
"Hah ... akhirnya selesai!" Pekik Tefan penuh kegembiraan.
Riana tersenyum melihat pria dewasa yang baru saja bertingkah kekanakan itu.
"Tadaaa ...! Semuanya ngumpul, aku barusan bikinin sesuatu buat kalian." Tukas Riana seraya membawa cake yang baru saja dibuatnya.
Ada Nadia juga yang membantu membawa minuman dingin untuk semua yang sudah bekerja keras membantu mengatasi masalah toko. Sekarang semuanya sudah bersih, dinding kaca yang tadinya rubuh sudah diganti dengan dinding kaca yang baru dan lebih kuat. Semuanya diatur dan diurus oleh Tefan, dia sampai meminta cuti untuk dirinya sendiri kepada Pak Bono demi membantu Riana agar tokonya bisa kembali beroperasi.
"Terimakasih, sayang." Bisik Tefan pelan di telinga Riana. Wanita itu mendelik, namun juga tersipu mendengar Tefan memanggilnya sayang.
"Ehmm ..." Nadia berdehem seolah menyampaikan bahwa belum waktunya berduaan. Haha.
Riana kikuk. Tefan pun demikian. Namun kemudian mereka tertawa bersama.
"Om Ganteng, pasti capek ya? Kiano ucapin terimakasih karena Om Ganteng sudah bantuin Bunda. Nanti Kiano pijit biar capeknya hilang."
"Iih ... gemes banget ih." Seru Nadia yang mencubit pipi Kiano.
"Anak baik kebanggaan Om, janji ya. Selesai pekerjaan ini Kiano bakal pijitin Om." Balas Tefan seraya mengusap kepala Kiano.
Pekerja dari kantor Tefan mulai pamit pulang satu persatu usai makan penganan buatan Riana. Pekerjaan sudah selesai. Tefan merasa badannya sangat lengket. Dia mencium bajunya, sedikit bau keringat.
"Kenapa?" Tanya Riana.
"Pengen mandi kayaknya deh. Coba cium, baunya asem. Ha ha ..."
Bodohnya, Riana malah beneran mencium baju Tefan. "Iiuuh ... asem tahu. Mandi gih sana!" Pukul Riana reflek ke bahu Tefan.
Nadia dari kejauhan memperhatikan mereka dengan tatapan baper. Kiano entah sudah ke mana, mungkin sedang main sendiri di atas.
"Memangnya boleh mandi di sini?" tanya Tefan.
"Bayar." Seloroh Riana.
"Serius?"
"Mana ada di jaman sekarang yang gratis."
"Aku bayar pakai ini saja ya."
Cup!
Satu kecupan mendarat di pipi Riana. Lalu Tefan kabur ke atas untuk mandi. Persis remaja yang lagi puber-pubernya. Haha.
"Tefan ... Ish!" Teriak Riana geram karena menciumnya di sembarang tempat. Riana menoleh ke arah Nadia yang menertawainya.
"Anggap saja aku ini cuma nyamuk, Bu. Aku tidak melihat apapun kok. Xixi."
Tidak lihat apapun tapi tertawa terkekeh. Nadia, jangan buat aku tambah malu dong.
__ADS_1
"Nadia, kalau pekerjaan kamu sudah selesai. Kamu bisa pulang dulu. Aku ke atas sebentar, nyiapin handuk buat Tefan."
"Baik, Bu. Beres."
***
"Riana ..." Panggil Tefan dari dalam kamar mandi.
"Ya ..." Balas Riana.
"Di sini tidak ada handuk ya? Aku keluar dari sini pakai apa?"
"Sebentar, aku ambilkan."
Riana mencari handuk baru di lemarinya. Suara Tefan menggaung lagi dari kamar mandi.
"Riana ...! Mana handuknya?"
Diam. Tidak ada jawaban.
"Riana ..."
Hening.
"Ke mana si handuk-handuk itu? Giliran dicari malah gak ada. Perasan aku taruh semua di lemari ini." Ujar Riana berbicara pada dirinya sendiri.
"Tefan ..." Pekik Riana menutup matanya.
"Maaf ... maaf. Kamu dipanggil dari tadi tidak ada sahutan. Kupikir kamu tidak ada, aku keluar bermaksud mau cari sendiri handuknya. Tahunya kamu di sini." Jawab Tefan berusaha menjelaskan pada Riana. Satu tangannya menutupi area ***********.
Bagaimana pun cara Tefan menutupinya tetap saja Riana sudah melihatnya barusan. Riana berbalik lagi. Seraya menyodorkan tangannya ke belakang. "Nih handuknya, dipakai!"
Tefan mengambil handuk itu.
"Sudah belum?" Tanya Riana memastikan.
"Sudah!"
Riana berbalik dan membuka matanya. Tefan sudah membaluti tubuh bagian bawahnya dengan handuk.
"Bajunya mau aku cucikan dulu atau mau pakai bajuku?" Riana terkekeh oleh pertanyaannya sendiri.
Dia sudah membayangkan bagaimana Tefan ketika memakai bajunya.
"Jangan halu terlalu tinggi Riana, ogah jika harus pakai bajumu. Tadi aku sudah menghubungi Pak Bono agar membawakan baju ke sini. Paling sebentar lagi dia juga sampai."
"Baguslah."
Tefan kemudian duduk di sofa di depan kamar Riana. Dia menepuk-nepuk sofa itu, memberi isyarat pada Riana agar mau duduk di sampingnya.
__ADS_1
Riana beringsut mendekat dan duduk di sisi Tefan.
Pria itu menatap Riana lekat-lekat. Mengurai rambut Riana yang jatuh mengenai wajahnya dan menyelipkannya ke telinga wanita itu.
"Apakah tidak pernah terbesit di benakmu, untuk kembali padaku?" Suara Tefan terdengar lirih. Lebih mirip seperti orang berbisik.
Riana terdiam. Tefan mengangkat wajah Riana. Menunggu jawaban.
"Aku tidak tahu."
Ada gurat kecewa di wajah Tefan.
"Setidaknya untuk sekarang, apakah kau senang aku di sisimu?"
Riana mengangguk.
"Sekarang aku tahu. Tidak apa-apa. Pelan-pelan kita bangun lagi." Tefan meraih bahu Riana dan menariknya ke dalam pelukannya.
Riana tak bereaksi. Dia pasrah saja, karena Tefan memberi rasa aman dan nyaman untuknya saat ini.
"Aku akan menunggu sampai kau siap." Kecup Tefan di puncak kepala Riana.
Riana menarik dirinya. "Aku seorang janda." Ucapnya, seolah menegaskan statusnya pada Tefan.
"Siapa yang peduli dengan statusmu sebagai janda Riana? Aku mencintaimu. Dulu, kini dan nanti." Dia menatap Riana lekat.
"Apa kata orang nanti?" balas Riana, suaranya serak. Seakan dia begitu khawatir dengan pandangan orang terhadapnya.
"Aku tidak peduli dengan mereka."
"Ah, Papamu?"
"Riana ... please! Lihat aku saja. Kali ini aku tidak akan menyerah lagi. Aku sudah pernah melakukan hal bodoh dalam hidupku karena menyerah. Sekarang aku tidak mau kehilangan kamu lagi. Bahkan Papaku tidak akan bisa melakukan apapun. Aku pastikan itu."
Ingatan Riana seolah terbang ke masa lalu. Dia ingat betul bagaimana hubungan mereka ditentang. Perjuangannya yang sia-sia dan Tefan yang menyerah lalu berubah egois dan kasar padanya.
Melihat Tefan yang sekarang dan dulu memang jauh berbeda. Tefan yang sekarang lebih kharismatik. Memiliki aura berkuasa. Beda dengan beberapa tahun silam, hidup di bawah tekanan papanya dan tak bisa memutuskan kehidupannya sendiri.
"Biar mengalir saja. Seperti air, dia akan mengalir ke muaranya." Jawab Riana.
"Baiklah. Aku tidak akan pernah memaksamu. Terpenting adalah kau tahu bahwa aku serius padamu. Aku mencintaimu, Riana."
Jari-jari Tefan mengusap wajah Riana. Membuat desiran-desiran kecil di hati Riana. Tefan menelengkan kepalanya, mendekat, semakin dekat ke wajah Riana. Dan ... mengecup sesaat bibir wanita itu.
Riana mengulum bibirnya yang basah bekas kecupan Tefan. Dia salah tingkah.
Bodoh, dia selalu berhasil menciumku dan aku hanya pasrah menerimanya. Riana, kapan sih kamu bisa belajar dari masa lalumu? Oke, Tefan memang sudah berubah tapi kamu jangan pasrah begitu saja bila dicium. Hitung saja, sudah berapa kali dia menciummu?
Pikiran jahat dan baik seolah sedang bertarung di kepala Riana. Dia mendadak pusing.
__ADS_1