
Aku dan Saka tiba di apartemen milik Saka, hari sudah hampir sore. Setelah berada di lantai apartemen tempat dia tinggal, dia tidak mau mengalah untuk membujukku agar mau digendong olehnya karena aku terlihat kepayahan berjalan. Akhirnya aku pasrah dalam gendongannya, tubuhku seperti tubuh seorang anak kecil saja yang digendong oleh ayahnya. Pasalnya tubuh Saka yang tinggi dan besar, dada yang bidang, lengan yang berotot, membuatku terlihat sangat kecil di sana.
Aku merebahkan kepalaku di dadanya sementara kedua tanganku bertaut di lehernya. Untuk beberapa saat aku mendengar degup jantungnya yang berdegup tenang. Bagaimana dia bisa setenang ini sih? Sementara aku sudah dag dig dug begini dibuatnya. Jelas saja aku tak bisa menahan geletar di dalam tubuhku, melihat dada dia yang bidang dan sedikit berbulu, membuat aku menelan ludah secara perlahan. Hhh… kenapa aku berpikir mesum begini saat aku sedang sakit.
Saka masih menggendongku saat pintu apartemen telah dibuka, dia kemudian meletakkan tubuhku di atas kursi lebar, panjang dan empuk miliknya.
‘Kamu ringan sekali, apa kamu tidak makan?” Protesnya saat berhasil menurunkan aku di kursi.
“Makan, memang tubuhku saja yang tidak mau bertambah. Lagi pula aku nyaman dengan tubuh yang seperti ini.” Balasku tidak terima dibilang tidak makan.
“Kalau kita menikah nanti, aku tidak mau tubuh kamu ringan begitu. Aku seperti mengangkat kapas saja.”
“Memangnya kapan kita menikah? Lagian aku bukan kapas, masa aku calon istrimu disamakan kapas.”
“Ya sudah jangan ribut begitu, kamu istirahat saja. Sementara aku ganti baju dan membuatkan kamu sup hangat.”
Aku menuruti permintaan Saka. Aku berusaha memejam untuk sejenak. Aku tidak lihat Saka sudah berganti pakaian, aku hanya mendengar ada kesibukan di dapur. Mungkin saja dia sudah mulai memasak. Tak lama kemudian, aku pun tertidur karena merasa sangat lelah.
Saat terbangun, aku mendapati sebuah selimut di atasku. Ah, dia baik sekali sampai menyelimuti aku seperti ini. Aku masih terduduk di kursi dan mencari-cari di mana keberadaan Saka, tapi aku tak melihat siapapun di sana. Di mana dia? Aku berusaha bangun dari dudukku dan saat aku seperti hendak terjatuh, pinggangku tiba-tiba diraih dari belakang oleh dua tangan kekar.
“Jangan memaksakan diri, kamu tidur sangat lelap tadi. Aku tidak mau membangunkan kamu.” Ucap Saka yang tiba-tiba berada di belakangnya.
“Kamu dari mana saja?” Tanyaku padanya karena dia muncul tiba-tiba.
“Aku baru selesai mandi dan melihat kamu celingak celinguk tidak jelas, aku yakin sekali kamu mencariku. Makanya aku keluar dan saat ada di belakang kamu, kamu hampir terjatuh. Sudah jangan memaksakan diri. Tunggu di sini, aku ambilkan sup tadi untuk kamu.”
Untuk ukuran laki-laki, dia bawel sekali. Walau aku tahu itu semua demi kebaikanku, tapi terkadang aku merasa dia itu sangat berlebihan yang anehnya aku merasa nyaman dan tenang di sisinya.
Tak lama kemudian, Saka kembali membawa semangkuk sup ayam. Asapnya terlihat masih mengepul di atasnya. Seperti baru saja dihangatkan karena mungkin sup tadi sudah sempat dingin saat aku tertidur cukup lama.
__ADS_1
“Ini supnya, kamu makan dulu. Tapi kali ini kamu harus nurut, aku yang suapin kamu.”
Hhh, sifat memaksanya kambuh lagi. Tapi aku senang sih.
Supnya enak sekali, aku sampai menghabiskan sup itu hingga air-airnya tandas di mangkuk.
“Sup ini memang enak atau kamu yang kelaparan? Benarkan kamu itu jarang makan, pantas saja tubuh kamu ringan begitu.”
“Supnya enak sekali, beda ya buatan chef dan bukan buatan chef. Hehe.” Ucapku yang sedang mengusap bibir karena merasa masih ada bekas sup yang tersisa.
“Aku pastikan kamu akan makan enak setiap hari jika kita sudah menikah dan tinggal serumah. Tak akan kubiarkan, perempuanku kelaparan apalagi sampai tubuhnya menjadi sangat ringan. Siap-siap saja.”
Entah kenapa aku ingin sekali menciumnya, refleks aku cium pipi Saka. Sebagai ucapan terimakasih karena dia sudah berbaik merawatku hari ini. Wajahku bersemu merah karena menahan malu. Tak membuang kesempatan, Saka malah berbalik menyerangku. Dia langsung menarik tengkukku dan mengecup bibirku lembut. Hhhm, dia memang paling bisa memperlakukan aku dengan sangat lembut.
Bibir kami menyatu dan berpagut cukup lama, membuat aku seperti akan kehabisan oksigen. Tahu aku sudah megap-megapan mengimbangi ciuman Saka, dia pun memberiku ruang untuk bernafas. Dia menarik bibirnya dan mengusap bibirku lembut dengan jarinya. Setelah itu dia melayangkan kecupan terakhirnya di keningku.
"Kamu sudah merasa lebih baik?" Tanyanya.
"Jangan terlalu banyak berpikir, lebih baik kita memikirkan saja soal pernikahan kita nanti."
"Iyah, aku tidak sabar menjadi nyonyamu dan makan makanan enak tiap harinya." Jawabku setengah bercanda.
"Sekarang kamu makin pintar ya menjawab. Bikin aku makin sayang saja."
Saka menyentil hidungku dengan jarinya. Dia terlihat sangat gemas padaku. Aku melihat jam sudah pukul tujuh malam lebih. Aku teringat belum mengabari Mama, mudah-mudahan dia tidak khawatir.
"Kenapa? Kamu mengkhawatirkan Mama kamu akan cemas mencari kamu ya?" Saka seperti bisa membaca pikiranku dan ucapannya benar sekali.
"Iyah, kamu kok tahu?"
__ADS_1
"Tahulah. Tenang saja, tadi aku sudah menelpon Mama. Ngasih tahu kalau kamu ada di tempatku dan akan makan malam bersama."
"Kamu memang bisa diandalkan. Trimakasih."
"Kamu mandi dulu sana, selesai makan malam aku antar kamu pulang."
"Aku tidak punya pakaian ganti. Aku mandi di rumh saja."
"Ya sudah kalau itu mau kamu. Yuk kita makan dulu habis itu aku antar pulang."
Usai makan malam, Saka mengantarku pulang. Dia tak hentinya menggenggam erat tanganku sepanjang perjalanan. Dia seperti tahu pikiranku sudah ke mana-mana dan sedang tidak tenang. Itu sebabnya dia berusaha menenangkanku.
"Apa sebaiknya pernikahan kita percepat?" Tanya Saka membelah kesunyian di dalam mobil.
"Kita rundingkan dengan orang tua kita dulu. Aku ingin mereka juga terlibat penuh mengenai urusan pernikahan kita. Aku mencemaskan kamu."
"Sudah aku bilang jangan cemas. Riana, kita pasti bisa mengatasi masalah Tefan ini. Kamu tenanglah. Untuk sementara ponsel kamu jangan dihidupkan dulu."
"Iyah."
Setelah itu suasana hening lagi. Saka masih berusaha menenangkan aku. Hingga tak terasa waktu sudah berjalan cepat. Aku tiba di rumah yang disambut hangat oleh Mama.
"Kamu sudah pulang sayang." Sapa Mama lembut.
"Iyah Mah, tadi mampir ke apartemen Saka dulu untuk makan malam."
"Tante, maaf Saka sudah menahan Riana sampai selarut ini."
"Tidak apa-apa, tante percaya sama kamu."
__ADS_1
"Trimakasih tante, kalau begitu Saka pamit pulang dulu."
Jika Tefan tak berhenti menerorku maka pernikahan dengan Saka akan aku percepat. Bagaimana pun aku tidak ingin sesuatu yang fatal akan terjadi.