
Koper sudah dimasukkan ke dalam mobil semua. Kembali Kiano harus berpindah rumah dengan Bundanya, tapi kali ini ke tempat yang lebih nyaman, layak dan tentu saja ada kolam renangnya seperti impian Kiano sebelumnya.
Riana berhenti tepat di depan tokonya, berbalik untuk melihat ke belakang. Ada sepotong hatinya yang tertinggal di sana. Ruko ini merupakan titik balik perjuangannya kala itu. Sempat terpuruk dan nyaris putus asa, sampai suatu ketika dia mendapatkan modal usaha dan bekerjasama dengan seorang pengusaha muda terkenal di Bali. Dia tak pernah tahu kalau sebenarnya orang itu adalah Tefan.
Tefan berjalan mendekatinya, menggenggam tangannya. "Tentu saja tempat ini memiliki banyak kenangan bukan? Rasanya aku memilikimu terlalu cepat setelah berjuang bertahun-tahun. Dan tempat ini adalah saksi kita bersama pada akhirnya."
Riana mengeratkan genggaman tangannya pada jemari Tefan. "Aku masih tidak menyangka hari ini untuk kesekian kalinya aku berpindah tempat. Kuharap kau adalah labuhan terakhirku."
Kemudian mereka berbalik lagi dan melambai pada Nadia yang masih melihat mereka menjauh.
"Papa Ganteng, aku mau berenang ya!"
"Oke sayang, sampai di rumah nanti kita langsung berenang."
"Memangnya kamu tidak ke kantor?"
"Aku ambil cuti, aku ingin menikmati setiap momen kebersamaan kita lebih lama dari selamanya sayang."
"Kita berenang bertiga ya, yeiyy!" Kiano berteriak girang di dalam mobil. Bahkan sampai melompat dari duduknya.
Riana terkekeh melihat tingkah Kiano. Dia begitu bahagia memiliki Papa baru. Tefan menatap Riana kilas, dis tersenyum seakan masih tak percaya wanita itu kini duduk di sisinya sebagai isterinya.
^^^Andai saja aku tak bodoh waktu itu, mungkin kita sudah memiliki banyak anak yang lucu Riana. Tapi karena kebodohanku juga kelemahanku, aku dan kamu harus terpisah untuk sementara waktu. Namun aku tak menyesal sekarang, bagaimanapun Tuhan selalu punya cara menyatukan hamba-Nya. ^^^
Mobil melaju dengan tenang di jalan beraspal. Membawa hati mereka yang membuncah karena rasa hangat dan bahagia.
***
Byuurrr ...
Kiano melompat turun ke kolam renang. Dia pandai sekali berenang. Sangat menyukai olahraga itu sampai dia kerap terbawa mimpi. Haha.
"Papa Ganteng, ayo lompat!"
Tanpa tunggu waktu lama lagi, Tefan segera melompat dan Kiano pun tertawa senang. Riana menunggu mereka di pinggir kolam, dia tak berminat sama sekali. Hanya kakinya yang dia turunkan menyentuh air di kolam renang.
__ADS_1
Air bergerak-gerak sesuai irama gerakan Tefan dan Kiano yang berlomba berenang. Terkadang terdengar cekikikan panjang dari Tefan karena berhasil mengalahkan Kiano sampai di ujung kolam renang.
"Pa, kerjain Bunda yuk!" bisik Kiano pada Tefan.
"Ayok! Gimana, gimana caranya?"
"Papa tarik aja Bunda turun ke kolam renang. Tapi hati-hati ya Pa, Bunda itu nggak bisa berenang jadi harus dituntun. Papa jadi pelatih Bunda aja sekalian."
"Ide bagus. Hayuk!"
Mereka berdua pun segera menepi ke tepi kolam. Mendekati Riana yang sedang menikmati gerakan air menyentuh kakinya. Lalu sekali tarikan, Riana sudah nyebut ke kolam renang yang langsung disambut tawa oleh Kiano dan Tefan.
"Uhug ... uhug ...!" Riana terbatuk karena saat ditarik dia sempat tenggelam dan terpaksa meminum sedikit air dari kolam itu.
"Kalian berdua ngerjain Bunda ya?" protesnya dengan wajah panik.
"Hehe, sayang kamu juga harus ikut berenang. Nanti aku ajarin gimana caranya, masa kalah sama Kiano sih."
Riana masih bergelayut di leher Tefan karena takut tenggelam. "Ini bukan persoalan kalah atau enggak, masalahnya adalah aku takut kedalaman air sayang."
"Iya Bunda, kalau nggak belajar kapan bisanya. Mumpung ada Papa Ganteng, sekalian aja Bunda belajarnya."
"Tuh, Kiano aja paham."
"Terserah, pokoknya kalau sampai aku tenggelam, kalian berdua aku hukum."
"Oke, kamu pegangan di tangan aku sayang. Kamu buat badan kamu mengapung nanti biar aku yang topang tubuh kamu biar gak tenggelam."
Riana mencoba namun dia kesulitan. "Duh, ribet ih. Aku mau naik aja, nggak mau berenang lagi. Kalian aja yang berenang, aku mending masak."
"Sayang, coba dulu!"
"Nggak. Fan, anterin aku ke pinggir kolam."
Akhirnya Tefan ngalah dan mengantar Riana ke pinggir kolam. Riana pun meraih tangga kolam renang dan naik melalui tangga tersebut. Namun sebelumnya Tefan, berbisik di telinga Riana.
__ADS_1
"Tunggu aku di kamar mandi, sayang." Alis Riana langsung melengkung dan pupil matanya membesar sambil menatap Tefan.
"Nakal!"
"Haha, tunggu aku! Sebentar lagi aku menyusul sayang...." teriak Tefan.
Riana meloyor pergi begitu saja tak peduli dengan teriakan Tefan yang serupa dengungan lebah di telinganya.
Setelah berenang cukup lama, mereka pun naik dari kolam renang dan memakai handuk. Masuk ke dalam rumah untuk bilas diri di kamar mandi.
Kiano digendong Tefan, diantar ke kamarnya kemudian Tefan sendiri berjinjit menuju kamar pribadinya dan Riana.
Sampai di kamar, dia melihat Riana sedang duduk depan cermin. Seraya menyisiri rambutnya yang basah. Tefan berhenti sebentar untuk memberikan kecupan di pipi Riana.
"Sayang, kiss!" pinta Tefan.
"Fan ... kamu tuh basah. Masuk sana, bilas diri kamu."
"Kiss dulu!" Tefan masih bersikeras.
"Nggak ada."
"Aku nggak mau masuk kamar mandi."
"Ya ampun, kamu tuh bukan anak kecil lagi Fan."
"Makanya kiss dulu." Tefan sudah seperti anak kecil memonyongkan bibirnya untuk dicium. Tingkahnya sungguh kekanankan. Meski begitu, Riana menuruti juga permintaannya.
"Mmuaachh ...."
"Sana pergi! Udah kan."
"Nanti malam aku minta jatah. Haha."
Tefan segera berlari ke kamar mandi. Riana hanya bisa gelengkan kepala. "Perasaan dulu dia tak bertingkah tengil seperti ini deh, kok bisa-bisanya dia jadi kayak anak remaja tanggung yang baru jatuh cinta. Heran." Komentar Riana mendapati tingkah suaminya itu.
__ADS_1