Complicated Love #2

Complicated Love #2
Musim Kedua: Pertemuan


__ADS_3

Aroma hujan menelusup masuk memenuhi Indra penciuman Tefan. Untuk sesaat dia seperti tersihir oleh suasana sore itu. Jika saja Pak Bono tidak datang dan mengagetkannya, mungkin untuk beberapa saat ke depan dia masih terjebak oleh nostalgia hujan.


"Ada apa, Pak Bono?"


"Ada yang mencari anda, Tuan."


"Siapa?"


"Maaf Tuan, saya tidak tahu. Hanya saja dia ngotot ingin bertemu Tuan."


"Baiklah, kasih tahu orangnya untuk menunggu."


Pak Bono pun keluar dari ruangan pribadi Tefan. Tefan tinggal di sebuah rumah yang terbilang jauh dari keramaian. Rumah itu jatuhnya seperti villa. Karena Tefan ingin kesehariannya tidak terekspos kemana-mana. Dia lebih suka tertutup dan kehidupan pribadinya aman dari jangkauan siapapun. Termasuk keluarga inti sekalipun.


Tak lama kemudian, Tefan keluar dan menemui orang itu. Ada rasa terkejut begitu Tefan melihat wajah orang itu. Dia tak menyangka jika pada akhirnya orang itu menemukannya di Bali.


"Papa..." Kata itulah yang keluar dari mulut Tefan. Seketika membuat air muka Pak Bono berubah drastis.


Selama ini, dia memang tidak pernah bertemu anggota keluarga Tefan yang lain. Dia hanya melayani Tefan dari awal mula bekerja sampai saat ini. Itu sebabnya Pak Bono merasa sungkan pada bapak tadi, apalagi dia sempat bernada kasar mengusir.


"Jadi kamu bersembunyi di sini rupanya." Jawab Pak Roy yang kemudian duduk di sofa. Sifat kerasnya sepertinya tak berubah, juga sifat tukang ngatur dan mau menang sendiri. Namun kali ini, Tefan sepertinya sudah merasa sangat siap menghadapi Papanya itu.


"Tefan tidak pernah bersembunyi, Pa. Tefan hanya butuh menggali potensi yang Tefan miliki untuk hidup lebih baik lagi. Apa kabar, Papa?"


"Masih sempat kamu menanyakan kabar, Papa?"


"Papa sejauh ini datang ke sini dan bersusah payah mencari Tefan, tentu ada hal yang sangat penting yang ingin Papa sampaikan. Ada apa?"


"Kamu memang pandai membaca situasi, Tefan. Sudah saatnya kamu balas budi Papa, Papa sudah bersusah payah selama ini untukmu."


"Baiklah. Tidak usah bertele-tele lagi. Berapa yang Papa butuhkan?"


"Satu Trilyun. Papa bangkrut. Semua aset Papa disita. Papa punya hutang yang harus dibayar."


"Papa mestinya sudah sadar usia, usia Papa sekarang tidak memungkinkan lagi untuk bermain mulus seperti dulu. Jangan terlalu memaksakan diri."


"Kamu tidak usah menceramahi Papa, langsung saja. Bersedia memberi atau tidak?"


"Papa, Papa..., kapan Papa akan berubah? Tenang saja, Papa tinggalkan nomor rekening di sini. Kasih ke asisten saya Pak Bono, dia yang akan mengurus semuanya."


"Papa pegang ucapanmu, Tefan."


"Namun, setelah ini jangan pernah menemui Tefan lagi untuk urusan seperti ini. Papa sudah saatnya beristirahat di rumah saja."


"Halah! Kamu ini baru juga bisa punya resort sudah berani mengatur-atur Papa. Cepat transfer, Papa tunggu."


Tefan hanya mengangguk, seraya mempersilakan Papanya keluar. Dia sebenarnya kesal, tapi apa yang bisa dia lakukan? Toh laki-laki keras kepala di depannya itu adalah orangtuanya sendiri.


Dia memberi kode pada Pak Bono untuk mengantar Papanya sampai ke depan. Sekaligus mengurus pemberian uang 1 Triliun yang diminta Papanya barusan.


Uang itu memang sangat besar baginya, namun jika dia tak memberikannya. Maka Papanya tidak akan tinggal diam, dia bisa saja mengacaukan seluruh bisnis yang dibangun Tefan.


"Perintah, Tuan?" Tanya Pak Bono.


"Urus permintaan Papa saya tadi. Pastikan untuk dia tak memiliki akses ke sini lagi jika dia dalam masalah yang sama."


"Baik, Tuan."


Pak Bono pun pergi meninggalkan Tefan dan mengurus semuanya. Tefan segera ke balkon, melihat pemandangan setelah hujan reda. Sesaat kemudian, ponselnya berdering dan ada telpon dari seseorang.


"Halo..."


"Hai, bro! Kamu di mana?"


"Di villa. Ada apa?"


"Nanti malam ada acara di sebuah tempat hiburan malam. Kamu datang ya?"


"Acara apaan?"

__ADS_1


"Ulang tahun teman. Datanglah! Sekalian bisa lihat ciwi-ciwi, siapa tahu ada yang menarik minatmu."


"Halah! Di otak kamu itu cuma ada perempuan saja."


"Daripada kamu, di otak kamu hanya bisnis dan bisnis. Ayolah bro! Santai, nikmati sedikit nikmat Tuhan yang sudah dikasih."


"Malas."


"Ayolah, nanti malam kan malam Minggu. Bersenang-senanglah sedikit. Aku tunggu ya. Aku japri alamat tempat hiburan malamnya. Dijamin malam Minggu kamu bakal lebih seru dari sebelumnya."


"Terserah kamu. Hanya saja, aku tidak janji bisa datang."


"Aku tunggulah pokoknya. Bye!"


"Bye!"


Gila anak itu. Di kepalanya hanya pesta dan pesta. Di mana ada pesta di situ ada perempuan dan di situlah Reno berada. Ckckck.


Tefan hanya geleng-geleng kepala menanggapi telpon temannya barusan. Namanya Reno, dia teman yang dikenal Tefan di awal dia mengalami kehancuran. Meski begitu, Reno adalah orang yang paling setia bersamanya.


Reno sudah seperti sahabat atau saudara baginya. Jika ada orang yang paling bawel tentang hidupnya yang masih sendiri, maka Renolah orangnya. Dia tidak akan segan-segan mencari dan mengenalkan banyak perempuan ke Tefan, hanya agar Tefan bisa bersenang-senang dengan perempuan.


Meski begitu, Tefan selalu menolak dengan halus. Sebanyak apapun perempuan yang dikenalkan padanya, dia akan menolak secara halus. Salah satu perempuan yang selama ini sering mengejarnya dan tak pernah menyerah adalah Femi. Model cantik dari Jakarta yang sellau ingin tahu mengenai kehidupan Tefan.


Sejauh ini, Femi masih berstatus teman bagi Tefan. Meski Femi sudah berpenampilan seseksi apapun di depan Tefan, Tefan hanya akan menyerahkan jaketnya pada Femi untuk menutupi bagian tubuh Femi yang terbuka.


Entah sejak kapan, Tefan berubah menjadi seperti itu. Menjadi orang yang sama sekali tak tertarik pada perempuan. Mungkin dia akan tertarik, tapi bukan perempuan sekelas Femi atau yang sering dia temui di dalam tempat hiburan malam.


Tefan membuang jauh pandangannya ke pemandangan alam di depannya. Dia memusatkan pandangannya ke laut lepas. Villanya berada di ketinggian, itu sebabnya melihat ke laut seperti menatap ke bawah.


Terdengar deru ombak bertubrukan di bibir pantai. Kedua tangan Tefan bertumpu ke pagar balkon rumahnya. Ada satu momen di mana dia seringkali mengingat salah satu perempuan di masa lalunya. Yaitu, saat dia menatap pantai atau laut.


Gambaran perempuan itu selalu menyelinap di kepalanya. Meski berulang kali dia usir atau halau, tetap saja hanya bayangan perempuan itu yang hadir.


"Hah!"


Tefan menarik nafas dalam dan membuangnya dengan keras. Seperti meminta pada dirinya sendiri agar tak lagi mengingat perempuan itu.


***


Malam harinya, dia mendapat telepon lagi dari Reno. Mengingatkan kalau dia harus datang ke pesta yang dimaksud oleh Reno. Dengan berat hati, dia pun menyetujui permintaan Reno itu.


Dengan memakai setelan kemeja putih dan celana kemeja hitam, dia pun berangkat dengan mobil yang dia kendarai sendiri. Alamat itu cukup mudah untuk dicari, tak butuh waktu satu jam, Tefan sudah sampai di sana.


Dia pun mengenakan jasnya dan mengancing dibagian perut. Kacamata hitam seperti tak pernah lepas dari matanya. Dia selalu memakai kacamata itu entah untuk situasi apapun. Dia sebenarnya tak ingin mencolok, dia juga tak ingin menjadi pusat perhatian. Namun jika dia sudah berkacamata seperti itu, bukan lagi mencolok namanya tapi juga menjadi pusat perhatian orang-orang.


Siapapun yang melihat Tefan sulit sekali untuk menghindar dari pesonanya. Lihat saja, baru memasuki tempat hiburan itu saja, dia harus menolak beberapa perempuan penghibur yang menawarkan minum padanya. Dia melihat sekeliling mencari penampakan batang hidung Reno.


Tak lama setelah itu, dia pun menemukan Reno sedang dikelilingi cewek-cewek. Masih muda dan tentu saja bohai.


"Bro..., akhirnya kamu datang juga!"


"Siapa yang punya acara?"


"Tuh di sana! Cewek cantik, seksi, tinggi, dan aku yakin kamu akan terpesona melihatnya."


Reno berusaha menarik perhatian Tefan. Tefan pun melihat ke arah yang ditunjuk Reno. Sekilas tak ada yang istimewa, biasa saja di mata Tefan.


"Nothing special. Selera kamu tidak berubah."


"Terus selera kamu yang seperti apa? Kenalan dululah."


"Terserah kamu."


Reno pun memanggil perempuan itu. Perempuan dengan gaun mini itu tersenyum ke arah Reno yang memanggilnya. Seketika dia tergelak dan matanya berbinar begitu melihat siapa yang kini ada di depan matanya. Siapa lagi jika bukan Tefan.


"Hei..., ini si pangeran Ren." Pekiknya.


"Tefan."

__ADS_1


"Nadia."


Reno meninggalkan mereka berdua. Tefan sudah mulai merasa tak nyaman karena Nadia terus mendekat dan bergelayut manja di bahunya. Tak enak juga bagi Tefan harus menghindar terus menerus.


Akhirnya dengan menolak halus, Tefan beralasan akan ke toilet sebentar. Selesai itu, dia mengambil minuman dan minum di sudut ruangan yang tak terjangkau siapapun. Reno entah sudah hilang kemana.


Puncak acara itu pun dimulai. Acara ulang tahun Nadia yang kebanyakan dihadiri perempuan dan laki-laki berpasangan. Saya sekali tak menarik minat Tefan. Dia pun meninggalkan pesan di ponselnya untuk Reno. Setelah itu, dia putuskan untuk pulang saja.


Diliriknya jam di pergelangan tangannya. Tefan meninggalkan hiburan malam tepat jam sembilan malam. Dia mengendarai mobilnya tak tentu arah. Sampai dia berhenti di depan salah satu warung pinggir jalan untuk membeli air minum.


Alangkah terkejutnya dia, saat ada suara yang seperti memanggil dirinya begitu hendak kembali ke mobil.


"Om..., Om ganteng!" Suara itu mengusik telinga Tefan.


Awalnya dia pikir, bukan dia orang yang dimaksud. Namun lama kelamaan, suara itu seperti mengikutinya.


"Om ganteng! Itu benar Om ganteng kan?" Ucap anak kecil itu lagi.


Tefan membalikkan badannya dan cukup terkejut melihat anak itu.


"Hei, malam begini kenapa bisa ada di sini?"


Tefan sepertinya masih mengenali anak itu. Ya, anak itu adalah Kiano.


"Om masih ingat aku?" Tanyanya dengan mata berbinar bahagia.


"Kamu ngapain di sini?"


"Aku ikut bunda, bunda jualan aksesoris dekat sini. Tadi aku juga habis beli minum di situ Om."


"Oyah? Kamu tidak takut hilang?"


"Om bercanda ya? Mana mungkin hilang, aku sudah hapal jalan ini. Bunda juga selalu menjaga Kiano kok."


"Oh begitu. Mana bunda kamu?"


"Di sana, Om!" Tunjuk Kiano ke sebrang jalan. Memang tak terlalu jauh, tapi bisa saja berbahaya jika Kiano tersambar mobil atau motor.


"Ya sudah, Om antar kamu pulang ya. Nanti terjadi sesuatu sama kamu."


"Benar, Om?" Kiano senang sekali mendengar akan diantar pulang.


Mereka berdua pun bergandengan tangan. Benar-benar terlihat seperti Papa dan putranya.


Sesekali Kiano berjingkrak jingkrak karena saking senangnya.


"Bunda lihat, aku bersama siapa?"


Posisi bundanya saat itu sedang mengatur aksesoris untuk dimasukkan ke dalam peti karena akan segera tutup. Bundanya berbalik melihat Kiano dan alangkah terkejutnya dengan apa yang baru saja dilihat oleh matanya.


Riana bergeming. Tefan terdiam. Kiano kebingungan.


Seketika seperti ada roaming di antara mereka.


*Astaga. Tefan...


Astaga...! Riana. Ini benar Riana*?


Begitulah alam pikir mereka sedang beradu sekarang. Tidak tahu siapa yang akan memulai berbicara lebih dulu.


*


*


*


Hai hai...


Jangan lupa untuk tinggalkan like

__ADS_1


komen sebanyak-banyaknya


dan juga vote ya. Biar tambah semangat menulisnya. Hehe.


__ADS_2