
Terkadang kita terlalu yakin bahwa jodoh kita adalah orang yang saat ini sedang bersama kita. Padahal kita tak pernah tahu, rencana Tuhan selalu punya kehendak atas setiap persoalan hidup hamba-Nya. Hingga aku sampai pada titik, bahwa kuserahkan setiap persoalanku kepada Tuhan dan berkata 'Terserah apa mau Tuhan saja'. Aku akhirnya yakin, bahwa jodoh, maut, harta hanyalah hadiah dan biarkan Tuhan memilihkan hadiah terbaik untuk kita.
***
Angin bertiup agak kencang, membuat rambutku berkecipak mengikuti arah ke mana dia bertiup. Aku sedang berdiri di sebuah pantai nan biru, pasirnya putih, ombaknya berbuih, sesekali bergulung dan menghempaskan diri ke bebatuan. Sudah lama sekali, aku tak tahu kapan terakhir kali aku merasakan perasaan begitu damai seperti sekarang.
Air laut membentang luas, berpadu biru dengan warna langit. Sekelompok awan bergerak, dan burung elang laut yang sesekali kmenukik ke permukaan air laut, memangsa ikan lalu terbang entah kemana. Aku menikmati segala karunia Tuhan yang teramat indah ini. Termasuk satu yang paling indah, seorang lelaki dengan lengan kekarnya melingkar di pinggangku. Sedang dagunya bertopang ke bahuku, bermanja seperti anak kecil pada Ibunya. Tapi tentu aku bukan ibunya, aku adalah isteri yang merasa beruntung telah dipilih olehnya, dan tentu saja pilihan terbaik dari Tuhan.
Sesekali dia menggodaku dengan memainkan kupingku dan berbisik, "Mengapa kita hanya berdiri di sini? Bukankah lebih baik berdiam di kamar?" Yang aku yakini maksud berdiam diri itu bukanlah maksud yang sebenarnya.
"Tunggulah sebentar, aku hanya ingin menikmati keindahan ini." Ucapku seraya masih lekat memandangi laut lepas dan segala yang tersaji di depanku.
"Sayang, di sini mulai panas. Apa kamu tidak takut kulitmu gosong? Bukankah seorang wanita sangat menjaga kebersihan dan warna kulitnya?"
"Sejak kapan kamu begitu peduli soal warna kulit?"
"Sejak kamu bandel tidak mau aku ajak masuk ke villa. Sayang, ayo!" Ulasnya mulai memaksa. Padahal aku tahu maksud terselubung di balik semua ucapannya itu.
"Lima menit."
"Tidak, aku mau sekarang!"
Lalu--
__ADS_1
"Arghh Saka, turunin....!"
Saka malah membopong aku sambil berlari seperti tak membawa beban apapun. Aku jadi berpikir, apa aku benar seringan itu? Aku berusaha memukul-mukul punggung belakang Saka tapi dia bergeming dan terus berlari masuk ke dalam Villa. Aku terkekeh di buatnya.
Dia meletakkanku di atas kasur dan mulai memasang wajah seperti bertanya "Apa kau siap sayang?"
Hingga aku tak bisa menahan tawa dan terus tertawa, hingga tawa itu menjadi senyap begitu bibirnya telah mengunci bibirku. Benar-benar bukan laki-laki yang penyabar.
Saka terus menciumiku, aku merespon ciumannya sedikit kewalahan karena dia bermain sangat cepat. Belum apa-apa, lidahnya sudah menjelajah ke dalam rongga mulutku. Hingga sulit sekali bagiku mendapatkan udara. Bunyi decapan terus terdengar, dia mencecap setiap inchi bibirku. Menautkan lidahnya hingga aku nyaris tercekat.
Setelah bermain cukup lama di area bibir, dia melepaskan bibirnya dari bibirku. Aku pun bisa bernafas lega, dan sedikit menghirup udara. Bagaimana bisa dia sampai bernafsu begini? batinku.
"Bibir kamu selalu terasa manis Riana, hingga terasa seperti candu yang memabukkan. Membuatku ingin lagi dan lagi. Sekarang bolehkah?"
Saka terkekeh karena gemas melihat tingkahku. Tanpa aba-aba dia kembali menyerangku, sekarang dia mulai menjelajahi leherku. Meninggalkan beberapa jejak merah dan terus turun ke area dada, membuatku semakin tak bisa untuk tidak mendesah. Setiap sentuhannya selalu membuatku melayang dan terus meracau. Dia bermain di area dada hingga tangannya ikut bergerilya. Argh... aku seakan mau meledak dibuatnya.
Saka yang sudah tak sabar langsung ke inti, begitu denganku yang telah meminta lebih dari sekedar sentuhan. Perlahan kami menyatu dan Saka bergerak perlahan. Dia memperlakukanku sangat lembut, meski pada akhirnya dia melakukan hal itu semakin cepat dan membuatku kelelahan karena harus mengimbanginya.
Proses penyatuan terus berlangsung hingga matahari semakin tinggi. Jadi percuma saja jika dia mengatakan bahwa 'berdiam diri' karena jika sudah berduaan seperti ini mana mungkin dia hanya akan diam saja. Dia akan memakanku seolah aku ini makanan terlezat yang pernah dia temui.
Aku masih tertidur di kasur saat dia sudah selesai membersihkan diri dan keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk sepinggang. Memperlihatkan roti sobeknya yang bikin aku semakin menelan ludah. Huh dia terlalu menggoda untuk dilewatkan. Lalu apa bedanya aku sama dia? Hehe.
Saka melanjutkan aktifitasnya dengan memasak makan siang, sementara aku sedang membersihkan diri di kamar mandi. Aroma makanannya mulai menguar dari arah dapur, sepertinya enak sekali. Aku jadi bertanya-tanya dari mana dia mendapatkan semua bahan memasak siang ini? Bukankah semalam kita baru saja tiba di pulau ini, kemudian paginya kita berdua hanya menikmati pantai lalu kembali ke villa dan yah kalian tahu sendiri apa yang terjadi berikutnya. Terus kapan dia mempersiapkan semua bahan itu? Tapi biar saja, apa peduliku dengan bahan-bahan itu yang penting hari ini aku bisa makan enak buatan Chef Saka, suamiku.
__ADS_1
"Sayang, sepertinya enak sekali. Ngomong-ngomong dari mana kamu dapat semua bahan-bahan ini?"
"Rahasia."
"Dih!"
"Aku sengaja meminta salah satu karyawan restoran untuk ikut dan menyiapkan bahan-bahan ini begitu kita tiba di pulau ini. Dia asli orang sini, makanya semua bahan segar ini tersedia banyak di kulkas."
"Sekarang di mana orangnya?"
"Ya di rumahnya. Masa iya harus tinggal bersama kita di Villa sayang."
"Hehe. Udah masak belum? Lapar. Kamu membuatku sangat lapar tadi. Huh."
"Sabar sayangku, sebentar lagi. Tinggal diangkat lali dihidangkan."
Tak lama kemudian semua makanan sudah tersaji di meja. Aku membantu seadanya, karena dia sama sekali tidak membiarkan aku turun ke dapur. Katanya selama bulan madu, dia yang akan melayani aku seperti pelayanan hotel bintang lima. Asal, aku juga melayani dia seperti pelayanan hotel bintang tujuh. Dia menang banyak tentunya.
Selesai makan, Saka mengajakku jalan-jalan ke sekitar pulau. Katanya ada banyak pusat perbelanjaan yang menyediakan barang-barang kerajinan tangan khas pulau itu. Selain itu, dia juga mau mendatangi beberapa restoran atau tempat makan yang termasuk dalam list kunjungannya karena cinta rasa masakan lokalnya yang begitu memikat lidah.
Sepanjang perjalanan keluar Villa, Saka terus menggandeng tanganku, tak dibiarkan lepas walau sebentar. Dia lucu sekali, padahal aku tak akan lari ke mana. Aku bahagia melewati semua masa ini, hingga aku tak ingin ini semua berakhir.
Semesta sudah menggenggam tangan kita. Menjadikannya menyatu untuk berjalan bersisian, menyusuri waktu dan segala warna yang menjadi pengiringnya. Untuk sebentar saja, biarkan aku menikmati segala keindahan ini tanpa berhitung tentang getirnya kehidupan.
__ADS_1