
Aku tiba di apartemen Saka tepat pukul tujuh, lebih awal dari waktu yang kusampaikan sebelumnya. Sengaja datang cepat karena aku ingin melihat Saka memasak. Aku sangat suka melihat dia memasak, lebih tepatnya kecanduan.
Entah bagaimana ceritanya tapi aku melihat dia memasak itu sangat seksi. Apalagi jika kemeja dia dinaikkan setinggi siku atau di bawahnya sedikit kemudian kancing baju paling atas di buka hingga tiga kancing. Belum lagi kalau dia berkeringat dan keringatnya jatuh pelan-pelan di dadanya yang bidang.
Terkadang aku sampai menelan air liurku sendiri saking tertariknya. Tak bosan melihat dia mengolah bumbu, mengolah makanan, mencicipi rasanya. Bagiku itu semua adalah pemandangan yang indah. Jadi tidak perlu jauh-jauh untuk melihat sesuatu yang indah, sensual, dan bikin jantung mau copot. Cukup liat Saka memasak dengan gestur tubuhnya yang bikin menelan ludah.
"Baunya sepertinya enak," ucapku saat mendekatinya ke dapur.
"Kamu sudah sampai."
"Sekarang di sini nih, masa gak liat."
"Sini deh, liat."
Aku mendekat ke sisi kanannya untuk melihat apa yang mau dia tunjukkan. Dari baunya saja sudah enak banget. Dia tahu aku itu hobi makan ikan, jadilah malam ini dia masak sop ikan yang paling enak yang pernah aku rasain.
"Ikannya kamu apain? Kok gak bau amis ya? Hebat!" Seruku begitu mencicipi sedikit daging ikan yang dia tawarkan padaku.
"Rahasia dong, nanti aku ajarin gimana masak ikan yang benar. Biar tidak bau amis dan dagingnya lembut banget. Plus daging gak hancur."
"Boleh juga. Nanti aku kursus masak sama kamu ya."
"Yuk kita bawa ke meja makan yuk! Kamu pasti tidak sabaran ingin mencicipi semuanya."
"Ha ha ha! Tahu aja aku lagi laper."
Setelah menata semua di meja, kostum Saka juga kembali normal tidak terlihat seperti seorang chef lagi. Namun pemandangan dada dia yang bidang masih bikin aku suka tidak fokus saat tak sengaja menatapnya. Gila!
"Gimana enak?" Tanya Saka begitu aku memasukkan suapan pertamaku.
"Ini sih enak banget. Kalah menu-menu di restoran mahal. Aku percaya kamu bukan chef kaleng-kaleng. Luar biasa!"
"Kalau begitu habiskan semuanya."
"Kamu mau merusak tubuh aku ya? Aku lagi program diet Saka."
"Nggak, kamu harus habiskan. Tidak ada kata diet-diet. Ini aku masak khusus buat kamu."
__ADS_1
"Kamu belum berubah ya, masih suka maksa."
"Riana, aku itu suka kamu apa adanya, gak peduli kamu gendut, aku tetap sayang sama kamu."
Duh... ini orang kenapa gak bisa tahan ucapannya sedikit sih. Pakai bilang saynag segala di depanku, aku kan jadi gak tenang makannya. Jantung aku gak bisa diajak kerjasama dia akan langsung berdetak lebih cepat dari sebelumnya.
"Hmm..."
"Kenapa? Kamu gak suka aku bilang sayang?"
"Bukan, bukan itu. Kalau aku gendut nanti aku susah gerak. Makanya aku jaga badan aku biar tetap proporsional Saka."
Akhirnya pria di depanku ini diam juga. Kalau dia masih tetap bicara mungkin aku sudah lari ke toilet karena tidak bisa menahan debaran ini. Hhh aku mungkin benar jatuh cinta.
Setelah makan malam, kita berdua duduk santai di depan TV, Saka memilih sebuah film romance. Judulnya aku tidak terlalu perhatikan, aku hanya fokus pada perutku yang gilak aku kekenyangan banget.
"Sebenarnya tujuan aku ke sini, pengen cerita sesuatu. Berhubungan sama luka memar yang masih tersisa di wajah kamu itu."
Saka cepat berpaling kepadaku. Dia seperti penasaran ingin mendengar kelanjutannya. Dia pun agak mendekat dan duduk di sampingku dengan jarak yang terbilang sangat dekat. Tuh kan jangan dekat-dekat, aku jadi gak fokus nanti. Aku membatin sendiri.
"Apa? Ceritalah!"
"Kemudian dia menyusul aku keluar cafe dan menahan aku untuk bicara. Akhirnya aku kasih waktu, tapi yang dia bicarakan menurut aku tidak ada gunanya karena semua sudah berlalu. Dan mengenai orang yang obrak abrik toko aku kemarin, itu Papanya dia. Jadi aku sama si Tefan ini terlibat hubungan yang cukup rumit."
"Papaku dan Papanya dia dulunya bersahabat, terus bangun bisnis bersama dan saat sukses, Papanya dia malah menipu Papa dan mengusirnya dari perusahaan. Sejak saat itu hubungan dua keluarga ini jadi runyam, intinya tidak berjalan baik sejak kejadian itu. Dulu aku masih remaja, kemudian orangtuanya pindah, Tefan juga ikut. Lalu bertahun-tahun kemudian, kita bertemu lagi."
"Kisah pertemuan ini pun terbilang rumit. Karena ternyata Tefan ini adalah tunangan sahabat aku Nina. Tapi kita berdua waktu itu cukup gila juga. Tetap menjalin hubungan di belakang Nina tanpa sepengetahuan Nina dan orang tua Tefan. Nina tidak tahu waktu itu, kalau aku sama Tefan itu dulunya punya hubungan yang cukup dekat. Dia tahunya kita sahabat dari kecil dan dia membebaskan aku bertemu dan jalan bareng Tefan kapanpun aku mau."
"Dari situlah awalnya kisah kita berdua menjadi bertambah rumit. Papanya Tefan meneror keluargaku, meneror aku, bahkan dia tak segan-segan menghajar anaknya sendiri karena telah berani menjalin hubungan dengan aku yang merupakan anak dari orang yang dia benci."
"Akhirnya hubungan kita putus karena orang tua memang tidak pernah bisa setuju. Belum lagi aku sama dia bertengkar karena dia tidak bisa bersikap secara dewasa. Papanya dia terus meneror, akhirnya aku sekeluarga memutuskan untuk pergi dari kota kami dulu. Dan yah, di sinilah aku sekarang."
Aku bercerita panjang lebar tanpa dipotong sedikitpun oleh Saka. Dia hanya mendengarkan dan sesekali mengangguk.
"Kamu masih cinta sama dia?"
"Karena itu aku ingin jujur sama kamu malam ini. Aku tidak mau berada dalam perasaan dilema. Aku juga ingin memastikan perasaanku sendiri."
__ADS_1
"Jadi? Kamu masih cinta sama dia?"
Dia sampai mengulang pertanyaannya karena penasaran. Melihat ekspresi dia yang seperti orang patah hati, aku jadi senang melihatnya. Sangat lucu.
"Sejak hari itu, aku tidak lagi memaksakan diri apakah aku harus mencintai dia tanpa syarat atau mengorbankan semuanya hanya demi dia. Tapi aku rasa percuma. Seiring waktu, karena sibuk kerja, aku jadi lupa dan benar-benar hanya fokus untuk kerja dan membangun bisnisku sendiri. Lalu aku bertemu seorang pria tidak tahu diri yang datang ke toko dan membuat mata pembeli dan juga karyawanku melihat ke arah pria tersebut. Siapa sangka pria inilah yang dijodohkan orang tuaku. Kupikir selera orang tuaku standar, ternyata boleh juga."
"Riana...! Cukup ceritanya panjang lebar, aku tahu yang kamu cerita barusan itu aku."
Dia kelihatan sangat menggemaskan ketika kesal.
"Apaan sih ganggu aja, aku kan cerita."
"Iya tapi cerita kamu kepanjangan kayak rel kereta, tinggal dijawab aja masih cinta atau nggak.*
"Aku cintanya sama kamu."
Astaga, bibirku kok bisa kecolongan begini? Kenapa jadi aku yang tiba-tiba ngungkapin perasaan sendiri?
Saka tergelak dari tempatnya duduk dan kini dia malah menghadapku.
"Kamu bilang apa barusan? Ayo ngomong lagi."
"Tidak ada siaran ulang. Perhatikan posisi kamu Saka, ini dekat banget ini."
"Biarin, aku mau memakan kamu kalau kamu gak bilang sekali lagi."
"Nggak ah."
"Bilang! Aku cium nih!"
Dan....
Dia benar-benar cium aku, rakus banget. Tadinya sih lembut, tapi makin ke sini dia makin rakus dan menuntut. Aku sampai kehabisan nafas dibuatnya.
"Aku mencintaimu Riana."
*Setelah dia melumat bibirku begitu saja, baru bilang cinta. Saka... kamu kenapa bisa membuat jantungku se berdebar ini sih?
__ADS_1
-----
Bersambung*...