Complicated Love #2

Complicated Love #2
CL - 31. Saka, Trimakasih!


__ADS_3

Selesai makan kami terus pulang ke toko, tapi alangkah ramainya toko itu sekarang. Sebuah alat berat tengah berdiri kokoh di depan toko seperti siap meratakan semua yang ada di depannya.


"Ada apa ini?"


Dengan cepat aku turun dari mobil dan masuk ke dalam toko. Kulihat beberapa karyawan tengah menahan tubuh-tubuh kekar yang hendak mengacaukan tempat ini sekarang.


Saka tak kalah terkejut. Dia bahkan geram melihat perlakuan orang-orang kasar itu. Siapa mereka?


"Hentikan, siapa kalian?" Teriakku ke arah mereka.


"Riana... Riana... Bukankah saya sudah memberimu waktu untuk mengosongkan tempat ini selama tiga hari. Kamu sama sekali tidak menghiraukan ucapan saya."


Suara itu sangat aku kenali, siapa lagi kalau bukan Om Roy.


"Saya sudah berusaha, bukankah Om bisa lihat sendiri. Semua sedang bekerja tapi om malah mengacaukan semuanya. Sebenarnya mau om itu apa?" Aku setengah berteriak padanya karena terbawa emosi.


"Kamu mau tahu apa mau saya? Bukankah sudah sangat jelas, aku tidak mau kamu masih ada di sini."


"Bisakah om memberi saya waktu, semuanya sedang dibereskan sekarang."


"Tidak bisa. Waktu kamu habis. Kalian bertiga apa yang sedang kalian lihat, hancurkan tempat ini." Perintahnya pada pengawalnya.


Aku bergegas menghampiri mereka dan pasang badan agar mereka tidak melakukan apapun. Tapi satu diantara mereka malah mendorongku hingga terjatuh. Saka yang melihat itu tak mau tinggal diam. Di mengangkat tubuhku yang terjatuh.


"Kamu duduk saja di sana. Biar aku yang urus." Saka berusaha meyakinkan aku.


Aku pun menuruti keinginannya untuk duduk dan menenangkan diri. Membiarkan dia yang mengurus pengawal-pengawal sialan itu.


Tak kusangka saat pengawal itu telah melempar beberapa barang dengan sekali terjangan satu pengawal tersungkur ke lantai. Sementara yang dua terkejut melihat Saka yang melakukan perlawanan. Mereka berdua maju dan melawan Saka. Ketiganya berkelahi dan membuat semua karyawan menjerit. Tak terkecuali aku yang mengerang kesakitan begitu melihat Saka terkena pukulan di wajahnya.


Kondisi tidak berimbang tiga lawan satu, jelas Saka mulai kewalahan. Akhirnya aku berinisiatif untuk menghubungi polisi saat itu juga. Tapi baru saja hendak menekan tombol memanggil, ponselku sudah direbut oleh om Roy.


"Apa yang om lakukan? Kembalikan ponsel Riana!"


"Kamu tidak mungkin bisa melawanku Riana. Lihat saja kamu akan hancur sebentar lagi."


"Om Jahat!" Teriakku histeris.

__ADS_1


Satpam yang sejak tadi telah dilumpuhkan akhirnya sadar dan membantu Saka menghadapi tiga pengawal itu. Kulihat wajah Saka sudah memar di mana-mana. Tapi dia belum mau menyerah, aku kasihan melihatnya. Demi aku dia rela babak belur seperti itu.


Sepertinya ketiga pengawal itu juga mulai kewalahan dan Saka tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia menghajar ketiga pengawal itu dengan brutal lalu setelah pertarungan sengit yang berlangsung lama tersebut, akhirnya Saka berhasil melumpuhkan ketiganya.


Riana meraih tubuh Saka yang tergeletak pasrah di lantai.


"Kamu tidak apa-apa?" Tanyaku cemas.


"Seperti yang kamu lihat, aku sekarat."


Rasa cemasku pun menjadi-jadi karena kulihat Saka menutup matanya sesaat. Kupikir dia pingsan. Aku pun mendekatkan telinga ke dadanya untuk mendengar detak jantungnya apakah masih bekerja. Aku tidak mau dia mati.


Lalu sebuah bisikan lirih terdengar di telingaku.


"Riana, aku rasa aku benar-benar sekarat. Kamu sudah membuat jantungku semakin memompa dengan cepat."


Aku lalu menatapnya dan dia malah menyunggingkan senyumnya yang terlihat sangat manis olehku.


"Ah kamu menggodaku yah. Aku cemas tahu." Kutepuk dadanya refleks.


"Aww! Sakit!" Rintihnya tapi masih saja sempat tersenyum.


Dia pun tertawa dan entah kenapa aku sangat senang melihat tawa itu. Padahal dia sudah terluka, wajahnya babak belur. Saka terimakasih!


Aku tidak tahu ke mana dan kapan perginya om Roy karena aku sibuk mengurus Saka yang terluka. Tapi kata karyawanku om Roy pergi dengan menahan marah, wajahnya sangat menakutkan. Ah aku tidak peduli.


Aku membawa Saka masuk ke ruanganku dan meminta karyawan mencari kotak P3K. Tak lama Nia asistenku datang dan membawa sekotak P3K.


Aku membersihkan luka-luka Saka sebelum memberinya obat merah. Dia meringis kesakitan waktu kapas dan alkohol tengah menyentuh wajahnya yang terluka.


"Maaf sudah membawamu ke dalam masalah ini."


"Tidak masalah. Aku terlanjur di sini, tidak mungkin diam saja."


Wajah kami berdua begitu dekat karena aku sedang dalam posisi mengobati lukanya. Aku bahkan bisa merasakan hembusan nafasnya. Aku semakin tidak bisa mengontrol hatiku. Ah kenapa harus begini sih?


Desiran di hatiku kian hebat saat dengan cepat dia menangkupkan bibirnya ke bibirku. Aku kaget bukan main tapi juga tidak menolak. Ciumannya sangat lembut dan membuai. Aku bak melayang dibuatnya dan saat aku tengah menikmatinya tiba-tiba bibirnya dia tarik begitu saja. Anatra harus senang atau kecewa. Tapi bekas ciumannya masih terasa di bibirku.

__ADS_1


"Sorry Riana! Aku terbawa perasaan." ucapnya kemudian dan mengusap bibirku pelan.


Aku hanya terdiam. Entah harus berbicara apa dalam situasi seperti ini. Kejadiannya begitu tiba-tiba, aku bahkan merespon ciuman itu. Bodoh sungguh bodoh! Aku merutuki diriku sendiri yang tak bisa menolak lembutnya ciuman Saka.


"Sebenarnya apa masalah kamu dengan om tadi?"


"Ceritanya cukup panjang. Butuh waktu lama untuk bisa menceritakan semuanya padamu. Dulunya dia sahabat Papaku, mereka merintis perusahaan bersama-sama. Begitu perusahaan itu cukup besar Om Roy malah berlaku curang dan mendepak Papa keluar dari perusahaan."


"Lalu?"


"Karena dulunya hubungan keluarga kita baik, aku pun berhubungan baik dengan anaknya. Om Roy tidak suka itu dan murka. Intinya adalah dia tidak suka dan tak akan tinggal diam kalau tahu Papa atau aku sukses dalam hal apapun."


"Kamu memacari anaknya?"


Tidak kusangka pertanyaan itu akan ditanyakan oleh Saka. Aku menarik nafas dalam dan menghembuskannya pelan-pelan.


"Yah, kurang lebih seperti itu. Hubungan kami berjalan lancar dan bahkan sempat terjadi hubungan cinta segitiga. Karena saat itu dia dalam posisi telah bertunangan dan tunangannya adalah sahabatku. Hhh!"


"Tidak kusangka perjalanan cinta kamu cukup rumit dan berat juga ya. Sampai sekarang kamu masih berhubungan dengan anaknya?"


"Tidak lagi. Setelah pindah ke kota ini, aku tidak pernah lagi berhubungan dengan dia. Bahkan aku tidak mau tahu lagi."


"Kenapa?"


"Sekalipun aku cinta sama dia, tapi jika itu telah menyangkut kenyamanan keluargaku, aku tidak akan segan-segan meninggalkannya."


"Kamu masih cinta sama dia?"


"Entahlah. Eh ini kok jadi curhat-curhatan begini sih."


"Tidak apa-apa, aku suka mendengar cerita kamu."


*Aku tidak tahu sejak kapan hubungan aku dan Saka jadi cair seperti ini. Dia bahkan sempat mencuri cium, mengingatkan aku tentang masa lalu yang sejujurnya tak ingin lagi kuingat. Namun apapun itu, aku senang ada Saka sekarang.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung*.


__ADS_2