
"Yan, kita ketemu yah. Aku mau cerita sesuatu, penting. Menyangkut toko kamu."
Sebuah pesan singkat masuk di ponselku. Membuatku penasaran hal penting apa yang akan disampaikan Nina padaku.
Soal Toko? Apa dia sudah tahu siapa dalang di balik suplier yang tidak ingin lagi bekerjasama dengan tokoku?
Segera kubalas pesan Nina, aku sedikit cemas tapi masih berusaha untuk tidak terpengaruh oleh masalah ini.
"Ok. Kita ketemu di tempat biasa saat makan siang."
Mama melihatku temenung di meja makan, mungkin rasa penasaran membuatnya tidak tahan untuk bertanya.
"Sayang, ada apa?"
"Tidak ada apa-apa Ma, masalah toko tapi tidak usah khawatir."
"Ya sudah makan makanannya nanti keburu dingin."
Selesai sarapan aku pamit ke Mama dan Papa untuk langsung berangkat ke toko. Saat nyetir perasaanku masih kurang enak, menjadi tidak tenang dan seperti ada firasat buruk.
Aku tiba di toko tiga puluh menit kemudian. Semua karyawan sudah datang dan mengerjakan pekerjaan masing-masing.
Aku menyapa mereka satu persatu seperti biasa. Semuanya berjalan normal sampai salah satu karyawan masuk ke ruanganku dan memberi tahu sesuatu.
"Bu, tadi pagi saat aku baru sampai ke toko ada hal yang mencurigakan. Baru kali ini aku mendapati hal seperti ini." Mimik wajah karyawanku itu sangat serius dan aku jadi terbawa olehnya.
"Mencurigakan gimana?"
"Iyah Bu, jadi tadi sebelum buka toko ini ada mobil hitam di seberang jalan dan keliatannya mobil itu sangat mewah. Tidak lama kemudian kaca mobilnya ia turunkan dan mengamati sekitar toko ini. Karena takut terjadi apa-apa, aku memberi tahu Pak Satpam untuk tetap waspada."
__ADS_1
"Masa sih? Memangnya siapa?"
"Ya mana kutahu Bu. Ini aku sampaikan ke Ibu takutnya terjadi apa-apa nantinya. Apalagi saat orang itu mengamati sebentar, mobilnya langsung pergi begitu saja."
"Kalau begitu kamu tetap memantau keadaan toko sambil bekerja seperti biasa. Nanti aku bicara sama Pak Satpam untuk melaporkan apapun yang terlihat mencurigakan."
"Baik Bu."
Apalagi ini? Apa iya ada orang iri sama usaha yang kukembangkan ini dan berusaha menghancurkannya? Tapi siapa? Aku merasa tidak punya musuh di kota ini.
Berbagai pertanyaan mengaduk aduk isi kepalaku, hingga aku merasa pusing. Cobaan apa lagi ini Tuhan?
...
Tiba waktu jam makan siang, aku bergegas menemui Nina di restoran tempat kami sudah janjian. Rupanya dia sudah sampai lebih dulu, dress selutut yang dia pakai terasa pas di tubuhnya yang langsing. Dia tengah duduk dengan secangkir minuman di depannya.
"Hai sudah lama belum?" Sapaku, lalu duduk di kursi yang ada di depannya.
Kulihat dari raut wajahnya sepertinya bukan kabar baik yang akan aku dengar, tampak gelisah walau dia coba menenangkan dirinya sendiri.
"Ada apa? Kenapa tegang begitu?" Tanyaku setelah memesan beberapa makanan.
"Aku sudah tahu siapa di balik semuanya." Jawab Nina pasti.
Mendengar berita itu, aku jadi ikut tegang dan menantikan siapa pelaku utama dari masalah yang menimpa tokoku.
"Siapa?" Tanyaku gusar.
"Siapa lagi?"
__ADS_1
"Maksud kamu? Om Roy?"
Aku bertanya memastikan pada Nina. Saat Nina menganggukkan kepala di situlah aku merasa, isi kepalaku semakin sesak disusul hatiku yang ikut merasakan lemas karena nama orang menakutkan itu kembali mengusik kehidupanku.
"Tapi kenapa Nin? Bukankah aku tidak ada lagi hubungan dengan anaknya? Kenapa dia harus bersusah payah mencari tahu usaha yang kubangun dan sampai berniat menghancurkan semuanya?"
"Begitulah Om Roy. Dia tidak akan pernah puas jika melihat "musuhnya" bangkit dari keterpurukan, bagi dia itu sangat mengganggu."
"Ish! Sungguh aku tidak habis pikir. Pantas saja karyawanku bilang ada yang seperti memantau setiap aktifitas di tokoku. Ternyata tua bangka itu rupanya."
"Selanjutnya langkah apa yang akan kamu ambil Yan?"
"Biarkan saja dulu, aku mau tahu seberapa jauh dia ingin mengusikku. Jika sudah berlebihan maka aku juga tidak akan tinggal diam."
"Kalau saran dari aku, menghindari stok barang kamu di toko semakin berkurang, sebaiknya kamu gerak cepat untuk mencari suplier baru. Tentunya aku juga tidak akan tinggal diam, aku akan bantu kamu cari suplier yang tidak akan disentuh sama sekali sama Om Roy. Selain itu, sebaiknya kamu bikin desain produkmu sendiri, mengingat tokomu bukan lagi toko skala kecil tapi sudah menengah atau bahkan sudah skala besar."
"Aku sebenarnya sudah ada rencana ke situ. Belakangan ini juga aku sering ikut kursus desain dan mercoba merancang beberapa produk. Semoga masalah ini bisa teratasi dan akhirnya aku bisa menggunakan produkku sendiri."
"Yaps. Optimis. Kamu tidak boleh kalah. Anggap Om Roy ini adalah gangguan kecil dalam karir bisnis kamu."
Setelah berbicara banyak hal disambi dengan makan siang, aku dan Nina berpisah di restoran itu dan kembali ke tempat kerja masing-masing.
Sungguh aku tidak pernah membayangkan kebencian seperti apa yang sedang di pelihara orang tua Tefan sampai harus seperti ini. Bisa dibilang kebencian itu menurun juga padaku. Tidak lagi pada orang tuaku, sekarang akan kuhadapi orang ini dengan sepenuh kekuatan. Aku tidak boleh kalah.
Aku kembali ke toko menelpon beberapa suplier yang belum terkontak oleh Om Roy. Jika Om Roy bisa gerak cepat, kenapa aku tidak. Aku akan melangkah lebih cepat dari dia. Tunggu saja.
Akhirnya aku puas, aku telah menyelesaikan beberapa desain produk untuk tokoku nantinya. Mungkin sebelum produk ini diproduksi, sebaiknya aku minta saran atau kritik dari Nina terlebih dahulu. Karena Nina selalu punya ide jika itu menyangkut fashion.
Ada sekiitar 5-7 desain yang sudah kurampungkan, selanjutnya menunggu dikirim sekaligus menunggu respon Nina.
__ADS_1
Oh mengenai Tefan, apa kabar dia sekarang? Apa dia tahu kalau Papa dia saat ini sedang mengincarku? Kira-kira aa reaksi dia nantinya.
Bersambung.