
Ada bagian dari hatiku yang mendadak ngilu. Terasa perih. Melihatmu menggandeng wanita lain di depan mataku. Tapi bukan salahmu, karena aku tak ada di kepalamu apalagi di hatimu. -- Riana
...
Semua orang di sana tertegun tak percaya. Mata Riana tertumbuk pada sosok orang yang selama ini sangat dirindukannya hadir menemani hari-harinya. Kiano menarik tangan bundanya, "Bunda, mereka siapa?" Seakan tahu ada perubahan sikap dari Bundanya.
*Anak itu, anak yang mirip sekali dengan anak yang sering muncul di dalam mimpiku. Apa mimpi bisa begitu nyata? -- Raka. *
Riana menarik Kiano, anak itu memeluk pinggang bundanya seakan tahu bahwa bundanya sedang gundah. Di saat bersamaan, Tefan datang tepat waktu. Tanpa basa basi, dia mendekati Riana dan merangkul bahu perempuan itu. Kiano terlihat senang melihat Tefan datang, anak itu berpindah memegang tangan Tefan.
"Wah ramai sekali ternyata, ada apa ini?" tanya Tefan pura-pura tidak mengetahui situasi sekarang.
Dia menggenggam erat tangan Riana, seakan berkata 'kuatlah Riana, demi Kiano.'
"Bapak, bukannya pemilik resort yang kami sewa ya?" tanya Sheril.
"Benar, Mba. Wah, belanja di sini ya? Ini toko perhiasan isteri saya yang dikelola sendiri olehnya. Silahkan memilih beberapa untuk souvenir!"
Riana menyorot mata Tefan, pria itu malah tersenyum padanya seiring semakin eratnya tangan dia menggenggam jemari Riana.
"Jadi ini toko isteri, Bapak? Woah, benar-benar luar biasa, suami isteri adalah pebisnis yang sukses. Duh ... siapa si ganteng yang satu ini?"
"Anak kami!" jawab Tefan singkat. Dia mengambil alih semua percakapan. Tujuannya untuk mencari tahu respon dari Raka.
Rupanya pria itu biasa saja. Tak ada yang berubah dari ekspresinya. Dia benar-benar tak ingat apapun, baik Riana yang jelas-jelas isterinya atau Tefan yang merupakan saingannya dalam menaklukkan hati Riana.
"Sayang, lucu ya?" Sheril meminta persetujuan pada Raka saat melihat wajah Kiano yang menggemaskan.
"Boleh, om kenalan?" Raka tiba-tiba bertanya dan jongkok untuk menyeimbangkan tingginya dengan tinggi Kiano.
__ADS_1
"Boleh. Namaku Kiano, Om."
"Panggil saja Om Raka."
Siapapun yang melihat pemangangan ini, akan terenyuh di menit di mana Raka membingkai wajah Kiano dan bilang "Boleh Om memeluk kamu sebentar saja?" Kiano hanya mengangguk karena memang anak kecil itu tak tahu apapun.
Raka seperti terikat batin dengan Kiano.
*Mengapa ketika memeluk anak ini, rasanya hatiku menghangat dan seperti sudah lama menantikan momen ini. Tidak mungkin kan seorang anak yang kerap datang dalam mimpi kini tiba-tiba mewujud nyata dan sedan kupeluk saat ini? *
"Kenapa Om nangis?" tanya Kiano dengan caranya yang menggemaskan, dia menghapus air mata yang tiba-tiba menetes di wajah Raka.
"Om sepertinya kelilipan. Hehe."
Raka kemudian berdiri. Riana yang melihat peristiwa itu berbalik dan membenamkan wajahnya di bahu Tefan. Tefan hanya bisa mengusap pelan bahu Riana yang perlahan bergerak menahan isak.
*Kasian Kak Saka, harusnya sejak awal aku membantu dia mengingat semuanya. Bukannya ikut mendukung dia dan Sheril selama ini. Padahal wanita itulah yang jahat, meninggalkan Kak Saka demi seorang lelaki tak bertanggung jawab. Sekarang bagaimana? Mungkin sudah takdirnya, mereka harus berpisah dengan cara seperti itu. Tapi aku lihat wajah Kak Riana seperti sangat memilukan. Aku tak tega melihatnya. *
Situasi itu, seperti reuni. Pertemuan keluarga yang tak disengaja.
"Eh kenapa kok jadi pada diam si?" tanya Sheril memecah suasana.
Wanita itu tak pernah tahu, jika Raka sudah pernah menikah, punya anak dan sekarang dia berhadapan dengan isteri dan anak dari Raka yang menjadi suaminya saat ini.
Setelah suasana canggung itu reda, akhirnya Riana dapat mengontrol emosinya kembali. Tefan tetap berada di sisinya. Membantunya melewati hari ini, karena dia tahu Riana sekalipun mandiri dia sama seperti wanita lainnya, rapuh.
Sejak tadi Raka kelihatan tidak fokus. Sedikit, sedikit harus menoleh ke arah Riana dan Tefan yang ngobrol sambil tertawa.
Perasaan macam apa ini namanya, aku tidak mengenal pasangan di depanku ini, namun tiap kali mereka tertawa, saling menyentuh, rasanya dadaku sesak dan nafasku hendak lepas. Ada perasaan cemburu yang aku tidak tahu datang dari mana.
__ADS_1
"Emm ... sudah selesai milih-milihnya?" Raka berdiri dari duduknya dan menyentuh kedua bahu Sheril yang sedang memilih aksesoris berupa kalung.
"Kamu mau yang ini?" tanyanya lagi.
Sheril mengangguk. "Ya sudah, ambil saja." Raka tersenyum ke arah Sheril. Senyum yang sesungguhnya hanya untuk mengalihkan perhatiannya dari Riana dan Tefan yang saat ini tengah bermain bersama Kiano.
Mama Raka menghampiri mereka, "Bisa bicara sebentar?" tanyanya pada Riana.
"Maaf, Ma. Aku rasa tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Keputusanku tetap sama, Kiano tetap bersamaku. Mengenai Papa Kiano, biarkan dia hanya memiliki kenangan bahwa Papanya sudah meninggal dan sedang mengawasinya dari surga. Sama halnya dia yang tak lagi memiliki kenangan atau ingatan tentang kami berdua. Seperti ucapan Mama tadi, hidup masing-masing."
"Riana ... bagaimana pun Kiano anak Saka dan aku Omanya. Suatu saat Kiano pasti bertanya ke mana Papanya? Atau Saka akan mengingat lagi masa lalunya."
"Harusnya Mama sudah memikirkannya, jauh sebelum Mama menyembunyikan apapun dari aku dan Kiano terkait Saka. Juga jauh sebelum Mama menikahkan Saka dengan mantan kekasihnya!" jelas Riana tak peduli lagi dengan perasaan mertuanya itu.
"Tante, tolong biarkan kami bahagia dan memiliki keluarga kecil kami. Aku akan jadi orangtua yang baik buat Kiano. Akan menjaga dan melindungi Kiano seperti anak sendiri. Jadi Tante tidak perlu khawatir sama sekali." Tefan menimpali dengan tegas ucapan Mama Saka.
"Baiklah! Tapi untuk Kiano aku tidak akan menyerah!" jawabnya ketus masih berharap bisa mengambil Kiano dari Riana.
Tefan mengusap bahu Riana. Menghibur wanita itu agar tidak terlalu memikirkan ucapan mantan mertuanya tadi. Mereka semua sudah pergi, saat terakhir Raka sempat menoleh ke arah Riana, Kiano dan Tefan. Merasa ganjil dengan atmosfir tadi.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Tefan menatap Riana lembut.
Riana hanya mengangguk. Tefan menarik tubuh Riana ke dalam pelukannya. Mendekapnya sangat erat dan menciumi puncak kepala Riana.
"Tenang saja, tidak ada yang boleh mengambil Kiano dari kamu. Nyawaku taruhannya Riana. Aku jamin itu. Kiano akan selalu bersama-sama kita."
"Fan ... terimakasih!" ucap Riana lirih.
Setengah hatiku di bawa pergi olehnya, namun setengahnya lagi bersama Tefan di sini. Perubahan Tefan, membuatku luluh. Dia menjadi sangat lembut dan bertanggungjawab. Itu sebabnya, aku pun tidak ingin meninggalkannya untuk seseorang yang bahkan tak mengingatku sama sekali. Biarlah aku tetap menganggap bahwa Saka sudah meninggal. Aku bahkan tak bisa menangisinya lagi.
__ADS_1