Complicated Love #2

Complicated Love #2
CL - 25. Aroma Perjodohan


__ADS_3

1 Tahun Kemudian


Toko Fashion yang kubangun berkembang pesat dan telah memiliki beberapa cabang di beberapa tempat. Papa dan Mama terus hidup lebih baik dan aku merasa bangga karena telah membuat mereka tersenyum bahagia. Kecuali satu hal, mereka terus saja merongrong aku agar segera mencari pasangan dan menikah.


Agaknya mereka tidak sada, hubungan seperti apa yang dulu kujalani bersama Tefan. Bahkan kesucian yang harusnya kujaga baik-baik dan hanya kuberikan untuk laki-laki yang menjadi suamiku juga telah direnggut oleh Tefan. Mengingat semua itu membuat hatiku ngilu jika harus memikirkan pernikahan.


Meski aku tak pernah bertemu Tefan tapi bukan berarti kenangan bersamanya menguap begitu saja. Terkadang aku juga merindukan dia dalam hening di malam sepi. Saat aku sedang lelah dengan pekerjaan dan pertanyaan. Aku tidak bisa menutupi perasaan itu. Hanya di depan Papa dan Mama aku berusaha untuk santai dan menunjukkan sisi terbaikku bahwa aku benar-benar telah melupakan Tefan.


Di tengah lamunanku akan Tefan, aku dikejutkan dengan kedatangan Mama yang begitu tiba-tiba. Entah angin apa yang membawa dia sampai di toko ini. Mudah-mudahan bukan hal yang sangat mendesak.


"Mama!" Seruku, "ada apa?"


"Tidak ada sayang, Mama hanya ingin mampir sebentar melihat-lihat. Sekalian mengajak Ibu Vera datang ke sini, dia penasaran sama kamu katanya."


Hmm... ada apa ini? Tidak biasanya Mama seperti ini. Aku mencium aroma konspirasi di antara dua orangtua yang tengah berdiri di hadapanku kini.


"Hai Nak Riana, senang bertemu denganmu. Mama kamu sudah cerita banyak perihal dirimu. Salam kenal dari tante."


"Salam kenal Tante. Iyah Riana juga senang bertemu dengan Tante. Mari melihat-lihat."


Aku ajak Mama dan Tante Vera melihat-lihat pakaian di toko. Aku berusaha melayani mereka sepenuh hati, ikut berbicara atau nimbrung jika dibutuhkan dan memilihi banyak diam selebihnya.


Setelah puas melihat-lihat Mama mengajak aku untuk ikut makan siang bersama mereka. Aku segan untuk menolak, akupun ikut mereka dan menjadi supir pribadi mereka untuk sementara karena tidak mungkin aku membiarkan tante Vera yang menyetir. Itu kurang sopan.


Akhirnya lima belas menit kemudian tiba di salah satu restoran yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tokoku. Mama dan tante Vera mulai memesan, aku hanya memesan jus mengingat aku masih kenyang.


Tidak menunggu lama setelah memesan, hidanganpun datang dan mengisi seluruh tempat di atas meja. Demi apa aku terjebak bersama dua Ibu-Ibu di depanku ini yang sedari tadi hanya sibuk ngobrol berdua. Aku baru tahu kalau Tante Vera ini adalah sahabat Mama sejak SMA, itu pun diberi tahu tadi saat di mobil. Pantas saja mereka sibuk ngobrol dan tidak menghiraukan sekitar.


"Nak Riana sudah punya calon belum?"


Glek


Aku nyaris tersedak saat mendengar pertanyaan itu karena posisiku sedang minum jus alpukat yang tadi kupesan. Tiba-tiba semuanya terasa hambar.


Duh apalagi ini? Bathinku mulai bertanya-tanya.


"Ee-- Belum tante." Jawabku pendek.

__ADS_1


"Wah bagus sekali. Kamu kok tidak bilang sih kalo Riana belum punya calon."


Tante Vera mendelik ke Mama. Aku jadi penasaran apa maksud dari perkataan Tante Vera barusan. Kayaknya bakal ada aroma perjodohan kalau begini.


"Lah kamu gak nanya. Emang kamu punya calon?" Jawab Mama yang dibalas pertanyaan. Aku semakin deg degan rasanya. Dua orangtua di depanku ini membuatku seperti kena serangan jantung tiba-tiba.


"Aku punya dua anak, satu perempuan dan satu laki-laki. Yang perempuan namanya Sarah sudah menikah. Kakaknya yang laki-laki namanya Saka, sepantaran dengan Riana."


Aroma perjodohan semakin tercium jelas. Aku terjebak.


"Wah kebetulan sekali. Saka kerja di mana?" Tanya Mama antusias.


"Dia ada usaha sendiri, bergerak di bidang makanan. Dia jago masak." Tante Vera tersenyum ke arahku seperti menggodaku dan mengisyaratkan Hei nona kamu tidak usah takut kelaparan jika bersama anakku, kamu bisa makan apapun yang kamu mau.


"Jadi dia punya restoran sendiri?" Sambung Mama lebih antusias dari sebelumnya.


Aku semakin gusar di tempatku dan akhirnya meminta izin ke toilet sebentar.


Tenang Riana, ini hanya semacam perjodohan. Lagi pula apa ada yang salah?


Berkali-kali aku menenangkan diri sekaligus merutuk diri. Bukannya tidak mau dijodohkan, aku hanya belum siap jika harus menikah. Hhh.


"Iya halo. Oh oke tunggu sebentar aku segera ke sana."


Aku menatap Mama dan Tante Vera sebentar, apa tidak apa-apa jika meninggalkan mereka?


"Ma, masih lama tidak? Karyawan aku telpon dan meminta aku segera ke sana. Ada sedikit insiden yang terjadi."


"Kalau begitu ayo kita pulang. Mama dan Tante Vera juga sudah selesai dengan makanan ini."


Syukurlah.


"Riana, maafin Tante yah sudah merepotkan begini."


"Tidak apa-apa Tante. Lagi pula ini hanya makan siang."


"Kapan-kapan kita ketemu lagi. Atau tante dan Saka yang ke rumahmu."

__ADS_1


"Baik Tante."


----


Masih dengan perasaan kalut menghadapi usaha perjodohan yang dilakukan Mama dan Tante Vera. Namun terbesit juga sedikit penasaran seperti apa wajah anak Tante Vera yang bernama Saka itu. Serta sejago apa dia memasak.


Dengan cepat aku masuk ke toko dan ke ruanganku. Aku menghubungi karyawan yang tadi menelponku dan meminta penjelasan apa yang terjadi di toko setengah jam yang lalu.


"Anu Bu, itu. Ee--


"Katakan yang benar."


"Stok yang kita pesan ke suplier banyak yang dibatalkan."


"Kok bisa?"


"Aku juga tidak tahu Bu, tiba-tiba semua suplier menghubungi dan membatalkan semua pesanan kita secara sepihak."


"Baiklah. Kamu kembali bekerja seperti biasa. Biar aku yang mengurusnya."


Akhirnya aku kembali menghubungi semua suplier yang dimaksud karyawanku. Semuanya memang menolak bekerjasama. Aku bingung dengan semua kejadian yang begitu mendadak ini. Siapa dalang di balik semuanya? Tentu ada orang yang tidak suka dengan karirku sekarang. Apalagi alasan yang dibuat para suplier itu terlalu mengada-ngada dan tidak jelas.


Aku hubungi Nina dan menjelaskan perkara sebenarnya ke dia. Nina sendiri kaget dengan semua cerita itu.


"Iyah Nin, aku saja kaget karena ini begitu mendadak. Padahal kerjasama sebelumnya juga baik-baik saja. Tidak pernah ada kesalahan."


"Aku coba telusuri masalah ini dulu. Aku akan cari tahu ke teman-teman suplier dan menanyakan masalah sebenarnya."


"Trimakasih ya Nin. Maaf sudah merepotkan kamu lagi."


"Tidak Yan, jangan sungkan. Kita kayak baru kenal saja. Tunggu kabar dari aku."


"Baiklah."


.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2