Complicated Love #2

Complicated Love #2
Saka Koma


__ADS_3

Dengan sangat menyesal, dokter harus mengatakan kalau saat ini Saka sedang koma. Dia tak lagi sadarkan diri sejak peristiwa di mana mamanya memaksakan Saka untuk mengingat kepingan masa lalunya.


Sheril tentu saja kecewa pada sikap mertuanya itu, secara tidak langsung dia sudah menghancurkan kebahagiaan yang singkat mereka selama di Bali.


"Aku kecewa sama Mama," ucap Sheril dengan raut wajah dingin. Hanya kalimat itu yang bisa terucap dari bibirnya.


"Maafkan, Mama. Bukan maksud Mama membuat suami kamu seperti itu."


"Sekarang apalagi kalau sudah seperti ini? Kita sekeluarga senang-senang ke Bali, tahu-tahu Mama menghancurkan semuanya tanpa sisa. Lantas apa maksudnya kita ada di Bali kalau Saka harus terbaring seperti ini di rumah sakit? Puas Mama sekarang?" Nada suara Sheril meningkat satu oktaf.


"Itu bukan karena Mama Sheril, semua itu karena wanita itu. Karena Riana yang membuat semua keadaan kita jadi berantakan seperti ini."


"Siapa Riana? Mantan isteri Saka? Bagaimana bisa semua itu karena dia?"


"Dia ada di Bali sekarang, bersama anak laki-lakinya. Mama hanya meminta Saka agar mau mengambil kembali anaknya. Aku takut anak itu tidak akan mendapatkan kehidupan yang layak jika bersama Riana."


Mama mertuanya lagi-lagi mengarang cerita seenaknya. Sheril yang tak tahu apa-apa ikut berang atas cerita dan hasutan Mama mertuanya.


"Jadi? Bagaimana bisa dia ada di Bali? Apa sekarang dia tinggal di sini?"


"Iyah, kalian pernah bertemu. Dia yang punya toko perhiasan yang waktu itu pernah kita datangi sekeluarga."


"Astaga. Jadi itu dia?" Sheril sangat terkejut, dia penasaran dengan sosok Riana sekarang.


"Isteri macam apa yang meninggalkan suaminya di tengah dia lagi kritis dan membutuhkan perhatian. Sudah pasti perempuan macam itu bukan perempuan yang baik-baik. Ma, aku ingin bertemu dia sekali lagi."


"Bagus, Mama akan bawa kamu ke sana."


Pembicaraan di luar ruang ICU tersebut berlangsung panas. Shena yang baru saja datang curiga, karena mereka tiba-tiba menghentikan pembicaraan mereka.


Rasa penasaran itu semakin menggila ketika Mamanya meminta Shena untuk menjaga Saka sebentar, sementara mereka akan keluar terlebih dahulu.

__ADS_1


"Shena, jaga Mas-mu sebentar ya. Mama dan Sheril akan keluar sebentar mencari obat."


Meski Shena menaruh curiga, tapi dia tetap menuruti permintaan mamanya. Lagi pula alasan mereka mencari obat, tentu saja Shena akan setuju. Padahal tujun sebenarnya bukan itu.


***


Mereka pun pergi ke toko perhiasan Riana. Saat sampai di sana, Riana sedang tidak masuk. Mereka hanya disambut oleh asisten Riana.


"Maaf, Bu. Bos kami sedang sakit, jadi hari ini dia tidak datang ke toko. Lagi pula, sejak menikah dia sudah jarang mampir ke toko."


Mama Saka tampak terkejut mendengar berita mengenai pernikahan Riana. Berbeda dengan Sheril yang memang sangat terlihat biasa saja. Lagi pula justru bagus kalau Riana sudah menikah, begitu pikir Sheril.


"Sejak kapan dia menikah?" tanya Mama Saka dengan rasa penasaran tinggi.


"Kurang lebih satu atau dua bulan lalu, Bu."


Mama Saka terlihat sangat tidak suka, jelas sekali di wajahnya.


"Sudahlah, Ma. Kalau memang dia tak di sini, kita pulang saja."


"Untuk apa, Ma? Saka itu suamiku, bukan suami Riana. Atau Mama sengaja mau mempertemukan mereka? Begitu?" Emosi Sheril mulai tersulut. Tidak habis pikir dengan jalan pikiran mertuanya itu.


Mama Saka lantas diam begitu suara tinggi Sheril membungkam mulutnya. Wanita yang merupakan isteri Saka itu pun pergi tanpa peduli apakah mertuanya mengikutinya atau tidak.


Nadia hanya menggeleng kepala melihat tingkah dua wanita dewasa yang merupakan bagian dari masa lalu bosnya itu. Nadia perlahan mengerti mengenai kondisi keluarga Riana. "Jika aku tak salah tafsir, tadi itu adalah mantan mertua Bu Riana dan juga madunya Ibu." Begitulah pikir Nadia selepas dua orang tadi pergi meninggalkan toko.


"Apa aku beritahu ibu saja, ya? Tapi aku takut ibu kepikiran dan malah semakin bertambah sakit." Riana berucap sendiri sembari bengong di meja kasir.


***


Riana berangsur membaik, dia sudah tak mual apalagi muntah. Sekarang kondisinya sudah sangat fit.

__ADS_1


"Sayang, kamu ke kantor saja. Aku sudah lebih baik, aku tidak apa-apa kok."


"Emm, mungkin ini terlalu berlebihan karena aku sangat penasaran. Tapi ... aku ingin tahu apa kamu sedang hamil atau tidak sayang."


Ucapan Tefan yang blak-blakan itu membuat air wajah Riana berubah. Antara dia senang karena Tefan begitu ingin anak, namun dia takut membuat suaminya itu kecewa jika ternyata gejala yang dialaminya justru bukan karena hamil tapi karena masuk angin saja.


"Sayang, aku tahu kamu sangat ingin anak dariku. Aku pun sama. Tapi tidak semua gejala mual muntah itu pertanda seorang wanita sedang hamil. Hehe."


"Iyah, aku tahu sayang. Namanya usaha kan? Aku hanya ingin memastikan saja. Kalaupun belum hamil, kita masih bisa membuatnya dengan lebih semangat. Hehe." Tefan tersenyum nakal ke arah Riana.


"Kalau begitu, besok pagi aku test pack dulu. Jangan ke dokter, aku malu kalau ternyata tidak hamil sayang."


"Iyah terserah kamu sayang. Jadi apakah tidak masalah jika hari ini kutinggal bekerja?"


"Tidak masalah, pergilah. Aku akan jaga diri baik-baik. Tenang, ada Bibi kan?"


Tefan pun pamit pergi dengan tak lupa mencium kening Riana penuh cinta. Riana masih beraktifitas di seputar tempat tidur saja.


Lalu tak lama kemudian, handphone Riana berdering. Sebuah panggilan masuk ke ponselnya dan dia mengecek ternyata dari butik.


"Halo, Nadia!" sapa Riana di telepon.


"Maaf Bu, Nadia mengganggu. Itu ... anu ... emm ..."


"Ada apa, Nadia?" tanya Riana penasaran.


"Itu, Bu. Emm ... tadi ada dua orang yang mencari ibu ke toko. Terus kalau tidak salah, dua wanita itu adalah orang yang pernah bikin keributan di toko kita Bu."


Riana langsung mengerti arah pembicaraan Nadia.


"Ngapain mereka, Nad?"

__ADS_1


"Tadi kalau tidak salah, ibu-ibu itu bilang kalau ada orang bernama Saka yang sedang koma di rumah sakit dan ibu itu mau Ibu Riana tahu soal sakitnya."


Riana terdiam lama dan dia dengan cepat meminta kepada Nadia untuk menutup sambungan teleponnya.


__ADS_2