Complicated Love #2

Complicated Love #2
CL - 35. Menerima Tawaran Saka


__ADS_3

Aku tidak tahu harus bagaimana menata hatiku jika sudah berhadapan dengan Saka. Terkadang aku bisa sangat menguasai situasi, Terkadang pula aku hanyut terbawa setiap pesona yang terpancar dari tubuhnya.


Seperti ketika dia terluka dan berada sangat dekat, aku bisa mencium aroma tubuhnya yang wangi. Atau saat dia mengecup bibirku, rasa manis masih tersisa meski itu telah berlalu.


Awalnya kukira aku tak bisa menerima perlakuan baiknya. Namun dia selalu berkata "Riana biarkan aku menaklukkan hatimu, aku tidak mau karena perjodohan ini hatimu terbebani dan berat menjalani masa perkenalan kita."


Hal itu yang selalu disampaikannya padaku, hingga tanpa kusadari dia telah masuk terlalu jauh ke dalam hatiku. Ah sialnya aku tak mampu menolak dirinya.


Namun ada hal yang mengganjal hatiku saat ini, kemunculan Tefan yang begitu tiba-tiba. Hhh kenapa aku harus bertemu dia lagi?


Aku menghubungi Nina lewat telepon dan diangkat olehnya setelah berdering beberapa saat.


"Nin, aku ketemu Tefan."


"Serius?"


"Iyah. Aku bertemu secara kebetulan di sebuah cafe. Aku yang sedang buru-buru ke toilet malah menabrak dia dan aku sangat terkejut begitu melihat orang yang kutabrak adalah dia."


"Respon dia gimana?"


"Dia sepertinya ingin menjelaskan beberapa hal, tapi tidak kuhiraukan. Aku pergi dari cafe itu namun tangannya sempat menahanku dan kita bicara sebentar. Dan kamu tahu dari sekian kalimat yang mungkin keluar dari mulutnya, yang terucap hanya kalimat "Riana, aku rindu." Hhh Rasanya aku ingin memukul kepalanya saat itu juga dan berkata 'ke mana saja kamu selama ini?"


"Ha ha ha .... "


"Kok ketawa sih? Aku lagi emosi loh Nin."


"Iyah iya tahu. Tapi kamu lucu, sangat lucu."


"Ish!"


"Terus setelah dia ngucapin itu kamu gimana?"


"Kutinggalkan dia sendirian di depan Cafe. Peduli amat sama perasaan dia."


"Yakin? atau jangan jangan karena kamu lagi punya gebetan baru trus tidak tertarik lagi pada Tefan?"


"Ya enggaklah. Bagaimana pun aku tetap harus menjauhinya. Karena berhubungan dengan dia lagi sama halnya aku menggali kuburan untuk kedua orang tuaku."

__ADS_1


"Baguslah. Tapi tetap kamu harus yakinin hati kamu Yan, bagaimana pun Tefan pernah sangat lama bersama kamu."


"Aku tahu. Mungkin memang tidak mudah, tapi seiring waktu aku yakin bisa melupakan dia bersama kenangan-kenangan kita dulu."


"Semua terserah kamu Yan, aku juga tidak setuju kalau kamu harus bersama Tefan lagi. Aku tidak mau kamu menderita ke depannya. Karena itu baik-baiklah bersama Saka."


"Trimakasih Nin."


.


.


.


Akhirnya aku menyetujui ajakan Saka untuk berlibur ke Lombok pekan depan. Aku memang butuh sedikit liburan. Bertahun-tahun membangun bisnis, aku tak pernah memikirkan yang namanya liburan. Bahkan waktuku habis hanya untuk memastikan bisnis yang sedang kurintis ini berjalan dengan baik.


Yah, sudah saatnya mengambil waktu untuk diri sendiri. Aku sampaikan niat itu ke Papa dan Mama, dia pun setuju dan hanya berpesan agar aku hati-hati.


"Berapa lama liburannya sayang?" tanya Mama saat kita bertiga kumpul di ruang keluarga.


"Kamu ini bahkan saat mau pergi liburan pun masih bahas kerjaan. Persis Papa kamu dulu. Sayangnya usaha Papa kandas karena kelicikan sahabatnya sendiri."


Suara dan raut wajah Mama tiba-tiba berubah. Aku meraih tangannya berusaha menguatkan agar tidak lagi mengingat-ingat masa itu. Aku juga memeluk Papa yang sedari tadi hanya diam.


"Papa jangan khawatir, semua ilmu bisnis Papa sudah diturunkan ke anakmu ini. Jadi aku yakin apapun jenis usaha yang sedang kubangun, akan sukses di kemudian hari. Terlebih karena selalu ada support dan do'a dari Mama dan Papa."


Kita bertiga pun saling berpelukan.


Ya begitulah hidup. Terkadang ada banyak rahasia yang Tuhan janjikan pada kita. Hingga tiba saat satu persatu rahasia itu terbuka dan menampakan dirinya di depan kita. Jika hari ini kita bahkan hancur, jangan pernah lupa bahwa di masa depan mungkin saja roda hidup berputar. Hingga sesuatu yang hancur itu perlahan utuh kembali dan bahkan dalam bentuk yang lebih baik lagi. Lebih cemerlang dari sebelumnya dan lebih segala-galanya karena janjinTuhan itu pasti.


***


Aku belum memberi tahu Mama perihal Tefan yang sudah kembali. Bahkan sudah bertemu denganku siang tadi. Aku memilih merahasiakan hal tersebut. Aku tidak mau Mama menjadi khawatir atau bahkan cemas yang berlebihan.


Mama tidak akan mau peduli lagi tentang semua yang menyangkut keluarga Om Roy. Tidak terkecuali Tefan yang dulunya sangat akrab dengan keluarga ini.


Sebuah pesan singkat tertera di layar ponselku.

__ADS_1


"Hai kamu yang sedang melamun, hati-hati kesambet."


Aku tersenyum membaca pesan itu, siapa lagi kalau bukan dari Saka. Dia memang kerap kali mengirimi aku pesan singkat yang sedikit terbilang konyol. Tapi entah kenapa aku menyukainya.


Eh tunggu dulu, kok dia bisa tahu aku sedang melamun? Jangan-jangan selain memasak dia punya keahlian lain seperti cenayang. Ha ha...


Membayangkan hal itu aku malah tertawa. Ya ampun pria ini sudah melakukan apa padaku hingga aku bisa seperti remaja belasan tahun yang baru jatuh cinta.


Akhirnya kubalas pesan itu.


"Kok tahu aku lagi melamun. Kamu cenayang ya?"


Send..


"Ha ha ha ... iyah aku bisa meramal. Aku bahkan tahu jodoh kamu di masa depan siapa!"


---


"Emang siapa?"


Send ...


"AKU" 😘😍


Astaga. Saka benar-benar gila. Kalau begini sih bukan aku yang kesambet, tapi dia. Aku hanya geleng-geleng kepala membaca pesaannya yang terakhir dan tidak lagi membalasnya. Biar dia tahu rasa menunggu balasan dari aku.


Semoga saja apa yang menjadi pengharapan hari ini di masa depan bisa terkabul. Amin.


Akhirnya rasa kantuk mulai menyerang, aku tidak bisa lagi memaksakan mataku untuk tetap terbuka. Kuambil selimut dan bergelung di bawahnya, meringkuk memeluk bantal guling.


----


*Jika cinta kali ini harus tumbuh, kuharap bukan lagi pada orang yang salah. Siapapun menginginkan perasaan yang dirasakannya bersatu dengan orang yang juga memiliki perasaan yang sama besarnya. Walau acap kali cobaan datang menguji kekuatan cinta, aku selalu yakin jika dihadapi bersama-sama. Maka sebesar apapun cobaan itu semua akan terlewati.


Biar waktu yang menjawab, di mana hati akan melabuhkan pelayaran terakhirnya. Apakah dia, aku juga masih bertanya tak berani berharap terlalu jauh. Karena luka di hati lebih sakit dibanding luka pada tubuh. Aku ingin kali ini hatiku yang menuntunku, sebab hanya hati yang mampu menjawab keragu-raguan.


Bersambung*...

__ADS_1


__ADS_2