
*Sebab apakah rindu itu berguguran lewat mata seorang perempuan? Barangkali bagi seorang laki-laki itu adalah suatu hal yang sepele. Namun, tidak bagiku, aku selalu takut akan kesendirian. Meski jelas bagiku bahwa tiap-tiap yang lahir adalah tunggal yang berarti satu dan sendirian begitu juga kelak pabila berpulang.
Ah, dan bagiku rindu tetap saja rindu. Bukan masalah jarak hari, kilometer atau apapun, tapi rindu yang berkecamuk dalam diriku adalah perkara rindu yang lain.
Malam ini, aku sedang menatap kepada bulan berpayung. Hatiku sedang menuju ke tempat lain. Di mana ia titipkan doa buat si Tuan yang pergi hanya menitipkan air mata*.
.....
5 Tahun yang lalu...
Suasana pagi itu di kediaman keluarga Saka penuh kebahagiaan. Bayi kecil Kiano usianya genap tiga bulan. Saka setiap pagi ketika mau berangkat kerja, seolah berat sekali meninggalkan Kiano. Dia betah menjaga Kiano meski harus seharian sekalipun.
Dia sudah rapi dengan pakaian kemeja dan celana kainnya. Bermain sebentar dengan Kiano yang selalu melihat ke arahnya. Seakan berkata, Ayah mau kerja ya? Jangan lama-lama ya. Itu sebabnya dia mencium Kiano dengan gemas berkali-kali. Tidak ada firasat apapun pada diri Riana.
Riana yang saat itu baru selesai mandi, tampak tersenyum melihat kedua laki-laki yang sangat dicintainya itu. Riana menghampiri lemari dekat tempat tidurnya, mengambil beberapa baju santai. Dia memang belakangan ini memutuskan untuk di rumah saja mengurus Kiano. Sementara toko dia serahkan kepada orang kepercayaannya.
Setelah memakai baju dan terlihat lebih rapi, Riana menghampiri keduanya.
"Sayang, sudah siang. Berangkat sana, kalau kamu terus bermain dengan Kiano, kami kapan berangkatnya?" Riana sambil menoel pipi Saka sedikit gemas.
"Ah iya sayang, udah siang ya. Habis Kiano menggemaskan banget, bikin betah untuk berada di sisinya. Kiano putra ayah, kamu jangan rewel ya. Biarkan Bunda menjagamu dengan tenang. Jangan bikin Bunda capek!"
Kiano tersenyum mendengar perkataan Ayah Saka, terasa seperti mengerti akan apa yang dikatakan oleh ayahnya.
Saka mencium Kiano dan juga istrinya, Riana. Setelah itu, dia pun berangkat sambil sesekali masih menoleh ke belakang. Agaknya dia masih belum ikhlas jika harus meninggalkan dua orang yang dicintainya itu, walau hanya untuk sekedar bekerja. Tapi akhirnya, dia pergi juga dengan senyuman mengembang di wajahnya.
Hari itu, bagi Riana tak ada tanda-tanda apapun. Seperti biasa, dia selalu mempersiapkan segala keperluan suaminya sebelum berangkat kerja. Aktifitas dia sebagai ibu rumah tangga benar-benar sangat dia fokuskan. Dia sudah pernah bilang bahwa jika kelak Tuhan menitipkan seorang anak di dalam rumah tangga mereka, maka akan dia titipkan pula seluruh hidupnya hanya untuk menjaga anak tersebut.
Setelah bermain sebentar dengan Kiano, Riana lantas menyusui Kiano. Kelihatannya Kiano sudah lapar karena terus menangis. Diraihnya tubuh kecil Kiano ke pangkuannya lalu diberi susu. Sejenak kemudian, Kiano perlahan diam dari tangisnya dan mulai tenang hingga dia pun tertidur.
Diusapnya kepala Kiano dengan lembut dan pelan. Riana menatap wajah anaknya sembari sesekali menoel pipi gembul Kiano. Dia juga ikut-ikutan gemas melihat Kiano yang sedang tertidur pulas.
Dalam perjalanan, Saka mendapatkan telepon dari rekannya sesama Chef.
"Ka, kamu di mana?" Tanya rekannya via telepon.
"Lagi di jalan. Ada apa?"
__ADS_1
"Ada proyek restoran gede nih, mau ikutan ambil andil gak?"
"Serius gede? Di mana?"
"Di luar daerah si. Kalau misal kamu mau join, aku tunggu kamu ke sini. Gimana?"
"Oke deh. Kirim lokasi ya, aku sekalian mau ngomongin ini ke istriku dulu."
"Oke deh. Kabari aku secepatnya ya. Aku yakin banget kamu gak akan kecewa."
Sambungan telepon terputus. Sebentar lagi Saka akan sampai di restoran miliknya. Dia pun memutuskan untuk menelpon Riana setelah sampai restoran.
Saat sampai di restoran, dia melihat karyawannya sudah banyak yang sibuk dengan job masing-masing. Saka cukup senang karena seluruh karyawannya dapat dipercayai.
Saka masuk ke ruang kerja miliknya. Dia duduk di salah satu sofa dan mengeluarkan ponsel miliknya. Mencari nama Riana di daftar kontaknya. Setelah itu dia pun menghubungi Riana perihal proyek itu dan akan keluar kota hari itu juga.
"Halo, sayang! Kamu lagi apa?" Tanya Saka.
"Ini nyusuin Kiano tapi dia sudah tidur. Ada apa? Kamu sudah sampai restoran?"
"Sudah. Makanya aku ingin mengabarkan sesuatu padamu."
"Aku baru saja dapat telepon dari rekan sesama Chef, katanya ada proyek restoran dan itu besar. Dia ngajak aku join, hanya saja lokasinya di luar kota. Itu sebabnya, aku hubungi kamu dulu, ngasih tahu. Jika kamu setuju, maka siang ini aku berangkat ke sana untuk meeting."
"Oh, harus hari ini ya?"
"Iyah sayang, lumayan ini buat tabungan masa depan Kiano sayang."
"Emm, kalau kamu rasa ini bagus. Ya tidak apa-apa sayang, aku dukung semua yang ku lakukan. Berarti kamu langsung berangkat? Tidak pulang dulu? Apa sebaiknya mampir ambil perlengkapan, semisal baju ganti atau apa gitu? Biar nanti sekalian aku siapin koper kamu, jadi habis makan siang di rumah kamu bisa langsung berangkat."
"Boleh juga. Ide bagus sayang, ya sudah siapkan pakaian aku ya. Sedikit saja, tidak usah banyak-banyak, aku juga belum tentu menginap. Cukup baju ganti dan perlengkapan mandi."
"Iya, baiklah!"
Sambungan telepon terputus. Riana ingin sekali menahan Saka untuk pergi, apalagi harus meninggalkan mereka berdua, hanya dia dan Kiano di apartemen. Namun, bagaimanapun dia harus mendukung semua pekerjaan suaminya.
Riana beranjak ke lemari, mengambil koper kecil dan memasukkan beberapa lembar pakaian ke dalam koper. Tak lupa handuk dan perlengkapan mandi lainnya. Setelah dia rasa cukup, dia pun menutup koper itu dan meletakkannya di sudut kamar miliknya.
__ADS_1
Kiano masih lelap dalam tidurnya, Riana mengecek dapur untuk melihat apa yang harus dia masak untuk makan siang dia dan suaminya. Walau Saka ini chef yang cukup hebat, tapi dia selalu ingin makan masakan isterinya. Itulah mengapa Riana belajar memasak dari Saka, juga dari internet yang sering dia nonton melalui YouTube.
Di kulkas terdapat beberapa sayuran, daging dan juga bumbu-bumbu. Riana tersenyum puas, karena stok makanan masih banyak. Dia pun mulai memasak sembari sesekali mendengar dan mengecek apakah Kiano terbangun atau tidak.
Sibuk di dapur, seraya mendengarkan lagu-lagu lawas yang belakangan ini sering menemaninya di dapur. Riana memang suka mendengarkan musik, terkadang ikut bersenandung jika itu lagu yang menjadi favoritnya.
Cukup lama dia berkutat di dapur, hingga semua masakan yang dibuatnya matang dan akan disajikan di atas meja makan. Semoga saja Saka suka dan makan dengan nikmat. Begitulah batinnya seolah berkata.
Setelah urusan dapur selesai, dia masuk ke kamar dan melihat Kiano apakah sudah bangun atau belum. Dia lihat Kiano masih tertidur pulas. Riana masih punya kesempatan untuk menghubungi anak buahnya di toko.
Sekitar jam sebelas siang, Saka pulang ke apartemen dengan perasaan bahagia. Riana sudah menyambutnya dengan senyum hangat dan juga pelukan tentunya. Sebab menjaga rumah tangga tetap hangat adalah dengan memberikan sentuhan di setiap kedatangan.
"Gimana restoran kamu sayang? Ramai?"
"Cukup ramai hari ini. Ah iya, kamu sudah makan?"
"Belumlah sayang, kan nunggu kamu."
Sambil melonggarkan dasinya, Riana melepas sepatu suaminya dengan tangkas. Setelah itu, mereka menuju dapur dan makan siang bersama.
"Memang harus mendadak begini ya sayang?" Riana kembali bertanya perihal akan perginya suaminya untuk urusan pekerjaan.
"Iyah, Doni sudah mengirim lokasinya. Tepatnya di daerah X, nanti jika sudah sampai sana aku kabari kamu sayang."
"Iya jangan lupa tetap kasih kabar. Makan dulu gih."
Usai makan, mereka ke kamar untuk bersiap-siap. Riana sudah menunjuk koper yang sudah dia siapkan untuk Saka. Saka tersenyum dan mencium lembut kening Riana. Lalu beralih mencium Kiano berulang kali.
Anak itu mengerjap karena terkejut dengan sentuhan dari Saka. Riana agak melotot melihat ke arah Saka, membuat Saka mendelik dan segera bangun dari tempat tidur setelah memberikan hujan ciuman ke pipi Kiano.
Saat berangkat, entah kenapa Riana seolah merasa hari itu teramat mellow. Dia mendadak menangis dengan kepergian Saka, padahal Saka sudah bilang mungkin akan hanya menginap satu hari lalu pulang lagi keesokan harinya.
Mungkin karena tidak terbiasa ditinggal, makanya Riana merasa dia sedih dan akan kesepian. Tapi rupanya hal tersebut adalah pertanda, bahwa akan terjadi sesuatu pada Saka suaminya. Namun, dia belum tahu apa.
*
*
__ADS_1
*
Maaf baru sempat Up. Semoga kita semua tetap sehat dan bahagia ya. Jangan lupa untuk baca, like, komen dan juga vote ya biar makin semangat untuk up. hehee