
"Bunda ... Papa Ganteng ...!"
Semua mata mengarah ke Kiano. Terutama Saka, dia sebelumnya pernah bertemu dengan Kiano saat di toko Riana. Sejak awal dia sudah merasa ada yang aneh dengan anak ini, dia merasa begitu dekat sekaligus asing.
"Bunda ... kita kedatangan tamu ya?" tanya Kiano dengan polos. Sementara semua orang masih terpaku dengan kehadiran Kiano di sana yang tiba-tiba.
"Iyah sayang. Kiano ..." ucapan Riana terpotong. Tenggorokannya tercekat, seakan ada biji kedondong yang menghalangi saat dia ingin bicara. Terlalu berat untuk keluar dari bibir Riana, memberitahu yang sebenarnya pada Saka juga pada Kiano.
"Halo ... siapa jagoan kecil ini sayang?" tanya Saka pada Riana.
Lagi-lagi panggilan sayang Saka kepada Riana membuat semua orang terdiam seribu bahas. Sheril yang duduk agak terpisah dari mereka, tampak menyeka air yang keluar dari sudut matanya.
Shena melihat semua kejadian itu sangat iba pada Sheril. Padahal bukan salah wanita itu, semua bermula karena mamanya lah yang menginginkan Sheril agar mau menikah dengan Saka.
"Dia ... dia Kiano, anak kamu Saka." Mama Saka berkata begitu saja tanpa memperhitungkan ada banyak hati yang akan merasakan sakit. Memang nggak ada akhlak nih, Mak satu. (Astaga author esmosi ðŸ¤)
"APA? KIANO? KIANO MEMANG SUDAH SEBESAR INI?" Mata Saka menatap semua orang yang ada di sana. Terutama kepada Riana dan Mamanya.
Mencari jawaban atas kebenaran kata-kata yang diucapkan oleh Mamanya. Sheril sudah tidak bisa menyaksikan semua drama di ruangan itu, dia memilih keluar dari sana tanpa sepengetahuan siapapun.
Sheril menatap tajam kepada mamanya. Kali ini Mamanya sudah sangat keterlaluan. Dia menghentakkan kakinya lalu menyusul Sheril.
"Riana apa itu benar?" tanya Saka.
"Iyah, dia Kiano. Dia sudah besar sekarang, usianya 6 tahun. Tahun depan dia sudah masuk sekolah dasar."
"Tttu ... ttunnggu ... Aku meninggalkan Kiano untuk urusan bisnis dan itu baru beberapa hari. Bagaimana bisa Kiano sudah sebesar itu?"
__ADS_1
"Tidak, Mas. Kamu sudah pergi selama kurang lebih enam tahun. Kiano baru lahir saat kamu meninggalkan kami. Bahkan aku dan Kiano sudah menganggap kamu sudah mati. Aku bahkan ikut dalam proses pemakaman kamu. Menangisi jenazah yang entah milik siapa."
Wajah Saka menegang. Dia benar-benar tak menyangka kalau apa yang diucapkan Riana itu benar adanya. Seingat dia, hanya pergi beberapa hari dan dia kecelakaan lalu pulang ke rumah saat kondisinya sudah membaik.
"Jika kamu ingin tahu kebenarannya, kamu bisa tanya ke mama kamu sendiri. Dialah yang tahu bagaimana kamu bisa hidup kembali dan aku diusir dari rumah kamu."
Saka tak kalah terkejutnya, dia sama sekali tak tahu menahu mengenai cerita tersebut.
"Aak .. Akku tidak tahu soal itu Riana. Aku hanya tahu kau masih isteriku dan Kiano adalah anakku."
"Bunda ... siapa Om itu?" Kiano tiba-tiba menyela pembicaraan mereka.
"Sayang ... ingat tidak bunda pernah bilang apa pada Kiano? Tidak boleh menyela pembicaraan orang dewasa."
"Maaf, Bunda ..."
"Sayang ... ikut papa yuk! Kita main di dalam." Tefan memilih untuk tak ikut campur dengan urusan Riana dan Saka saat ini. Biarkan saja mereka menyelesaikan masalah mereka dari hati ke hati agar semuanya bisa berjalan dengan baik.
Shena juga melakukan hal yang sama pada Mamanya. Dia memaksa mamanya agar meninggalkan Saka dan Riana di sana berdua saja.
Walau mamanya sedikit menolak, namun kali ini Shena tak mau mengalah lagi. Sekarang, tinggal Saka dan Riana di ruangan tersebut. Saka tak mengerti mengapa orang-orang pada pergi meninggalkan mereka berdua saja.
"Saka, dengarkan aku sekarang. Mungkin ini adalah saat terbaik kita bicara dari hati ke hati. Tentang kenyataan yang sebenarnya terjadi selama beberapa tahun kita tak bertemu. Sejak kamu dinyatakan meninggal, aku hanya bisa dipaksa untuk menerima keadaan. Mama kamu menuduh aku sebagai penyebab kecelakaan kamu. Dianggap pembawa sial di saat aku masih terpukul dan sedih. Itu berat dan tidak semua perempuan kuat dan bisa menjalaninya. Jika bukan karena mengingat aku masih punya Kiano, mungkin sejak awal aku sudah meninggalkan dunia ini. Meski begitu aku juga tak bisa menyalahkan mamamu. Semua orang tua pasti inginkan yang terbaik untuk anaknya."
Riana menyampaikan semua uneg-unegnya pada Saka. Sesuatu yang selama ini menjadi duri dalam dagingnya. Benar, memang tak mudah menjalani hidup dengan status single parent. Belum lagi tudingan miring mengenai status janda yang disandangnya.
"Maaf ... maaf aku tidak tahu tentang itu semua. Aku tidak ingat apapun Riana. Lalu bagaimana dengan pernikahan kita?"
__ADS_1
"Tentang itu ... aku ... aku sudah menikah dengan Tefan."
"APA??? Tidak Riana, kamu masih isteriku. Aku tidak pernah menceraikan kamu, kumohon maafkan aku ...."
"Memaafkan itu adalah hal yang mudah, Mas. Namun tidak semua bekas menyakitkan yang pernah kurasakan dulu bisa hilang begitu saja. Aku tidak pernah menyalahkan kamu, aku bahkan sudah menerima setiap keadaan yang terjadi. Oleh karena itu, aku juga berharap kamu bisa menerima semua kenyataan ini."
"Kalian saling benci, bagaimana bisa kalian menikah?"
"Semua orang berhak menjadi baik dan berubah untuk dirinya sendiri. Tefan sudah membuktikan bahwa dia telah berubah, aku juga tidak pernah mempermasalahkan masalah yang pernah terjadi antara aku dan dia. Semua itu sudah kami kubur dalam-dalam. Aku mengenal Tefan juga tidak hanya sebatas satu atau dua tahun. Aku mengenalnya sejak puluhan tahun, aku tahu bagaimana Tefan."
"Lalu bagaimana dengan aku Riana?"
"Kamu sudah punya Sheril, Mas. Dia isteri kamu."
"Siapa bilang Sheril adalah isteriku? Dia hanya mantan pacar yang kabur bersama laki-laki yang menghamilinya. Aku tidak mungkin menikahi seorang pengkhianat."
"Tapi dia isteri kamu, Mas. Kamu menikah tak jauh setelah kamu sembuh. Kamu bisa menanyakan sendiri pada Mama kamu dan juga Sheril. Kamu tidak boleh berbuat seperti itu padanya. Bagaimanapun dia adalah orang yang satu-satunya ada di sisi kamu saat kamu sedang sakit dan perlahan bangkit."
"Tidak ... tidak mungkin. Aku mau kamu tetap jadi isteriku Riana." Saka bersujud di lantai dan menggenggam kedua tangan Riana. Riana bergeming dia tak mau melihat wajah Saka.
"Maaf, Mas. Kamu tidak boleh bersikap seperti ini. Kita sudah bukan suami isteri," Riana melepas tangan Saka yang sedang menggenggam tangannya.
"Riana ... kumohon, aku hanya mau kamu jadi isteriku. Aku tidak mau yang lain."
"Tidak bisa, Mas. Kita sudah memiliki kehidupan masing-masing. Kuharap kamu bisa menerimanya."
Riana berdiri dan meninggalkan Saka seorang diri di ruang tamu. Bukan dia tak punya hati, dia hanya tidak ingin keadaan semakin tak terkendali.
__ADS_1
Saka terus memanggil Riana yang sudah pergi meninggalkannya. Mamanya, Shena dan juga Sheril masuk kembali ke rumah itu dan mendapati Saka yang terus memanggil nama Riana.
Cinta yang besar akan selalu bertahan, meski pada awalnya hanyalah sebuah bunga yang rapuh. Terkadang kejujuran memang sakit, namun lebih baik dalam sebuah hubungan.