
Hari masih pagi betul, aku sudah tiba di toko yang mana semua karyawan sedang sibuk merapikan barang juga dibantu beberapa kuli angkut yang terlihat sibuk menaikkan barang ke mobil box sewaan.
Sebuah suara tiba-tiba mengejutkanku.
"Aku turut prihatin dengan masalah yang menimpamu. Siapa pun itu, tak akan kubiarkan dia mengganggumu lagi."
Suara berat itu rupanya datang dari Saka. Kenapa dia bisa tiba-tiba ada di sini?
"Trimakasih tapi aku rasa kamu tidak perlu ikut campur."
Aku sengaja menolaknya agar dia tidak berlaku sembarangan.
"Tidak mungkin seperti itu, aku sudah janji sama mama kamu."
"Maksudnya?"
"Apa masih kurang jelas? Aku Saka Mahardika akan selalu melindungi Riana Larasati dan tidak membiarkan siapapun menyakiti dia bahkan seujung kuku."
Aku terhenyak mendengar penuturan Saka yang jika dilihat dari raut wajahnya tak ada sedikitpun tersirat kalau dia sedang bercanda atas semua yang diucapkannya.
Aku menatapnya cukup lama, sampai akhirnya aku hanya mampu menjawab.
"Terserah kamu saja, lakukan apa yang menurut kamu baik."
"Nah gitu dong. Sekarang apa yang bisa kubantu? Aku sedang libur dan tampaknya di sini banyak hal yang bisa dikerjakan."
"Baguslah bertambah satu tenaga lagi. Kalau begitu aku tidak perlu menyewa kuli angkut lagi untuk mengangkut barang-barang ini."
"Ini semua tidak gratis Riana. Kamu harus membayarnya."
Aku menatapnya tak percaya. Ah tidak seharusnya aku percaya pada pria licik di depanku ini.
"Kamu mau dibayar apa?"
"Kamu harus traktir aku makan siang selama sebulan."
"Tidak mau."
"Kamu akan mau. Lihat saja nanti."
Aku menghembuskan nafas berat dan kembali melanjutkan pekerjaanku yang sempat terbengkalai karena kedatangan Saka. Sedang Saka sudah sibuk dengan kardus-kardus yang segera dia naikkan ke mobil box.
__ADS_1
Sejujurnya aku senang dia di sini, entah kenapa. Walau dia sedikit menjengkelkan tapi aku rasa dia orang yang baik.
Setelah berbenah cukup lama, aku melihat ke arah Saka yang sudah mulai berkeringat. Aku membawakannya botol air mineral, pasti dia sudah sangat haus.
Kusodorkan botol air itu padanya dan mata kami sempat bersirobok beberapa detik.
"Terimakasih."Ucapnya pendek dan segera membuka botol air mineral itu dan meminumnya hingga hanya tersisa setengah.
"Makan siang yuk! Aku yang traktir." Ujarku kemudian.
"Siapa takut." Dia mengedipkan matanya ke arahku yang malah aku menganggapnya kalau dia tengah menggodaku.
Dasar pria nyebelin.
"Aku sama Saka mau keluar makan siang dulu. Kalian juga boleh istirahat dan makan siang. Kita kumpul lagi di sini satu jam lagi."
Setelah pamit kepada karyawan, aku dan Saka masuk ke mobil dan menuju ke restoran yang tak jauh dari toko.
"Ngomong-ngomong kamu sudah mendapatkan tempat yang baru untuk toko sekaligus kantor pusat kamu?" Saka memulai percakapan setelah kita berdua hanya terdiam di mobil.
"Belum. Aku sudah menghubungi beberapa teman tapi hasilnya nihil. Ya sudahlah mungkin aku harus bersabar."
"Benarkah di mana?"
Mataku berbinar dan mulai bersemangat.
"Nanti kutunjukkan padamu setelah makan siang."
"Baiklah. Tapi kamu tidak minta imbalan macam-macam kan? sebagai balasan kalau kamu sudah bantuin aku. Tenang saja aku akan membeli tempat itu dari kamu."
"Baguslah. Aku memang berencana menjualnya padamu."
"Trimakasih ya. Memangnya sebelumnya tanah itu mau kamu gunakan untuk apa?"
"Tadinya mau aku bangun restoran, tapi karena restoran yang sekarang belum stabil jadi aku memutuskan belum saatnya menambah satu cabang lagi."
"Sudah lama di bisnis kuliner?"
"Cukup lama. Kenapa kamu tertarik?"
"Nggak sih. Dulu aku juga punya restoran tapi sepenuhnya bukan aku yang urus, melainkan sepupu aku."
__ADS_1
"Oh. Kapan-kapan datanglah ke restoranku. Aku menyediakan menu khusus masakan tradisional Nusantara. Karena bisa dibilang aku selalu takjub akan kekayaan rempah-rempah di negara kita ini."
"Berarti kamu juga pandai memasak ya?"
"Nanti aku masak buat kamu. Kamu harus mau mencicipinya."
"Baiklah."
Tidak terasa kami pun tiba di restoran dan kelihatannya cukup ramai. Aku dan Saka berjalan masuk ke restoran, namun ada insiden kecil yang menimpaku saat masuk. Dari arah berlawanan seorang wanita sedang berjalan tergesa-gesa dan malang tak dapat dihindari. Tubuh besar wanita itu menubrukku dan aku hampir terjatuh.
Dengan cepat Saka menangkap tubuhku yang hendak terjatuh ke belakang. Tangannya yang kokoh merengkuh pinggangku dan saat itulah mata kami kembali bersitatap. Jantungku berdebar cepat, di dalam matanya seperti ada yang menarikku untuk terus menatapnya.
"Aw...!" Jeritku yang hampir saja jatuh.
Wanita yang menabrakku itu sedikit pun memiliki rasa bersalah. Dia berlalu begitu saja seolah tak ada yang terjadi. Padahal aku sudah setengah terjatuh. Untung ada Saka.
Aku kembali gugup saat dia membantuku menegakkan badan dan tangannya masih tengah memeluk pinggangku.
"Trimakasih."
Sepertinya dia juga menikmati momen singkat barusan. Sama sepertiku, dia juga terlihat gugup. Namun cepat rasa gugup itu hilang darinya karena orang-orang malah memandanginya dengan perasaan takjub. Barangkali mereka menangkap momen tadi adalah momen romantis seperti di film-film India.
Aku membenarkan bajuku yang sedikit berantakan, lalu kami duduk di tempat yang masih kosong.
Saka kemudian memanggil pelayan dan memesan beberapa makanan. Sebenarnya lidah dia tidak terbiasa dengan masakan yang bukan dimasak oleh tangannya sendiri atau yang dimasak oleh Mamanya. Tapi berhubung karena dia menemaniku, jadilah dia ikut memakan masakan yang dimasak oleh orang lain.
"Riana, soal perjodohan kita..." ucapannya menggantung.
"Iyah ada apa?"
"Ah tidak ada apa-apa. Kamu teruskan saja makannya."
*Apa yang ingin kamu katakan Saka? Biasanya kamu paling menguasai setiap pertemuan kita. Mengapa kali ini kamu kelihatan gugup dan hanya bisa mencuri tatap ke arahku. Maafkan sikapku yang sedikit menjaga jarak, bukan aku tidak tertarik padamu. Tapi aku ingin meyakinkan hatiku lebih dulu. Kuharap kamu dapat mengerti.
.
.
.
Bersambung*
__ADS_1