
"Apa yang terjadi, Riana?" Tanya Tefan penasaran.
"Seperti yang kamu lihat sekarang, tokoku hancur, berantakan dan butuh waktu berminggu-minggu untuk mengembalikannya seperti semula." Jawab Rose seraya menarik nafas panjang.
"Kamu tahu siapa pelakunya?"
"Tentunya orang yang tidak suka padaku, kata Nadia dua orang berbadan besar datang dan menghancurkan toko ini begitu saja. Bahkan satpam yang bertugas di depan pun dihajar oleh mereka dan sekarang masuk rumah sakit."
"Iya, tapi siapa?"
"Coba saja analisis setiap kalimatku, Tefan. Orang yang tidak suka padaku cuma satu orang dan orang itu pernah datang ke sini dan mengancamku. Apa itu belum cukup bukti bahwa pelakunya adalah dia?"
"Maksud kamu, Femi?"
"Siapa lagi? Orang yang terobsesi dan tergila-gila padamu selain perempuan itu. Hanya saja sekarang aku belum punya bukti kuat, CCTV pun dirusaki oleh mereka. Satu-satunya cara agar perempuan itu tertangkap adalah menemukan dua orang yang melakukan pengrusakan di toko ini. Kemudian membuatnya mengakui perbuatannya dan memaksanya agar mau mengatakan siapa yang menyuruh mereka melakukan itu."
"Hei tenang dulu, belum tentu juga dalangnya Femi kan?"
"Jadi kau membelanya?"
"Bukan begitu, tapi kamu tidak boleh menuduh orang sembarangan seperti itu."
"Sudahlah, sebaiknya kamu pulang! Biar urusan ini aku selesaikan sendiri, aku sudah terlalu capek hari ini. Jangan menambah bebanku lagi, Fan."
"Ri, Riana...!" Panggil Tefan saat Riana sudah berdiri dan melangkah menuju tangga meninggalkan dirinya.
Shit...!
Tefan mengepalkan tangannya, dia sama sekali tidak suka situasi seperti ini. Bisa-bisanya dia malah terlihat seperti membela Femi. Meskipun bukan maksudnya seperti itu, tapi jelas-jelas kata-katanya sudah menyakiti Riana.
Pasrah. Tefan pulang dengan lesu ke kantor. Dia menghubungi Pak Bono.
"Ada tugas buat Pak Bono."
"Ya, Tuan."
"Selidiki mengenai kasus pengrusakan di toko Riana. Aku mau orang itu tertangkap dan bawa ke hadapanku."
"Hah? Dirusak?"
"Iyah, tokonya dirusaki orang tak dikenal. Sekarang ruko itu tak aman buat Riana tinggal di sana. Mintalah beberapa orang berjaga di sekitar ruko Riana. Aku tidak mau terjadi apa-apa sama mereka."
"Baik, Tuan. Segera dilaksanakan!"
__ADS_1
Klik.
Sambungan telepon terputus. Tefan tak jadi pulang ke kantornya. Dia memutuskan untuk pulang ke Villa miliknya.
Aku telah gagal menjaga kamu Riana, maafkan atas kelalaianku kali ini. Tapi tak akan kubuat kesalahan itu terjadi dua kali.
***
"Bunda, jangan sedih ya. Maafin Kiano, tidak bisa jaga Bunda." Kiano memeluk Riana yang sedang duduk menunduk menangkup kepala.
Riana bangun dan menatap Kiano. Membingkai wajah anaknya dengan kedua tangannya, lalu mencium kening Kiano penuh sayang.
"Terimakasih sayang, Kiano sudah perhatian sama Bunda. Kiano tidak salah, jadi tidak perlu minta maaf. Bunda hanya perlu menenangkan diri untuk bangun dan memulai lagi semuanya."
"Iyah. Bunda, Kiano pijit ya. Bunda pasti capek, biarkan Kiano berbakti sama Bunda."
Riana tersenyum melihat wajah Kiano yang tulus sayang padanya dan menunjukkan perhatiannya. Riana berbaring di atas kursi dan Kiano bersiap memijat Riana.
Pemandangan itu sangat membuat hati terenyuh, melihat Kiano begitu perhatian pada bundanya.
Ada sebuah lirik lagu yang dulu seringkali dinyanyikan banyak orang. Kasih Ibu kepada Beta, tak terhingga sepanjang masa...
Potongan lirik lagu itu tentu saja berarti bahwa seorang ibu akan selalu menyayangi anaknya apapun yang terjadi.
Disela Kiano memijat, Riana mengucapkan sesuatu.
"Kiano, seberat apa pun masalah yang Bunda hadapi, tidak ada halangan yang bisa menghentikan kasih sayang Bunda pada Kiano. Karena Kiano adalah alasan bagi Bunda untuk terus ada di dunia ini."
Kiano tersenyum manis sekali, dia memeluk leher bundanya dan menghujani Riana dengan banyak ciuman.
"Walau mustahil bagi bunda, menjadi Ibu yang sempurna buat Kiano. Namun, Bunda akan selalu berusaha untuk melakukan yang terbaik bagi Kiano."
"Bunda, terimakasih. Kiano akan selalu sayang sama Bunda. Kiano sudah tak sabar menjadi dewasa, agar Kiano bisa melindungi dan menjaga Bunda. Tak ada yang bisa menyakiti Bunda, siapapun yang menyakiti hati Bunda, maka orang itu akan menjadi musuh Kiano."
"Hehe, Kiano sayang. Terimakasih sudah sayang Bunda, Bunda tak sabar menunggu Kiano dewasa. Anak Bunda pasti akan menjadi pria yang baik hati dan bertanggungjawab."
"Tentu dong, Bunda."
***Drttt...
Drttt...
Drttt***...
__ADS_1
Ponsel Riana yang terletak di atas meja bergetar, Riana melirik siapa penelponnya.
"Kiano, Bunda terima telepon dulu ya. Sebaiknya Kiano masuk kamar dan tidur."
Kiano mengangguk, segera masuk kamar dan meninggalkan Bundanya.
"Ya, ada apa?" Jawab Riana setelah menggeser layar ponselnya ke mode menerima telepon.
"Lemas banget suaranya, Ri?"
"Langsung saja, Fan. Aku sedang capek banget."
"Ya sudah kamu istirahat ya, jangan terlalu dipaksakan. Tubuh kamu juga butuh asupan, besok aku ke tempatmu."
"Iyah."
Sambungan telepon terputus. Riana masih tidak bersemangat menerima telepon dari siapapun. Tenaganya terkuras memikirkan masa depan tokonya yang hancur seketika.
Ting!
Sebuah pesan masuk ke ponsel Riana.
Pelajaran buat seorang perempuan tak tahu malu. Hari ini mungkin tokomu yang hancur, tapi jika kamu masih ngeyel juga dan mendekati Tefan, maka bukan hanya tokomu tapi seluruh hidupmu juga akan hancur. Bila aku tak bisa memiliki Tefan, maka perempuan manapun tak boleh memilikinya.
Membaca pesan itu, Riana ingin sekali melempar ponselnya. Dari bahasanya, Riana tahu darimana pesan itu berasal. Riana memijit kepalanya, kemudian beranjak masuk ke dalam kamarnya. Sebelumnya, dia menengok kamar Kiano. Anak itu sudah tertidur pulas.
***
Keesokan harinya, tak terduga beberapa orang datang ke ruko Riana. Membawa peralatan kebersihan sendiri. Menyerbu ruko Riana yang saat itu bahkan Nadia saja belum datang. Mungkin pukul enam pagi orang-orang itu sudah berdatangan dan mulai membersihkan ruko Riana.
Sadar ada suara ribut di lantai bawah, Riana segera turun. Dia baru saja menyiapkan sarapan untuk Kiano sebelum berangkat sekolah.
Sampai di lantai bawah, Riana dikejutkan dengan Tefan dan beberapa orang lainnya sedang melakukan pembenahan pada toko Riana. Sekitar 5-6 orang, 7 termasuk Tefan.
Riana melihat Tefan dengan pakaian sederhana, celana pendek dan baju kaos hitam. Seorang pemilik resort terkenal di Bali sedang menyapu sebuah toko kecil, sungguh di luar dugaan. Tefan bahkan yang mengomandoi langsung pekerjaan itu.
"Pagi, Riana!" Sapanya.
"Sejak kapan kamu di sini? Dan, itu? Siapa mereka?"
"Mereka petugas kebersihan di Resort milikku. Aku meminta bantuan mereka langsung untuk membenahi toko ini. Jangan salah sangka, aku melakukan ini semua karena semata-mata tak ingin membuat kamu kelelahan dan pusing memikirkanny. Jangan usir aku atau pun mereka, okey?"
Tefan mengedipkan matanya satu, meminta persetujuan Riana.
__ADS_1
Huh, maafkan aku sudah mendiamkanmu. Semata-mata aku hanya ingin memenangkan diri saja. Bahkan di saat aku diam begini, kamu justru berusaha menghiburku. Terimakasih, Fan.