
Seorang pria dengan penampilan santai namun rapi tengah masuk ke toko. Beberapa karyawan yang melihatnya, tatapannya seperti tersedot oleh kharisma Pria itu. Tidak dipungkiri aku juga melakukan hal yang sama beberapa detik.
Mengenakan celana chino warna netral, kaus putih polos dan sneakers. Membuat pria itu tampan maksimal. Bahkan beberapa pembeli juga mengarahkan pandang ke arahnya. Kharismanya begitu kuat.
"Saya ingin ketemu atasan kamu."
Kudengar dia sedang berbicara dengan salah satu karyawanku. Aku langsung menghampirinya.
"Saya atasan dia, ada yang bisa saya bantu Tuan?"
"Ah iyah. Kenalkan, Saka."Jawabnya sembari mengulurkan tangannya yang putih.
"Ada yang bisa saya bantu Tuan Saka?"
"Tidak perlu seserius itu, panggil saja Saka. Siang ini kamu ada waktu?"
Oh jadi ini anaknya Tante Vera yang bernama Saka itu? Lumayan juga.
"Maaf hari ini kebetulan ada pertemuan dengan klien."
"Kalau begitu saya yang antar kamu bertemu klien."
Rupanya pria ini tipe yang tidak bisa basa basi, dia berbicara langsung ke inti. Ah, bagaimana cara aku menolak?
"Saya bisa sendiri. Lagi pula Saka pasti sibuk sekali."
"Jika saya sibuk, saya tidak mungkin menemui kamu langsung ke sini dan mengajakmu pergi makan siang."
"Ah baiklah. Sepertinya saya tidak bisa menolak."
"Satu lagi, tolong jangan pakai panggilan 'saya' itu terlalu formal. Pakai kata 'Aku' biar lebih akrab."
Gila sih, baru sekali bertemu tapi sudah memaksa begini. Memaksa ikut makan siang, memaksa ikut ketemu klien, satu lagi memaksa ber-aku-kamu padahal ketemu saja baru hari ini.
"Baik kamu silakan duduk dulu di ruanganku atau kamu akan lihat-lihat dulu di toko ini sambil menungguku selesai mengerjakan pekerjaanku."
"Aku tunggu kamu di ruangan kamu saja. Boleh kan?"
Akhirnya dia masuk ke ruanganku, aku kerjakan apa yang harus aku kerjakan sementara dia kulihat sedang memperhatikan majalah yang ada di meja.
__ADS_1
"Mau dibuatkan minum apa? Biar aku minta karyawanku membuatkannya untukmu."
"Aku mau Kopi. Tetapi bisakah kopi itu kamu yang bikin sendiri. Aku ingin merasakan kopi buatanmu."
Apa-apaan ini? Rese.
"Aku lagi banyak kerjaan, tidak bisakah karyawanku saja yang membuatkannya untukmu?"
Aku berbicara begitu langtang ke arahnya, tapi respon dia santai saja. Aku kesal dengan sendirinya.
"Tidak usah. Aku mau kamu yang buatkan, jika tidak mau ya berarti aku tidak perlu minum kopi."
Dasar pria aneh. Aku menggerutu kesal di mejaku lalu beranjak ke pantry dan membuatkan dia segelas kopi.
Kopi itu aku letakkan di meja tepat di depannya. Aku menatap sekilas ke wajahnya yang seperti serius menatap majalah yang sedang dipegangnya.
"Aku akui parasku memang memikat, tapi kamu juga tidak usah sampai memandanginya begitu lama."
Ah sial. Aku tertangkap olehnya.
"Untuk pria seusia kamu, kamu terlalu percaya diri. Maaf aku bukan wanita yang suka menatap wajah seorang pria."
Aku mendengus kesal mendengarnya dan dengan kasar kududukkan pantatku ke kursiku sendiri. Tidak kusangka pria ini selain punya tampang yang menarik juga sangat menjengkelkan. Sejak pertama bertemu beberapa menit lalu tidak pernah memberiku kesempatan menunjukkan siapa aku dan sedang di mana dia berada. Dia tampak sangat berkuasa atas dirinya dan juga diriku saat ini. Bagaimana bisa?
Aku memfokuskan diri dengan pekerjaan di depanku, kubiarkan dia dengan dunianya sendiri. Lagi pula aku malas bicara padanya, dia terlalu cerewet untuk ukuran pria matang sepertinya.
Setelah membuatnya menunggu selama kurang lebih empat puluh lima menit, akhirnya aku selesai dengan yang kukerjakan. Dia juga tampaknya sudah selesai dengan majalah dan kopi yang baru saja dicicipinya untuk terakhir kali sebelum berangkat.
"Kopi buatan kamu enak juga. Bagaimana jika kamu membuatkannya untukku setiap hari."
Dasar pria lancang. Seenaknya saja memutuskan sesuatu.
Setiap kata-kata yang diucapkannya selalu berhasil membuatku menahan diri untuk tidak emosi. Betapa tidak? Dia selalu saja memancing aku untuk bereaksi padanya. Ini sungguh merepotkan.
"Kita berangkat bersama atau berangkat masing-masing?" Tanyaku akhirnya saat kami tiba di parkiran.
"Pakai mobilmu saja dan biarkan aku menyetir untukmu. Sudah kurang baik apa lagi aku ini?"
"Kamu harusnya ingat, tidak ada yang meminta kamu untuk ikut denganku menemui klien atau meminta kamu jadi supir pribadi."
__ADS_1
"Kamu sangat baik dalam menjawab ya. Mobil kamu yang mana? Sini kuncinya."
Kami berada di dalam satu mobil yang sama, dalam diam yang sulit dibahasakan. Aku tidak tahu harus memulai percakapan apa yang sesungguhnya aku lebih suka situasi seperti ini. Lebih tepatnya menghindari banyak bicara dengan pria di dekatku ini.
"Kamu punya kekasih?" Tiba-tiba dia bertanya dan pertanyaan itu sontak membuyarkan pusat perhatianku ke arah jalan.
"Sangat penting untuk dijawab ya?"
"Penting. Ini menyangkut aku dan kamu di masa depan."
"Maksudnya?"
"Ya kamu memangnya belum tahu perihal perjodohan yang direncanakan orang tua kita?"
What???
Jadi perjodohan itu benar serius. Mati aku.
"Kalau aku enggan untuk menjawab bagaimana?"
"Ya aku anggap kamu tidak serius dengan perjodohan kita. Tapi tenang saja aku akan berusaha sendiri untuk mendapatkan hati kamu. Terlepas dari kamu sudah memiliki kekasih atau belum.'
"Aku rasa pembahasan kita sudah terlalu jauh, padahal kita baru bertemu selang dua jam yang lalu."
"Baiklah bagaimana kalau kita mulai dari bisnis yang kamu kembangkan sekarang?"
"Cukup bagus. Tapi bisakah kita lebih cepat ke lokasi pertemuan, klien-ku sudah sampai duluan."
Seperti mengerti ucapanku barusan, akhirnya dia melakukan jalannya mobil, hingga tak terasa sudah tiba di halaman parkir sebuah restoran.
Aku keluar dari mobil dan dia ikut di belakangku. Beberapa saat dia mensejajarkan langkah denganku dan bersama-sama masuk ke dalam restoran.
Kulihat Ibu Tika sedang memesan makanan. Aku menghampirinya dan mengucapkan permintaan maaf karena sudah sedikit terlambat dari waktu yang disepakati.
Saka duduk tak jauh dari meja yang dipesan oleh Ibu Tika. Aku melihatnya dengan ekor mataku, dia sedang memesan minuman. Aku sedikit lega karena dia seperti mengerti bahwa pertemuan ini sangat penting bagiku, jadi dia memberiku waktu bersama klien sementara dia menunggu di meja yang lainnya.
Aku dan Ibu Tika membicarakan beberapa produk baru dari mereka yang sudah disesuaikan dengan minat pasar saat ini. Desain produknya menyasar pasar remaja, warna-warnanya pun sangat menarik. Membuatku berpikir untuk mengambilnya untuk mengisi semua tokoku.
Sekitar tiga puluh menit pertemuan berlangsung dan menyepakati setengah dari produk yang ditawarkan Bu Tika akan terpajang di beberapa tokoku. Pertemuan siang itu selesai dengan mulus. Bu Tika pamit dan aku melanjutkan makan siang bersama Saka.
__ADS_1
Bersambung...