
Part 1: Memulai Kembali
Pagi yang cerah menyambut kedatangan seorang pria dengan setelan jas hitam lengkap melekat di tubuhnya. “Selamat datang kembali di Bali, Tuan.” Sapa seseorang pria paruh baya dengan sopan dan ramah. Pria paruh baya itu biasa disapa Pak Bono, orang kepercayaan Tefan di salah satu resort miliknya di Bali. Ya, pria yang baru saja tiba di Bali itu adalah Tefan. Terlihat berbeda sekali dengan Tefan beberapa tahun silam. Semua berubah, sekarang dia jauh lebih segar. Wajahnya jauh lebih bersih dan bersinar. Tubuhnya kembali atletis seperti dulu dan dia sekarang menjadi salah satu orang yang disegani di Bali.
Pak Bono mengambil koper kecil di tangan Tefan. “Biar saya saja, Tuan.” Tefan pun memberikan koper itu dan berjalan bersama Pak Bono ke parkiran. “Terimakasih, Pak Bono. Bagaimana kondisi resort selama kepergianku?” Tefan baru saja menghabiskan waktu liburnya keluar negeri. Dia selalu bilang pada Pak Bono, ‘Liburan bagi saya adalah sambil nyelam minum air’. Tentu saja tujuan liburan dia adalah dengan mempelajari kelebihan-kelebihan dari resort-resort di luar negeri. Kemudian diterapkan pada pengembangan resortnya di Indonesia terutama di Bali.
“Semua berjalan dengan baik, Tuan. Tamu meningkat belakangan ini. Tingkat kepuasan pengunjung pun sangat bagus.”
Tefan masuk ke dalam mobil setelah dibukakan pintu mobil oleh Pak Bono. Di dalam mobil, keduanya kembali terdiam, sibuk dengan urusan masing-masing. Pak Bono sibuk dengan setir menyetir mobil, sedangkan Tefan sibuk dengan kerjaannya di gadget miliknya. Perjalanan kali itu terasa lebih senyap dari biasanya. Mobil berjalan lebih pelan karena Pak Bono tahu, tuannya itu sangat tidak menyukai mobil yang melaju cepat. Apalagi dalam kondisi dia sedang bekerja seperti sekarang.
Beberapa saat kemudian, mereka pun sampai di sebuah resort yang indah nan megah. Salah satu milik Tefan yang paling luas dan diberi nama Ri’ Resort. Ri’ Resort ini dibangun Tefan menghadap laut, dimana kita bisa melihat pemandangan laut saat matahari terbit atau pun saat matahari tenggelam. Hal itu tentu saja merupakan daya tarik bagi setipa pengunjung yang datang ke Bali untuk tujuan wisata.
Seorang perempuan tinggi, langsing, putih dan berwajah cantik, mendatangi Tefan.
“Tefan…? Hai…! Jahat ih, liburan gak pakai bilang-bilang. Tahu kamu liburan aku pasti ikut.” Cerocos perempuan yang akrab disapa Femi itu.
Kalian tahu? Perempuan ini adalah perempuan yang selalu tergila-gila pada Tefan. Sayangnya, Tefan masih memilih untuk sendiri saja. Bagi Femi, Tefan ini pria sejenis es batu. Dingin tapi bikin meleleh setiap wanita.
“Kamu, di Bali? Sejak kapan? Bukannya kamu di Jakarta ya?” Balas Tefan balik bertanya pada Femi seraya cipika cipiki dengan perempuan berdarah Indo Belanda itu.
“Tuh kan, ucapanku tadi diabaikan.” Lanjut Femi merajuk.
“Ucapan yang mana si?” Tanya Tefan. Sekarang mereka sudah berada di lift setelah tadi Bono naik duluan karena tidak ingin mengganggu privasi tuannya.
“Soal liburan. Jangan pura-pura buded deh.”
“Oh. Iyah, aku liburan sekalian urusan kerjaan. Kalau kamu ikut, bagaimana bisa aku kerja, Fem. Kamu kan tahu aku orangnya tidak bisa diganggu baik saat liburan apalagi saat kerja.”
__ADS_1
“Iya deh iya, aku mengalah saja. Gimana bisnis resort kamu?”
“Seperti yang kamu lihat, berkembang dengan pesat dari hari ke hari. Haha.” Jawabnya sedikit berbangga diri.
“Sombong ya sekarang. Mentang-mentang sudah jadi pengusaha tersukses seantero Bali."
"Bukan begitu Fem, kapan si aku pernah menyombongkan diri. Haha."
Tefan melirik ke arah Pak Bono, meminta agar Pak Bono duluan saja. Dia kemudian melanjutkan perbincangannya dengan Femi. Mengajak Femi untuk ke salah satu cafe pribadinya di resor itu. Agar mereka dapat leluasa berbicara satu sama lain.
Tak lama kemudian, mereka pun tiba di cafe itu. Mereka memesan masing-masing segelas moccachino panas. Beberapa pasang mata tampak memperhatikan mereka dari mulai masuk ke cafe hingga saat mereka duduk berhadap-hadapan.
"Lihatlah betapa serasinya mereka. Apa kamu tahu siapa lelaki itu?"
"Itu kan pemilik resor ini. Bapak Tefan dengan sejuta pesonanya dalam memikat hati para wisatawan."
Yup! Begitulah bisik-bisik para wanita sepanjang mereka berjalan melewati kerumunan wanita sosialita itu. Daya tarik Tefan memang luar biasa, tak ada yang meragukannya lagi. Di balik kacamata hitam itu, terdapat tatapan maut nan mematikan bagi siapa saja yang kebetulan bersitatap dengan mata indahnya itu.
"Hhhaaa..., kamu memang luar biasa, Fan." Ujar Femi saat usai mendengar para wanita sosialita itu.
"Luar biasa apanya?"
"Lihat mereka? Mereka melihatmu sudah seperti cacing kepanasan. Membutuhkan sentuhan dari tangan lembutmu yang jenjang itu, sekaligus otot kekar yang dibungkus oleh jas ketatmu itu. Mereka pasti sudah membayangkan hal aneh-aneh tentang dirimu. Tak dipungkiri si, aku saja kadang berimajinasi sendiri. Haha. Kamu tahukan, betapa aku tergila-gila padamu."
"Halah...! Biasa saja. Apa kamu sudah gila?"
"Aku kan sudah bilang, aku sudah gila. Apa pengakuanku tadi tak cukup membuatmu percaya bahwa aku ini tergila-gila pada mahluk sedingin es sepertimu?"
__ADS_1
"Haha..., kita ini sedang bicara apa. Sudah jangan bahas itu lagi. Bagaimana karir modelmu?"
"Bagus. Aku mendapatkan banyak job bulan ini. Mungkin kita akan jarang bertemu nanti."
"Wow..., selamat."
"Tidak usah pura-pura terkejut seperti itu. Kuharap kamu tidak rindu padaku. Haha."
"Tidak akan. Haha...."
"Tuh kan. Kamu mana pernah mau serius jika berbicara soal perasaan. Sudahlah, aku ada janji nanti sore. Aku mau istirahat dulu sebentar."
"Baiklah! Aku juga mau istirahat sebentar sebelum melanjutkan pertemuan dengan para investor."
"Oke. Kita berpisah di sini."
"Bye..."
Tefan memang nampak sangat berbeda sekarang. Banyak perubahan terjadi dalam hidup dia. Sejak memutuskan pergi meninggalkan kehidupannya yang lama. Dia memulai lagi dari nol. Kemudian, nasib baik berpihak padanya. Dia kembali menata hidupnya dengan menjadi pengusaha resor di Bali.
Siapa sangka jika usahanya itu berbuah manis sekarang. Lima tahun sejak kepergiannya, sekarang usahanya benar-benar berkembang dengan sangat baik. Apapun bisa dia dapatkan, kecuali satu. Wanita yang membuatnya jatuh cinta. Belum ada satupun wanita yang dapat membuatnya jatuh cinta, padahal dengan mudahnya dia bisa saja berganti pasangan. Mengingat status dia sekarang yang bisa dibilang tajir melintir.
Femi? Femi memang cantik. Supermodel. Tapi masih belum bisa membuat hati Tefan terpikat dan jatuh cinta. Meski wanita itu secara terang-terangan menyatakan perasaannya. Namun bagi Tefan, Femi hanya akan selalu jadi temannya. Tidak lebih.
Bertahan sendiri selama bertahun-tahun, membuat Tefan tak lantas merasa kesepian. Dia selalu sibuk dengan urusan pekerjaan, tidak memiliki waktu untuk meratapi diri dan masa lalu kelamnya. Dan lagi, memang cukup bijak untuk tidak mencampur adukkan segala urusan di masa lalu dan sekarang. Baginya, masa lalu biarlah tetap di sana dan masa sekarang adalah hal pasti yang mesti disambutnya. Itulah prinsip hidup dia saat ini.
Begitulah hidup, ada kalanya kita diuji dengan berbagai masalah agar kita dapat belajar dan melampaui batas yang kita bisa. Menjadi lebih baik, itulah sebuah tujuan.
__ADS_1