Complicated Love #2

Complicated Love #2
Saka Terus Memaksa


__ADS_3

"Sheril apa semuanya sudah selesai? Aku sudah tak sabar ingin bertemu Riana." Saka berdiri mondar-mandir, terus memaksa Sheril agar segera membawanya bertemu Riana.


"Sabar, sebentar lagi semuanya selesai. Pihak rumah sakit belum mengeluarkan izin agar kita boleh pulang hari ini."


"Lalu kapan, Sheril?"


"Aku nanti akan coba bicara kepada pihak rumah sakit lagi."


"Bagus. Tolong selesaikan cepat."


Sheril menarik napas sejenak dan menatap suaminya yang kini tak mengenalinya lagi sebagai isteri. Di kepala Saka hanya ada status mantan pacar, bukan sebagai isteri. Raut wajah Sheril yang kecewa terlihat jelas, namun dia tak ingin terlalu menampakkannya di depan Saka.


Selang beberapa saat kemudian, Mama Saka dan Shena sudah tiba di rumah sakit. Dia langsung menemui Saka dan Sheril di ruang perawatan.


"Saka ...! Kamu sudah sadar, Nak?"


"Mas ..."


Kedua anak beranak itu lantas mendekat kepada Saka. Sheril hanya duduk di sudut ruang perawatan, menundukkan kepalanya. Dia hanya tak ingin kesedihannya menjadi perhatian saat keluarga Saka telah datang.


"Mama ..., Shena ..., syukurlah aku akhirnya bisa bertemu kalian semua. Aku ... aku tak percaya aku masih hidup setelah kecelakaan hebat itu. Aku pikir aku sudah meninggal. Ma, Shena, bisakah kalian membantuku bertemu dengan anak isteriku?"


Keduanya pun terbengong. Terutama Mama Saka yang tampak melotot tak percaya mendengar apa yang diucapkan Saka barusan.


"Kamu ingat semuanya?" tanya mamanya penasaran.


"Iya, Ma. Aku ingat kecelakaan itu, aku ... aku ... tidak menyangka kalau aku akan selamat. Hanya saja ... aku tak ingat bagaimana aku bisa berada di Bali?"


Wajah Mamanya makin kebingungan. Ucapan Saka antara keadaan sekarang dan keadaan beberapa tahun silam. Shena menatap Sheril yang tertunduk lesu, dia mendekati wanita itu dan meminta penjelasan atas ucapan Saka barusan.


"Dia hanya mengingat peristiwa sebelum kecelakaan dan saat kecelakaan. Mundur ke beberapa tahun silam. Dia sama sekali tak ingat dengan kondisi sekarang. Dia bahkan tak ingat, kalau aku adalah isterinya. Dia hanya tahu aku hanya mantan pacarnya."


Shena bertambah shock. "Bagaimana bisa, Kak?"


"Kata dokter, bisa-bisa saja karena proses penyembuhan amnesia itu bertahap. Ada juga yang langsung ketika sadar dari koma dia ingat semuanya, ada juga kasus yang seperti Saka alami."


"Mbak ... terus selanjutnya bagaimana?"

__ADS_1


"Entahlah. Saka memaksa terus untuk segera dipertemukan dengan Riana dan Kiano. Aku tidak punya pilihan lain, Shena. Aku tidak tahu sama sekali bahwa saat itu Riana bukan meninggalkan Saka, tapi mamamulah yang mengusirnya. Aku sama sekali tidak tahu." ucapnya menggelengkan kepala dan nyaris menangis.


"Sstt ... Mba yang sabar ya."


Beralih pada Saka yang sejak tadi masih sibuk menanyakan kondisi Riana dan Kiano. Di mana mamanya tak bisa menjawab setiap pertanyaan Saka. Dia hanya lebih banyak diam dan mengangguk saja. Membuat Saka bertanya-tanya mengenai kondisi yang terjadi sekarang.


"Ma, aku sudah tak sabar ingin memeluk Kiano."


"Iya sayang, sebentar lagi kalian pasti akan bertemu."


"Tapi kapan, Ma? Aku merasa sudah menunggu terlalu lama. Lagi pula kenapa bukan Riana yang menjaga Saka di sini, kenapa harus Sheril? Dia kan mantan pacar Saka, kalau Riana cemburu bagaimana? Aku tidak mau membuat isteriku sampai berpikiran macam-macam, Ma."


Ketiga perempuan yang ada di ruangan itu pun saling tatap. Ketiganya bungkam, entah apa yang akan terjadi nanti begitu mereka membawa Saka bertemu Riana.


"Aku punya nomor Riana, tapi bagaimana menjelaskannya padanya?" ucap Sheril.


"Kita beritahu saja kalau Mas Saka sudah sadar dan menanyakan Mbak Riana. Bagaimanapun kita tidak bisa menyembunyikan kenyataan ini lebih lama lagi. Aku takut nanti malah Mba Sheril yang akan tersiksa." Shena menjawa penuh perhatian pada Sheril.


"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Saka.


"Oh begitu, jadi apakah kita bisa pergi sekarang?"


Tak ada yang menjawab. Mereka kembali berpikir mengenai pertemuan tersebut. Sampai akhirnya Sheril memutuskan untuk menelpon Riana dan memberitahu bahwa Saka sudah sadar dan meminta bertemu.


***


"Riana ... bisakah aku minta tolong sekali lagi?" tanya Sheril di telepon.


"Ada apa, Sher? Suara kamu kenapa? Apa terjadi sesuatu pada Saka?" jawab Riana dengan tak sabaran dan menunjukkan perhatian penuh pada Sheril. Suaranya terdengar serak dan seperti orang yang habis menangis.


"Saka ... Saka baik-baik saja. Hanya ... dia tak mengenaliku sebagai isterinya. Dia memaksa untuk bertemu kamu dan anakmu. Ingatan Saka telah kembali."


"Mak ... Maksud kamu?"


"Iyah, ingatan Saka sudah pulih. Namun ... dia hanya mengingat sampai di peristiwa kecelakaan itu. Dia sangat ingin bertemu denganmu dan juga Kiano."


"Sher ... kok bisa?"

__ADS_1


"Kata dokter, ingatannya akan pulih secara bertahap. Dia ... dia tak mengakui ku sebagai isterinya. Dia masih menganggap kamu adalah isteri yang sebenarnya."


Riana terdiam cukup lama. Dia benar-benar shock mendengar pengakuan Sheril. Apa yang harus dia katakan pada Saka? Lalu bagaimana dengan Tefan?


"Ri ... apa kamu masih di sana?"


"Iii ... iya Sher. Terus apa yang bisa aku bantu untukmu?"


"Bisakah Saka bertemu denganmu?"


"Apa tak sebaiknya kami tidak usah bertemu? Demi kebaikan bersama, aku yakin Saka akan mengingat semuanya. Mengingat kamu sebagai isterinya."


"Tidak Riana ... kali ini mungkin kasusnya agak berbeda. Saka sudah sangat tak sabar ingin bertemu kamu. Jadi kurasa mungkin lebih baik kalian bertemu dan berbicara dari hati ke hati."


"Aku tidak yakin ini akan berhasil. Aku akan bicara dulu pada Tefan. Aku tidak ingin memutuskan segalanya sendirian. Suamiku harus tahu hal ini."


"Baiklah. Kamu bicara dulu dengan suami kamu, kabari aku mengenai keputusanmu itu."


"Iyah."


***


Lalu saat Tefan pulang, Riana menceritakan semuanya. Tefan juga sedikit terkejut, namun dia berusaha untuk tak menampakkannya di depan Riana.


"Jika kamu tidak mau menemui dia sendirian, aku akan menemani kamu sayang. Apapun yang terjadi nanti, aku akan terus ada di sisi kamu. Saka, mungkin pada akhirnya bisa menerima kenyataan mengenai kehidupan rumah tangga kalian yang sudah berakhir sejak bertahun-tahun lalu."


"Aku juga berharap seperti itu. Tidak ada yang mengharapkan hal buruk terjadi. Aku sudah berjanji padamu akan menjadi isterimu sampai kapanpun. Jadi kumohon, singkirkan apapun pikiran negatif yang mungkin nanti terbersit di kepalamu. Aku mau kau percaya padaku. Jika tidak, aku tak akan melakukan ini semua."


"Aku percaya padamu, sayang."


Setelah obrolan tersebut, Riana mengirimkan kabar pada Sheril. Namun, pertemuannya harus di rumah Riana dan Tefan.


Sheril pun setuju, lalu menjanjikan pada Saka bahwa besok mereka akan mengantarnya bertemu Riana di rumahnya.


Ada kesedihan yang terus membayangi wajah Sheril. Sebagai perempuan, tentu saja dia akan merasakan hal itu. Jika berada pada posisi Sheril, maka perempuan mana yang akan rela tak dianggap sebagai isteri oleh suaminya sendiri.


Namun kondisi tersebut semakin rumit saat ini. Sheril, harus siap atas semua resiko yang akan timbul nantinya.

__ADS_1


__ADS_2