
Untuk pertama kalinya, kita bertiga makan seperti ini di luar. Biasanya hanya di rumah itu pun karena Tefan datang dan membawa begitu banyak makanan. Aku lihat lagi wajah Kiano, dia begitu bahagia. Akankah aku menjadi Ibu yang memadamkan kebahagiaannya itu hanya karena aku egois menanggapi perasaanku? Dia begitu menginginkan keluarga yang lengkap, hadirnya sosok ayah dalam hidup Kiano adalah sesuatu yang selama ini sangat diimpikannya.
"Riana ... kenapa diam? Makanannya dingin nanti, makan yuk!" ajak Tefan, membuyarkan seluruh lamunan Riana.
"Bunda ... jangan melamun terus deh. Nanti kesambet gimana?"
Riana tersenyum mendengar ucapan Kiano.
"Tahu tuh bunda, dari tadi kayak lagi mikirin sesuatu." Tefan menambahkan ucapan Kiano.
"Aku cuma terlalu menghayati hari ini. Aku bersyukur Kiano bisa selamat dari nenek sihir itu. Kedua, aku senang kita bisa berkumpul seperti ini, makan bertiga selayaknya keluarga."
Duh apa-apaan ini, secara tidak langsung aku mengatakan bahwa aku menerima Tefan dong. Duh, gawat! Kok bisa kau keceplosan gini si.
"Terimakasih Bunda, terimakasih Papa, kalian telah menyelamatkan Kiano hari ini. Aku senaaaanggg banget bisa makan siang bersama kalian seperti ini."
Ucapan Kiano menyentak Riana, masalahnya Kiano malah menyebut Tefan Papa bukan lagi Om Ganteng.
"Sayang ... kok manggil Papa?" tanya Riana mengingatkan.
"Kan Om Ganteng bersedia Kiano panggil Papa, Bun."
Riana terdiam.
"Tidak apa-apa Ri, itung-itung Kiano lagi latihan. Hehe." Tefan berucap sambil cengengesan.
"Dih!"
"Jadi kamu nggak terima aku jadi Papa Kiano nih?"
"Bunda ... aku rasa Om ganteng cocok kok jadi Papanya Kiano. Iya kan, Om?"
__ADS_1
Mereka berdua ber-highfive di udara. Kompak sekali. Tawa mereka memenuhi restoran. Baru kali ini Riana melihat Tefan tertawa selebar itu sejak pertemuan mereka.
"Benar dong, tidak ada yang lebih cocok selain Om ganteng ini!" seloroh Tefan memuji dirinya sendiri.
Hari itu adalah hari paling berbahagia untuk Kiano, namun menjadi hari paling membebani Riana karena tidak tahu harus menanggapi bagaimana setiap ucapan Kiano. Anaknya itu begitu lugu dan polos, setiap yang diucapkannya pasti membuat Riana terkejut.
Tefan mengantarkan Ibu anak itu pulang ke ruko. Nadia sudah menunggu dengan cemas di depan ruko. Begitu melihat mobil Tefan berhenti tepat di depan toko, Nadia segera berlari ke sana.
Riana keluar duluan.
"Bu ... bagaimana Kiano?" tanyanya cemas.
"Kak Nadia ...!" pekik Kiano melompat dari mobil.
Nadia memeluk Kiano, air matanya jatuh berurai. Dia takut sekali terjadi apa-apa pada anak itu, sebab dia akan mengutuk dirinya sendiri karena dialah Kiano sampai diculik orang.
"Kamu baik-baik saja kan?"
Seketika pupil mata Nadia mengarah ke Riana. Riana mendelik. Nadia malah tersenyum seolah membenarkan ucapan Kiano.
"Serius? Berarti sekarang Kiano tidak sedih lagi dong, karena punya Papa baru?"
"Iya dong! Iya kan, Pa?" Kiano memastikannya langsung pada Tefan yang berdiri tak jauh darinya.
Tefan mengangguk. Sorot mata Riana sudah sangat jelas mengatakan bahwa dia harus menahan diri. Haha.
"Nad, tolong bawa Kiano masuk dulu ya. Mandiin sekalian, dia kotor sekali."
"Iya, Bu."
Sepeninggal Nadia dan Kiano, kini hanya ada mereka berdua. Riana dan Tefan duduk di salah satu sofa yang disediakan khusus customer. Mereka duduk di sana sekedar melepas penat dan rasa lelah setelah berjam-jam diselimuti rasa cemas dan gelisah.
__ADS_1
"Ri ...!"
"Hemm ..."
Bahkan untuk berbicara saja, mereka hanya menggunakan sapaan-sapaan pendek.
"Menikah denganku, yuk!" Kalimat itu lolos begitu saja dari mulut Tefan.
Riana terlonjak dari duduknya, menatap Tefan dengan seksama kemudian menempelkan tangannya ke kening Tefan.
"Kamu tidak sakit, kan?"
"Ri ... lebih tepatnya aku sedang kebelet. Kebelet nikah, haha!" jawab Tefan seraya menahan tangan Riana yang tadi memegangi keningnya.
"Menikahlah denganku, please!" lanjut Tefan terdengar seperti orang memohon.
"Ajak menikah anak orang kok kayak gini si, apa tidak ada cara lain yang lebih romantis?" Riana sepertinya sudah mulai menerima Tefan, buktinya dia sudah mulai terbiasa bercanda menggunakan kata menikah.
"Kalau begitu aku akan melamarmu minggu depan, tidak ada penolakan, kamu harus mempersiapkan diri karena satu-satunya orang yang boleh berada di sisi kamu hanya seorang Tefan yang ganteng ini."
"Apa minggu depan?"
"Iya. Kelamaan? Ya sudah besok!"
"Ya jangan besok juga, Fan. Kamu ih."
"Hei ... kapanpun kamu mau sayang. Aku selalu siap menjadi pengantin priamu. Kamu ingat nggak Ri, dulu waktu kecil kita pernah bermain pengantin-pengantinan. Aku jadi mempelai prianya, kamu jadi pengantin wanitanya. Kalau ingat itu lagi, aku merasa berdosa banget kalau sampai nggak nikahin kamu, Ri. Haha..."
"Yee ... itu sih kamu yang kebelet nikah sama aku."
Setelah sekian lama, jarak kaku di antara kami akhirnya hilang. Kembali seperti dulu, menjadi seorang sahabat sekaligus sepasang kekasih. Aku tidak tahu apakah keputusanku kali ini sudah benar atau tidak, namun aku berharap semuanya berjalan dengan lancar. Jika boleh jujur, aku melakukan ini tidak hanya karena aku mencintai Tefan, tapi semata-mata aku tak bisa membiarkan Kiano terus menerus dibully teman-temannya. Biarkan dia merasakan memiliki seorang ayah, melindunginya, menjaganya dari segala bahaya yang mengikutinya.
__ADS_1