
“Tuhan memilihkan takdir untuk cinta kita, yaitu tak bersama dan harus saling melupakan...”
...
Kaki-kaki yang sering melangkah ke arahmu, kini tak lagi sama. Ia melangkah menuju sepi meski keramaian di sekitarnya. Tangan dan lengan yang pernah memelukmu, kini tak lagi merengkuh. Ia lepas satu-satu menuju hening, meski jejak jejak tubuhmu masih tersisa di sana. Mata yang kerap memandangmu, kini tak lagi menatap dua bola mata berbinar. Ia jatuh dalam gelap kehidupan, cahayanya telah direnggut malam. Kini semua tak lagi sama, tak lagi sama ketika aku menyadari tak ada lagi kau di sisiku...
...
Pesan itu dikirimkan Tefan pada malam sebelum pernikahannya dengan Nina berlangsung, saat membaca pesan tersebut sebagian dari hatiku juga remuk. Aku tak bisa membayangkan bagaimana hidupku akan berjalan tanpanya. Mungkin saja semua akan berjalan sesuai jalan Tuhan, tapi seperti kata Tefan, semua takkan pernah sama lagi. Baik hatiku, hatinya, telah kehilangan satu sayapnya. Kini kita berdua berusaha terbang dengan satu sayap yang bahkan masih terluka parah.
Tefan berusaha merengkuh kebahagiaan yang dianggapnya semu bersama Nina atas kehendak orang tuanya. Sementara aku berusaha terbang dan menembus waktu hanya untuk menyembuhkan lukaku. Entah berapa lama lagi aku bisa terbang, namun satu yang kutahu bahwa waktu adalah obat penyembuh terbaik yang pernah ada. Mungkin butuh setahun, dua tahun, lima tahun, sepuluh tahun atau bahkan berpuluh-puluh tahun lamanya. Jika selama itu waktu yang diperlukan agar sembuh maka aku akan menunggu waktu itu sampai aku menyaksikan sayapku yang pernah patah telah tumbuh kembali.
Aku melihat sayapku yang hanya satu di cermin, aku menatap wajahku yang telah selesai di rias. Aku pernah berharap menggunakan gaun yang sama seperti yang dikenakan Nina. Bersanding dengan orang yang kucintai dan pernah menjanjikan sebuah kebahagiaan. Kini dia akan bersanding dengan sahabatku sendiri dan aku hanya menjadi bagian pengantar calon pengantin menuju pelaminan. Sungguh ironis kisah cinta hidupku, mencintai tapi tak bisa bersama.
“Yan, dipanggil Nina. Acara sudah mau dimulai.” Kudengar suara Dewa yang berat menegurku saat perlahan satu demi satu airmataku gugur.
“Iya Wa tunggu sebentar.” Aku buru-buru menghapus airmata itu dan menaburkan sedikit bedak untuk menyamarkan air mata yang baru saja mengalir di sana.
“Kamu baik-baik saja kan?” Tanya Dewa lagi.
“Tidak. Aku tidak baik-baik saja. Tapi akan kucoba demi mereka berdua.”
__ADS_1
Dewa meraih kedua tanganku dan berusaha memberikan kekuatan. Alasan kenapa aku tetap berada di tengah-tengah hingar bingar pesta adalah menepati janji pada Nina untuk berada di hari pernikahannya. Sekaligus menunjukkan pada orang tua Tefan bahwa aku bukanlah orang yang lemah seperti perkiraannya. Meski di saat yang bersamaan aku harus menatapi wajah Tefan yang berselimut mendung.
Aku menghampiri Nina yang sudah sangat cantik dengan gaun pengantinnya. Aku meraih bawahan gaunnya untuk membantunya berjalan menuruni tangga. Semua orang yang melihat Nina terpesona dengan kecantikannya. Aku mengakui hal itu, dia bagai bidadari yang baru saja turun dari langit. Senyum di bibirnya tak pernah surut, tampak sangat bahagia. Dia begitu mencintai Tefan dan sangat menginginkan pernikahannya.
Di bawah sana, tepatnya di kursi pelaminan telah menunggu calon mempelai pria. Seseorang yang ingin menikahiku, seseorang yang ingin aku jadikan pendamping hidupku, namun semua itu hanyalah harapan dan cita-cita yang tak pernah bisa terwujud. Ekspresi wajahnya tak terpancar selayaknya seorang pengantin pria, melainkan seseorang yang lain. Seseorang yang jiwanya tidak berada di ruangan ini, pergi entah ke mana. Hal itu membuatku merasakan kekosongan jiwa yang sama. Melihat Tefan seperti itu, bahkan aku rasanya takkan kuat mengantar Nina sampai ke sisi Tefan.
Aku menguatkan diri meski kaki-kaki yang kupaksa melangkah ini telah nyaris goyah. Aku hampir roboh kalau saja Dewa tak berada di sisiku untuk meraih bahuku yang sudah miring ke kanan. Nina tak menyadari hal itu, dia terus melangkah menuruni tangga sementara Dewa berusaha menenangkan dan memintaku untuk beristirahat saja. Apa yang terjadi? Pikirku. Mengapa aku tak bisa melewati prosesi pernikahan ini padahal acara bahkan belum dimulai.
“Kamu tidak apa-apa?” Tanya Dewa
“Tidak apa-apa. Aku hanya merasa mendadak pusing.” Jawabku.
“Apa? Tefan melihatnya?”
“Iyah. Tefan melihatnya dan mungkin hanya dia satu-satunya orang yang memperhatikan hal sekecil itu terjadi sama kamu di tengah-tengah orang banyak di gedung ini.”
“Jangan katakan apapun padanya. Aku baik-baik saja.”
“Kamu masuk dulu saja ke kamar, mau aku antar?”
“Tidak usah Wa, aku masih bisa sendiri.”
__ADS_1
Aku pun beranjak ke kamar sementara Dewa ke lantai bawah untuk menyaksikan prosesi pernikahan yang sebentar lagi berlangsung. Aku rasa hanya perlu lima menit untuk kembali lagi ke acara tersebut.
Setelah menenggak Aspirin, akupun bergegas turun ke lantai bawah. Tefan baru saja selesai menyatakan ikrar setia sehidup semati bersama Nina. Beberapa terlihat terharu, kulihat Nina menangis, Tefan juga begitu. Tapi tangis mereka jelas berbeda. Aku tahu itu. Sebab di sini aku merasakan tangisan yang sama dengan Tefan.
Apakah cinta hadir diantara kami hanya untuk melukai seperti ini? Air mata pelan tapi pasti merambati ke dua pipiku. Semua orang memberi selamat pada kedua mempelai, termasuk aku yang turut berbahagia untuk Nina. Entahlah aku benar bahagia atau hanya berpura-pura bahagia.
Acara berlangsung khidmat, saat Nina sibuk menerima tamu akupun diam-diam pergi dari keramaian itu. Aku tidak sanggup lagi, air mata yang sejak tadi kuperam kini jatuh satu-satu dan aku tidak mau siapapun melihat kejadian tersebut. Saat meninggalkan gedung tepatnya ketika hendak masuk ke dalam mobil seseorang menghampiriku dan berkata.
“Kamu ternyata lebih kuat dari perkiraanku Riana. Kamu mengorbankan perasaanmu untuk kebahagiaan sahabatmu sendiri. Salut.” Suara berat dan tegas itu datang dari belakangku, suara yang sempat membuatku bergetar dan nyaris goyah. Papa Tefan.
“Maaf, aku harus pergi.”
“Tapi kenapa kamu harus melarikan diri seperti ini?” Kejarnya lagi dengan pertanyaan padahal aku sudah mau masuk ke mobil.
“Maaf saya tidak melarikan diri. Saya menyelamatkan anak anda.” Jawabku jauh lebih tegas.
Papa Tefan diam dan kini dia membiarkanku masuk ke dalam mobil dan berlalu begitu saja. Dia bahkan tidak sadar tindakannya telah menyakiti anaknya sendiri, tidak hanya itu, dia rela memerintahkan anak buahnya untuk memukuli anaknya. Orang tua macam apa yang berperilaku seperti itu, dia bukan manusia tapi monster. Dan sekarang dia malah menuduhku melarikan diri yang mana tindakanku ini adalah untuk menyelamatkan anaknya. Jika aku terus berada di sana dalam keadaan berurai air mata dan Tefan melihat, bukan tidak mungkin saat itu juga Tefan mengacaukan pesta pernikahannya dan mengajak aku pergi bersama dan meninggalkan Nina.
Kejadian seperti itu tak boleh terjadi. Itulah sebabnya mengapa aku memilih menyingkir. Terkadang kebaikan justru dianggap sebuah kejahatan, hal-hal yang baik selalu saja bersembunyi dari hati yang gelap. Orang tua Tefan telah digelapkan hatinya, karena obsesi dan dendam lama. Dia berusaha membalas orang tuaku lewat aku. Dia ingin menyakiti keluargaku dengan memanfaatkan situasi antara aku dan Tefan. Sekarang dia boleh berbangga karena berhasil memisahkan aku dan Tefan. Tapi seumur hidupnya dia tidak akan pernah berhasil memisahkan hati kami. Seperti juga dendam dia terhadap orang tuaku, tidak akan pernah bisa hilang dengan hanya menyakitiku. Hatinya terlanjur dipenuhi kebencian.
Apakah ini kali terakhir kulihat wajahmu? Kau akan jauh tak terjangkau meski aku bisa memandangimu dari dekat. Jarak itu semakin lebar di antara kita, selain mendoakan kebahagiaan masing-masing tak ada lagi yang bisa kita lakukan. Tapi adakah kebahagiaan saat kita sudah saling menyakiti? Maaf, bila aku tak mampu menyelamatkan apa yang sudah kita jalani. Tuhan memiliki takdirnya sendiri untuk cinta kita, tak bersama dan harus saling melupakan...
__ADS_1