Complicated Love #2

Complicated Love #2
Musim Kedua: Disiram Kopi Panas


__ADS_3

Riana mencuci wajah di wastafel, menatap wajahnya sendiri di cermin. Berpikir sebentar mengenai hubungan dia dan Tefan yang belakangan ini semakin intens. Apa jadinya jika mereka benar-benar menikah nanti.


Ada dua hal yang menjadi pertimbangan Riana saat ini. Tefan belum terbebas dari masalah perempuan. Kedua, perempuan itu juga mengancam nyawa anaknya. Sehingga dia harus memilih apakah menerima tawaran Tefan menikah atau Kiano bisa saja menjadi korban atas apa yang dia sebut dengan perjuangan cinta.


Sekali lagi dia menyiram air ke wajahnya. Kemudian mengambil handuk untuk menyeka air yang masih tersisa. Baru akan berbaring, ponsel Riana bergetar.


Tefan


Nama itu tertulis jelas di layar ponselnya. Dia mengusap layar ponselnya untuk mengangkat telepon.


"Belum tidur?" tanya Tefan suaranya terdengar masih segar.


"Belum. Kalau tidur mana mungkin bisa terima telpon kamu, Fan."


"Kenapa belum tidur? Mikirin aku ya?" ucap dia cengengesan di balik telepon.


"Jangan kegeeran. Ada loh orang meninggal karena terlalu Ge Er."


"Dish, apaan. Kamu mau aku mati nih ceritanya?"


"Nggaklah. Kamu ih, udah tua juga masih aja suka bercandanya sama nyawa."


"Siapa yang mulai duluan coba?"


"Aku."


"Tuh kan ngaku."


"Ish ... nyebelin."


"Ri ... soal yang kita bicarakan tadi di rumah kamu. Jangan terlalu dipikirkan ya. Aku tidak mau itu justru membebani kamu."


"Iya tidak apa-apa. Kiano akhir-akhir ini memang sering banget ngomong soal Papa, papa dan papa. Jujur sih aku kasian sama anak itu. Mungkin sering kena bully di sekolahnya. Hanya saja, aku tidak bisa memutuskan begitu saja."


"Aku mengerti tidak usah dijelaskan lagi. Mengenai Femi, apa dia masih sering meneror kamu?"


"Masih. Kali ini dia menggunakan Kiano untuk mengancamku. Aku itu tidak masalah jika dia menyerangku, tapi ketika dia berani memasukkan Kiano dalam masalah kita maka sama saja dia cari masalah sama aku. Hal itu nggak mungkin aku biarin terjadi. Karena itu besok mungkin aku akan menemui dia, di manapun dia mau bertemu."


"Ri ... jangan Ri. Biar aku saja yang bicara sama dia."


"Jangan, Fan. Aku ingin ketemu langsung sama orangnya. Dia harus tahu berhadapan dengan siapa. Aku juga harus tahu, aku berhadapan dengan siapa. Biar tahu lawannya kuat atau nggak."


"Kamu ini masih keras kepala saja ya."

__ADS_1


"Fan ... ingat aku nggak pernah berubah. Dari dulu, saat kita masih piyik aku sudah begini. Jadi jangan sok heran begitu deh."


"Ha ... ha ... ha ... Iyah, Iyah. Emm ... aku boleh tahu perasaan kamu ke aku Ri?"


"..."


Riana terdiam. Dia tidak tahu mesti jawab apa. Sampai Tefan bicara lagi, Riana masih saja diam.


"Ya sudah tidak usah dijawab jika pertanyaan itu terlalu sulit untukmu."


"Harus di telepon ya?"


"Memangnya di mana?"


"Kamu selalu aja nggak pernah berubah. Ngaku pria romantis tapi masih saja nembak perempuan lewat telepon. Gimana si."


"Ya sudah, aku jemput kamu malam Minggu nanti."


Klik.


Belum sempat dijawab lagi oleh Riana, telepon itu sudah terputus.


"Dih, apaan si gak jelas gini?" omel Riana seraya menatap ponselnya.


Ting!


"Sudah sana tidur, jangan mikirin aku mulu. Malu sama umur."


Riana senyum-senyum sendiri sambil meletakkan ponselnya di meja nakas dan menarik selimut untuk segera tidur.


Ting!


Ponsel Riana kembali menerima notif pesan.


Muachh ...


Katanya kecupan sebelum tidur, bisa membuat kita bermimpi indah dengan orang yang kita cinta.


Gud nite.


Riana tersenyum lagi kemudian ponsel itu dia matikan. Kalau meladeni Tefan, sampai pagi juga tidak akan kelar.


***

__ADS_1


Tefan sudah berdiri santai di samping mobilnya ketika Riana keluar bersama Kiano. Anak itu segera berlari ke arah Tefan begitu melihat sosok tinggi dan maskulin itu.


Hari ini dia mengenakan kemeja putih, sangat jelas bahwa kemeja itu tidak bisa menyamarkan bentuk tubuhnya yang merupakan idaman para wanita. Riana tersenyum kilas pada Tefan yang baru saja mengacak rambut Kiano seperti orang yang gemas pada anaknya sendiri.


Perlakuan Tefan yang seperti itu, kerap kali membuat Kiano merasa kehilangan jika dia tak diantar atau dijemput oleh Tefan. Padahal pria itu sebenarnya juga banyak pekerjaan. Namun dia selalu meluangkan waktu untuk Riana dan Kiano.


Di seberang jalan, seorang wanita berdiri kaku menatap marah ke arah mereka. Jelas-jelas pemandangan yang dilihatnya itu sangat menyakitkan mata bagi orang yang sedang cemburu. Femy masuk ke dalam mobilnya begitu melihat mobil Tefan berjalan melewatinya.


Wanita itu sepertinya mengikuti mereka sampai ke sekolah Kiano. Lalu kembali mengikuti Tefan yang sedang bersama Riana. Tidak lama setelah itu, mobil Tefan berhenti di salah satu coffe shop pinggir pantai yang ramai dikunjungi orang saat pagi hari untuk coffee time.


Terlihat Riana dan Tefan turun dan masuk ke coffe shop. Menyusul Femi yang sengaja menyamarkan kehadirannya dengan memakai kacamata hitam dan topi untuk menutupi wajahnya.


Dia duduk tak jauh dari Tefan dan Riana. Keduanya tengah saling membalas senyum. Wajah mereka yang memancarkan aura bahagia membuat Femi semakin geram ingin melabrak Riana.


Tatkala Tefan sudah menggenggam jemari Riana. Femi dengan kendali emosi yang tak bisa dikontrol lagi segera berdiri dari duduknya dan mendatangi mereka.


Byuurrr ...


Satu gelas kopi panas mengenai tangan Riana dan juga Tefan. Untung saja Femi bukan menyiram Riana di bagian wajah. Jika iya, tidak tahu lagi wajah Riana akan terbakar tentunya.


"Awwwh ..." teriak Riana dan Tefan hampir bersamaan.


Kedua orang itu mengibas-ibaskan tangannya karena kepanasan. Mereka lantas menjadi pusat perhatian.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Tefan cemas yang melihat ekspresi Riana seperti hendak menangis.


Tefan menatap geram ke arah Femi. Dia mencengkram lengan wanita itu dengan kuat.


"Kesabaranku benar-benar sudah habis, Fem. Lihat apa yang kamu lakukan! Dasar wanita tidak tahu diri!" umpat Tefan kesal lalu menarik Riana untuk pergi dari sana.


Tangan mereka harus segera mendapatkan pertolongan. Di dalam mobil Riana memegangi tangannya yang memerah dan bengkak akibat kena siraman kopi panas tadi. Tefan cukup bisa menahan perihnya karena porsi Riana terkena siraman lebih banyak daripada dirinya.


Dia menyetir dengan cepat ke rumah sakit.


"Fan, hati-hati jangan ngebut ah. Nanti terjadi apa-apa!" sergah Riana mengingatkan Tefan.


Alih-alih melambat, Tefan malah menambah kecepatan mobilnya. Dia sangat marah tentu saja. Lalu beberapa menit kemudian, mereka sudah tiba di rumah sakit.


Mereka berdua segera ditangani. Diberi obat oles dan tentu saja diresepkan beberapa obat agar ketika tangannya semakin membengkak maka tidak akan terasa terlalu nyeri.


"Wanita itu sudah keterlaluan! Aku harus memberinya pelajaran!" ucap Tefan yang masih kesal Riana mendapat serangan dari Femi.


"Fan ... kamu yakin hubungan kita akan mulus? Aku tidak mau mengulang perisitiwa yang sama untuk kedua kalinya." Riana berucap lirih.

__ADS_1


"Maafkan aku Riana, selalu membawa dirimu ke dalam masalah."


Pria itu menatap Riana lembut. Riana memalingkan wajahnya karena tak mau melihat wajah Tefan yang lebih mirip memohon padanya.


__ADS_2