak ada sesuatu yang penting Bu, semuanya aman terkendali."


"Baguslah. Jika ada yang perlu aku tanda tangani bawa saja ke ruanganku. Aku akan memeriksa beberapa laporan yang masih tersisa dulu."


"Baik Bu. Jadi mulai minggu depan Ibu sudah tidak di kantor lagi?"


"Iyah. Tolong urus semuanya ya. Aku percaya padamu."


"Siap Bu, terimakasih atas kepercayaan Ibu."


"Kamu bisa kembali ke ruangan kamu."


"Baik Bu."


***


Ponselku berdering di jam makan siang. Aku baru mau keluar menemui Saka di restorannya tapi orangnya sudah keburu telpon duluan.


"Aku baik sayang. Ini masih di kantor. Mau ke restoran kamu. Boleh?"


"Ya boleh dong sayang. Aku akan senang sekali bertemu isteri dan calon jagoanku."


"Calon jagoan? Yakin banget sayang aku hamil anak cowok."


"Ya siapa tahu aja. Hehe. Aku ingin cowok, tapi apapun jenis kelaminnya yang penting sehat, kamu juga sehat. Ya sudah aku tunggu di resto ya."


"Iyah sayang, bye."


Aku tersenyum sendiri membayangkan bagaimana Saka saat anak di perutku ini lahir. Mungkin dialah orang yang paling sibuk diantara semuanya. Dia sudah lama membayangkan akan punya anak dan dia ingin sekali anak laki-laki. Semoga saja terkabulkan. Walau sejujurnya aku ingin anak perempuan hehe.


Aku pun mengemudi dengan tenang menuju restoran Saka yang tidak terlalu jauh itu. Tidak sampai dua puluh menit, aku sudah tiba di resto. Di depan pintu Saka bahkan sudah menunggu. Benar-benar tidak sabaran. Hihi.


"Sayang, sudah sampai? Gimana di jalan, macet gak?"


"Nggak aman. Tadi pagi yang macet parah, aku sampai sejam terjebak macet."


"Betulkah? Tapi kamu tidak capek nyetir kan?"

__ADS_1


"Nggak sayang."


"Kalau begitu ayo kita masuk."


Aku dan Saka masuk ke dalam ruangannya yang melewati dapur tempat semua koki memasak. Di sana Saka membuat semacam pengumuman yang membuat geger semua koki. Aku jadi malu sendiri.


"Pengumuman, pengumuman, semuanya saya ingin menyampaikan bahwa, ISTERI SAYA SEDANG HAMIL DAN AKAN SEGERA JADI IBU, SAYA AKAN SEGERA JADI AYAH. Jadi mohon doanya untuk kehamilan isteri saya hingga lahiran nanti."


Semua orang berseru bahagia dan mengucapakan selamat kepada kita berdua. Bahkan ada yang sampai lupa dengan masakannya. Lalu lari terbirit-birit kembali ke pemanggangan. Hihi lucu sekali respon mereka.


Setelah acara pengumuman dadakan yang dibuat oleh Saka, kita berdua pun masuk ke dalam ruangan pribadinya. Di dalam, Saka mendudukkanku dengan hati-hati. Seolah aku ini benda paling berharga dan takut kalau-kalau jatuh dan pecah. Dia memang sangat berlebihan begitu tahu aku hamil anak dia.


Walau sikap dia begitu, tapi aku tahu itu semata-mata karena dia perhatian dan tidak ingin aku mengalami hal-hal yang tidak diinginkan. Aku bersyukur memiliki suami seperti dia.


"Sayang, kok aku ingin makan pecel ya?"


"Apa pecel? Tunggu sebentar, aku minta koki di luar buatkan untuk kamu."


"Tapi aku maunya kamu yang buatin sendiri sayang."


"Hah? Aku?"


"Iyah," jawabku.


"Terus kalau aku yang buatin kamu, yang jaga kamu di sini siapa?"


"Aku bisa jaga diri sendiri sayang."


"Janji ya?"


"Janji."


"Oke kamu tunggu di sini. Biar aku buatkan untuk kamu."


Aku menatap punggung Saka yang hilang dari balik pintu ruangan. Hatiku terasa hangat oleh setiap perlakuannya padaku yang begitu baik. Aku tak pernah kekurangan kasih sayang sedikitpun darinya. Sebenarnya soal kehamilan ini, belum banyak yang tahu. Bahkan Mama belum sempat aku kasih tahu. Begitu juga dengan keluarga Saka, belum ada yang tahu kabar bahagia ini. Setelah dari sini barulah kami akan kasih tahu saat makan malam nanti.


Saka khusus memasak semua makan malam tersebut untuk memberikan kejutan kepada kedua keluarga kami. Saka sudah memberitahu keluarganya agar datang ke restoran sebentar malam, begitu juga dengan Mama yang sudah kuberitahu saat pergi ke kantor tadi pagi.


Semoga kabar baik ini bisa membuat hati Mama sedikit terhibur karena kepergian Papa. Sehingga dia tak lagi terbawa sedih dan membuatnya murung sepanjang hari. Meski Mama tak pernah mengatakannya tapi aku yakin dia masih dalam suasana duka yang dalam.


***

__ADS_1


__ADS_2