
"Om ganteng tinggal di mana?" Kiano seperti sudah sangat akrab dengan Tefan. Dia bahkan sudah bergelayut manja di lengan Tefan. Riana yang melihat dari jauh, entah kenapa hatinya terasa hangat sekaligus sedih. Dia seperti melihat Kiano dan Saka yang tengah bermain waktu bersama di sore hari seraya menunggu malam.
"Om tinggal didekat sini." Balas Tefan dengan senyum yang menghiasi wajahnya.
"Apa nanti aku boleh main ke rumah, Om Ganteng?" Kiano terus bertanya dan dia terlihat sangat bahagia bersama Tefan.
"Boleh dong. Nanti kapan-kapan Kiano akan Om ajak main ke rumah ya. Kiano suka berenang? Nanti kita bisa berenang bersama, Om punya kolam renang yang super gede. Gimana?"
"Wahh..., serius Om? Kiano senang banget. Ye..., ye..., Kiano mau diajak berenang bareng sama Om Ganteng!" Seru Kiano heboh, dia melompat-lompat dan berlarian ke sana keamri saking senangnya.
Tefan pun tertawa melihat tingkah lucu Kiano yang sangat menggemaskan itu. Dia kemudian melihat ke arah Riana yang sepertinya tidak senang dengan situasi sekarang.
"Tapi ingat, nanti mesti izin bunda dulu ya!"
"Tentu, Om. Soalnya Kiano tidak mungkin bisa pergi tanpa seizin bunda. Gimana kalau sekalian ngajak Bunda aja, Om?"
Ide tersebut terlintas begitu saja di kepala Kiano. Anak-anak memang selalu memiliki pemikiran yang kadang tak terpikirkan orang dewasa.
"Ide bagus. Nanti Kiano rayu bunda, agar bunda mau ikut ya? Tos dulu dong!"
Kiano langsung tertawa mempelihatkan gigi-gigi kecilnya yang tersusun rapi. Dia senang sekali hari itu bertemu dengan Tefan yang sering dia panggil Om ganteng,
Tak terasa sore sudah semakin menua. Matahari telah pulang ke peraduannya dan perlahan gelap menyusul, meninggalkan rona jingga di ufuk barat sana. Lampu-lampu cafe di pinggir pantai telah menyala, Riana segera bergegas menjemput Kiano yang seakan tak mau lepas dari sosok Tefan.
"Sayang, sudah sore. Pulang yuk!" Riana berteriak dikejauhan. Dia masih menghindari bertemu langsung dengan Tefan. Lagipula dia belum siap untuk bertemu dengan Tefan saat ini. Baginya, Tefan masih menjadi bagian dari masa lalunya dan akan selalu begitu.
"Iyah bunda...!" Teriak Kiano kemudian berpamitan pada Tefan.
__ADS_1
"Om ganteng, Bunda sudah manggil. Kiano pulang dulu ya! Sampai ketemu lagi Om Ganteng!" Kiano berangsur memeluk Tefan. Membuat Tefan gelagapan karena terkejut dengan reaksi Kiano padanya saat akan berpisah.
Dia pun membalas pelukan Kiano, memeluk tubuh kecil Kiano penuh hangat. Di hatinya tiba-tiba merasa ada sesuatu yang berbeda. Seperti perasaan seorang ayah terhadap seorang anak.
Kiano mengendurkan pelukannya. Tefan mengacak-acak rambut Kiano dengan gemas.
"Hati-hati ya!"
"Terimakasih, Om Ganteng! Dadah....!" Kiano melambaikan tangan pada Tefan yang masih berdiri di sana.
Melihat seorang Ibu dan anak berjalan sambil berpegangan tangan. Membuat ia membayangkan bahwa perempuan dan anak laki-laki yang berjalan menjauh darinya itu adalah isteri dan anaknya.
Pikiran itu, masih terus mengganggunya bahkan ketika dia sudah sampai di villanya. Dia kesulitan untuk menghalau bayangan Riana dan juga Kiano dari pikirannya. Sehingga dia pun memutuskan untuk mengademkan pikirannya dengan mandi.
Tefan berjalan ke kamar mandi di kamarnya, pakaian yang dia pakai dia biarkan tergeletak begitu saja di lantai. Memamerkan tubuh tinggi tegap, perut kotak-kotak, dan lengan yang berotot. Jika saja ada satu orang wanita saja di kamar itu, sudah dipastikan dia tak akan meloloskan Tefan begitu saja masuk kamar mandi tanpa memberinya kesan seperti stempel mungkin.
Cih! Kenapa bayangan Riana masih terus melekat di pikiranku. Bahkan sudah bertahun-tahun berlalu, tapi aku masih belum bisa melupakan perempuan itu. Hhh, apa yang harus kulakukan sekarang? Haruskah aku mengejarnya lagi? Bagaimana dengan suaminya, masa iya aku harus menjadi perusak rumah tangga orang lagi? Sial! Sudah cukup waktu itu aku merusak hidup Riana, bodoh! bodoh! bodoh!
Tefan memaki dirinya sendiri. Dia masih berdiri seperti tadi, membiarkan keran itu memuntahkan air dan menerpa tubuhnya. Setelah merasa cukup lama berdiri dan dia sudah merasa tubuhnya kedinginan. Dia pun segera menutup keran shower dan meraih handuk yang menggantung di dinding kamar mandi itu.
Handuk dia lilitkan ke pinggangnya. Semakin membuat dia terlihat seksi dengan butir-butir air yang masih menempel di tubuhnya.
Tefan mengeringkan rambutnya lalu mengambil piyama dari lemari pakainnya. Setelah memakai piyama, dia pun memanggil Pak Bono untuk meminta laporan perkembangan informasi tentang Riana yang dia minta untuk dicari.
"Pak Bono, bisa ke tempatku sebentar?"
"Bisa, Pak! Segera ke sana!"
__ADS_1
Tefan menunggu Pak Bono sambil membuat segelas kopi. Aroma kopi menguar di udara setelah dituangkan air panas ke dalam gelas. Tefan mencium aroma itu dengan fokus lalu menghirupnya pelan-pelan.
Kok itu dia bawa ke ruang kerjanya. Tak lama kemudian terdengar pintu diketuk. Pak Bono muncul setelah dipersilakan masuk oleh Tefan.
"Silakan duduk, Pak!" Pinta Tefan.
Pak Bono pun duduk, dia membawa satu amplop cokelat dan menyodorkannya pada Tefan.
"Ini apa, Pak?"
"Itu semua informasi yang Tuan butuhkan. Silakan dibuka dan dipelajari."
Hebat juga Pak Bono, cepat sekali dia mendapatkan informasi tentang Riana. Tidak salah aku memilihnya menjadi orang kepercayaanku dan membayarnya mahal untuk itu.
Tefan pun meminta Pak Bono untuk pulang saja, dia ingin melihat informasi itu sendirian dan dalam keadaan tenang. Dia sedikit grogi untuk membuka amplop cokelat itu, tali yang mengikat amplop itu segera dia buka. Tefan mengeluarkan isi dari amplopnya dan melihat beberapa foto serta beberapa informasi penting yang diketik dalam sebuah kertas HVS putih.
Tefan melihat-lihat foto Riana terlebih dahulu. Terdapat foto Riana saat bersama dengan Saka, laki-laki yang menjadi saingannya di masa lalu. Foto-foto keluarga, saat liburan, saat Riana mengandung, juga saat melahirkan. Namun ada satu foto yang menarik diliahtnya, sebuah foto pemakaman. Di situ tampak Riana dengan kerudung putih, baju serba putih dan mata yang sembab. Duduk di samping sebuah nisan yang bertuliskan nama Saka.
Dari situlah Saka mengambil kesimpulan bahwa Saka telah meninggal. Namun sebab meninggalnya apa, dia pun penasaran. Segera Tefan mengambil kertas tadi dan membacanya dengan teliti. Cukup lama dia membaca, bahkan dia sampai mengulang tiga kali dari atas sampai bawah.
Jadi benar? Riana sekarang adalah seorang janda? Saka suaminya disebut dalam kertas itu meninggal karena kecelakaan mobil. Mobilnya hangus terbakar bersama tubuhSaka. Tapi ganjil karena tidak ditemukan sisa-sisa jasad di sana. Satu-satunya hal yang pasti diketahui bahwa itu Tefan adalah dari jenis mobil yang dikendarainya beserta DD mobil yang masih tersisa dari peristiwa terbakarnya mobil itu. Lalu jasad siapa yang dikubur? Apa mungkin itu hanyalah sebuah penanda kematian Saka?
Tefan cukup terkejut dengan informasi yang baru saja dibacanya. Dia tak menyangka kehidupan Riana akan serumit itu. Riana bahkan harus melarikan diri ke Bali demi mencari sebuah ketenangan. Kasian kamu, Riana...!
***
Terimakasih sudah mampir untuk membaca Complicated Love Musim Kedua ya. Semoga cerita ini bisa menghibur kalian semua di tengah masa pandemi seperti sekarang. Tetap jaga jarak, pakai masker dan jangan lupa untuk tetap cuci tangan. Stay healty ya teman-teman. Jangan lupa untuk tinggalkan komen, like dan vote ya. Terimakasih.
__ADS_1