
BRAKKKK...!
Meja kasir digebrak oleh Femi. Nadia terkejut, uang yang sedang dia pegang bahkan terjatuh ke lantai. Orang-orang yang datang belanja di toko Riana pun terkejut. Semua mata kini tertuju pada Femi, datang dengan kemarahan yang tak bisa lagi ditawar-tawar.
"Mana bos kamu?" Tanyanya garang.
"Maksud mba, Bos Riana?
"Siapa lagi? Memangnya kamu punya berapa bos di sini?"
"Bos sedang menjemput anaknya." Jawab Nadia cepat dan ketakutan.
Riana muncul dari ambang pintu bersama Kiano. Kiano segera diminta untuk ke atas, karena sepertinya ada keributan kecil lagi di tokonya.
"Nad, ada apa ini ribut-ribut?"
Femi berbalik, kini dia berhadapan langsung dengan Riana.
"Kamu punya apa sih sampai Tefan rela meninggalkan kerjaan demi kamu?"
"Lantas hak kamu apa bertanya seperti itu sama aku? Hubungan kamu apa sama Tefan sampai kamu buang-buang energi untuk datang ke sini dan marah-marah?"
"Kamu berani?"
"Kenapa aku harus takut? Apalagi cuma menghadapi calon pelakor kecil sepertimu?"
"Apa katamu? Calon pelakor?"
"Haha, iya. Apalagi sebutan yang pantas untuk perempuan yang ngintilin laki-laki yang bahkan status hubungannya saja denganmu tidak jelas."
"Kamu akan menyesal sudah pernah mengatakan itu padaku."
"Terserah, tapi jangan pernah lagi buat keributan di tempatku. Tidak malu jadi tontonan orang? Ah iya, aku lupa, kamu memang tidak punya malu kan?"
Femi semakin berang, dia maju selangkah ingin menampar Riana. Namun tangannya segera dicegah oleh Riana, tangan itu dicengkeram erat oleh Riana. Hingga Femi meringis karena kesakitan.
"Jangan pernah lakukan itu atau aku tidak akan segan-segan berbuat yang lebih keras lagi padamu."
PLAKKK!
"Itu pelajaran buat kamu, agar tidak lagi mengganggu kehidupan orang lain yang tak ada kaitannya denganmu. Aku tidak mengenal kamu, jadi berhenti seolah-olah kita ini saling kenal apalagi memiliki hubungan yang jelas."
Femi memegangi pipinya yang merah akibat tamparan keras dari Riana. Dia menatap Riana penuh amarah, memberikan ancaman sebelum dia akhirnya pergi membawa rasa malunya.
"Mulai hari ini, kita akan selalu punya hubungan. Akan kubuat hidupmu hancur, Riana."
"Terserah!"
Ada senyum getir di wajah Riana. Sejak dulu, hubungan dia dan Tefan selalu saja ada yang menghalangi. Namun, Riana yang sekarang tentu bukan lagi yang dulu. Bagaimana pun dia adalah seorang wanita tangguh, ancaman seperti itu tak berarti untuknya. Selagi anaknya, Kiano tetap aman maka tak ada yang perlu ditakutkan lagi olehnya.
Nadia menghampiri Riana, "Bu, kok bisa ada perempuan kayak gitu ya? Tapi Ibu sangat hebat, bisa memberinya pelajaran. Hehe."
"Nad, apa perlu mempekerjakan seorang satpam?"
"Boleh, Bu. Jangan biarkan perempuan itu mengacau lagi. Pembeli jadi tidak nyaman karena kehadiran dia di sini."
"Baiklah, aku akan mencari seseorang untuk jadi satpam di toko kita. Kalau begitu, kamu lanjutkan bekerja aku ke atas sebentar."
__ADS_1
"Baik, Bu."
Riana menghempaskan tubuhnya ke sofa. Memijit keningnya yang sedikit pusing, mungkin juga karena terlalu banyak pikiran.
"Bunda sakit?" Tanya Kiano.
"Bunda hanya merasa pusing, sayang."
"Tunggu sebentar, Bunda pinjam hp Bunda."
"Buat apa, Kiano? Bukannya kamu belum boleh pegang hp?"
"Sebentar aja, Bunda. Please...!"
"Ada di tas Bunda, kamu ambil sendiri ya."
"Hore, terimakasih Bunda."
Kiano pun mencari ponsel itu di tas Riana. Tak lama kemudian, dia sudah memegangi ponsel milik bundanya itu. Karena ponselnya tidak dikunci, dia pun dengan leluasa membuka ponsel itu.
Kiano menekan gambar kontak dan mencari nama seseorang.
"Yes! Dapat." Pekik Kiano senang.
Memanggil...
"Halo..., Om Ganteng bukan?"
"Hei, jagoan! Ada apa? Mana bundamu, kenapa kamu yang telpon Om?"
"Bunda lagi sakit, Om. Om Ganteng bisa ke sini tidak?" Ucap Kiano sedikit berbisik dengan penekanan suara yang dibuat sedih.
"Gak tahu, Om. Bunda cuma bisa baring di sofa. Cepat ya, Om!"
Kiano menutup telponnya, di seberang sana ada Tefan yang tergesa meninggalkan meja kerjanya dan segera berangkat ke tempat Riana.
"Yes, berhasil! Semoga dengan kedatangan Om Ganteng, sakitnya Bunda bisa berkurang. Kiano pintar." Ucapnya memuji diri sendiri.
Kiano menyimpan kembali ponsel tersebut ke tas Bundanya. Lalu bermain robot-robotan.
Dua puluh menit kemudian, suara sepatu yang seperti berlari cepat terdengar dari arah tangga. Riana yang sempat tertidur sebentar akhirnya terbangun. Kiano sengaja bermain di kamarnya, tak ingin mengganggu bundanya dan juga Tefan.
"Hei, apa yang terjadi? Kamu sakit?" Nafas Tefan masih memburu. Wajahnya cemas.
Riana yang bingung cuma bisa diam. Tefan sudah membingkai wajah Riana dengan kedua tangannya. Memastikan bahwa perempuan di depannya itu baik-baik saja.
"Kenapa kamu bisa ada di sini?" Riana bertanya bingung.
"Aku barusan dapat telpon, katanya kamu sakit."
"Cuma pusing, siapa yang telpon?"
Kiano muncul di depan kamarnya.
"Bunda, maafin Kiano ya. Kiano yang telepon Om Ganteng."
Riana mendengus agak kesal, tingkah Kiano semakin hari membuat Riana gerah. Pasalnya Kiano seakan tak ingin berpisah dengan Tefan. Anak itu selalu merindukan Tefan, saat tidur pun Kiano hanya membahas soal Tefan yang dipanggilnya dengan sebutan Om Ganteng.
__ADS_1
"Sayang, Om Ganteng lagi sibuk kerja. Seharusnya kamu tidak melakukan itu, jangan diulangi lagi ya?"
Kiano merengut, dia mendekat ke bundanya dan memeluk Bundanya. "Tapi Bunda jangan sakit, Kiano sedih kalau bunda sakit."
Riana sejenak meleleh, dia tak menyangka anaknya itu begitu peduli terhadapnya. Dia pun memeluk putranya itu, kemudian memintanya minta maaf pada Tefan karena sudah mengganggu kerjaannya.
"Minta maaf sama Om Ganteng, Kiano sudah membuat Om Ganteng meninggalkan pekerjaannya."
"Om Ganteng, maafin Kiano ya. Tolong, jaga bunda Kiano dengan baik. Soalnya, Kiano masih kecil. Kiano tidak tahu cara menyembuhkan sakitnya Bunda."
"Iyah sayang, tidak apa-apa. Kamu boleh telpon Om kapanpun Kiano mau."
"Okedeh, Kiano main dulu ya."
Kiano pun kembali masuk ke kamarnya. Kini hanya ada mereka berdua.
"Perempuan itu datang lagi ke toko." Ucap Riana dingin.
"Perempuan siapa?"
"Cantik, tinggi, seksi."
"Femi maksud kamu?"
"Tidak tahu, mungkin saja iya. Dia berani sekali membuat keributan di tempatku. Kamu urus dia, atau aku yang memberinya pelajaran."
"Riana, maafin aku. Aku sama dia tidak ada hubungan sama sekali."
"Aku tidak peduli kalian punya hubungan atau tidak, aku hanya tidak suka dia datang sesuka hati dia dan mengacau di tempatku."
"Baiklah, aku akan mengurusnya."
"Baguslah! Karena tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, sebaiknya kamu kembali ke kantor."
"Hei, tunggu sebentar. Aku hanya ingin ngobrol sama kamu." Cegah Tefan saat Riana sudah berdiri dan hendak turun.
"Apa lagi yang harus kita bicarakan?"
"Kumohon duduklah sebentar."
Riana kembali duduk di tempatnya. Ada perasaan enggan dan malas, namun dia memikirkan perasaan Tefan yang sudah jauh-jauh datang ke tempatnya hanya karena mendengar dirinya sakit.
Tefan menggenggam tangan Riana, Riana merasakan kehangatan. Namun dia tak ingin lantas merasa nyaman oleh semua itu.
"Dengar aku, tidak ada hal yang lebih penting dari pada kamu dan anak kamu saat ini."
"Fan, jangan mengikatku seperti ini. Aku tidak mau berhutang budi padamu."
"Berhutang budi apanya? Dari dulu kamu memang penting untukku. Kita tumbuh bersama sejak kecil, mustahil ikatan itu akan hilang begitu saja setelah bertahun-tahun."
"..."
Riana diam. Tatapan mata Tefan seperti mengiba padanya. Sehingga Riana tak sanggup untuk menatapnya.
Tefan menyentuh dagu Riana, diangkatnya wajah Riana sejajar dengan wajahnya. Mencoba meyakinkan Riana tentang apa yang dirasakan Tefan saat ini. Kini, jarak mereka begitu dekat, Tefan perlahan memiringkan kepalanya dan membenamkan bibirnya tepat di bibir Riana.
***
__ADS_1
Maaf baru bisa up. Hehe jangan lupa like dan komen ya