Complicated Love #2

Complicated Love #2
Musim Kedua: Bimbang


__ADS_3

Shena dan Serly dorong-dorongan begitu mereka sampai di restoran. Mau bilang ke Mamanya tapi takut, tidak bilang nanti ketahuan Riana. Kedua gadis itu gugup, semua anggota keluarga yang hadir mulai mengamati mereka.


"Kenapa, dek? Uang kalian tidak cukup buat beli barang yang kalian suka?" tanya Raka mencoba menebak kegelisahan adik-adiknya.


"Hehe ... nggak kok Kak. Semua sudah dibayar. Uangnya cukup. Boleh duduk, Kak?" jawab Shena salah tingkah.


Sheril hanya tersenyum melihat tingkah dua adik iparnya itu. Suasana makan malam itu berlangsung cukup baik, kecuali satu masalah yang masih disembunyikan oleh dua kakak beradik Shena dan Serly.


Sampai di villa yang mereka sewa khusus untuk liburan selama di Bali, Shena dengan cepat menemui Mamanya. Tentu saja Serly tidak mau ketinggalan.


"Ma ... tahu tidak? Tadi aku ketemu Kak Riana!" ucap Shena dengan suara berapi-api sesaat ketika dia tiba di kamar Mamanya.


Mamanya terkejut mendengar ucapan anaknya itu. "Ketemu bagaimana maksud kamu?"


"Kak Riana di Bali."


"Hah? Jangan bercanda kamu!" seru Mamanya dengan nada suara naik satu oktaf.


"Iyah, serius ini. Tanya Serly. Kita ketemu di Mall tadi. Mama dan Kak Raka duluan ke restoran."


"Astaga! Bahaya kalau gitu, kita harus jauhkan mereka. Panggil Sheril ke sini. Kita harus beritahu dia."


"Menurutku jangan deh, Mam. Kan Kak Riana juga tidak tahu Kak Raka itu adalah Saka, suaminya. Bali luas Mam, mana mungkin ketemu." Shena berusaha meyakinkan Mamanya.


Mamanya terlihat berpikir. 'Iya juga sih, Bali seluas ini tidak mungkin mereka bertemu,' batinnya.


"Ya sudah pokoknya jangan bocorin hal ini ke Riana atau ke Sheril dan Raka. Riana tidak boleh tahu kalau Saka masih hidup. Hubungan Kakakmu dan Sheril bisa saja berantakan gara-gara wanita itu. Dia hanya pembawa petaka dalam keluarga kita. Pembawa sial! Setelah Papanya meninggal, giliran Mamanya, setelah itu dia malah membawa sial ke dalam keluarga kita dan Saka hampir saja ikut meninggal."


"Mama ... itu hanya sebuah kebetulan. Lagi pula siapa coba yang mau anggota keluarga kita meninggal? Apalagi mereka adalah orang-orang yang sangat kita sayangi. Mama berlebihan!"

__ADS_1


"Pokoknya jangan sampai Riana tahu, Saka masih hidup. Titik!"


"Mam ..., Kiano apa kabar ya? Dia pasti sudah besar sekarang. Mama nggak kangen?"


Mamanya tiba-tiba terdiam. Dia tak bisa memungkiri, kalau dia juga sangat merindukan cucunya itu.


Seharusnya aku bisa mengambil Kiano darinya, tapi wanita itu malah membawa Kiano kabur. Kiano, oma kangen sayang. Kamu pasti sudah sangat besar.


"Harusnya Mama bisa mengambil Kiano saat itu, tapi perempuan itu malah membawanya kabur. Semoga dia baik-baik saja. Mama juga kangen sama cucu Mama satu-satunya itu!" pungkasnya sedih.


Seorang Ibu tentu bisa berpikir, bagaimana rasanya dipisahkan dari anak sendiri. Ini malah dia berniat memisahkan Kiano dari ibunya sejak dulu. Di mana perasaannya?


*


Di kamar yang berbeda, Raka sedang bermesraan dengan Sheril. Wanita itu kini sudah resmi jadi isterinya. Setelah melewati proses penyembuhan yang cukup lama dan hampir membuat Saka menyerah atas hidupnya. Namun wanita itu terus mendampinginya hingga sembuh. Saka hilang ingatan, untuk mengaburkan fakta bahwa dia masih hidup, Mamanya sengaja tidak mencari Riana. Menjauhkan Saka, biar saja Riana tak tahu apapun dan tetap berpikiran bahwa Saka suaminya sudah tiada.


Ya, ingatan Saka hanya sampai ketika dia dan Sheril berpisah waktu itu. Sheril memilih pindah keluar negeri. Saka merasa kehilangan dalam waktu cukup lama. Tidak ada ingatan tentang perempuan bernama Riana yang dia peristeri kemudian memiliki anak yang lelaki yang lucu.


Sheril pun tak pernah tahu jika Saka sebenarnya sudah menikah. Mama Saka tidak memberitahu fakta yang sebenarnya. Dia mau Sheril tetap berada di sisi anaknya itu. Sheril yang menemukan Saka, maka hanya wanita itu yang boleh menemaninya hingga kapanpun.


"Raka ..., kamu ingin punya anak berapa?"


"Hmm ... berapa ya? Nggak tahu, tapi sejak dulu aku ingin sekali memiliki anak laki-laki. Pernah dan bahkan sering, aku bermimpi seorang anak laki-laki berlari ke arahku dan memanggilku Papa. Entah kenapa aku ngerasa kalau itu bukan mimpi melainkan kenyataan. Namun ketika aku terbangun, kenyataan berbicara lain bahwa aku ini belum beristeri, bagaimana bisa punya anak? Sekarang karena aku sudah punya kamu, mimpi itu mungkin saja akan jadi kenyataan dalam waktu dekat."


Sheril menyimak setiap kalimat Raka, ujung bibirnya tertarik membentuk senyum ketika di akhir kalimat Raka sangat menginginkan kalau dia ingin memiliki anak dari Sheril.


"Habis liburan nanti, kita program ya?"


Raka mengangguk pelan dan tersenyum. Mendekatkan wajahnya ke wajah Sheril isterinya. Bibir mereka saling melekat satu sama lain, saling mencari dan saling menginginkan. Malam syahdu menjadi saksi, Raka menjadi seutuhnya ketika tubuhnya menyatu dengan Sheril.

__ADS_1


***


Riana masih teringat tentang adik-adik Saka yang tiba-tiba ada di Bali. Pikirannya semakin tak tenang, kadang diajak bicara oleh customer dan Nadia tapi dia hilang fokus. Ditanya apa, dijawab apa.


"Bu ..., sehat kan?" tanya Nadia penasaran.


"Sehat, Nad. Ada apa?"


"Dari tadi, Nadia perhatikan Ibu kayak kurang fokus. Lagi mikirin sesuatu ya?"


"Ah, nggak ada kok. Emm ... Nad, menurut kamu gimana? Seseorang yang sudah meninggal bisa hidup lagi tidak?" Riana bertanya ragu pada Nadia. Tepatnya pertanyaan yang sangat tidak masuk akal.


"Hah? Ibuu ... kenapa nanya seperti itu? Jelaslah orang yang sudah meninggal tidak mungkin hidup lagi. Ibu ada-ada saja."


Riana tersenyum kecut.


Entah kenapa aku merasa, kalau mereka menyembunyikan sesuatu dariku. Kelihatan dari wajah mereka yang gugup dan gelisah saat bertemu denganku. Ini hanya pikiran yang aku nggak tahu benar atau salahnya, tapi feeling seorang wanita apalagi seorang ibu dan pernah jadi isteri seorang dari seorang pria. Biasanya sangat sensitif akan hal-hal yang ada kaitannya dengan hidup orang-orang yang pernah dekat. Saka ... kenapa aku merasa dia masih hidup ya?


"Bu ... Ibu!" panggil Nadia lagi. Seperti tadi, Riana masih sibuk dengan alam pikirannya sendiri.


"Maaf Nadia, mungkin aku butuh istirahat. Sejak semalam aku tidak bisa fokus mengerjakan apapun. Jika Kiano pulang, suruh langsung naik saja ya?"


"Iya, Bu. Istirahat yang banyak, sebentar lagi kan Ibu akan menikah dengan Pak Tefan, seminggu lagi loh Bu!" ujar Nadia mengingatkan seraya menggoda Riana.


Riana dilanda penasaran. Pikirannya semakin tak tenang. Di tempat tidur, bukannya tidur dia malah sibuk menatap langit-langit kamarnya.


Saka ... apa kamu masih hidup? Tefan ... maafkan aku. Kalian adalah dua pria yang sama-sama kucintai. Jika diminta untuk memilih salah satu saat ini, mungkin aku tidak akan pernah bisa. Aku hanya butuh kepastian, mengenai orang yang mirip dengan Saka dan mengapa dua adiknya ada di Bali dan gugup saat melihatku, 


***

__ADS_1


__ADS_2