Complicated Love #2

Complicated Love #2
Musim Kedua: Tempatmu Pulang


__ADS_3

Masih di sini tetap di sini, lewati senja bersandar di bahuku. Menangislah, jadikan aku tempatmu pulang!


....


Tefan sedang mengecek perkembangan resort yang baru beberapa bulan dia resmi buka di daerah Kuta Bali. Bersama Pak Bono dia berkeliling ditemani seorang marketing yang selama ini mengurus resort tersebut. Resort ini lebih mengutamakan pelanggan yang ingin menikmati me time. Makanya seringkali disebut sebagai Resort keluarga. Cocok bagi mereka yang libur bersama keluarga, atau pasangan yang sedang ingin menikmati honeymoon di Bali.


Pemandangan yang paling menyita perhatian Tefan adalah, sosok pasangan yang sedang menatap view laut sambil bergandengan tangan.


Rasanya aku mengenal lelaki di samping wanita itu.


"Pak Bono, bisa cek siapa yang memesan Resort ini sekarang?"


Saking penasarannya, Tefan meminta Pak Bono mencari tahu siapa yang tengah menyewa resort dia saat ini.


"Ada satu keluarga yang menyewa, Tuan. Selain itu, mereka juga ramai-ramai, ada beberapa orang tapi masih keluarga. Namun, aku merasa ada satu pasangan itu yang sedang merayakan honeymoon di Bali." Sebelum mencari tahu, marketing yang bersamanya saat ini langsung memberitahu.


"Ah iya, bagaimana aku bisa lupa dengan kehadiranmu di sini. Maafkan aku!"


"Tidak masalah, Tuan. Nah, yang menyewa resort ini orang yang di sana Pak! Sepertinya mereka pasangan yang baru saja menikah."


"Nama penyewanya siapa?"


"Pak Raka dan Ibu Sheril kalau tidak salah, Tuan!"


Raka? Tapi dia sangat mirip dengan Saka. Apa mataku saja yang salah lihat?


Pak Bono heran, mengapa bosnya ini begitu tertarik dengan pria yang menyewa resortnya. Dia pun berinisiatif kenapa tidak beramah tamah saja dengan si penyewa.


"Tuan, tidak ingin sekalian menemui mereka?" tawar Pak Bono.


"Nah ide bagus itu, Tuan. Ayo mari kuantar bertemu mereka!" ucap si marketing yang memiliki nama Yohan.


Daripada dia penasaran, dia pun menerima saran tersebut.


"Halo ... selamat pagi Pak Raka, Ibu Sheril!" sapa Yohan. "Sedang menikmati keindahan pemandangan pagi hari ya?" lanjutnya lagi.


Raka dan Sheril pun berbalik untuk menyapa balik rombongan Yohan. Kedua orang itu tersenyum kepada Yohan, Pak Bono dan tentu saja pada Tefan.


Tefan sejenak bergeming. Wajahnya kaku dan terkejut. Dia tak salah mengira, orang di depannya yang bernama Raka ini sangat-sangat mirip dengan Saka.

__ADS_1


Saka? Tidak salah lagi, ini Saka. T-tapi kenapa dia tak mengenaliku? Siapa wanita di sampingnya ini? Apa dia belum meninggal selama ini dan Riana tidak tahu?


Begitu banyak pertanyaan yang muncul di kepala Tefan seputar pria yang mirip Saka namun tak mengenali dirinya sama sekali.


"Pagi, Pak!" sapa Sheril.


Raka memang sedikit pendiam sejak kecelakaan itu.


"Bos kami sedang berkeliling melihat-lihat perkembangan Resort. Kebetulan ingin tahu kesan Bapak dan Ibu atas resort kami ini." Yohan melanjutkan basa basinya.


"Menurutku bagus, iya kan sayang? Viewnya indah karena langsung menghadap laut. Bagus untuk proses pemulihan suami saya." Sheril menjawab dengan tak lepas menatap Raka suaminya.


Tefan semakin yakin, kalau Saka hilang ingatan. 'Bagaimana ini?' pikirnya.


"Kenalin, Tefan!" ucap Tefan yang serta merta mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Saka. Disambut hangat oleh Saka dan jabat tangan mereka berlangsung beberapa detik.


Pria ini, kenapa aku merasa seperti mengenalnya? Apa dia pernah ada di masa laluku? Potongan cerita yang tidak bisa aku ingat sama sekali.


Saka mulai membatin saat tangan hangat Tefan menyentuh permukaan kulitnya. Tefan menatap sejurus ke mata Saka. Dia hanya mendapati tatapan kosong, tidak ada kilatan kemarahan di wajah Saka. Padahal mereka punya pengalaman buruk semasa memperebutkan Riana.


"Raka!" ucapnya.


Tefan tak fokus lagi dengan topik yang sedang dibahas Yohan dan Pak Bono. Pikirannya sedang terbang menuju Riana.


Bagaimana jika Riana tahu, Saka masih hidup? Masihkah dia akan memilih tetap bersamaku? Tapi aku tetap harus memberitahu Riana tentang fakta ini. Aku harus menerima segala resikonya.


***


"Bagaimana kalau Saka hidup lagi?" tanya Tefan yang malam itu berkunjung ke rumah Riana dengan niat ingin makan malam bersama.


Riana yang mendapat pertanyaan seperti itu, memberikan ekspresi tak percaya ke arah Tefan. Sama sekali tak menyangka jika pertanyaan yang pernah dia ajukan ke Nadia kini malah diajukan oleh Tefan.


" Maksud kamu?"


"Kurasa pertanyaanku sudah jelas, sayang! Bagaimana jika Saka masih hidup?"


"Tidak mungkin. Tidak ada orang meninggal yang tiba-tiba hidup lagi." Riana menjawab seolah mengkopi jawaban Nadia saat dia bertanya.


"Riana, aku serius! Bagaimana kita, jika ternyata Saka masih hidup?"

__ADS_1


"Tefan, kumohon jangan bertele-tele. Katakan saja apa yang ingin kamu katakan!"


"Tadi pagi, aku mengunjungi Resort. Di sana ada pria yang mirip sekali dengan Saka. Namanya Raka, dia sedang berlibur keluarga merayakan bulan madu bersama seorang wanita bernama Sheril."


Deg!


Hati Riana seperti dihantam beda keras dan tumpul. Dia terhenyak. Bergeming. Tak dapat berucap apa-apa.


Jadi namanya Raka, bukan Saka? Aku yakin itu Saka, dia pernah cerita memiliki mantan bernama Sheril. Tidak salah lagi, dia pasti Saka.


Matanya memerah, berkaca-kaca dan siapapun yang melihatnya akan terbawa suasana. Siapa yang tidak akan shock, jika suami yang dulu kita saksikan tubuhnya terbakar akibat kecelakaan dan dinyatakan sudah meninggal. Menyaksikan pemakaman dan semua proses hingga penguburan. Lalu sekarang, tiba-tiba dia muncul entah bagaimana menggambarkan perasaan Riana saat ini.


"Hei ... ada apa?" Tefan merasa bersalah menceritakan itu. Riana menangis sesenggukan.


Tak ada jawaban apapun dari Riana. Tefan hanya bisa menarik tubuh Riana ke dalam pelukannya.


"Jika kamu merasa ada hal yang belum selesai di antara kalian. Aku bisa menunggu Riana." Tefan berucap lirih di tengah Isak tangis Riana.


"Aku tidak akan menahanmu, jika kamu hendak mencari kebenaran. Aku akan mengantarmu, hingga kamu menemukannya. Menangislah, menangislah Riana. Jangan sembunyikan air matamu."


Aku tahu itu Saka, sejak pertama kali melihat dia di pantai itu. Perasaanku sudah tidak enak. Merasa dekat namun rasanya sangat jauh.


Riana masih menangis. Tefan hanya bisa menghibur wanita itu. Ketika pelukan Riana melonggar dan wajahnya menatap penuh arti ke Tefan.


"Temani aku!" Hanya itu yang diucapkan Riana. Terkesan egois, namun bagaimana pun menyakitkannya sebuah kenyataan, maka harus dihadapi.


"Pasti!" jawab Tefan seraya mendekatkan kening antara kening.


Menghapus air mata Riana yang berlinang.


"Dulu, aku yang sering membuatmu menangis. Sekarang, aku pun masih membuatmu menangis. Rasanya tak habis-habis aku membuatmu sedih, Riana."


"Jangan berkata seperti itu, ingat siapa yang ada di sisiku saat terpuruk hingga saat ini? Kamu. Kamu, Fan!"


Sekali lagi Tefan hanya bisa memeluk Riana, tidak pernah dia mencintai Riana setulus saat ini. Bahkan dia siap jika setelah Riana bertemu Saka dan Riana memilih meninggalkannya. Karena kebahagiaan dia saat ini hanyalah melihat Riana tersenyum dan bahagia, meski bukan dengannya.


"Ingat, aku akan selalu jadi Tefan yang pertama kali kamu kenal. Memberikan pundakku seperti ini, hanya agar kamu bisa merasa tidak sendiri di dunia ini. Temui dia Riana, mengenai pernikahan kita aku bisa menunda itu hanya ketika kamu benar-benar siap. Saat kau siap, maka saat itulah kamu menjadi milikku seutuhnya. Dan akulah satu-satunya tempatmu untuk pulang."


***

__ADS_1


__ADS_2