
Kriiingggg.....!
Siang itu, ponsel Riana terus meraung-raung, berkali-kali berbunyi. Riana disibukkan dengan Kiano yang tak berhenti menangis. Itu sebabnya dia tak bisa mengangkat telpon dengan cepat. Dia harus menenangkan Kiano terlebih dahulu yang entah kenapa menangis terus dari pagi hingga siang.
Riana sudah cemas, takut anaknya kenapa-kenapa. Apalagi dia belum ada pengalaman sebelumnya tentang bagaimana menangani anak yang rewel dan tak berhenti menangis.
Dengan seluruh kekuatan yang dikerahkan untuk mendiamkan Kiano, tapi ternyata semua itu sia-sia. Harapan satu-satunya adalah, menghubungi mertuanya.
Ponsel yang sejak tadi berdering itu, sudah kembali tenang. Namun baru saja dia hendak menelepon mertuanya, dia dikejutkan lagi dengan suara dering dan getaran dari hapenya.
Nomor tak dikenal.
Riana sempat ragu untuk mengangkat telepon itu, namun karena dia melihat daftar panggilan, nomor itu sudah berkali-kali meneleponnya. Dia pun segera mengangkat telepon itu.
"Halo...!"
"Maaf, benar dengan Ibu Riana?"
"Iyah, ada apa ya? Terus ini siapa?"
"Maaf, Bu. Saya..., saya teman suami Ibu, rekan bisnis Pak Saka."
"Iya. Lalu?"
"Ibu tenangkan diri, tarik nafas panjang."
"Loh, ini ada apa?"
"Dengan sangat menyesal, saya harus menyampaikan ke Ibu. Pak Saka--
"Ada apa dengan suamiku?" Potong Riana cepat dan tak sabaran.
"Mobil Pak Saka saat pulang, mengalami kecelakaan beruntun, tepatnya di kelokan yang kiri kanannya masih dipenuhi hutan. Kebetulan, saat itu saya mengikuti Pak Saka pulang karena ada barangnya yang ketinggalan. Namun, naas..."
"Sudah...! Jangan dilanjutkan lagi. Kamu pasti mengada-ada. Tadi pagi, Saka masih mengabariku. Dia bilang akan pulang hari ini, berangkat sebelum jam makan siang. Tidak, kamu pasti mengada-ada."
Riana seakan tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Namun, air mata mengalir terus di pipinya. Kiano yang sejak tadi menangis, tiba-tiba saja terdiam seolah tak pernah dia menangis hari itu.
"Maaf, Bu...! Tetapi itulah kenyataan yang terjadi. Mobil Pak Saka, jatuh ke jurang dan terbakar. Sekarang sedang proses evakuasi."
"Tidak...!" Raung Riana sedih. Dia berteriak di telepon.
"Kami juga sudah menghubungi orang tua Pak Saka. Mereka sedang jalan menuju lokasi."
__ADS_1
Riana semakin tak sanggup menahan dirinya. Dia terkulai ke lantai dengan ponsel yang juga ikut terjatuh. Dia tak menyangka, kabar itu akan didengar olehnya. Terlebih lagi, mertuanya kenapa tak segera mengabarinya. Ada sedikit rasa kecewa di hati Riana, namun segera dia tepis demi mempertahankan kewarasannya.
Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, dia bangkit dari duduknya. Meraih kembali padanya ponsel miliknya, segera mencari nomor mertuanya.
Diangkat.
"Halo, Ma...!"
"Riana..., Saka, Saka kecelakaan...!"
Air mata Riana kembali menetes. Dengan suara tercekat dia menjawab Mama mertuanya.
"Tolong, Ma! Selamatkan, Mas Saka. Aku tidak mau kehilangan dia...!" Tangis Riana tak bisa lagi dibendung.
"Mama sudah menuju lokasi kecelakaan. Kamu yang sabar ya, Mama akan mengurus semuanya. Kamu tunggu kabar dari Mama."
"Ma, tolong Ma! Kumohon, bawa Mas Saka pulang."
"Iyah, Riana. Berdoalah!"
Sambungan telepon terputus. Riana mendekati anaknya Kiano. Bila melihat anaknya itu, kembali kesedihan merundung dirinya. Dia menangis mendekap Kiano, dia butuh pegangan, dia butuh kekuatan, namun dia sendiri sekarang. Tak ada yang bisa menopang tubuhnya yang lemah, kedua orangtuanya sudah pergi lebih dulu. Lantas sekarang dia harus mengandalkan siapa?
Tuhan, kumohon selamatkan suamiku. Aku tidak tahu harus bagaimana menghadapi hidup ini tanpa dirinya. Aku serahkan semuanya padaMu, tapi kumohon selamatkan suamiku.
Riana tak tenang, dia mondar-mandir sendirian di dalam apartemennya. Dia tak tahu harus menghubungi siapa, makan saja dia sudah lupa. Untung saja, Kiano sudah tidak rewel lagi.
***
Menjelang malam, Riana baru mendapatkan kabar dari mertuanya via telepon.
Panggilan terhubung.
"Riana, kamu sepertinya harus mengikhlaskan suami kamu."
Kalimat itu bagai petir dengan kekuatan yang sangat besar menyambar Riana.
"Apa...? Jadi..., Jadi Mas Saka tidak selamat Ma?"
"..., Iya..., Riana...!" Terdengar suara serak mertuanya menahan isak.
Riana terdiam. Terdengar isak tangisnya yang coba dia tahan. Namun akhirnya lepas juga, dia meraung-raung seperti anak kecil.
"Riana..., tenanglah Nak!" Pekik mertuanya, namun dia bisa memahami kondisi Riana saat ini. Dia pasti akan sangat terpukul.
__ADS_1
"Malam ini jenazah Saka akan dibawa ke rumah sakit. Setelah dilakukan identifikasi, jenazah baru boleh dibawa pulang ke rumah. Kamu ke rumah ya, Nak. Kasih tahu adik iparmu untuk mempersiapkan segalanya."
Riana tak sanggup lagi menjawab ucapan mertuanya. Dia harus bagaimana sekarang?
Saka, kamu pasti bercanda kan? Kamu tidak pergi kan? Kamu pasti kembali bukan? Kamu sudah janji Saka...
Setelah terdiam cukup lama, Riana baru sadar kalau dia harus segera pergi ke rumah mertuanya. Dia pun mengambil tas travel di lemarinya, memasukkan beberapa lembar pakaian Kiano. Juga kebutuhan Kiano yang lain.
Dia berkemas dengan cepat. Kemudian mengangkat tubuh kecil Kiano yang sedang tertidur pulas itu. Dia turun ke lantai bawah, tempat di mana mobilnya terparkir. Dengan sedikit tergesa, dia masuk ke dalam mobil. Meletakkan tubuh Kiano di tempat duduk di sebelahnya. Bagaimanapun malam ini dia harus bisa menyetir sendiri.
Sabar ya sayang, kita harus ke rumah Oma. Kita tunggu Papa di sana.
Mobil melaju pelan menuju jalan raya. Lalu kecepatan ditambah oleh Riana setelah mendapati jalanan cukup lengang. Dia bersyukur malam ini kendaraan tidak terlalu ramai. Butuh tiga puluh menit untuk sampai di rumah mertuanya.
Dia turun dari mobil dan menggendong Kiano. Masuk ke dalam rumah dan di sana sudah berkumpul beberapa keluarga dekat. Adik iparnya menghambur ke arah Riana. Matanya nampak bengkak karena seharian menangis. Begitu juga dengan kondisi Riana saat ini, mata bengkak, wajah sembab.
"Kak Riana...!"
Riana pun memeluk adik iparnya itu dengan satu tangannya. Mereka menangis sesegukan berdua. Kiano menggeliat dari tidurnya, dia usap wajahnya dan terlihat sangat menggemaskan. Riana sempat berasa takjub dengan pemandangan itu, sejenak dia dapat melupakan kesedihannya. Anaknya itu seakan tahu, bahwa Bundanya butuh hiburan.
"Bawa ke sini Kiano, Kak. Biar aku tidurkan di kamarku." Ucap adik iparnya.
Riana menyerahkan Kiano, kemudian ikut menyapa keluarga yang sudah datang lebih dulu. Beberapa keluarga langsung memeluk Riana, memberinya kekuatan agar mampu melewati musibah ini.
"Kamu yang sabar ya, doakan suamimu."
Riana hanya mengangguk tak sanggup lagi menjawab. Air matanya kembali mengalir deras, dia mendapatkan banyak simpati dan empati. Kepergian Saka yang begitu tiba-tiba mengejutkan hampi seluruh anggota keluarga. Bahkan karyawan di restoran Saka pun sangat kaget, itu sebabnya mereka langsung mendatangi rumah keluarga Saka untuk memberikan belasungkawa.
Riana duduk diantara para tamu yang datang. Belum ada kabar sudah di mana posisi Mama mertuanya juga jenazah Saka.
Lalu, pucuk dicinta ulam pun tiba. Mama mertuanya menelpon dan memberi kabar, bahwa dia sudah berada di rumah sakit sekarang. Jenazah Saka sementara mendapatkan penanganan.
Ibunya bercerita dengan suara yang hampir tak terdengar lagi. Mungkin habis karena menangis seharian. Apalagi dia yang mendampingi jenazah Saka hingga sampai ke rumah sakit.
"Mama tidak bisa mengenalinya Riana, tubuh anakku hangus dia terbakar bersama mobilnya dan jatuh ke jurang. Evakuasi berlangsung cukup lama, karena sulitnya medan untuk menuju ke lokasi jatuhnya mobil Saka. Kasiahan dia Riana, kasihan anakku...!"
Mama mertuanya kembali menangis terisak. Dia ingin bercerita namun jika dia teruskan maka dadanya akan kembali disesaki rasa sedih yang mendalam.
Riana hanya bisa terdiam, membayangkan tubuh Saka terbakar di dalam mobil.
Apa jangan-jangan aku bahkan tidak diperkenankan melihat wajahmu untuk yang terakhir kali sayang. Tolong jangan seperti ini, kamu kejam sekali Saka...! Bagaimana aku dengan Kiano?
Air mata terus membanjiri wajah Riana. Bahkan kedua tangannya tak sanggup lagi untuk menghapus air mata itu. Dia terduduk dengan lemas. Lalu semuanya menjadi gelap, dia terjatuh ke lantai dengan tubuh yang lunglai.
__ADS_1
***
Maaf baru bisa up. Banyak kesibukan di dunia nyata yang cukup membutuhkan perhatian..Hehe. Tapi jangan lupa untuk tetap mampir dan membaca novel ini Ya. Bantu aku dengan cara like, komen dan juga vote. Terimakasih.